Thursday, 21 May 2009

Mengertikah Kita Arti Bersatu?

Oleh : Jufri Ababil S.Sos.I

Bangsa Indonesia, adalah bangsa yang satu. Kita semua sama sepakati hal itu sejak 28 Oktober 1928, melalui Sumpah Pemuda. Umat Islam adalah Umat yang satu, mereka yang menganut agama Islam harus percaya itu, karena Al-Qur'an secara tegas mengatakan hal itu. Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah): 213: "Manusia manusia itu satu ummat. Maka Allah mengutus Nabi-Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan kabar takut; dan Allah menurunkan bersama para Nabi itu Kitab suci dengan konsep Kebenaran (hakikat), agar dijadikan hukum sesama manusia terhadap apa saja perselisihan yang ada tentang kitab suci itu. Dan tidak ada perselisihan tentangnya kecuali setelah mereka diberi Kitab suci dan telah muncul penjelasan kepada mereka, mereka pun saling dengki. Maka Allah menunjuki orang-orang yang beriman untuk yang mereka perselisihkan tentangnya dengan izin-Nya. Allah akan menunjuki siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus".

Nah, muncul sejumlah pertanyaan. Bila kita adalah satu bangsa, mengapa tingkat kemiskinan semakin meningkat? Kerusuhan bernuansa SARA dan konflik di beberapa daerah terus terjadi? Kenapa tawuran sesama pelajar, masyarakat terus terjadi? Mengapa konflik internal sesama teman sekantor, seinstansi seoraganisasi, satu partai tidak pernah selesai bahkan semakin tajam?

Demikian pula sebagai umat Islam, ummah wahidah. Bila kita mengaku sebagai ummat yang satu seperti yang diteriak-teriakkan para da'I, para Ustazd dan kaum Mu'allimin di mimbar-mimbar dan majelis majelis. Tetapi, kenapa tetap saja partai politik Islam lebih dari satu? Kenapa tidak ada persatuan para ustadz? Kenapa bila 5 orang ustadz bertemu membahas agama tidak pernah ada kesefahaman? Kenapa komponen sesama komponen umat Islam menuntut saudaranya? Kenapa ada parpol Islam menggugat parpol Islam lain? Dari banyak pertanyaan mengenai bangsa dan umat yang satu itu, muncul sebuah pertanyaan besar. Mengertikah kita arti bersatu?

Konsep Persatuan dan Prakteknya
Sila ketiga Pancasila adalah persatuan Indonesia yang sebenarnya diberi lambang rantai, jelas-jelas menyebutkan, persatuan merupakan salah satu dasar negara RI didirikan. Apa para elit politik sudah lupa? Dalam UUD Dasar 1945 baik yang belum diamandemen maupun yang sudah diamandemen, dari pembukaan sampai batang tubuh juga menggariskan alangkah mahalnya persatuan bangsa. Apa pakar hukum sudah lupa?

Dalam Islam, persatuan adalah bagian yang tak terpisahkan dari Kalimah Tauhid itu sendiri. Artinya, umat bertauhid adalah umat yang mengaku memiliki hukum yang satu (hukm ullah), atau tidak saja sekedar mengaku ber-Ilah yang satu (tauhid Ubudiyah/Uluhiyah) dan berwala'/berkepemimpinan dalam sebuah kedaulatan saja (Mulkiyah), melainkan juga harus mempraktekkan ummah wahidah dalam satu Tali Buhul Agama Allah.

Mempersatukan ummat adalah Tauhid. Sebaliknya memecah-belah ummat adalah Syirik. Mengajak bersatu memang sulit, apalagi di tengah-tengah kaum yang fanatik dengan golongannya. Padahal, orang-orang yang fanatik faham/golongan adalah ciri kaum yang musyrik, jahiliyah dan fasiq, munafik dan kafir. Firman Allah SWT QS. 30 (ar-Rum): 31-32: "Dengan kembali kepada ajaran fitrah (bertaubat kepada Allah), dan dirikanlah Sholat dan bayarlah zakat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mensekutukan Allah (musyrik). Yaitu, orang-orang yang memecah belah agama mereka lantas mereka menjadi berkelompok-kelompok, tiap-tiap golongan merasa bangga (hebat/lebih) dengan apa yang ada pada mereka".

