1. Makna dan Pelaksanaan MTQ
Musabaqah artinya berlomba-lomba atau saling mendahuli, berasal dari kata Sabaqa, artinya mendahului/telah lewat. Kata ini punya bentukan lain seperti kata Masbuq, artinya terlambat/didahului, fastabiqul kahirat yang berarti berlomba-lombalah dalam kebajikan, sabiq yang berarti juara atau “yang keduluan”dan sebagainya.
Firman Allah QS. 35: 32: “Kemudian kami wariskan Kitab itu (al-Qur’an) kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami. Di antara mereka ada yang menganiaya dirinya, sementara di antara mereka ada yang mengambil jalan tengah (karena ada maksud-maksud/kepentingan tertentu), dan di antara mereka ada orang yang lebih dahulu (juara) dalam kebajikan. Itulah karunia yang Agung”.
Firman Allah QS. 2: 148: “Dan setiap bidang (arah/jurusan) ada pemusatannya (kiblat). Maka berlombalah-lombalah kamu dalam kebajikan. Di mana saja kamu berada Allah akan mendatangi kamu semuanya. Sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu Maha Menetukan (Ukuran)”.
Tilawah berarti membacakan. Maksud yang sebenarnya adalah membacakan isi kandungan, bukan hanya sekedar membaca teks sebagaimana pada pengetian qira’ah. FirmanNya QS. 2: 151: “Sebagaimana telah Kami utus untuk kamu Rasul, rasul-rasul di antara kamu, yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Kami, dan mensucikan Kamu serta mengajarkan kepada Kamu Ilmu dan Hikmah, dan juga mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui”. Dengan demikian, musabaqah tilawatil Qur’an merupakan perlombaan membacakan isi kandungan al-Qur’an.
Dalam pelaksanaannya, MTQ sejak pertama kali diadakan hingga saat ini telah memperlombakan berbagai cabang ilmu pengetahuan tentang al-Qur’an. Di antara cabang-cabangnya itu adalah Mujawwad yang berarti pentajwidan; yakni, tata cara dan adab membaca al-Qur’an baik kefasihan lidah, tajwid, faqahah dan sebagainya. Sehingga dalam perkembangannya dikenal secara internasional 7 irama lantunan ayat al-Qur’an berikut variasi dan pecahannya, yaitu Bayyati (Suri, Nawa, Qarar) Shaba, Hijaz, Nahawan, Rasy, Sikha dan Dziharkah. Namun Indonesia, dipandang sebagai negera yang paling banyak Qari dan Qari’ahnya yang menguasai Mujawwad ini.
Ada juga cabang cerdas cermat isi kandungan al-Qur’an atau diistilahkan fahmil Qur’an (pemahaman yang meliputi sejarah Islam, Ulumul Qur’an, hadist dan Budaya Islam). Selain itu, ada juga cabang menghafal (hifzul Qur’an); cabang menulis indah (khattil Qur’an/kaligrafi) seperti khat Khaoufi, Tsuluth, Diwani Jali, Naskh, Farsi, Andalus dan lainnya; cabang syarh al-Qur’an (menjelaskan pesan-pesan ayat); dan Bazar produk Islam.
Selain itu, menurut Walikota Medan, MTQ diselenggarakan dalam rangka syiar Islam dan pembinaan kemasyarakatan. Pelaksanaanya juga dimaksudkan sebagai sarana penggemblengan bagi qori dan qoriah untuk diterjunkan mewakili kota medan pada MTQ tingkat propinsi. Setiap pemerintah daerah, baik kecamatan Kota/Kab maupun propinsi tetap selalu berharap MTQ dapat melahirkan qori dan qoriah yang berkualitas, sehingga mampu mencatat prestasi terbaik di MTQ di tingkat yang lebih tinggi. Karena, dapat mengangkat dan mengharumkan nama baik daerahnya, dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan.
Musabaqah Tilawatil Qur’an merupakan perlombaan rutin tahunan yang diselenggarakan secara Nasional mulai dari tingkat Kecamatan sampai Tingkat Internasional. Biasanya, oknum pejabat-pejabat Pemerintahan RI , tidak ketinggalan “ambil bagian” dalam Musabaqah ini, apalagi mereka yang ditunjuk sebagai Panitia, tuan rumah dan fasilitator lain. Selain kegiatan ini menasional sifatnya, juga karena seperti biasanya, memang ada “bagian yang bisa diambil” darinya. Entah itu siapa, entah kapan dan entah bagaimana caranya, yang jelas seperti yang sudah-sudah, memang, semua bidang dan sektor pembangunan sepertinya telah “ada jatah” sesuai dengan pangkat dan kedudukan masing-masing.
Tetapi, maaf cakap maaf cerita, itulah kondisi realitas sosial-politik yang telah membumi dan mendarah daging sampai kerakyat-rakyat kecil. Kita bisa lihat langsung pelaksanaan Pemilu lalu, kita bisa saksikan pelaksanaan Zakat dan Haji beberapa waktu lalu. Tak ada yang bisa unjuk diri sok suci sekarang ini. Karena, boleh jadi itu karena mereka belum ada kesempatan. Sehingga, muncul tanda tanya besar. Lomba membaca, menghafal, menulis, dan memahami serta menjelaskan telah dilakukan. Belumkah datang waktunya kepada kita untuk berlomba-lomba menerapkan al-Qur’an di keluarga sampai di sistem bernegara kita?
Terlepas dari itu semua, kita juga mau tidak mau harus mengakui jujur, tidak semua oknum pejabat terkontaminasi sistem yang sarat dengan budaya “ambil bagian” seperti yang umumnya dibicarakan orang-orang. Oleh karenanya kita bisa merasa sedikit bangga dengan pengakuan Walikota Medan, Ketua DPR dan Ketua Panitia kemarin saat meresmikan pembukaan MTQ kemarin. Mudah-mudahan mereka benar seperti yang mereka ucapkan.
2. MTQ di Medan
Kota Medan, kota Metropolitan yang diimpi-impikan itu, baru-baru ini menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) . Kelihatannya, Pemko berharap besar yang kemarin disampaikan Pak “Wali”, MTQ bisa mendukung program pembangunan kota Medan khususnya program pemberdayaan masyarakat; mengingat pentingnya peranan MTQ dalam pembinaan kemasyarakatan. Apakah ini pernyataan yang jujur, lipservice, atau ada kepentingan lain, soal ini kita serahkan saja ke pengamat politik.
Pak “Wali”, sebagaimana dipidatokannya, jua minta dukungan segenap komponen masyarakat, termasuk dari tokoh-tokoh agama, agar dapat membina umatnya menjadi masyarakat yang beriman dan bertaqwa, sehingga dengan tulus dapat memberikan dukungan penuh dalam memberhasilkan program pemberdayaan masyarakat di kota Medan.
Dia benar. Dapat dibayangkan, kalau tokoh-tokoh agamanya pun tidak mendukung atau malah “ikut ambil bagian”, tentu saja akan terbangun image, seperti pembolehan. Padahal itu karena oknum dan pribadi. Namun, sedikit yang bisa membedakannya. Makanya, semangat dan keberanian para koruptor dan mafia kuning pun akan terpompa, tersulut. Taring “tikusnya” pun akan siap diasah melirik aset-aset gurih dan “kue-kue kekuasaan” yang basah-basah.
Begitu juga, Pak Ketua (DPRD Medan) dalam sambutannya yang senada dan menambahkan, al-Qur’an sebagai petunjuk yang benar bila dihayati akan dapat menjadi solusi terhadap semua persoalan bangsa dan negara. MTQ diadakan tak lain merupakan salah satu upaya meningkatkan minat masyarakat membaca al-Qur’an. Seperti dicontohkannya, gejolak sosial yang terjadi saat ini, akan dapat teratasi dengan adanya MTQ. Karena MTQ juga salah satu alat dalam rangka membina kehidupan yang lebih damai, mampu memberikan suasana persaudaraan, silaturrahmi. Sehingga masyarakat dan pemerintah agar lebih akrab, agar persaolan dapat diselesaikan dengan damai.
Jadi, bila dari tahun ke tahun semua persoalan bangsa dan negara tak kunjung selesai-selesai, berarti dia benar. Itu artinya, al-Qur’an belum dihayati atau warga negara Indonesia masih mencari petunjuk yang tidak benar. Signifikannya juga, kalau minat sebagian masyarakat dari hari ke hari lebih meminati acara dangdutan “dihadiri puluhan ribu” dan AFI “jutaan remaja/emak-emak” ketimbang MTQ (cuma 12 ribu, itupun pas malam pembukaan dan penutupan, hari-hari lain hanya beberapa ratus pengunjung), berarti Pak Tom benar juga. Misi MTQ belum mengenai sasaran. Memang pas harapannya bila, panitia dan para peserta diingatkan, agar benar-benar memiliki dan menjaga niat tulus untuk mencari Ridha Allah, bukan mencari “bagian” atau yang lainnya. Juga, ia juga minta didukung semua pihak dengan sama-sama menjaga keamanan dan kebersihan.
Kita yakin, siapapun yang keluar sebagai yang terbaik adalah yang terbaik membaca, menulis, memahami, menjelaskan dan menghafal al-Qur’an untuk kota Medan. Tinggal kita mencari siapa yang terbaik mengamalkannya.
Para pengunjung pelaksanaan Musabaqh Tilawatil Qur’an Kota Medan tahun kali ini pun tidak semuanya mampu menyesuaikan diri. Pasalnya, hingga memasuki hari ke-4 sebagian pengunjung tampaknya masih banyak yang datang ke lokasi MTQ dengan mengenakan pakaian ketat, tak mengenakan jilbab, memakai rok pendek; bahkan ada pula yang memakai “you can see” (kalau diterjemahkan, baju nampak ketiak). Selain itu, ada juga yang datang ke sana berpasang-pasangan, padahal diduga keras, bukan suami isteri.
