Monday, 6 August 2007

Proses dan Keutamaan Mukmin Sejati

Oleh: Jufri Bulian Ababil

LANDASAN WAHYU
Dalam pandangan Islam, keimanan merupakan masalah yang fundamental yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Seorang manusia tidak akan masuk kedalam siksa neraka Allah selama-lamanya apabila terdapat sebiji zarrah keimanan dalam dadanya.

Iman itu bagaikan akar bagi sebuah pohon, di mana ia memiliki fungsi sebagai penopang tegaknya batang dan cabang. Semakin baik kualitas akarnya, maka akan semakin terjaminlah kekuatan pohon itu. Selain itu juga akar memiliki fungsi-fungsi lain, yakni sebagai penyerap unsur-unsur hara dan fungsi lainnya.

Secara bahasa iman berarti percaya. Dalam bahasa Inggeris penyesuaan kata Iman berbeda dengan kata Trust, melainkan relatif lebih sepadan dengan believement. Dalam lidah Arab, kata yang menunjukkan arti yakin juga ada beberapa lafazh, seperti Yaqien, al-Iman dan Qaniet. Iman itu ada yang sejati, ada pula yang palsu. Iman yang sejati ini, adalah iman yang senantiasa berproses menuju kepada penyempurnaannya. Sedangkan iman yang bercampur dengan kekufuran, syirik dan nifaq adalah kualitas iman orang-orang yang menganggap diri mereka sudah bersih, menganggap diri lebih dari yang lain, dan banyak lagi keadaan-keadaan yang menjerumuskan orang kepada pemalsuan iman, banyak juga sifat-sifat yang menjadi ciri-ciri manusia yang beriman, tetapi imannya bercampur dengan sesuatu yang membuatnya celaka.

Firman Allah QS. 8:2-4:


"Orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apa bila disebut Asma Allah bergetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatnya bertambah iman mereka; dan kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Mereka orang-orang yang menegakkan Sholat dan dari sebahagian harta mereka, mereka nafkahkan. Mereka itulah orang-orang mukmin sejati. Bagi mereka derajat-derajat yang tinggi di sisi Tuhan mereka dan mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia.

Sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya iman itu adalah membenarkan dengan hati mengikrarkan dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota tubuh (perbuatan)".

PROSES MUKMIN SEJATI
Mukmin sejati memiliki ciri-ciri kesejatian hati. Sebab di hatilah iman itu bersemaian. Untuk mencapai kesejatian hati itu, seorang yang mengaku muslim harus selalu menimbulkan stimulus-stimulus untuk menggetarkan hatinya. Stimulus itu adalah zikir kepada Allah, dengan banyak-banyak mengingat keagunganNya, keesaanNya dan KemahakuasaanNya. Selain itu, perlu juga banyak-banyak menyebut Asma Allah baik di dalam hatinya (sirr) maupun secara lafzhi dengan lidah. Dengan demikian, diharapkan akan timbul getaran-getaran kecil. Bila getaran-getaran kecil ini mulai tumbuha, maka secara otomatis tenaga gerak akan muncul. Getaran yang secara berkesinambungan akan melahirkan energi gerak. Inilah yang disebut dengan gerak hati. Itulah makanya orang yang banyak mengingat Allah adalah orang yang semangat hidupnya tinggi, energik dan survive serta memiliki daya tahan tinggi.

Pergeseran Nilai (Energi)
Proses getaran-getaran hati, secara otomatis memunculkan kecendrungan-kecendrungan untuk selalu tertarik kepada hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah. Ini berarti getaran-getaran yang muncul dari zikir mempunyai daya geser sedikit demi sedikit. Daya geser itu semakin mendekat ke satu titik. Pergeseran inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah atau pendekatan diri kepada Allah SWT.

Pergerakan (Percepatan)
Untuk mempercepat gerak yang disebut taqarrub itu, perlu daya picu, motivasi atau daya dorong yang terus menerus, sehingga diharapkan pergeseran nilai dari satu titik pengenalan kepada titik mahabbah tidak tersendat-sendat karena banyaknya pengaruh-pengaruh hawa nafsu dan setan yang coba memutar arah proses tadi ke arah yang semakin jauh dari Allah.
Oleh karenanya, perlu bagi seorang mukmin untuk menambah keimananya dengan banyak mendengar ayat-ayat Allah dengan cara mencari majelis-majelis ilmu, duduk dan berdiskusi dengan para ulama, mujahid dakwah, melakukan sharing informasi dan hal-hal yang berhubungan dengan mendengar nasehat-nasehat sesama saudara seiman dan seaqidah.