Munculnya perpecahan berawal dari perbedaan faham, berbeda pandangan, berbeda fikiran, berbeda visi dan tujuan. Masing-masing perbedaan ini apabila dicampurkan dengan kesombongan dan kedengkian, ego dan merasa benar. Maka muncullah perselisihan. Sebenarnya perselisihan dapat dirembuk melalui memohon maaf dan menunjukkan iktikad baik memperbaiki. Tetapi, bila perselisihan justeru diisi dengan rasa gengsi dan sikap cuek menganggap "semuanya pasti beres" atau "entar lu ya?", maka tak bisa dihindarkan lagi, muncullah sikap permusuhan dan rasa dendam. Lambat laun konflik pasti terjadi. Konflik, bila tidak diredam dengan keadilan sikap orang yang mengangkat dirinya sebagai penengah, akan memunculkan konflik yang baru; dan akan semakin meluas bila terjadi saling bela dan dicampuri pihak-pihak lain yang memihak. Konflik akan memunculkan luka lama dan parah. Kelukaan sosial akan membunuh persatuan.

Konsep yang baru dikemukankan tadi tak ada apa-apanya, karena negara kita kalau soal membuat konsep termasuk paling jago. Sekali buat ketetapan MPR, ratusan miliyar Kas negara terkuras, sekali mengesahkan UU, puluhan milyar leong, sekali buat perda, ratusan juga lenyap, nyap nyap. Namun dalam prakteknya, hukum-hukum dan segala aturan yang telah dibuat seperti diakui banyak pihak, NOL besar lagi menyedihkan. Selain, penafsirannya beda-beda, banyak yang kontadiktif, setengah jadi, juga banyak yang tidak berpihak kepada rakyat kecil (malah berpihak ke kapitalis, borjuis dan menguntungkan koruptor dan pencuri berdasi).

Faktor Penghambat Persatuan
a. Pemimpin Jahat (Thagut).
Pemimpin Jahat merupakan tipe pemimpin yang memecah belah rakyatnya demi melanggengkan kekuasaannya. Pemimpin seperti ini, adalah faktor penghambat persatuan bangsa dan umat. Tak peduli harus dengan cara menindas, menangkapi aktifis, menculik/ membunuh lawan politiknya, melakukan politik belah bambu maupun mengkambinghitamkan suatu kelompok demi menaikkan pamornya. Pemimpin ini, tak akan dapat memperbaiki bangsa Indonesia dan umat Islam, karena selain merusak sumber daya manusia, pemimpin seperti ini juga merusak sumber daya alam seperti Fir'aun. Firman Allah QS. 28 al-Qashash: 24: "Sesungguhnya Fir'aun adalah (pemimpin yang) sewenang-wenang di muka bumi dan memecah belah rakyatnya dengan menindas sekelompok dari mereka (dan memanjakan sekelompok yang lain). Dia membunuh genesrasi-generasi (pemuda) mereka dan menghidupkan anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang membuat kerusakan".
b. Ulama Jahat/ Cendikiawan Sesat.
Ulama jahat atau cendikiawan sesat adalah orang-orang yang mengakui dirinya sebagi ulama atau dianggap cendikiawan oleh sebagian umat Islam. Tetapi sebenarnya, banyak ide-idenya yang menyimpang dari ajaran Tuhan. Namun anehnya, Rakyat yang memang banyak jadi korban pembodohan (baik melalui sistem maupun kurikulum pendidikannya) justru lebih mengikuti kata-kata ulama atau cendikiawan seperti ini ketimbang Tuhan. Haram kata Tuhan halal katanya (demi kepentingan uang, kekuasaan atau kepentingan gengsi). Haram kata Tuhan, malah ia ikut membubuhkan tanda tangan melegalisasi maksiat. Orang yang mengikuti mereka ini adalah orang Musyrik, karena mereka telah mempertuhankan manusia. Orang musrik tidak akan dapat bersatu, karena mereka akan lebih cenderung tunduk kepada tuhan masing masing. Firman Allah 9 (at-Taubah): 31: "Mereka menjadikan alim ulama (pendeta dsb) dan kaum tokoh spritual (seperti rahib, syaikh dsb) menjadi Tuhan (Rabb) selain Allah (mereka juga menjadikan) Isa putera Maryam (sebagai tuhan). Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali hanya mengabdikan diri kepada sembahan (Ilah: sasaran ketaatan) yang satu saja. Tidak ada Sembahan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa-apa yang mereka sekutukan".