Beberapa pengunjung lain sempat menyampaikan keresahannya seputar hal itu. Diherankannya sebagian yang datang ke sana bukan mau mendengarkan al-Qur’an. Padahal, kita diperintahkan supaya mendengarkan sungguh-sungguh dan menyimak, kalau ada orang yang sedang baca Qur’an. Bazar dan perhelatan lain yang ada di arena alun-alun Istana Maimun banyak membuat sebagian pengunjung lupa, acara yang sesungguhnya, yakni Musabaqah.
Kita patut menyesalkan sikap Pemko Medan yang kurang peka terhadap hal ini, kendati dapat difahami sebagian akhlak masyarakat kota Medan belakangan ini. Seharusnya Pemko melalui Panitia dan petugas yang berwenang lainnya mengkordinasikan hal ini agar dapat memberikan himbauan laungsung maupun tidak langsung kepada para pengunjung. Diharapkan agar lebih dapat menyesuaikan diri terhadap situasi keagamaan. Memang, istana Maimun merupakan salah satu lokasi bersejarah dan objek wisata kota Medan. Namun, acara keislaman jangan dinodai dengan hal-hal kecil apapun, tanpa harus dibuat peraturan, diharapkan akan dapat dimengerti sendiri. Firman Allah QS. 47: 24: “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an. Apakah hati mereka telah tertutup?”.
3. Lomba Menerapkan, Kapan?
MTQ dilaksanakan, sebagaimana dikatakan Ketua Panitia, adalah dalam rangka usaha mengembangkan kemampuan bacaan alQur’an dengan baik dan benar, mampu memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam al-Qur’an dan membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an. Tujuannya kata Farid, adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan merealisasikan (penerapan) ajaran agama dalam masyarakat. Sangat ideal tentunya.
Tetapi, bagaimana bisa menerapkan al-Qur’an bila perangkat-perangkat hukum negara, sistem negara, oknum-oknum aparatur negara masih banyak yang belum mendukung masyarakat untuk menerapkan ajaran Agama. Misalnya, Perjudian, korupsi dan sogok menyogok (cuap-cuap) masih diperankan. Menipu, menganiaya rakyat masih dilakonkan. Pabrik Miras tidak ditutup dan sebagainya. Dan kelihatannya belum muncul perlombaan itu.
Apakah perlombaan ini sudah terjadi dengan adanya kasak-kusuk berebut kursi agar bisa “menyelamatkan” legislatif dari wajah-wajah lama yang dinilai korup, biar harus beli suara sama oknum cukong suara “berkedok PPK”. Apakah perlombaan itu juga terjadi dengan merebut kursi presiden sehingga harus siram sana siram sini. Pokoknya kalau kegiatan perlombaan sejenis ini justru sangat terencana dan terkordinir, termenej terjaga dan terselamatkan dengan komplit, rapi, teliti, baik dan benar-benar seperti tak terkalahkan. Walaupun ada satu-satu yang jatuh, itu pasti kurang “siram”. Tetapi, kalau difikir-fikir. Kalau tidak begitu cara masuknya. Bagaimana lagi? Nanti, katanya khawatir kalau non-Muslim yang mendahului masuk sitem, Bah?!! Ini apologi atau cari kambing hitam, atau dua-duanya? Wallahu a’lam.
Thursday, 21 May 2009
Qurban, Korban dan Taqarrub, Apa Hubungannya (?)
Qurban secara bahasa berarti dzibah atau penyembelihan. Dalam ajaran agama Kristen dikenal Mezbah yang merupakan meja atau semacam altar tempat persembahan kepada Tuhan, baik itu berupa anggur maupun roti. Kata Qurban sendiri dalam bahasa Arab berasal dari kata Qaraba yang dibentuk dalam isim bina mubalaghah dari timbangan kata fu’laan (ditambah huruf alif dan nun), memiliki arti bersangatan, Padanan kata ini misalnya, terdapat pada kata qara’a yang berubah bentuk menjadi qur’an (sangat sering dibaca), kata sabaha menjadi subhan (maha suci), na’ima menjadi nu’man (penuh kenikmatan) dan malaka menjadi mulkan (kekuasaan yang kokoh).
Dari akar kata Qarban (mashdar dari Qaraba) banyak diperoleh berbagai kata bentukan lain. Misalnya, Qoriib dan Qarabah (dekat) yang ditransfer dan direduksi ke dalam bahasa India, Kareeb (dibaca: Karib, artinya dekat) dan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata karib kerabat, akrab.
Selanjutnya kata Qurban sendiri, selain istilah yang dikenal sebagai salah satu ibadah dalam Islam juga dalam bahasa Indonesia –entah sejak kapan- telah dibakukan menjadi satu kata dasar, yaitu kata korban; sehingga terbentuk kata berimbuhan berkorban dan pengorbanan. Hal ini diyakini disebabkan adanya hubungan kesamaan dalam makna yang terkandung pada kata Qurban. Selain bentukan kata yang disebutkan tadi, kata Qurban juga mempunyai akar kata yang sama dengan taqarrub (proses pendekatan diri) kepada Allah.
1. Makna dan Kedudukan Qurban
Secara syariat Islam, Qurban bermakna menumpahkan darah hewan sembelihan. Bila dikaji lebih mendalam, di dalam makna ini terdapat suatu hakikat kebenaran, yakni kesakitan, penderitaan dan kerugian. Hal inilah barangkali membuat orang Indonesia mengambil kata Qurban lantas dibahasaindonesiakan menjadi “korban”. Sebab kita ‘mafhum’ alias tahu sama tahu, yang namanya ‘korban’ memang selamanya menderita, mengalami kesakitan dan penderitaan atau kerugian, baik secara fisik material maupun mental spiritual.
Belum pernah kita dengar kata korban dimasukkan ke dalam kalimat yang enak-enak atau berkonotasi keberuntungan seperti misalnya, si Halimah (pinjam nama dulu) salah seorang ‘korban’ dalam pesta itu; atau ada kalimat, dalam pengumuman lomba memasak itu, si Ari memberikan hadiah kepada 5 ‘korban’. Ini jelas salah, karena selama masih berstatus korban, pasti tidak ada enaknya.
Di media massa kita juga sering mendengar misalnya ada berita, 2 ruko terbakar, tidak ada korban jiwa; atau terjadi pemboman di Irak, 5 korban tewas 30 lainnya luka-luka; begitu juga kata korban pembunuhan, korban perkosaan, korban bencana alam dan korban perampokan. Dalam bahasa anak muda pun ada istilah ‘korban perasaan’.
Nah, selanjutnya secara hakikat, Qurban mengandung makna mendidik, menguji dan melatih. Kenapa demikian? Pemaknaan mendidik di sini berkaitan erat dengan makna ‘memisahkan’. Kalau yang disembelih itu seekor kambing, unta, lembu atau ayam, maka akibatnya terjadi pemisahan antara kepala dan badan disebabkan lehernya disembelih berdarah-darah. Jelas ada unsur kesakitannya.
Bila makna ini diterjemahkan ke dalam sebuah proses pendidikan, seorang kader, murid, santri, siswa atau apalah namanya, pasti akan mengalami berbagai pemisahan. Seorang ‘kader mujahid dengan senantiasa dididik ber“al-Qur’an” pasti akan terjadi pemisahan antara pola fikir (di kepala) dan iman (di hati), pemisahan hak dan batil dan pemisahan kepentingan jihad dan dunia (selektif).
Begitu pula halnya, seorang anak didik kemiliteran harus mampu memisahkan “urusan tugas” dan “urusan kekeluargaan”. Seorang kader organisasi harus dapat memisahkan antara perasaan dan logika pergerakannya. Kader bisnis pun begitu, harus mampu memisahkan rasa sosial dengan logika bisnisnya. Sehingga, jadilah mereka kader yang tangguh, yang mapan di bidangnya, yang tahan uji lagi tahan menderita. Kader yang sabar dan bermental “pertapa” dan “tidak takut dirugikan”, seperti ternak yang dewasa yang bersedia digembala dan siap disembelih.
Inilah salah satu tolak ukur keberhasilan seorang pendidik dalam setiap Tujuan Pendidikan Khusus (TPK), di mana, peserta didik harus dapat memilah-milah dan menentukan pilihannya. Sebelum standart ini terpenuhi, insya Allah, perusahaan, organisasi, sekolah atau lembaga apapun namanya dijamin akan kecewa, karena hanya akan melahirkan karyawan-karyawan yang “menggek”, tentara-tentara yang tidak disiplin, kader-kader yang “cengeng”, orang-orang pergerakan atau bisnismen yang mudah frustasi dan “merajuk”, yang tidak bisa dijamin kapabilitasnya (layak dan mampu), kualitasnya (bermutu dan bernilai), kredibilitasnya (jujur dan berakhlak mulia) apalagi integritasnya (patuh dan punya rasa memiliki) dan loyalitas (setia dan pembela) kepada siapa (institusi) yang mendidiknya. Jadi, dalam pemaknaan ini kita harus belajar dari Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Firman Allah SWT QS. 37: 100-108:
“(100). Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang shaleh. (101). Maka kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang amat sabar. (102). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku meyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (103). Tatkala keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya)”. (104). Dan Kami panngillah dia, “Hai Ibrahim”, (105) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, “sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (106). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (107). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, (108). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian”.
Dari akar kata Qarban (mashdar dari Qaraba) banyak diperoleh berbagai kata bentukan lain. Misalnya, Qoriib dan Qarabah (dekat) yang ditransfer dan direduksi ke dalam bahasa India, Kareeb (dibaca: Karib, artinya dekat) dan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata karib kerabat, akrab.
Selanjutnya kata Qurban sendiri, selain istilah yang dikenal sebagai salah satu ibadah dalam Islam juga dalam bahasa Indonesia –entah sejak kapan- telah dibakukan menjadi satu kata dasar, yaitu kata korban; sehingga terbentuk kata berimbuhan berkorban dan pengorbanan. Hal ini diyakini disebabkan adanya hubungan kesamaan dalam makna yang terkandung pada kata Qurban. Selain bentukan kata yang disebutkan tadi, kata Qurban juga mempunyai akar kata yang sama dengan taqarrub (proses pendekatan diri) kepada Allah.