Bila daya picu dan percepatan ini terjadi dalam diri seorang mukmin, maka ia sedang memasuki sebuah tahapan yang disebut dengan "hijrah", atau perpindahan total (moved). Yang dimaksud pindah total di sisi adalah seorang mukmin telah melewati titik batas tertentu yang memiliki kemungkinan yang sama yang membuatnya lebih dengan kepada Allah ketimbang Thagut, bentuk penghambaan atau penuhanan lainnya. Seperti sebuah titik nol, bergeser setapak ke depan mendapat nilai 1, bergeser spoin ke belakang mendapat nilai -1.

Perjuangan (Usaha)
Selanjutnya, yang merupakan ciri mukin sejati itu bila mana telah memasuki tahap pindah total ini adalah tahap jihad. Jihad adalah usaha yang dihasilkan dari energi dan percepatan. Semakin besar energi dan percepatan yang diberikan, maka akan semakin besar pula kekuatan usaha.
Secara umum, jihad diterjemahkan kepada arti berperang. Namun, pemaknaan ini dipandang terlalu khusus. Padahal, kendati memang dapat diartikan demikian, makna yang lebih sesuai sebenarnya adalah berjuang dan bersungguh-sungguh.

Pemaknaan terhadap usaha ini hampir sama atau malah bisa disamakan dengan kata ikhtiyar (usaha/ memilih), karena pada ujung usaha, seseorang dituntut agar bisa mengambil pilihan dan keputusan.

Unsur-unsur yang terkandung dalam jihad itu sendiri ada dua hal. Pertama, mengerahkan segenap kemampuan yang ada di diri dan semua persiapan materi, dalam rangka mencapai keberuntungan. Kedua, menyerahkan apa pun keputusannya kepada Allah dan Ridho terhadapa taqdir yang ditetapkan terhadap output dari proses yang dijalankan.

Puncak tertinggi dari usaha dan jihad adalah tawakkal. Dengan kata lain, tawakkal merupakan upaya terakhir, kemampuan dan jalan terakhir yang harus diambil dalam rangka menyelesaikan sebuah persoalan atau urusan. Hal ini merupakan batas seorang muslim untuk diizinkan mengambil keputusan dan pilihan.

Seorang tidak dapat dikatakan bertawakkal sebelum ia benar-benar berjihad atau secara sungguh-sungguh melakukan sesuatu. Begitu pun, seorang tidak bisa dikatakan berjihad kalau ia tidak sampai pada puncak ikhtiarnya menyelesaikan atau menangani suaru urusan atau persoalan.

Itulah sebabnya, surah Al-Anfal ayat 2 ini menjelaskan secara bertahap bagaimana seorang muslim berproses menjadi seorang mukmin sejati.
Adapun tiga input atau jalan yang harus dilalui adalah, Zikrullah (mengingat Allah), Tasmi' 'alat Tilawah (mendengar ayat Allah) dan tawakkal.

Sedangkan proses yang akan dilalui dengan melalui ketiga strategi itu yakni, getaran (daya gerak) yang memunculkan daya geser (taqarrub); selanjutnya terjadilah usaha yang memunculkan daya picu (jihad).

Penegasan ketiga makna tersirat ini (Iman Hijrah dan Jihad) kemudian dipaparkan Allah ayat-ayat terakhir di penghujung Surah Al-Anfal ini, seperti yang dapat kita temukan pada ayat 72,74 dan 75.


Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dan orang-orang yang menyediakan pertolongan. Mereka itulah orang-orang mukmin sejati; bagi mereka ampunan dan rezeki dan mulia" (QS. 8: 74).


KEUTAMAAN MUKMIN SEJATI
Orang-orang yang sejati imannya dijanjikan Allah dengan tiga ganjaran, tiga keutamaan dan nilai plus.

Ketiga nilai plus itu yakni, ketinggian derajat dalam pandangan Allah, ampunan dan rezeki yang mulia. Namun, tiga keutamaan ini tidak diperoleh sekaligus, melainkan hanya didapatkan dalam proses perjalanan mencapai kesejatian tadi.

Iman, Hijrah dan jihad yang merupakan inti persoalan dari surah Al-Anfal (rampasan perang) itu merupakan balasan yang diberikan Allah secara bertahap menurut sejauh mana proses yang telah dilalui.