c. Sistem Jelek (Jahiliyah)
Bila sebotol minyak wangi atau permata dimasukkan ke dalam tong sampah. Pasti dipukulratakan sebutannya, sama-sama sampah, walaupun dari jenis berbeda tetapi dimasukkan pada wadah yang sama. Begitu pula, seorang mengaku muslim apabila lebih memilih tinggal di daerah kafir (darul bawar/Kuffar: sekuler, komunis, paganis) dan tidak mau pindah ke darul Islam (daerah/komunitas Islam) padahal dia mampu, maka dia termasuk golongan mereka. Firman Allah QS. 16 (an-Nahl):28: "Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah (Keimanan dan keislaman) dengan kekafiran dan menggiring bangsa mereka ke kampung (sistem) kebinasaan (darul bawar)?"

d. Fanatik Golongan/ Faham
Mereka, adalah orang-orang yang kaum konservatif tradisional yang masih mengikuti ajaran-ajaran nenek moyang, ajaran (isme-isme) tokoh "tempoe doeloe" yang bertentangan dengan Islam atau tidak ada dalam Islam. Mereka ini kaum yang tidak mengerti tentang adat dan budaya, tetapi sok beradat dan berbudaya. Kendati demikian, sebagian kaum Konservatif tradional yang lain yang tunduk kepada ajaran Islam tidak termasuk kategori ini. Pernyataan ini bukan berarti pembenaran terhadap kaum pembaharu. Justeru tidak sedikit kaum pembaharu yang dinilai "kurang tepat" mengartikulasikan konsep Islam dengan semangat modernismenya, sehingga sesat dan menyesatkan. Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah): 170: "Apabila dikatakan kepada mereka, marilah kepada ajaran-ajaran (ayat) yang diturunkan Allah. Malah mereka mengatakan, "Kami hanya akan tetap mengikuti apa yang telah dipusakakan oleh nenek moyang kami", walaupun pun nenek moyang mereka itu tidak mengerti apa pun, dan tidak mendapat petunjuk".

Untuk Dapat Dimengerti…
Persatuan dimulai dari penyatuan fikiran, penyatuan visi, misi, saling berbesar hati dan terbuka menerima kelebihan orang lain dan mengakui kekurangan diri sendiri. Dan yang terpenting, untuk dapat bersatu, maka yang pertama dan yang paling utama dilakukan adalah mencari pengertian tentang bersatu itu sendiri. Tauhid pun seperti itu, untuk mewujudkan ummah wahidah, perlu kita mengerti dulu, ummat yang satu itu seperti apa? Untuk dapat dimengerti, berikut ini disebutkan tahapan menuju persatuan Umat Islam bangsa Indonesia, yakni:

1. Satu Pengertian
Untuk dapat bersatu, perlu ada satu pengetian, satu persepsi, satu penafsiran dan satu pemahaman bail tentang pokok-pokok isi kandungan al-Qur'an, satu pengertian siapa kawan dan dan Lawan dan satu pengertian pula tentang misi dan tujuan. Bila terdapat perbedaan jangan dipertajam. Bila ada persamaan teruslah dipupuk. Firman Allah: QS 3 (Ali Imran): 64: "Hai pakar konsep agama (ahli Kitab) marilah kepada satu Kalimah yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak akan mengabdikan diri selain hanya kepada Allah dan kita tidak menyaingiNya dengan sesuatu apapun; dan tidak akan memilih sesama kita sebagai tuhan-tuhan (Rabb) selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah: "Saksikan kamulah, sesungguhnya kamilah orang-orang yang menyerahkan diri (mencari jalan selamat)".