1. Makna dan Kedudukan Qurban
Secara syariat Islam, Qurban bermakna menumpahkan darah hewan sembelihan. Bila dikaji lebih mendalam, di dalam makna ini terdapat suatu hakikat kebenaran, yakni kesakitan, penderitaan dan kerugian. Hal inilah barangkali membuat orang Indonesia mengambil kata Qurban lantas dibahasaindonesiakan menjadi “korban”. Sebab kita ‘mafhum’ alias tahu sama tahu, yang namanya ‘korban’ memang selamanya menderita, mengalami kesakitan dan penderitaan atau kerugian, baik secara fisik material maupun mental spiritual.
Belum pernah kita dengar kata korban dimasukkan ke dalam kalimat yang enak-enak atau berkonotasi keberuntungan seperti misalnya, si Halimah (pinjam nama dulu) salah seorang ‘korban’ dalam pesta itu; atau ada kalimat, dalam pengumuman lomba memasak itu, si Ari memberikan hadiah kepada 5 ‘korban’. Ini jelas salah, karena selama masih berstatus korban, pasti tidak ada enaknya.
Di media massa kita juga sering mendengar misalnya ada berita, 2 ruko terbakar, tidak ada korban jiwa; atau terjadi pemboman di Irak, 5 korban tewas 30 lainnya luka-luka; begitu juga kata korban pembunuhan, korban perkosaan, korban bencana alam dan korban perampokan. Dalam bahasa anak muda pun ada istilah ‘korban perasaan’.
Nah, selanjutnya secara hakikat, Qurban mengandung makna mendidik, menguji dan melatih. Kenapa demikian? Pemaknaan mendidik di sini berkaitan erat dengan makna ‘memisahkan’. Kalau yang disembelih itu seekor kambing, unta, lembu atau ayam, maka akibatnya terjadi pemisahan antara kepala dan badan disebabkan lehernya disembelih berdarah-darah. Jelas ada unsur kesakitannya.
Bila makna ini diterjemahkan ke dalam sebuah proses pendidikan, seorang kader, murid, santri, siswa atau apalah namanya, pasti akan mengalami berbagai pemisahan. Seorang ‘kader mujahid dengan senantiasa dididik ber“al-Qur’an” pasti akan terjadi pemisahan antara pola fikir (di kepala) dan iman (di hati), pemisahan hak dan batil dan pemisahan kepentingan jihad dan dunia (selektif).
Begitu pula halnya, seorang anak didik kemiliteran harus mampu memisahkan “urusan tugas” dan “urusan kekeluargaan”. Seorang kader organisasi harus dapat memisahkan antara perasaan dan logika pergerakannya. Kader bisnis pun begitu, harus mampu memisahkan rasa sosial dengan logika bisnisnya. Sehingga, jadilah mereka kader yang tangguh, yang mapan di bidangnya, yang tahan uji lagi tahan menderita. Kader yang sabar dan bermental “pertapa” dan “tidak takut dirugikan”, seperti ternak yang dewasa yang bersedia digembala dan siap disembelih.
Inilah salah satu tolak ukur keberhasilan seorang pendidik dalam setiap Tujuan Pendidikan Khusus (TPK), di mana, peserta didik harus dapat memilah-milah dan menentukan pilihannya. Sebelum standart ini terpenuhi, insya Allah, perusahaan, organisasi, sekolah atau lembaga apapun namanya dijamin akan kecewa, karena hanya akan melahirkan karyawan-karyawan yang “menggek”, tentara-tentara yang tidak disiplin, kader-kader yang “cengeng”, orang-orang pergerakan atau bisnismen yang mudah frustasi dan “merajuk”, yang tidak bisa dijamin kapabilitasnya (layak dan mampu), kualitasnya (bermutu dan bernilai), kredibilitasnya (jujur dan berakhlak mulia) apalagi integritasnya (patuh dan punya rasa memiliki) dan loyalitas (setia dan pembela) kepada siapa (institusi) yang mendidiknya. Jadi, dalam pemaknaan ini kita harus belajar dari Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Firman Allah SWT QS. 37: 100-108:
“(100). Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang shaleh. (101). Maka kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang amat sabar. (102). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku meyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (103). Tatkala keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya)”. (104). Dan Kami panngillah dia, “Hai Ibrahim”, (105) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, “sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (106). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (107). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, (108). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian”.
Isra’ Mi’jraj: Perjalanan Menuju Kebangkitan Umat Islam Bangsa Indonesia
27 Rajab yang Umat Islam memperingati peristiwa bersejarah yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW, yakni isra’ Mi’jraj persisnya pada tahun kesebelas diangkatnya beliau menjadi Nabi dan Rasul.
Selama ini tidak sedikit di antara kita, khususnya di Indonesia yang menganut agama Islam setiap tahunnya senantiasa memperingati peristiwa ini, baik dengan mengadakan tabligh akbar, ceramah agama, perlombaan seni islam dan sebagainya.
Selain itu, kita juga sudah cukup banyak mendengar seputar kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW baik selama perjalanan sejak di Masjidil harom sampai menerima perintah Sholat 5 waktu sehari semalam, lantas kembali lagi ke rumahnya dan berbaring lagi di sebelah ummul mukminim Aisyah Ra; maupun hikmah-hikmah, cerita-cerita dibalik kejadian itu. Bahkan juga, kitapun sudah pernah mendengar tentang tanggapan kaum Quraisy, Abu Bakar yang dijuluki Nabi Ash-Shiddiq karena beliau manusia yang pertama membenarkan dan lainnya tentang peristiwa yang beliau alami itu.
Oleh karena itu, yang hendak dikemukakan di sini tak lain dan tak bukan sekedar siaran ulangan, yang sebenarnya sudah sangat sering diulang-ulangi oleh para ulama, ustadz-uztadz, guru agama dan sebagainya; atau dari apa yang kita baca di literatur-literatur Islam serta yang kita dengar dari media massa. Kesemuanya itu adalah khazanah bagi kita, perbendaharaan informasi, ilmu dan wawasan bagi kita, untuk dapat kita resapi, hayati dan kita petik buahnya, kita nikmati inti sarinya. Sehingga yang sangat kita harapkan dari semua itu, agar dapat terjadi perubahan-perubahan spritual dalam diri kita dan keluarga kita.
Namun tak kalah pentingnya adalah penjabaran mengenai apa realisasi peristiwa ajaib itu dalam kehidupan pribadi seorang yang mengaku mukmin dan bagaimana Peringatan Isra’ Mijra’ yang menjadi track record suksesnya para Nabi khususnya Muhammad SAW dalam membangun bangsa Arab bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan, sehingga Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) mampu memperbaiki citranya di Dunia internasional, terutama Barat.
Sehingga diharapkan pula, dapat kita jadikan bahan diskusi bersama untuk menyegarkan kembali ghirah jihad dan semangat juang kita untuk memperjuangkan kejayaan Islam di tengah-tengah bangsa kita. Dan secara bertahap pula akan memancarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia, bagaikan cahaya Allah yang diumpamakan minyak dari sejenis pohon zaitun yang minyaknya saja walau tak disentuh api, dapat menerangi layaknya pelita raksasa.
Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Mahasuci (Allah) Yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsa yang telah Kami beri berkah di sekelilingnya, supaya hendak Kami tunjukkan sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Surah Al-Isra/Bani Israil (17): 1)”
Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Aku sholat malam bersama kalian di sini kemudian aku pergi ke Yerussalem di mana aku shalat di situ dan dini aku sholat fajar bersama kalian lagi”.
“Ya Rasulullah”, kata Ummu Hani, “Jangan kau ceritakan ini kepada manusia, karena akan mengingkari dan menyakitimu”.
“Sungguh aku akan menceritakannya”.
Isra’ Mi’raj: Hijrah dan Sholat
Kisah Isra’ Mi’raj berawal ketika suatu malam Nabi Muhammad terkantuk-kantuk di rumah sepupunya Ummu Hani puetri Abu Thalib, ia dijemput malaikat Jibriel untuk mengunjungi Masjidil Aqsha di Yerussalem dengan mengenderai buraq (sejenis kilat) yang dalam ukuran manusia saat itu akan menempuh perjalanan satu bulan pergi satu bulan pulang; lalu Jibriel mengiringinya menembus tujuh lapis langit. Jibriel hanya diizinkan Allah mendampingi Nabi sampai suatu tempat yang disebut Sidratul Muntaha (lembaran-lembaran terlarang). Nabi SAW sendiri menghadap Allah dan menerima langsung perintah Sholat yang semula berjumlah 50 waktu sehari semalam, dalam proses negoisasi atas saran-saran sejumlah Nabi-Nabi yang menjaga langit seperti Musa, Ibrahim, Idris, Nuh dan lainnya, Nabi bolak-balik menyampaikan permohonannya untuk terus mengurangi jumlah waktu sholat sampai akhirnya menjadi 5 waktu sehari semalam.
Sebenarnya banyak sekali hal-hal yang perlu untuk dikritisi mengenai kronologis Mi’raj. Apakah mengenai riwayat-riwayat di seputar Rasul singgah ke surga dan neraka, berdialog dengan sejumlah Nabi, maupun mengenai wujud buraq yang dikenderai Rasulullah. Namun mengingat hadits tentang Isra’ Mi’raj umumnya panjang-panjang. Sehingga memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Namun yang hendak ditekankan di sini adalah, peristiwa isra’ mi’raj hakikatnya adalah pengukuhan syari’at sholat dalam syaria’t Muhammad. Sebab sebelum Muhammad bukan tidak ada sholat. Ada. Hanya saja masih menggunakan syar’um man Qablana (syariat Nabi sebelumnya). Pada prinsipnya ada dua hal yang diinginkan Allah SWT mengisra’mi’rajkan Muhammad SAW. Namun kedua hal ini hakikatnya adalah satu. Yakni, sama-sama untuk perjuangan Islam dan jihad fi sabilillah semata. Kedua hal yang dimaksud adalah Hijrah dan Sholat.