Pada proses awal saat seorang abid tergetar hatinya ketika mengingat Allah, pada saat itu pula secara bertahap derajatnya meningkat pada ketinggian tertentu dalam pandangan Allah. Harkat, martabat dan nilai jiwa seorang manusia semakin tinggi dan berharga hanya dapat meningkat dan semakin meninggi berbanding lurus dengan tingkat kekuatan getar, kehebatan energi yang dimunculkan dalam jiwanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Inilah keutamaan pertama yang diberikan Allah.

Keutamaan kedua, yaitu maghfirah atau keampunan. Keampunan ini merupakan bukti pendekatan diri seorang mukmin kepada Allah. Dengan pendekatan yang benar kepada Allah, semakin jauhlah ia dari dosa dan maksiat. Artinya, semakin dekatlah pula ia kepada Allah. Dengan semakin dekat kepada Allah berarti semakin besarlah pengawasan Allah kepadanya, kian hebat pula perlindungan Allah untuk membentengi dirinya dari dosa. Sehingga dosa-dosa yang pernah dibuatnya tenggelam dan tertutupi dengan kebaikan-kebaikannya. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengampunan dalam proses. Jelaslah, proses menuju jihad dapat mengampunkan dosa-dosa. Tanpa hijrah dan jihad, kemungkinan orang untuk berbuat dosa sangat besar, sedangkan Allah tidak mengampuni orang yang selalu berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama.

Selanjutnya, keutamaan ketiga adalah buah usaha dan tawakkal, yaitu rezeki dan mulia. Hal ini berkaitan erat dengan takdir Allah yang sering banyak disalahartikan.
Dalam suatu riwayat, seorang sahabat pernah menanyakan pengertian Tawakkal kepada Nabi Muhammad SAW, ketika beliau bertemu. Dikatakannya, "Ya Rasulullah. Aku mempunyai seekor unta. Apakah ketika aku sholat lalu aku meninggalkannya tanpa ditambat, apakah aku disebut bertawakkal?". Rasulullah SAW bersabda: "Tambatlah untamu, maka engkau telah bertawakkal".

Dari riwayat itu, jelas nilai dari tawakkal adalah usaha atau ikhtiar. Hal ini mengandung makna, seseorang tidak boleh menggantungkan dirinya pada nasib sebelum ia benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya.

Rezeki memang dari Allah. Namun Allah tidak akan memberikan rezeki itu secara mulia, selain dengan cara dengan gigih berusaha mencarinya, yakni dengan cara sungguh-sungguh ikhtiyar. Mengenai hasilnya, barulah diserahkan kepada Allah dan dituntut pula bagi kita untuk menerimanya dengan Qana'ah.

Jadi, jelaslah semakin besar usaha, maka semakin besar tawakkal dan semakin besar mulia pula rezeki yang akan Allah berikan. Namun antara keutamaan dan ciri mukmin sejati ini, Allah SWT memperantarainya dengan sebuah ayat "Mereka mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian hartanya".

Betapa tinggi dan luhurnya ajaran Allah itu. Walaupun kita diperintahkan untuk memproses diri untuk mencapai keutamaan-keutamaan yang tak ternilai harganya, namun Allah mengingatkan agar seorang yang mencari iman sejati jangan lupa menegakkan sholat dan menafqahkan sebagian hartanya. Ini ciri mukin sejati.

Friday, 27 July 2007

Setelah Membumikan, Perlu Memanusiakan Al-Qur’an

Di seluruh pelosok dunia, baik yang mengaku Islam bahkan orang yang di luar Islam sekalipun, tahu bahwa al-Qur’an itu kitab sucinya kaum Muslimin. Sesuci apakah al-Qur’an itu? Dan apa yang menjadi tolak ukur bagi kesucian al-Qur’an?