2. Satu hati
Tidak selamanya dalam menyelesaikan persoalan uang, logika pergerakan, pedang atau kekuasaan yang bicara. Tak jarang, perselisihan dapat terpecahkan melalui bicara hati ke hati. Sebab, bila hati telah menyatu, tidak ada akan lagi saling curiga. Salah sedikit, tak mengapa. Malah justru, lebih mempererat hubungan. Firman Allah: QS. 3 (Ali Imran) : 151: "Kami akan menyusupkan ke dalam hati orang-orang kafir itu rasa takut (cemas dan ragu), karena mereka telah mensekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak punya kemampuan. Tempat mereka Jahannam, sebagai tempat paling buruk bagi orang-orang yang zalim"; QS. 3: 102: "Berpegang teguhlah kamu pada tali (ikatan) Allah (Islam) dan jangan berpecah-belah; dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu di saat kamu dulu bermusuh-musuhan maka Allah menjinakkan hati kamu, sehingga jadilah kamu ummat yang bersaudara…"

3. Satu Barisan
Pemimpin Umat Islam (ulil Amri) adalah satu, dan wajib berbai'atnya dan haram durhaka kepadanya. Agar umat Islam dapat terkomandoi dalam satu ketaatan. Tanpa pemimpin Umat Islam akan lemah dan terpecah belah. Bila ulil Amri belum ada, maka wajib bagi umat Islam untuk tetap mencetak kader-kader umat sampai Allah mengkaruniakan kepada umat Islam pemimpin dari sisi-Nya. Secara Firman Allah QS. 61 (as-Shaff): 4: "Sesunguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan ang kokon seolah-olah mereka itu bangunan yang teramat kokoh". Wallahu A'lam.

Maulid Nabi

Oleh: Jufri Bulian Ababil, S.Sos.I

Memaknai Maulid Nabi SAW
Istilah Maulid merupakan istilah tidak dikenal di masa Nabi dan para sahabat, kemudian baru dikenal di masa khalifah Abbasiah. Namun, belakangan istilah kata Maulid terutama di Indonesia, digunakan justru khusus untuk Nabi Muhammad SAW. Sehingga istilah "Maulidan", atau peringatan Maulid hanya dikenal untuk Nabi Muhammad saja.

Maulid berarti masa lahir, merupakan bentukan kata nama menunjuk waktu (isim zaman) dari kata Walada., yuladu; yakni, istilah bagi waktu/ tanggal tertentu yang dijadikan momentum di mana seseorang terlahir. Maulid sepadan dengan kata Milad, Dies Natalis, Birthday dan lainnya yang sama-sama berarti hari kelahiran.

Di beberapa daerah, peringatan Maulid dilaksanakan dengan mengundang penceramah atau ustadz-ustadz, baik yang sudah kondang maupun yang kondang-kondang sedikit. Ada juga memperingati hari bersejarah ini dengan membuat pagelaran seni, pementasan dan lain-lainnya.

Dari tahun ketahun peringatan Maulid diadakan. Tetapi output dari peringatan itu sendiri sedikitpun tak kelihatan. Sebenarnya apa yang dinginkan atau yang menjadi sasaran dari peringatan maulid itu, juga belum jelas. Sepertinya, masing-masing tergantung niat. Sehingga, secara kolektif, belum ada visi atau pandangan agar peringatan ini diarahakan agar menjadi momentum melahirkan pemimpin Islam, selaku penerus perjuangan Muhammad sebagai Pemimpin Spiritual sekaligus pemimpin Politik umat Islam yang dianggap mampu membela kepentingan umat Islam, membela hak-hak umat Islam, bahkan sanggup menggerakkan kekuatan umat Islam untuk menghalau segala bentuk gangguan musuh-musuh Islam.

Sebenarnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1425 H ini merupakan momentum yang sering disalah artikan, sehingga makna peringatan Maulid hanya seremonial, tidak menyentuh hakikatnya, yakni mengenang kembali kilas balik perjuangan Nabi bersama pengikut-pengikutnya yang setia menegakkan Islam.