Adapun Hijrah, merupakan tuntutan ketika itu. Abu Thalib yang selalu membela perjuangan beliau hanya berselang beberapa bulan wafat. Demikian pula isterinya Khadijah RA. yang selalu menopang dan mensupport tegaknya dienul Islam pun menyusul dipanggil Allah beberapa bulan setelah pamannya Abu Thalib meninggal, sehingga tahun tersebut disebut tahun duka cita. Dengan wafatnya dua penopang utama ini, orang-orang kafir Quraisy semakin genjar melakukan penyiksaan, pencobaan pembunuhan terhadap Nabi dan para pengikutnya. Setelah diboikot habis-habisan, diteror terus menerus. Akhirnya setelah Isra’ secara simbolis bersama Jibriel dilakukannya, maka Isra’ secara praktis benar-benar terjadi sebagaimana kebanyakan Nabi dan kebanyakan orang-orang terdahulu, diusir dari negeri sendiri oelh bangsa sendiri. Singkatnya, Rasulullah SAW mau tidak mau, tidak bisa tidak, harus melakukan perjalanan jauh bersama pengikutnya di malam hari dalam rangka menghindari tekanan yang tidak punya prikemanusiaan lagi atau yang diistilahkan sekarang pelanggaran HAM berat. Itulah peristiwa Hijrah sebagai buah dari Isra’.
Sedangkan sholat merupakan Mi’raj itu sendiri. Sebagaimana Sabda Nabi SAW: “Ashsholatu Mi’rajul Mukminin”, sholat itu Mi’rajnya orang-orang mukmin. Nabi menerima pengukuhan syariat sholat saat Mi’raj ke langit menuju pusat alam semesta adalah untuk menerima perintah sholat. Sholat disyari’atkan saat itu bukan saja sebagai sebuah kebutuhan spritual di mana secara batiniyah, kaum muslimin sangat perlu wahana yang mampu memperkuat kekuatan mental-spritual dalam menghadapi orang-orang kafir, musrik dan munafik; bahkan lebih jauh sholat telah menjadi ukuran kedekatan seorang mukmin dengan Penciptanya. Dengan kata lain sholat merupakan sarana atau alat naik bagi seorang mungkin baik dalam derajat ketaqwaannya, posisi sosialnya sesama mukmin, maupun yang paling penting ketinggian kualitasnya dan kedekatannya dalam pandangan Allah SWT.
Perjalanan Menuju Kebangkitan UIBI
Satu-satunya dalil al-Qur’an tentang peristiwa Isra’ adalah ayat pertama surat al-Isra’. Surah al-Isra’ ini oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat juga menyebutnya dengan surah Bani Israil. Hikmah yang terkandung pada “dua nama pada surat yang sama” dalam al-Qur’an banyak sekali. Salah satunya adalah mengajak kita melihat sesuatu yang sama dari aspek yang berbeda. Kesamaan dua atau lebih nama surat biasanya menunjukkan makna yang sama yang ingin ditunjukkan melalui aspek lain. Misalnya, nama lain dari surah at-Taubah yaitu Bara’ah.
Dan memang dalam hal ini yang dimaksud dengan taubat itu adalah bara’ah itu sendiri. Hanya saja sudut pandangnya yang berbeda. At-Taubah artinya kembali. Sedangkan Bara’ah artinya melepaskan diri/pemutusan hubungan. Maksudnya, orang yang bertaubat tentunya orang yang ingin kembali ke jalan Allah atau jalan kebenaran; pada saat yang sama harus menjadi orang yang bara’ah. Artinya, orang yang melepaskan diri dari jalan selain Allah atau memutuskan hubungan dengan segala jenis kejahatan/ kesalahan masa lalunya.
Demikian pula penamaan surat Isra’ dan Israil. Kata Bani Israil sendiri berasal dari dua kata yakni, kata Bani (artinya generasi, keturunan, anak-cucu; bentuk jamak setara abna-a, banin dari kata ibnu) dan kata Israil (yang berasal dari bahasa serapan Ibrani yang berarti berjalan di waktu malam). Jadi, Bani Israil artinya generasi yang berjalan malam. Bani Israil di sini, maksudnya keturunan Nabi Ya’qub AS, yang bergelar Israel karena keluar bersama pengikutnya dari saudara sebangsa dan setanah air lantas kemudian melakukan perjalanan di waktu malam dari negeri Kana’an (daerah Palestina sekarang) pada waktu malam untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Sedangkan kata Isra’ itu memang menunjukkan kepada perjalanan yang dilakukan pada malam hari juga sebagaimana yang dimaksud dengan kata Israil; hanya saja kata Israil lebih sifatnya kolektif ketika diidhafahkan atau dikaitkan dengan kata Bani, sedangkan kata Isra’ menunjukkan pelaku tunggal yakni Rasulullah SAW. Oleh karena itu, penamaan surat Isra’ yang menjadi satu-satunya dalil al-Qur’an mengenai peristiwa bersejarah tersebut dengan nama lain Bani Israil sebenarnya menunjukkan kejadian yang sama pada waktu yang berbeda dengan pelaku yang berbeda pula.
Jadi sebenarnya, Nabi Ya’qub AS juga pernah melakukan Isra’ di masanya dengan sebab, alasan dan tujuan yang sama dengan Nabi Muhammad SAW di masanya. Untuk lebih dapat memahami hal ini, kita dapat membandingkan pula dengan apa yang dialami oleh Nabi Musa AS di masanya. Firman Allah: “Dan sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa: “Berjalanlah (Asri) kamu bersama hamba-hambaku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di tengah laut itu; kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tak usah takut akan tenggelam” (QS. Tho-ha 20: 77).
Dari ayat tersebut jelaslah Nabi Musa AS juga mengalami Isra’ bersama pengikutnya di malam hari guna menghindari kejaran kelompok Militer Fir’aun. Sama halnya dengan Muhammad saat hijrahnya juga dalam pengejaran kaum Quraisy.
Namun bagi kita umat Islam bangsa Indonesia yang sudah sangat sering disakiti dihina, dicemooh dan dituduh teroris (sebab kata Jamaah Islamiyah itu artinya semua orang yang mengaku Islam) dapatkan mengambil sari pati Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad ini sebagai satu karomah atau kemuliaan bagi umat Islam. Dapatkah umat Islam yang masih bersih jiwanya, masih tertindas batinnya melihat kemaksiatan yang semakin merajalela di Indonesia untuk dapat menangkap dan menerima pesan-pesan yang terselubung, tersembunyi yang dikemas Rasul dibalik sejarah yang ia tulis dengan tinta emas, tinta air mata bahkan tinta darah? Itulah sejarah kebangkitan. Akan ada sejarah yang hancur menyusul sejarah kebangkitan. Akan ada yang tutup buku, dan yang lainnya buka lembaran baru. Tinggal, semua kita yang memilih di pihak yang mana.
Lantas ke mana kita akan bawa umat ini melakukan perjalanan di malam hari atau ke mana kita hendak lari? Kita dikejar siapa? Kan itu pertanyaannya. Bagi kita yang merasa dikejar-kejar, entah itu dikejar-kejar oleh dosanyanya sendiri atau karena ulahnya sendiri, cobalah untuk hijrah “menemukan sesuatu yang baru”. Seterusnya, bagi yang hendak membawa dan mengawal umat ini, silakan siang hari saja mau malam juga boleh. Terserah. Yang penting sebenarnya, galang persatuan umat Islam bangsa Indonesia dengan membangun jaringan dakwah dan sebagainya. Buat seolah kita bekerjasama dengan siapa saja, biarpun itu musuh Allah sekalipun. Buat siang seperti malam dan buat malam seperti siang. Bekerjalah dalam gelap malam sampai mulai tampak tanda-tanda fajar kemenangan seperti kata mantan Presiden Mesir Anwar Sadat.
Selama ini tidak sedikit di antara kita, khususnya di Indonesia yang menganut agama Islam setiap tahunnya senantiasa memperingati peristiwa ini, baik dengan mengadakan tabligh akbar, ceramah agama, perlombaan seni islam dan sebagainya.
Selain itu, kita juga sudah cukup banyak mendengar seputar kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW baik selama perjalanan sejak di Masjidil harom sampai menerima perintah Sholat 5 waktu sehari semalam, lantas kembali lagi ke rumahnya dan berbaring lagi di sebelah ummul mukminim Aisyah Ra; maupun hikmah-hikmah, cerita-cerita dibalik kejadian itu. Bahkan juga, kitapun sudah pernah mendengar tentang tanggapan kaum Quraisy, Abu Bakar yang dijuluki Nabi Ash-Shiddiq karena beliau manusia yang pertama membenarkan dan lainnya tentang peristiwa yang beliau alami itu.
Oleh karena itu, yang hendak dikemukakan di sini tak lain dan tak bukan sekedar siaran ulangan, yang sebenarnya sudah sangat sering diulang-ulangi oleh para ulama, ustadz-uztadz, guru agama dan sebagainya; atau dari apa yang kita baca di literatur-literatur Islam serta yang kita dengar dari media massa. Kesemuanya itu adalah khazanah bagi kita, perbendaharaan informasi, ilmu dan wawasan bagi kita, untuk dapat kita resapi, hayati dan kita petik buahnya, kita nikmati inti sarinya. Sehingga yang sangat kita harapkan dari semua itu, agar dapat terjadi perubahan-perubahan spritual dalam diri kita dan keluarga kita.
Namun tak kalah pentingnya adalah penjabaran mengenai apa realisasi peristiwa ajaib itu dalam kehidupan pribadi seorang yang mengaku mukmin dan bagaimana Peringatan Isra’ Mijra’ yang menjadi track record suksesnya para Nabi khususnya Muhammad SAW dalam membangun bangsa Arab bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan, sehingga Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) mampu memperbaiki citranya di Dunia internasional, terutama Barat.