Al-Qur’an, Manusia dan Bumi
Bagi umat Islam sendiri sebagaimana yang dikenal luas al-Qur’an itu umumnya difahami secara etimologis seperti “bacaan” seseaui dengan arti harfiyah nya berasal dari kata Qara’a yang berarti “membaca”.
Sedangkan signifikansi al-Qur’an secara epistimologis, al-Qur’an dinyatakan sebagai wahyu Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Berbeda dengan seluruh isi alam semesta di segala penjuru –termasuk diri manusia- yang juga merupakan sebagian dari ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang dapat dikenal melalui tanda-tanda tertentu, sifat-sifat tertentu dan ukuran-ukuran tertentu; al-Qur’an memiliki bentuk lain dan cara tersendiri dalam membaca dan memahaminya, karena al-Qur’an berbentuk ayat yang berhuruf dan berlafazh, yang harus dieja dan dimushafkan (dicetak dan ditulis) serta harus ditransfer dengan perantaraan Qalam (pena) agar dapat dibaca.
Selain sebagai wahyu yang diturunkan memalui perantara malaikat jibriel, al-Qur’an juga dikenal sebagai kalam Allah yang dinuzulkan secara bertahap dan Mutawatir (tersosialisasi di tiap komunitas dan generasi), utnuk disampaikan kepda seluruh manusia di segala bangsa di sepanjang masa agar mansia membaca menghafal, mempedomani dan mengajarkannya –sebagai bagian dari ibadah- sehingga tercipta kesejahteraan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.
Adapun mansuia sebagai makhluk yang paling mulia dibanding makhluk-lamkhluk lain yang ada di bumi, diciptakan untuk merealisasikan rencana besar Allah sehingga manusi diberi akal agar mampu menjadi perpanjangan tangan dalam menitipkan amanah untuk mengolah dan melakukan perubahan-perubahan di muka bumi khususnya dan alam semesta umumnya.
Untuk lebih jealsnya ada tiga komponen yang menajdi dasar perubahan yang diciptakan Allah yang saling membutuhkan. Apabila salah satu dari tiga komponen ini tidak menjalankan kedudukan dan fungsinya secara baik, maka tidak akan ada produksi atau terhambatlah perubahan. Ketiga komponen itu adalah institusi, konstitusi dan eksekutif.

Institusi (Wadah, tempat, Lembaga)
Sebelum Allah menciptakan manusia, Allah terlebih dahulu menciptakan bumi sebagai tempat tinggal manusia. Allah juga mempersiapkan berbagai perangkat keras dan lunak dalam pemenuhan kebutuhan manusia di bumi. Artinya, bumi diciptakan Allah sebagai institusi. Apabila kita membagi-bagi bumi itu, maka kita akan menemukan beberapa benua yang terdiri dari daratan dan lautan,selanjutnya bila bibagi-bagi lagi, kita akan menemukan negara-negara dengan berbagai bangsa. Lantas kalau dibagi lagi akan ditemukan berbagai wilayah setingakty propinsi yang terdiri dari berbagai suku dan kebiasaan. Sampai pembagian itu menjadi institusi yang pakling sederhana, yakni sebuah keluarga, bahkan diri kitapun merupakan institusi bagi jiwa dan karakter juga termasuk nyawa dan ruh, yang terdiri dari organ-organ yang beragam fungsi dan kutamaannya. Firman Allah:

“Yang menjadikan bagimu bumi sebagai tenpat (melaksanakan ) hidayah (al-Qur’an)” (QS. 20:53).

Konstitusi (Aturan/hukum)
Allah menjadikan al_qur’an itu bukan hanya sebagai sumber hukum alternatif, tetapi justeru harus sebagai hukum yang utama. Dan ini merupakan tolak ukur keimanan. Orang dikatakan berimana kepada al-q\Qur’an bilamana ia memiliki kesadaran hakiki, bahwa tidak ada aturan yang dapat menjadikan bumi ini aman damaidan sejahtera selain dari aturan Allah, tidak ada rasa apatisme, sketisme, apalagi phobisme. Bila tidak keimanannya disangsikan.

Firman Allah:
“Maka tidak. Demi Tuhan (Pengatur/ Pendidikmu) mereka sebenarnya tidak beriman, sampai mereka menjadikanmu (Rasulullah SAW) sebagai hakim dalam perselisihan yang terjadi di antara sesama merejka, kemusian mereka tidak merasa berat dalam diri mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerimanya dengan tunduk dan patuh.” (QS. An-Nisa’ (4) :65)


Eksekutif (Pelaksana)
Al-Qur’an tanpa manusia adalah seperti wacana tanpa ada pelaksana atau seperti organisasi, perusahaan dan persayarikatan yang lengkap dengan AD/ART (anggran dasar/Anggran Rumah tangga), ada kantornya tetapi tidak punya anggota yang menjalankannya.