Kehilangan makna maulid dapat dilihat ketika peringatan itu hanya berubah menjadi kegatan seremonial, acara makan-makan, ngumpul-ngumpul atau upacara pawai yang tak jelas tujuannya. Ada yang minta berkah ke kuburan wali, ada pula yang minta berkah dari makanan.

Memaknai Maulid tidak saja berarti memberikan makna mengingat kembali kelahiran Nabi Muhammad SAW berikut sejarah perjuangannya sepanjang masa hidupnya. Sebab pemaknaan ini, terkesan hanya sekedar mengenang; seolah maulid adalah "monumental sejarah" yang pernah berdiri tegak di masa lalu. Oleh karenanya, maulid perlu dimaknai lebih dari itu, lebih dari sekedar kenangan, melainkan momentum sejarah yang menuntut sesuatu. Sebab saat ini Islam menuntut kelahiran pemimpin spiritual sekaligus pemimpin politik yang mengkuti manhaj RasulullahSAW.

Tuntutan sejarah ini dirasakan begitu mendesak ketika melihat kondisi umat Islam yang semakin tertindas. Umat Islam seolah 'seperti' terasing di "tanah air"nya sendiri, sehingga harus menuntut hak-haknya kepada orang lain, yang sebenarnya tidak mempunyai sedikitpun hak untuk memimpin negeri ini menurut pandangan Allah.

Firman Allah QS. 3: 144. "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul. Sungguh telah berlalu sebelum dia rasul-rasul. Apakah setelah dia meninggal dunia atau terbunuh kamu mundur ke belakang? Siapa yang berbalik ke belakang, maka dia tidak akan bisa mendatangkan bahaya kepada Allah; dan Allah pasti akan memberi ganjaran orang-orang yang bersyukur".

Memahami Spiritual dan Politik Islam
Spritual Islam adalah Jihad. Tanpa jihad Islam tidak akan pernah jaya dan akan terus terpuruk mejadi bulan-bulanan musuh-musuhnya, menjadi target operasi pembenci-pembencinya. Sebagai jiwa Islam jihad merupakan api revolusi yang menggelorakan perjuangan menegakkan panji-panji Islam menjadi sebuah kekuatan yang berdaulat sepenuhnya terhadap umat Islam, dan didukung oleh umat selainnya, sebagaimana terbentuknya negara Madinah di daerah Yasrib dahulu. Sehingga cahaya Islam bersinar seterang-terangnya, tidak hanya dirasakan masyarakat Islam melainkan seluruh penduduk negeri.

Minimnya informasi tentang penjelasan mengenai ayat-ayat tentang al-Qur'an membuat umat Islam tidak lagi faham kenderaan mereka ke syurga, sehingga pandangan yang terbentuk zaman sekarang ini adalah 'mencari pahala sebanyak-banyaknya'. Banyak-banyak mengamalkan yang sunat, yang wajib di atas wajib, di tinggalkan. Kata 'Jihad menegakkan Islam' atau 'mati sebagai syahid' menjadi kata asing dan terkesan menakutkan. Padahal sebenarnya, seorang yang mengaku Islam tidak akan masuk surga tanpa merasakan ujian jihad. Baik jihad terbesar (disebabkan sangat mendasar) melawan hawa nafsu, maupun jihad yang sebenarnya, perang melawan musuh Allah.

Firman Allah QS. 3: 142: "Apakah kau mengira kamu akan masuk surga sementara belum jelas kelihatan bagi Allah mana orang-orang yang berjihad di antaramu dan orang yang sabar?"
Namun, untuk melakukan jihad perlu hijrah. Tidak ada jalan lain yang menjembatani tugas suci Jihad selain dengan cara hijrah. Hijrah adalah manhaj satu-satunya dalam Islam.