Sehingga diharapkan pula, dapat kita jadikan bahan diskusi bersama untuk menyegarkan kembali ghirah jihad dan semangat juang kita untuk memperjuangkan kejayaan Islam di tengah-tengah bangsa kita. Dan secara bertahap pula akan memancarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia, bagaikan cahaya Allah yang diumpamakan minyak dari sejenis pohon zaitun yang minyaknya saja walau tak disentuh api, dapat menerangi layaknya pelita raksasa.
Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Mahasuci (Allah) Yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsa yang telah Kami beri berkah di sekelilingnya, supaya hendak Kami tunjukkan sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Surah Al-Isra/Bani Israil (17): 1)”
Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Aku sholat malam bersama kalian di sini kemudian aku pergi ke Yerussalem di mana aku shalat di situ dan dini aku sholat fajar bersama kalian lagi”.
“Ya Rasulullah”, kata Ummu Hani, “Jangan kau ceritakan ini kepada manusia, karena akan mengingkari dan menyakitimu”.
“Sungguh aku akan menceritakannya”.
Isra’ Mi’raj: Hijrah dan Sholat
Kisah Isra’ Mi’raj berawal ketika suatu malam Nabi Muhammad terkantuk-kantuk di rumah sepupunya Ummu Hani puetri Abu Thalib, ia dijemput malaikat Jibriel untuk mengunjungi Masjidil Aqsha di Yerussalem dengan mengenderai buraq (sejenis kilat) yang dalam ukuran manusia saat itu akan menempuh perjalanan satu bulan pergi satu bulan pulang; lalu Jibriel mengiringinya menembus tujuh lapis langit. Jibriel hanya diizinkan Allah mendampingi Nabi sampai suatu tempat yang disebut Sidratul Muntaha (lembaran-lembaran terlarang). Nabi SAW sendiri menghadap Allah dan menerima langsung perintah Sholat yang semula berjumlah 50 waktu sehari semalam, dalam proses negoisasi atas saran-saran sejumlah Nabi-Nabi yang menjaga langit seperti Musa, Ibrahim, Idris, Nuh dan lainnya, Nabi bolak-balik menyampaikan permohonannya untuk terus mengurangi jumlah waktu sholat sampai akhirnya menjadi 5 waktu sehari semalam.
Sebenarnya banyak sekali hal-hal yang perlu untuk dikritisi mengenai kronologis Mi’raj. Apakah mengenai riwayat-riwayat di seputar Rasul singgah ke surga dan neraka, berdialog dengan sejumlah Nabi, maupun mengenai wujud buraq yang dikenderai Rasulullah. Namun mengingat hadits tentang Isra’ Mi’raj umumnya panjang-panjang. Sehingga memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Namun yang hendak ditekankan di sini adalah, peristiwa isra’ mi’raj hakikatnya adalah pengukuhan syari’at sholat dalam syaria’t Muhammad. Sebab sebelum Muhammad bukan tidak ada sholat. Ada. Hanya saja masih menggunakan syar’um man Qablana (syariat Nabi sebelumnya). Pada prinsipnya ada dua hal yang diinginkan Allah SWT mengisra’mi’rajkan Muhammad SAW. Namun kedua hal ini hakikatnya adalah satu. Yakni, sama-sama untuk perjuangan Islam dan jihad fi sabilillah semata. Kedua hal yang dimaksud adalah Hijrah dan Sholat.
Adapun Hijrah, merupakan tuntutan ketika itu. Abu Thalib yang selalu membela perjuangan beliau hanya berselang beberapa bulan wafat. Demikian pula isterinya Khadijah RA. yang selalu menopang dan mensupport tegaknya dienul Islam pun menyusul dipanggil Allah beberapa bulan setelah pamannya Abu Thalib meninggal, sehingga tahun tersebut disebut tahun duka cita. Dengan wafatnya dua penopang utama ini, orang-orang kafir Quraisy semakin genjar melakukan penyiksaan, pencobaan pembunuhan terhadap Nabi dan para pengikutnya. Setelah diboikot habis-habisan, diteror terus menerus. Akhirnya setelah Isra’ secara simbolis bersama Jibriel dilakukannya, maka Isra’ secara praktis benar-benar terjadi sebagaimana kebanyakan Nabi dan kebanyakan orang-orang terdahulu, diusir dari negeri sendiri oelh bangsa sendiri. Singkatnya, Rasulullah SAW mau tidak mau, tidak bisa tidak, harus melakukan perjalanan jauh bersama pengikutnya di malam hari dalam rangka menghindari tekanan yang tidak punya prikemanusiaan lagi atau yang diistilahkan sekarang pelanggaran HAM berat. Itulah peristiwa Hijrah sebagai buah dari Isra’.
Sedangkan sholat merupakan Mi’raj itu sendiri. Sebagaimana Sabda Nabi SAW: “Ashsholatu Mi’rajul Mukminin”, sholat itu Mi’rajnya orang-orang mukmin. Nabi menerima pengukuhan syariat sholat saat Mi’raj ke langit menuju pusat alam semesta adalah untuk menerima perintah sholat. Sholat disyari’atkan saat itu bukan saja sebagai sebuah kebutuhan spritual di mana secara batiniyah, kaum muslimin sangat perlu wahana yang mampu memperkuat kekuatan mental-spritual dalam menghadapi orang-orang kafir, musrik dan munafik; bahkan lebih jauh sholat telah menjadi ukuran kedekatan seorang mukmin dengan Penciptanya. Dengan kata lain sholat merupakan sarana atau alat naik bagi seorang mungkin baik dalam derajat ketaqwaannya, posisi sosialnya sesama mukmin, maupun yang paling penting ketinggian kualitasnya dan kedekatannya dalam pandangan Allah SWT.
Perjalanan Menuju Kebangkitan UIBI
Satu-satunya dalil al-Qur’an tentang peristiwa Isra’ adalah ayat pertama surat al-Isra’. Surah al-Isra’ ini oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat juga menyebutnya dengan surah Bani Israil. Hikmah yang terkandung pada “dua nama pada surat yang sama” dalam al-Qur’an banyak sekali. Salah satunya adalah mengajak kita melihat sesuatu yang sama dari aspek yang berbeda. Kesamaan dua atau lebih nama surat biasanya menunjukkan makna yang sama yang ingin ditunjukkan melalui aspek lain. Misalnya, nama lain dari surah at-Taubah yaitu Bara’ah.
Dan memang dalam hal ini yang dimaksud dengan taubat itu adalah bara’ah itu sendiri. Hanya saja sudut pandangnya yang berbeda. At-Taubah artinya kembali. Sedangkan Bara’ah artinya melepaskan diri/pemutusan hubungan. Maksudnya, orang yang bertaubat tentunya orang yang ingin kembali ke jalan Allah atau jalan kebenaran; pada saat yang sama harus menjadi orang yang bara’ah. Artinya, orang yang melepaskan diri dari jalan selain Allah atau memutuskan hubungan dengan segala jenis kejahatan/ kesalahan masa lalunya.
Demikian pula penamaan surat Isra’ dan Israil. Kata Bani Israil sendiri berasal dari dua kata yakni, kata Bani (artinya generasi, keturunan, anak-cucu; bentuk jamak setara abna-a, banin dari kata ibnu) dan kata Israil (yang berasal dari bahasa serapan Ibrani yang berarti berjalan di waktu malam). Jadi, Bani Israil artinya generasi yang berjalan malam. Bani Israil di sini, maksudnya keturunan Nabi Ya’qub AS, yang bergelar Israel karena keluar bersama pengikutnya dari saudara sebangsa dan setanah air lantas kemudian melakukan perjalanan di waktu malam dari negeri Kana’an (daerah Palestina sekarang) pada waktu malam untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Sedangkan kata Isra’ itu memang menunjukkan kepada perjalanan yang dilakukan pada malam hari juga sebagaimana yang dimaksud dengan kata Israil; hanya saja kata Israil lebih sifatnya kolektif ketika diidhafahkan atau dikaitkan dengan kata Bani, sedangkan kata Isra’ menunjukkan pelaku tunggal yakni Rasulullah SAW. Oleh karena itu, penamaan surat Isra’ yang menjadi satu-satunya dalil al-Qur’an mengenai peristiwa bersejarah tersebut dengan nama lain Bani Israil sebenarnya menunjukkan kejadian yang sama pada waktu yang berbeda dengan pelaku yang berbeda pula.
Jadi sebenarnya, Nabi Ya’qub AS juga pernah melakukan Isra’ di masanya dengan sebab, alasan dan tujuan yang sama dengan Nabi Muhammad SAW di masanya. Untuk lebih dapat memahami hal ini, kita dapat membandingkan pula dengan apa yang dialami oleh Nabi Musa AS di masanya. Firman Allah: “Dan sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa: “Berjalanlah (Asri) kamu bersama hamba-hambaku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di tengah laut itu; kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tak usah takut akan tenggelam” (QS. Tho-ha 20: 77).
Dari ayat tersebut jelaslah Nabi Musa AS juga mengalami Isra’ bersama pengikutnya di malam hari guna menghindari kejaran kelompok Militer Fir’aun. Sama halnya dengan Muhammad saat hijrahnya juga dalam pengejaran kaum Quraisy.
Namun bagi kita umat Islam bangsa Indonesia yang sudah sangat sering disakiti dihina, dicemooh dan dituduh teroris (sebab kata Jamaah Islamiyah itu artinya semua orang yang mengaku Islam) dapatkan mengambil sari pati Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad ini sebagai satu karomah atau kemuliaan bagi umat Islam. Dapatkah umat Islam yang masih bersih jiwanya, masih tertindas batinnya melihat kemaksiatan yang semakin merajalela di Indonesia untuk dapat menangkap dan menerima pesan-pesan yang terselubung, tersembunyi yang dikemas Rasul dibalik sejarah yang ia tulis dengan tinta emas, tinta air mata bahkan tinta darah? Itulah sejarah kebangkitan. Akan ada sejarah yang hancur menyusul sejarah kebangkitan. Akan ada yang tutup buku, dan yang lainnya buka lembaran baru. Tinggal, semua kita yang memilih di pihak yang mana.