Demikian juga Islam, walaupun Islam itu sudah menyebar ke mana-mana, al-Qur’an dan hadits sebagai perangkat syariat juga telah komplit dan sempurna, bila tidak ada manusia yangmenjadikannya hukum yang mngetur masayarakat, jelas tidak akan terjadi perubahan apapun. Orang pada sibuk berdebat tentang baca basmalah zahar atau tidak, baca Qunut pada sholat subuh apa tidak, toh mungkin sebagaian yang bersitegang utar leher sama-sama tidak sholat. Orang yang kasak-kusuk membahas fiqih, bahas sifat Allah, bahas ini apa hukumnya dan sebgainya mungkin sebagian pembahas tidak tak tahu mau ditaruh di mana fiqih itu, bagaimana sifat Allah itu bisa disyahadahkan (disaksikan).

Tentunya, bila sebagian kita berupaya menegakkan hukum Allah dalam kehidupan nyata, tentu kita akan menyaksikan bagaimana Allah mengatur kehidupan, betapa Maha Kuasanya dan Perkasanya Dia, Maha Esanya Dia. Jelasnya, manusia perlu al-Qur’an untuk memanajemen alam, dan selanjutnya bumi juga dibutuhkan oleh mansuia sebagai tempat al-Qur’an dibumikan. Firman Allah: (QS.55 (ar-Rahman) :1-4 dan 10).

“Maha Pengasih. Dia mengajarkan Al-qur’an. Dan Dia menciptakan manusia. Lalu Dia mengajarkannya penjelasan/ bayan (sunnah rasul)…Dan bumi, penempatannya (peletakannya) bagi makhluk”.

Keterkaitan Ilmu, Hidayah dan Aqal

Oleh: Jufri Bulian Ababil

(12 Rajab (7) 1428 H/27Juli 2007 M

Dari tiga ayat yang berurutan ini kita lihat pada masing-masing ujung ayat disebutkan kata ya’lamun, yang seakar kata dengan ilmu. Kemudian yahtadun yang seakar kata dengan hidayah, dan kata ya’qilun, yang seakar kata dengan ‘aqal.

Dalam terma al-Qur’an, secara umum, inti persoalan selalu diletakkan di penghujung ayat dan di penghujung surat. Sehingga dapat dikatakan, memahami Islam dibutuhkan tiga sarana yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Apabila salah satu ditinggalkan atau diabaikan maka timpanglah Islam itu, bahkan malah akan menjadi kontraproduktif terhadap tujuan dan misi Islam itu sendiri. Tiga sarana itu adalah ilmu, hidayah dan akal.

Umumnya diketahui oleh umat Islam, Dienul Islam merupakan ajaran yang sesuai dengan akal. Sehingga Islam tidak berlaku bagi orang tidak berakal. Islam tidak dibebankan bagi manusia yang belum sempurna akalnya, misalnya anak-anak.

Namun, untuk menuntun akal diperlukan hidayah. Hidayah berarti petunjuk, petunjuk Allah ke shirathal mustaqiem, jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, jalan para Nabi, Syuhada, orang-orang yang shiddiq (benar imannya) dan jalan hamba-hamba Allah yang sholeh.

Hidayah merupakan salah satu kebutuhan seorang manusia dalam menjalani hidupnya. Meski pun manusia dikarunai akal, namun tidak menjaminnya dapat menjangkau kebenaran yang sejati tanpa dibimbing wahyu dari Allah. Inilah yang melatarbelakangi kenapa Allah menurunkan kitab-kitab suci Nya. Kemampuan akal manusia masih pada sebatas pengalaman yang pernah ia lihat, ia dengar dan ia rasakan. Akal manusia tidak akan mampu menganalisa atau memahami hal-hal yang di luar jangkauan panca inderanya, sehingga ia membutuhkan bimbingan dari Yang Menciptakan dirinya tentang hal-hal yang tidak diketahuinya dan dialaminya.

Apa yang hari ini benar dalam ukuran kita belum tentu benar menurut kita besok. Atau apa yang benar menurut orang hari ini, belum tentu benar menurut orang di masa lalu. Bahkan seringkali kebenaran itu dipersempit oleh batas-batas kebiasaan dan pelembagaan (seperti kekuasaan, organisasi dan madzhab dan lain-lain).

Di kalangan umat Islam bangsa Indonesia, ini banyak terjadi, namun sayangnya difahami sebagai ikhtilaf yang dirahmati. Sehingga, berpecah belah dianggap bersatu, bermusuhan dianggap bersaudara, tertindas dianggap mulia. Sungguh benar apa yang diungkapkan Allah dalam Al-Qur’an mengenai manusia-manusia yang buta, pekak dan mati rasa.