Dalam sejarah hidup para Nabi dan rasul, hijrah dari penguasa jahat, keji, kejam dan beringas penghisap darah rakyat adalah kewajiban setiap muslim. Siapa yang tidak mau, tidak ada hak bagi Nabi dan Rasul untuk melindungi mereka. Hal demikian ini dicontohkan Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Yakqub, Nabi Yunus, Nabi Isa, Nabi Luth, Nabi Hud, Nabi Yahya dan Nabi-Nabi lain yang sempat menjadi pelarian politik, menjadi buronan penguasa, dikejar-kejar mau dibunuh oleh antek-antek kerajaan di masa hidup mereka.

Jadi jelas, politik Islam adalah politik hijrah, bukan politik 'dagang sapi', politik penuh manuver, saling jewer, saling sikut, saling membuat pembusukan, siram menyiram, politik bagi-bagi kaos uang atau politik nasi bungkus. Politik Islam adalah politik bersatu, bukan politik berpecah belah; politik Islam saling mengisi dan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan dan mencuri 'suara dukungan'.

Tuntutan Sejarah
Sebagian umat Islam saat ini sudah mendapatkan jawaban kenapa umat Islam tertinggal di beberapa sisi. Diperoleh jawaban, salah satu penyebabnya adalah miskin ilmu. Secara lebih jelas dapat dikatakan, umat Islam tidak dididik menurut cara Islam, melainkan menurut cara-cara sekuler, kesukuan dan cara-cara lain yang sangat berpengaruh pada pola fikir dan emosinya dalam melihat Islam.

Kemiskinan umat pada ilmu ini, akhirnya cukup mempengaruhi perkembangan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat. Secara jangka pendek mempengaruhi kualitas keimanan dan dalam jangka panjang mempengaruhi statistik pertumbuhan penganut Islam di Indonesia.

Selain itu, pengaruh dari luar Islam dengan berbagai kepentingan dan misi, akibat miskinnya ilmu ini juga sangat mempengaruhi pandangan umat Islam tidak saja tentang agamanya, tetapi lebih jauh juga mempengaruhi pandangannya tentang Tuhannya, Nabinya bahkan tentang dirinya sendiri.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh pihak musuh untuk menghancurkan Islam dari luar dan dari dalam. Sebagian dimurtadkan, sebagian dijadikan alergi dengan Islam (Islamofobia), sebagian dilalaikan dengan kebebasan dan harta, sebagian dijadikan mandul dan pengecut karena takut kehilangan kekuasaan dan jabatan, sebagian dibuat larut dalam dosa, sementara yang lainnya 'tiba-tiba' menjadi penonton adegan kekerasan, ketidakadilan dan perlakuan zalim terhadap saudaranya seaqidah.

Mengapa umat Islam banyak Murtad, ditokoh-tokohi sama orientalis. Mengapa sejarah bisa diputar balik sementara Al-Qur'an berisi sejarah? Padahal, kehidupan Muhammad berisi sunnah perjuangan para Nabi sebelumnya juga adalah sejarah? Bukankah kelahiran Muhammad berisi sirah Nabawi adalah sejarah?

Oleh karena itu dapat dikatakan orang yang mengerti Sunnah Nabi, bukanlah orang yang secara basyariyah (sosok fisik), cara makan, berpakaian, tetapi lebih pada cara berjuang menegakkan kebenaran, cara mencapai tujuan dan kewajibannya sebagai makhluk Allah maupun selaku khalifah di Muka bumi.

Persoalannya adalah, miskinnya pengetahuan umat Islam tentang sejarah Islam banyak dipengaruhi penyelewengan sejarah di Indonesia tentang perjuangan Islam di pentas nasional, baik sejak zaman portugis, zaman belanda, zaman jepang merebut kemerdekaan di masa mempertahankan kemerdekaan, di masa orde lama, orde baru hingga sekarang.

Kelihatannya Islam tidak mempunyai sejarah tersendiri melainkan menjadi bagian dari sejarah kelompok nasionalis di dunia. Umat Islam belajar sejarah dari leteratur-literatur sejarah buatan mereka yang dikatakan ahli dalam sejarah. Sejarah yang menggembar-gemborkan sejarah eropa dan Yunani di masa lalu, tetapi mengubur dalam-dalam dan menutup-nutupi secara rapi sejarah Islam agar tidak diketahui secara benar oleh umat Islam. Padahal, sejarah yang sebenarnya mengatakan, awal abad ini sejarah menuntut kelahiran seorang pemimpin besar umat Islam yang dapat mempersatukan Islam lintas bangsa melawan konspirasi musuh-musuh Islam.