Lantas ke mana kita akan bawa umat ini melakukan perjalanan di malam hari atau ke mana kita hendak lari? Kita dikejar siapa? Kan itu pertanyaannya. Bagi kita yang merasa dikejar-kejar, entah itu dikejar-kejar oleh dosanyanya sendiri atau karena ulahnya sendiri, cobalah untuk hijrah “menemukan sesuatu yang baru”. Seterusnya, bagi yang hendak membawa dan mengawal umat ini, silakan siang hari saja mau malam juga boleh. Terserah. Yang penting sebenarnya, galang persatuan umat Islam bangsa Indonesia dengan membangun jaringan dakwah dan sebagainya. Buat seolah kita bekerjasama dengan siapa saja, biarpun itu musuh Allah sekalipun. Buat siang seperti malam dan buat malam seperti siang. Bekerjalah dalam gelap malam sampai mulai tampak tanda-tanda fajar kemenangan seperti kata mantan Presiden Mesir Anwar Sadat.
Idul Fitri apaLebaran?
Idul Fitri atau Lebaran?
Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Idul Fitri, apa lebaran?
Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Nuzulul Qur’an
Nuzulul Qur’an berarti turunnya alQur’an. Nuzul Qur’an diperingati setiap malam tujuh belas Ramadlan setiap tahunnya. Nuzul Qur’an adalah peristiwa sejarah turunnya wahyu pertama kali turun di saat Nabi sedang bertahannus (berkhalwat) di gua Hira. Bilamana saat tiba-tiba Jibriel datang memeluknya sambil berseru; “IQRA’!”. Muhammad ketakutan. Dari dahinya keluar keringat dingin saking takutnya. Dalam takutnya Muhammad menjawab, Saya tidak bisa membaca. Jibril mengulangi lagi seruannya memerintah Muhammad membaca: “IQRA’”, kata Jibriel lagi, sampai dua kali berturut turut dan Muhammad menjawab seperti jawabannya yang pertama. Perintah Jibriel yang ketiga, IQRA’ akhirnya dijawab Muhammad dengan perkataan: DENGAN APA SAYA HARUS MEMBACA?”. Maka langsung disambut oleh Malaikat Jibril “BACALAH DENGAN NAMA TUHAMMU YANG MENCIPTAKAN”. Kejadian itu terjadi pada bulan Ramadlan hari ke tujuh belas. Al-Qur’an Yang Mulia itu diturunkan pertama kali tepatnya pada malam tanggal 17 Ramadlan tahun ke empat puluh dari kenabian, di gua Hira’, terdiri dari 5 ayat (ayat 1-5 surah al-‘Alaq). FirmanNya: “Bacalah dengan menyebut nama TuhanMu yang menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan TuhanMu agungkan. Yang telah mengajarkan (manusia) dengan perantaraan Kalam, Ia mengajarkan manusia apa yang belum mereka ketahui”.
Bulan Ramadlan tidak saja bulan yang utama pada umat Muhammad SAW, tetapi juga sebenarnya merupakan bulan utama bagi umat-umat sebelum Muhammad SAW, baik itu umat Nabi Ibrahim, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Musa AS, karena pada bulan ini kitab-kitab suci umat sejumlah Nabi yang disebutkan tadi diturunkan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang bersumber dari Watsil bin al-Asqa’ Ra; Nabi s.a.w. bersabda:“Shuhuf Ibahim diturunkan malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadhan, dan Injil diturunkan tiga belas bulan empat bulan Ramadhan” (HR. Al-Musnad).
Keutamaan bulan Ramadlan membuatnya menjadi lebih mulia dan utama dari bulan-bulan lain. Pada bulan Ramadlan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang menjadi momentum kekuatan Islam, seperti terjadinya perang badar. Demikian pula keutamaan Ramadlan dengan lailatul Qadr, juga menjadikannya lebih baik dari ribuan bulan, bahkan Ulama sepakat bahwa pada malam lailatul Qadr itulah al-Qur’an itu diturunkan. Firman Allah QS. Al-Qadr, ayat 1-5:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an itu pada malam lailatul Qadr, tahukah kamu apakah malam lailatul Qadr itu. Lailatul Qard itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat dan ruh (Jibriel) dengan izin Tuhan mereka karena setiap (urusan yang ditetapkan). Keselamatan pada malam itu sampai terbit fajar”.Sesuai dari keterangan hadits-hadits Nabi SAW mengenai lailatil Qadr, bahwa malam ini diminta agar dicari pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan (21,23,25,27 atau 29 Ramadlan). Sehingga menimbulkan perbedaan pendapat mengenai Nuzulul Qur’an apakah pada malam ke tujuh belas atau pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadlan. Kendati demikian, sebagian ulama yang mengambil jalan tengah (Thariqatul Jam’iyah) dengan mengemukakan alasan-alasan dalil aqli dan naqli mengemukakan, Al-Qur’an diturunkan dari Luh Mahfuzh ke langit dunia pada malam lailatul Qadr dan diturunkan kepada Nabi Muhammad (wahyu pertama) pada malam ke tujuh belas, dan tentu saja tak ada yang bisa menyanggah bila al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadlan sebagai bulan yang berisi banyak hikmah bagi manusia. Namun sebenarnya di antara beberapa keutamaan itu yang paling tampak bagi kita adalah Mulianya Ramadlan bila dilihat dari keutamaan dan kemuliaan al-Qur’an. Firman Allah: “Sesungguhnya Inilah al-Qur’am Yang Mulia, Pada Kitab yang terpelihara, Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS. Al-Waqi’ah: 71-73).
Keutamaan dan kemuliaan Al-Qur’an sebagai Petunjuk kehidupan manusia, penjelasan-penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk Allah sekaligus juga sebagai pembeda antara Hak (Murni) dan batil (palsu), anata benar dan salah, antara dicintai dan dimurkai dalam al-Qur’an dirangkaikan Allah pada QS. 2:185, “Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan sebagai penjelasan bayyiyat, dari pentunjuk dan furqan (pembeda)…”.
Bulan Ramadlan tidak saja bulan yang utama pada umat Muhammad SAW, tetapi juga sebenarnya merupakan bulan utama bagi umat-umat sebelum Muhammad SAW, baik itu umat Nabi Ibrahim, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Musa AS, karena pada bulan ini kitab-kitab suci umat sejumlah Nabi yang disebutkan tadi diturunkan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang bersumber dari Watsil bin al-Asqa’ Ra; Nabi s.a.w. bersabda:“Shuhuf Ibahim diturunkan malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadhan, dan Injil diturunkan tiga belas bulan empat bulan Ramadhan” (HR. Al-Musnad).
Keutamaan bulan Ramadlan membuatnya menjadi lebih mulia dan utama dari bulan-bulan lain. Pada bulan Ramadlan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang menjadi momentum kekuatan Islam, seperti terjadinya perang badar. Demikian pula keutamaan Ramadlan dengan lailatul Qadr, juga menjadikannya lebih baik dari ribuan bulan, bahkan Ulama sepakat bahwa pada malam lailatul Qadr itulah al-Qur’an itu diturunkan. Firman Allah QS. Al-Qadr, ayat 1-5:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an itu pada malam lailatul Qadr, tahukah kamu apakah malam lailatul Qadr itu. Lailatul Qard itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat dan ruh (Jibriel) dengan izin Tuhan mereka karena setiap (urusan yang ditetapkan). Keselamatan pada malam itu sampai terbit fajar”.Sesuai dari keterangan hadits-hadits Nabi SAW mengenai lailatil Qadr, bahwa malam ini diminta agar dicari pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan (21,23,25,27 atau 29 Ramadlan). Sehingga menimbulkan perbedaan pendapat mengenai Nuzulul Qur’an apakah pada malam ke tujuh belas atau pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadlan. Kendati demikian, sebagian ulama yang mengambil jalan tengah (Thariqatul Jam’iyah) dengan mengemukakan alasan-alasan dalil aqli dan naqli mengemukakan, Al-Qur’an diturunkan dari Luh Mahfuzh ke langit dunia pada malam lailatul Qadr dan diturunkan kepada Nabi Muhammad (wahyu pertama) pada malam ke tujuh belas, dan tentu saja tak ada yang bisa menyanggah bila al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadlan sebagai bulan yang berisi banyak hikmah bagi manusia. Namun sebenarnya di antara beberapa keutamaan itu yang paling tampak bagi kita adalah Mulianya Ramadlan bila dilihat dari keutamaan dan kemuliaan al-Qur’an. Firman Allah: “Sesungguhnya Inilah al-Qur’am Yang Mulia, Pada Kitab yang terpelihara, Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS. Al-Waqi’ah: 71-73).
Keutamaan dan kemuliaan Al-Qur’an sebagai Petunjuk kehidupan manusia, penjelasan-penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk Allah sekaligus juga sebagai pembeda antara Hak (Murni) dan batil (palsu), anata benar dan salah, antara dicintai dan dimurkai dalam al-Qur’an dirangkaikan Allah pada QS. 2:185, “Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan sebagai penjelasan bayyiyat, dari pentunjuk dan furqan (pembeda)…”.
Setan di Sekitar Kita
Oleh: Jufri Bulian Ababil
Kalau ada yang mengajak kepada kejahatan secara langsung dengan menjelaskan kejahatan-kejahatannya, berarti itu bukan setan. Tentu tak akan ada orang yang mau ikut. Tetapi, kalau ada yang mengajak kepada kejahatan yang telah dikemas dalam bungkus kebaikan, sehingga orang-orang yang melihatnya sekilas terpana, ini baru setan.
Jadi, pada prinsipnya orang tidak suka pada kejahatan, perbuatan dosa, munkar, maksiat atau apalah namanya. Namun, karena kejahatan itu dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan indah dan menarik, sehingga orang jadi terpengaruh. Demikian pula, perbuatan yang pada hakikatnya kejahatan atau maksiat, setelah diberi aksesoris-aksesoris tertentu sehingga hakikat perbuatan itu menjadi kabur. Misalnya dengan memperhalus istilah dan sebutan bagi suatu perbutan sehingga orang tidak merasa jijik lagi mendengarnya; Ini baru kerjaan setan.