Ibarat berjalan, hidayah adalah rambu-rambu, nama-nama jalan, peta atau hal-hal yang berhubungan dengan petunjuk, guidance (pemandu) dan pengarahan (direction). Dan orang yang tersesat adalah orang yang kebingungan dalam menentukan arah tujuannya. Terkadang, peristiwa tersesat dalam sebuah perjalanan membuat orang berhenti karena kebingungannya, tetapi ada juga orang yang tetap terus berjalan dalam kesesatannya, walaupun dia terus berputar-putar tak tahu arah. Terkadang, bertanya menjadi salah satu sarana untuk mendapatkan petunjuk, tetapi tak jarang bertanya tidak mampu membuat orang keluar dari kesesatan, malah semakin tersesat. Masalahnya jelas karena orang yang tersesat itu salah dalam mencari petunjuk atau salah dalam menafsirkan petunjuk yang benar.

Sama halnya banyak orang yang salah dalam memahami pesan-pesan yang terkandung dalam rambu-rambu lalu lintas walaupun ia memperhatikannya, banyak juga orang yang sulit membaca peta, sulit memahami lambang-lambang, simbol-simbol atau bahkan sama sekali buta huruf.

Jadi, untuk mendapatkan petunjuk yang benar harus tahu pesan yang disampaikan sebuah petunjuk, harus faham maksud dibuatnya rambu-rambu, makna yang terkandung dalam simbol-simbol. Begitulah. Untuk mendapatkan hidayah, diperlukan ilmu. Itulah sebabnya Nabi SAW sangat menekankan pentingnya ilmu. Kita bisa fahami kewajiban yang terpenting dari yang penting dari hadis-hadis berikut:

„Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap seorang muslim dan muslimat“
„Siapa yang mau dunia, ia perlu ilmu; siapa yang mau akherat, ia perlu ilmu; dan, siapa yang mau dua-dua, ia perlu ilmu.“

Bahkan oleh bagi sebagian orang ilmu malah disamakan dengan dengan hidayah itu sendiri. Sehingga sangat popular kita dengan pepatah Arab yang menyebutkan,
“Ilmu itu seperti cahaya, dalam menunjuki.

Dalam al-Quran, hidayah dan kata yang seakar dengannya mengandung makna petunjuk pada beberapa hal, yaitu: Nama lain dari al-Quran, petunjuk dalam memilih Islam, petunjuk dalam memahami Islam, petunjuk dalam melaksanakan Islam. Intinya, setiap saat kita membutuhkan petunjuk Allah.

Khusus yang berkaitan dengan al-Qur’an, selain nama lain dari al-Qur’an kata hidayah juga memberikan pemahaman, hidayah merupakan salah satu fungsi dari al-Qur’an, fungsi yang terdiri dari petunjuk pemahaman dan petunjuk pelaksanaan dalam hal pelaksanaan isinya.
Selain itu, dalam hal kualitas manusia penerimanya, hidayah juga terbagi menjadi dua, yakni pertama petunjuk umum berupa nilai-nilai kebenaran yang universal, ilmu pengetahuan, konsep-konsep hukum dan muamalah.

Kedua, kedua petunjuk-petunjuk teknis berupa strategi-strategi perang melawan musuh-musuh Islam, rahasia Islam yang paling urgen mengenai hidup sesudah mati, kebangkitan, yang semuanya justru selalu diungkap dalam bentuk-bentuk kiasan melalui bahasa alam, bahasa sejarah umat di masa lalu dan bahasa-bahasa yang memiliki pemahaman ganda. Khusus dalam pengungkapan hidayah pada bentuk yang kedua ini dimaksudkan agar menjaga Islam dan memisahkan manusia yang masih jauh hatinya untuk mengingat Allah dari orang-orang mukmin yang hatinya tunduk pada hokum-hukum Allah.

Wajar bila kita menyaksikan banyak sekali pertentangan di kalangan umat Islam dalam memahami al-Qur’an. Wajar pula bila hukum-hukum Islam justru ditentang oleh sebagian orang yang mengaku Islam (tetapi telah diracuni hatinya), khususnya orang-orang yang kelihatannya seperti pemimpin umat Islam (al-qur’an menyebutnya dengan kata malail qaum) tetapi menolak bahkan cenderung menghalang-halangi ajaran Islam dilaksanakan secara kaffah oleh sebagian orang Islam, bahkan anehnya ada pula yang membela mati-matian hokum dan ajaran yang lahir dari hawa nafsu (kepentingan/ kemauan seseorang) dan ahwaa qaum (kepentingan atau kemauan kelompok/ golongan). Wallahu A’lam. **