Akhir-akhir ini di Indonesia, tidak sedikit ahli agama yang bisa dijadikan panutan dalam kehidupan spritual, bisa menjadi tempat bertanya dan dimintai fatwa mengenai masalah fiqh dan muamalah, tetapi sayangnya tidak dapat diharapkan menjadi pemimpin politik yang dapat menggerakkan seluruh kekuatan umat Islam menjadi satu kekuatan saja. Sebagian karena memang tidak mengerti politik, sebagiannya pengecut menyuarakan kebenaran kepada penguasa, sementara sebagiannya lagi eeh malah emoh politik. Mereka malah lebih senang seperti 'tikus yang hidup aman di dalam gelapnya got (selokan)' ketimbang menjadi karang yang tegar diterjang badai.

Nah, ada juga sebagian pemimpin dari kalangan Islam yang mengerti politik, pakar soal strategi perencanaan dan analisis sosial, hafal peta politik, pandai managemen dan resolusi konflik; tetapi sayang, jiwanya kering dari zikir kepada Allah. Hatinya penuh dendam dan kedengkian, ambisinya mengalahkan jiwa besarnya, hawa nafsunya mengalahkan akal sehatnya. Al-Qur'an belum menjadi imamnya, Aqidah Islam belum menjadi idiloginya. Maka, tak sedikit di antara mereka akhirnya menjadi antek-antek Amerika, agen luar negeri, menjadi 'pencuri' juga setelah dapat kekuasaan.

Itulah sebabnya, masalah kemiskinan umat, kebodohan sebagian generasi muda, juga masalah pembantaian terhadap warga sipil yang kebetulan umat Islam belum pernah ada sikap tegas penyelesaiannya dan berlarut-larut.

Jelaslah. Sejarah sudah muak melihat sepakterjang politisi yang kering spritual dan penasehat spritual yang kurang makan asam garam 'dunia pergerakan'. Mereka sudah terlalu banyak dan menyempitkan ruang gerak dunia Islam.

Sejarah sedang menuntut kelahiran pemimpin yang menggelegarkan suara Takbir, Tahmid dan Tahlil di forum-forum politik, seperti pernah digelegarkan di negeri masa mengusir para penjajah 'kafir' dahulu. Pemimpin setangguh Tuanku Imam Bonjol, Teuku Umar, Fatahillah, Pangeran Diponegoro. Tetapi sejarah menipu umat Islam. Seolah 'negeri' ini dirampas dengan teriakan 'Merdeka' atau teriakan "Hidup Indonesia' dari pemimpin-pemimpin bangsa, bukan Allahu Akbar.

Mengenai benar tidaknya tuntutan akan kelahiran pemimpin politik sprituil Islam ini, mari kita persilahkan kepada 'guru' bernama 'Sejarah' akan menjawab semua kekacauan sosial, ketidakpastian hukum, 'bola liar politik' dan 'benang kusut' ekonomi di negara ini.

Firman Allah QS. 61: 6: "Dan ingatlah! Ketika Isa putera Maryam berkata: "Hai Bani Israil…Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat (dan Zabur) dan memberi kabar gembira dengan kedatangan seorang Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala datang Rasul itu kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata mereka berkata: "Ini adalah sishir yang nyata". Wallahu A'lam.

Pemimpin Pilihan Allah

Oleh: Jufri Bulian Ababil S.Sos.I

Landasan Naqli Kepemimpinan Islam
Firman Allah SWT, QS. 2 Al-Baqarah: 246-247: "Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka (mala') Bani Israel sesudah Nabi Musa yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja (malik) agar (di bawah kepemimpinannya) kami bisa berperang di jalan Allah. Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali, barangkali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak mau berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab, "Bagaimana Thalut memerintah (mulk) kami, sedangkan kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dibandingkan dia, sementara dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak". Nabi mereka menjawab, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui".