Secara Epistimologis, sebutan setan yang dikenal dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab, syaithon; jamaknya syayathin.Kata syaiton sendiri berasal dari kata sya-tho-na mengandung makna "ba'uda minal haq". Artinya, jauh dari kebenaran.
Sedangkan menurut terminologi bahasa, setan didefenisikan dalam berbagai pengertian, tergantung dari sumber doktrin ajaran yang melekat pada si pemberi pengertian itu. Menurut definisi yang diberikan al-Qur'an yang merupakan doktrin ajaran Islam, setan dapat didefinisikan sebagai "Manusia atau jin yang secara sadar mengajak manusia dan jin lain untuk menentang Allah dengan meninggalkan perintah-Nya atau mengerjakan pelanggaran ajaran-Nya".
1. Existensi dan Aktivitas Setan
Dalam beberapa ayat yang dijelaskan al-Qur'an dan Hadits, existensi setan itu dapat terdiri dari bangsa jin dan manusia. Setan ada yang berbangsa jin Ada pula yang berbangsa manusia. Setan yang berbansa jin dapat menjelma atau menyerupai manusia (kecuali Nabi). Selain itu setan bangsa jin juga dapat menyerupai binatang seperti ular, kalajengking dan anjing hitam. Untuk menggoda manusia ia diberi Allah kemampuan menyusup melalui peredaran darah. Setan jin ini juga mengajarkan sihir kepada melalui bisikan hati.
Firman Allah SWT QS. 2: 208: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam di segala aspek (kehidupan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu".
Sedangkan setan yang berbangsa manusia merupakan merupakan musuh yang nyata bagi orang Mukmin. Setan-setan ini berkomplot untuk memusuhi Nabi dan Sunnahnya. Mereka juga mengajarkan kekufuran dan sihir melalui sains dan teknologi, menjerumuskan orang, lalu melepaskan tanggung jawab, suka menghasut, mengkompori dan mempropokasi serta suka mengajak kepada hukum thagut (hukum jahiliyah atau produk hawa nafsu manusia) dan meninggalkan syariat Allah, menjanjikan yang indah-indah dengan maksud menipu, suka mengada-ada, membingungkan orang sebingung-bingungnya, menyemarakkan manusia untuk hidup befoya-foya
Firman Allah SWT: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu dari setan-setan (jenis) menusia dan jin sebahagian mereka kepada sebagian yang lain membisikkan kata-kata yang indah untuk maksud menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka berhenti mengerjakan hal itu, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (QS. 6:12).
Strategi setan baik yang berbangsa jin maupun yang berbangsa manusia untuk mengalahkan kebenaran adalah dengan cara menghiasi perbuatan jahat dengan hal-hal yang mempesona sehingga membuat manusia yang kurang banyak mengingat Allah dan kurang minta perlindungan kepada Allah mudah terpengaruh dan terbuai. Sebaliknya juga, dengan trik-trik tertentu, setan juga dapat memutar balikkan faksa kebenaran dapat disulap dan dianggap sesat atau dipandang salah oleh orang banyak. Firman Allah SWT QS. 2: 168: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik yang terdapat di bumi , dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan sesuatu tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui"
2. Membentengi Diri Dari Setan
Agar dapat menbentengi dari kejahatan setan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menutup 10 jalan (pintu) masuk setan ke dalam diri manusia. Kesepuluh pintu masuk itu antara lain, (1) Menghilangkan sifat serakah dan buruk sangka sehingga melahirkan Qonaah dan yakin. Setan tidak akan mempengaruhi orang yang yakin. (2) Cinta dunia berleihan dan panjang angan-angan yang melahirkan takut mati (3) Bersantai santai, melalaikan diri merasa serba menikmati kesenangan (hedonis). (4) Ujub yang membutuh kesadaran terhadap diri sendiri (5) Menyepelakan atau tidak menghormati hak dan martabat orang lain (6) dengki dan tidak pernah merasa puas terhadap karunia yang diberikan Allah kepada yang lain. (7) Riya dan senang dipuji sehingga hilang rasa ikhlash karena Allah. Firman Allah QS. 15: 39-43, "Iblis berkata : ya Tuhanku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan (maksiat) mereka, di muka bumi, dan aku pasti akan menyasatkan mereka semuanya" Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlash di antara mereka". Allah Berfirman: "Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutmu, yaitu orang-orang yang lengah". (8) Sombong dan takabbur Kikir, pelit sehingga hilang rasa tawadlu' atau rendah hati (9) Tamak, rakus sehingga menghilangkan sifat zuhud. (10) Tidak berlebih-lebihan dan melakukan pembaziran yang menghilangkan sifat hemat dan pandai mengatur harta benda.Firman Allah QS. 17:27, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat menentang kepada Tuhannya".
Kesepuluh sifat itu wajib dihindari sebagai tanda kita benar-benar memusuhi setan. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat menutup diri dari kesepuluh pintu ini dikhawatirkan akan menjadi teman setan, yang pada akhirnya akan menjadi setan berbangsa manusia. Firman Allah QS. 17: 53, "Dan katakanlah kepada Hamba-hambaku: "Hendaklah mereka mengatakan ucapan yang baik-baik. Sesungguhnya setan itu pembuat perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia".
3. Sudah Terbelenggukah Setan dan Kejahatan?
Dalam persepsi kebanyakan anggota masyarakat tampaknya ada anggapan bahwa pada bulan Ramadhan semua hantu, setan-setan, jin-jin jahat atau yang dikenal luas dengan istilah-istilah mistik sebagai kuntilanak, dedemit, pocong, gondoruwo, begu ganjang dan sebagainya semua terbelenggu. Namun tak jelas yang membelenggu siapa. Membelenggunya pakai apa. Benarkah persepsi itu?
Kenyataannya, apabila beberapa hari bulan Ramadlan telah berjalan, mulai tampak orang-orang sudah merokok di jalan, kedai-kedai kopi sudah mulai ramai (bedanya hanya pakai tabir/tirai penutup kecuali kaki). Korupsi dan manipulasi barangkali tetap berjalan kendati gaya agak dialim-alimkan sehingga kelihatan seperti sudah tobat.
Pada malam-malam bulan Ramadhan di tengah-tengah gema sholawat dari bilal-bilal tawawih di Surau dan Mesjid, masih tampak di berbagai tempat, kedai-kedai tuak dan tetap dikunjungi, perempuan-perempuan malam (meskipun berkurang) tetap mangkal mengincar lelaki hidung belang (bejat) sehingga kesucian Ramadlan ternodai.
Pekerjaan-pekerjaan setan yang telah disebut di atas barangkali membuat kita heran kenapa pada anggapannya, bulan Ramadlan setan dibelenggu, kenapa pekerjaan-pekerjaan setan justru tetap ada, kendati sudah dihimbau. Agaknya perlu dipertanyakan, apakah bahasa himbauan, anjuran, peringatan baik dari para pemimpin, tokoh, ulama dan aparat keamanan sudah dianggap seperti mendengar suara "kentut" sehingga dianggap tidak lucu dan angin lalu (numpang lewat). Mohon ampun dan mohon perlindungan kepada Allah. Mudah-mudahan Allah membinasakan para pemimpin-pemimpin yang melindungi maksiat dan menggantikannya dengan pemimpin-pemimpin yang melindungi para penegak amar makruf nahi mungkar, sebagaimana Firman Allah: QS. 4: 75, "Mengapa kamu tidak mau berjuang di jalan Allah sementara sudah banyak orang-orang yang tertindas di antaramu berdoa: "Oh, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negara yang zalim (bejat, bengis, brutal) warganya ini. Dan karuniakanlah kami pemimpin dari sisimu…"
Kebanyakan rakyat sudah muak menyaksikan basa-basi sehingga hati mereka mati mendengar tentang penegakan hukum. Perut mereka mual melihat tampang-tampang yang masih pede bicara atas nama kebenaran, tapi kerjanya hanya menjual keringat orang. Kenyataan ketidakmerataan ekonomi dengan cara menjual segala yang ada di negara ini dengan harga murah, mulai dari jual informasi sampai jual "manusia". Bahasa-bahasa Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad (LJ) dan organ sevisi lainnya yang bahasanya mudah dimengerti setan-setan tadi justru dibela oleh Bapak-Bapaknya setan dengan alasan Ham him hum segala macam. Begitu bebas leluasanya mereka. Sehingga jauhlah realisasi Sabda Nabi SAW:
"Bila tiba malam pertama bulan Ramadlan, dibelenggu syaitan, dan para jin yang jahat, dan tertutup pintu-pintu neraka sehingga tiada satupun pintu yang terbuka; dan terbuka semua pintu surga sehingga tiada satupun yang tertutup; dan pada tiap malam ada seruan: "Wahai orang yang ingin baik, majulah. Wahai orang yang ingin jahat berhentilah. Dan Allah memerdekakan beberapa banyak dari api neraka dan yang demikian ini tiap malam" (HR. Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah)
Sebenarnya, setan yang ada dalam diri masing-masing kitalah yang perlu dibelenggu. Kejahatan dirinyalah yang pertama harus dibelenggunya. Kalau masing-masing sudah membelenggu setan dan kejahatan dalam dirinya insya Allah setan-setan lain ikut terbelenggu. Kecuali dia seorang penguasa sehingga ia dengan "politikal will"-nya dapat melakukan hal itu karena ia punya kekuatan, wewenang dan kewajiban untuk itu, untuk kebenaran, bukan untuk keuntungan.
Kalau ada yang mengajak kepada kejahatan secara langsung dengan menjelaskan kejahatan-kejahatannya, berarti itu bukan setan. Tentu tak akan ada orang yang mau ikut. Tetapi, kalau ada yang mengajak kepada kejahatan yang telah dikemas dalam bungkus kebaikan, sehingga orang-orang yang melihatnya sekilas terpana, ini baru setan.
Jadi, pada prinsipnya orang tidak suka pada kejahatan, perbuatan dosa, munkar, maksiat atau apalah namanya. Namun, karena kejahatan itu dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan indah dan menarik, sehingga orang jadi terpengaruh. Demikian pula, perbuatan yang pada hakikatnya kejahatan atau maksiat, setelah diberi aksesoris-aksesoris tertentu sehingga hakikat perbuatan itu menjadi kabur. Misalnya dengan memperhalus istilah dan sebutan bagi suatu perbutan sehingga orang tidak merasa jijik lagi mendengarnya; Ini baru kerjaan setan.
Secara Epistimologis, sebutan setan yang dikenal dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab, syaithon; jamaknya syayathin.Kata syaiton sendiri berasal dari kata sya-tho-na mengandung makna "ba'uda minal haq". Artinya, jauh dari kebenaran.
Sedangkan menurut terminologi bahasa, setan didefenisikan dalam berbagai pengertian, tergantung dari sumber doktrin ajaran yang melekat pada si pemberi pengertian itu. Menurut definisi yang diberikan al-Qur'an yang merupakan doktrin ajaran Islam, setan dapat didefinisikan sebagai "Manusia atau jin yang secara sadar mengajak manusia dan jin lain untuk menentang Allah dengan meninggalkan perintah-Nya atau mengerjakan pelanggaran ajaran-Nya".
1. Existensi dan Aktivitas Setan
Dalam beberapa ayat yang dijelaskan al-Qur'an dan Hadits, existensi setan itu dapat terdiri dari bangsa jin dan manusia. Setan ada yang berbangsa jin Ada pula yang berbangsa manusia. Setan yang berbansa jin dapat menjelma atau menyerupai manusia (kecuali Nabi). Selain itu setan bangsa jin juga dapat menyerupai binatang seperti ular, kalajengking dan anjing hitam. Untuk menggoda manusia ia diberi Allah kemampuan menyusup melalui peredaran darah. Setan jin ini juga mengajarkan sihir kepada melalui bisikan hati.
Firman Allah SWT QS. 2: 208: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam di segala aspek (kehidupan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu".
Sedangkan setan yang berbangsa manusia merupakan merupakan musuh yang nyata bagi orang Mukmin. Setan-setan ini berkomplot untuk memusuhi Nabi dan Sunnahnya. Mereka juga mengajarkan kekufuran dan sihir melalui sains dan teknologi, menjerumuskan orang, lalu melepaskan tanggung jawab, suka menghasut, mengkompori dan mempropokasi serta suka mengajak kepada hukum thagut (hukum jahiliyah atau produk hawa nafsu manusia) dan meninggalkan syariat Allah, menjanjikan yang indah-indah dengan maksud menipu, suka mengada-ada, membingungkan orang sebingung-bingungnya, menyemarakkan manusia untuk hidup befoya-foya
Firman Allah SWT: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu dari setan-setan (jenis) menusia dan jin sebahagian mereka kepada sebagian yang lain membisikkan kata-kata yang indah untuk maksud menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka berhenti mengerjakan hal itu, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (QS. 6:12).
Strategi setan baik yang berbangsa jin maupun yang berbangsa manusia untuk mengalahkan kebenaran adalah dengan cara menghiasi perbuatan jahat dengan hal-hal yang mempesona sehingga membuat manusia yang kurang banyak mengingat Allah dan kurang minta perlindungan kepada Allah mudah terpengaruh dan terbuai. Sebaliknya juga, dengan trik-trik tertentu, setan juga dapat memutar balikkan faksa kebenaran dapat disulap dan dianggap sesat atau dipandang salah oleh orang banyak. Firman Allah SWT QS. 2: 168: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik yang terdapat di bumi , dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan sesuatu tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui"
2. Membentengi Diri Dari Setan
Agar dapat menbentengi dari kejahatan setan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menutup 10 jalan (pintu) masuk setan ke dalam diri manusia. Kesepuluh pintu masuk itu antara lain, (1) Menghilangkan sifat serakah dan buruk sangka sehingga melahirkan Qonaah dan yakin. Setan tidak akan mempengaruhi orang yang yakin. (2) Cinta dunia berleihan dan panjang angan-angan yang melahirkan takut mati (3) Bersantai santai, melalaikan diri merasa serba menikmati kesenangan (hedonis). (4) Ujub yang membutuh kesadaran terhadap diri sendiri (5) Menyepelakan atau tidak menghormati hak dan martabat orang lain (6) dengki dan tidak pernah merasa puas terhadap karunia yang diberikan Allah kepada yang lain. (7) Riya dan senang dipuji sehingga hilang rasa ikhlash karena Allah. Firman Allah QS. 15: 39-43, "Iblis berkata : ya Tuhanku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan (maksiat) mereka, di muka bumi, dan aku pasti akan menyasatkan mereka semuanya" Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlash di antara mereka". Allah Berfirman: "Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutmu, yaitu orang-orang yang lengah". (8) Sombong dan takabbur Kikir, pelit sehingga hilang rasa tawadlu' atau rendah hati (9) Tamak, rakus sehingga menghilangkan sifat zuhud. (10) Tidak berlebih-lebihan dan melakukan pembaziran yang menghilangkan sifat hemat dan pandai mengatur harta benda.Firman Allah QS. 17:27, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat menentang kepada Tuhannya".
Kesepuluh sifat itu wajib dihindari sebagai tanda kita benar-benar memusuhi setan. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat menutup diri dari kesepuluh pintu ini dikhawatirkan akan menjadi teman setan, yang pada akhirnya akan menjadi setan berbangsa manusia. Firman Allah QS. 17: 53, "Dan katakanlah kepada Hamba-hambaku: "Hendaklah mereka mengatakan ucapan yang baik-baik. Sesungguhnya setan itu pembuat perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia".
3. Sudah Terbelenggukah Setan dan Kejahatan?
Dalam persepsi kebanyakan anggota masyarakat tampaknya ada anggapan bahwa pada bulan Ramadhan semua hantu, setan-setan, jin-jin jahat atau yang dikenal luas dengan istilah-istilah mistik sebagai kuntilanak, dedemit, pocong, gondoruwo, begu ganjang dan sebagainya semua terbelenggu. Namun tak jelas yang membelenggu siapa. Membelenggunya pakai apa. Benarkah persepsi itu?
Kenyataannya, apabila beberapa hari bulan Ramadlan telah berjalan, mulai tampak orang-orang sudah merokok di jalan, kedai-kedai kopi sudah mulai ramai (bedanya hanya pakai tabir/tirai penutup kecuali kaki). Korupsi dan manipulasi barangkali tetap berjalan kendati gaya agak dialim-alimkan sehingga kelihatan seperti sudah tobat.
Pada malam-malam bulan Ramadhan di tengah-tengah gema sholawat dari bilal-bilal tawawih di Surau dan Mesjid, masih tampak di berbagai tempat, kedai-kedai tuak dan tetap dikunjungi, perempuan-perempuan malam (meskipun berkurang) tetap mangkal mengincar lelaki hidung belang (bejat) sehingga kesucian Ramadlan ternodai.
Pekerjaan-pekerjaan setan yang telah disebut di atas barangkali membuat kita heran kenapa pada anggapannya, bulan Ramadlan setan dibelenggu, kenapa pekerjaan-pekerjaan setan justru tetap ada, kendati sudah dihimbau. Agaknya perlu dipertanyakan, apakah bahasa himbauan, anjuran, peringatan baik dari para pemimpin, tokoh, ulama dan aparat keamanan sudah dianggap seperti mendengar suara "kentut" sehingga dianggap tidak lucu dan angin lalu (numpang lewat). Mohon ampun dan mohon perlindungan kepada Allah. Mudah-mudahan Allah membinasakan para pemimpin-pemimpin yang melindungi maksiat dan menggantikannya dengan pemimpin-pemimpin yang melindungi para penegak amar makruf nahi mungkar, sebagaimana Firman Allah: QS. 4: 75, "Mengapa kamu tidak mau berjuang di jalan Allah sementara sudah banyak orang-orang yang tertindas di antaramu berdoa: "Oh, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negara yang zalim (bejat, bengis, brutal) warganya ini. Dan karuniakanlah kami pemimpin dari sisimu…"
Kebanyakan rakyat sudah muak menyaksikan basa-basi sehingga hati mereka mati mendengar tentang penegakan hukum. Perut mereka mual melihat tampang-tampang yang masih pede bicara atas nama kebenaran, tapi kerjanya hanya menjual keringat orang. Kenyataan ketidakmerataan ekonomi dengan cara menjual segala yang ada di negara ini dengan harga murah, mulai dari jual informasi sampai jual "manusia". Bahasa-bahasa Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad (LJ) dan organ sevisi lainnya yang bahasanya mudah dimengerti setan-setan tadi justru dibela oleh Bapak-Bapaknya setan dengan alasan Ham him hum segala macam. Begitu bebas leluasanya mereka. Sehingga jauhlah realisasi Sabda Nabi SAW:
"Bila tiba malam pertama bulan Ramadlan, dibelenggu syaitan, dan para jin yang jahat, dan tertutup pintu-pintu neraka sehingga tiada satupun pintu yang terbuka; dan terbuka semua pintu surga sehingga tiada satupun yang tertutup; dan pada tiap malam ada seruan: "Wahai orang yang ingin baik, majulah. Wahai orang yang ingin jahat berhentilah. Dan Allah memerdekakan beberapa banyak dari api neraka dan yang demikian ini tiap malam" (HR. Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah)
Sebenarnya, setan yang ada dalam diri masing-masing kitalah yang perlu dibelenggu. Kejahatan dirinyalah yang pertama harus dibelenggunya. Kalau masing-masing sudah membelenggu setan dan kejahatan dalam dirinya insya Allah setan-setan lain ikut terbelenggu. Kecuali dia seorang penguasa sehingga ia dengan "politikal will"-nya dapat melakukan hal itu karena ia punya kekuatan, wewenang dan kewajiban untuk itu, untuk kebenaran, bukan untuk keuntungan.
Subscribe to:
Posts (Atom)