Sabda Rasulullah SAW: "Setiap kau adalah pemimpin (Ra'in) dan setiap kamu akan bertanggungjawab (Mas'ul) terhadap apa dipimpinnya" (HR. Bukhari).

Pengertian dan Istilah Memimpin Ketika para intelektual muslim berusaha menerjemahkan makna kepemimpinan Islam baik dalam ruang yang paling sederhana sampai yang paling besar, dari persoalan fiqh sampai teologis, terjadi banyak kesimpang siuran pemahaman dalam memilah-milah pemaknaan. Selain itu banyak terjadi polarisasi terhadap budaya dan hal-hal lain yang banyak menimbulkan kontoversi. Apalagi zaman sekarang Istilah kepemimpinan Islam sudah banyak dipengaruhi pemikir-pemikir Barat, orientalis; juga telah banyak intervensi pemahaman dari sistem kepemimpinan sekuler. Sehingga muncul istilah demokrasi dalam Islam, sosialisme dalam Islam dan sebagainya. Padahal sebenarnya, konsep kepemimpinan dalam Islam sangat jelas dan begitu sempurna.

Dalam Islam melalui terma-terma yang terdapat dalam istilah Arab maupun secara syara' sendiri, istilah memimpin memiliki banyak kata sinonim (muradif) yang satu sama lainnya nyaris identik. Hanya saja, penggunaan dan aspek-aspeknya yang berbeda satu sama lain.

Di antara istilah-istilah itu dikenal antara lain, Mas'uliyah, Imamah, Qiyadiyah, Sulthaniyah, Walayah, Tadbirah, Mulkiyah, Khilafah, Mala'il Qaum, Imarah, Ra'iyah, Qawwamiyah dan lain-lain.

Adapun istilah Mas'uliyah, berarti kepemimpinan yang lebih menekankan pada fungsi tanggung jawab kepemimpinan, di mana setiap seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT, baik keadilannya, kepelayanannya dalam tugas-tugas, maupun dasar yang digunakannya dalam mengambil setiap keputusan. Dari istilah ini terdapat kata mas'ul, yang berarti penanggung jawab berasal atau yang ditanyai; karena kata ini juga berasal dari kata mas'alah.

Sedangkan istilah Imamah, juga berarti pemimpin, tetapi sekopnya lebih besar karena memimpin sebuah bangsa, atau banyak suku yang serumpun; karena kata ini mempunyai akar kata yang sama dengan kata Ummu yang berarti ibu, dan ummah yang berarti serumpun atau segolongan manusia (komunitas). Istilah ini lebih mengenai aspek spiritual. Dari kama imamah ini dikenal sebutan imam yang mengandung makna selalu di depan atau yang selalu diikuti makmumnya.

Ada pula istilah Qiyadiyah, yang berarti pemimpin, tetapi pemaknaannya lebih menekankan pada nilai-nilai pengorganisasian dan managerial yang tidak bersifat material dan program. Hal ini dinilai dari asal-usul kata Qiyadah itu sendiri yang berarti menggembala atau mengendalikan sesuatu. Secara bahasa, istilah ini banyak digunakan bagi para penggembala domba di Arab. Namun, dalam al-Qur'an dan sejarah Islam, istilah ini juga banyak digunakan bagi kepemimpinan yang bersifat komandemen, yang berarti kepemimpinan dalam perang; juga bisa digunakan bagi pemimpin militer, di mana titah seorang pemimpin lebih merupakan komando, bukan instrksi atau sekedar maklumat.

Ada juga istilah Sultaniyah, berarti kepemimpinan; yang 'scop'nya juga besar, penekanannya lebih kepada kemampuan dan kecakapan serta penguasaan terhadap apa yang ada di wilayah kepemimpinannya. Dari kata ini, terdapat istilah Sultan dan kesultanan. Dalam sejarah, kedua kata yang belakangan disebut, merupakan istilah yang lebih diasosiasikan pada kerajaan Islam. Artinya, sultan lebih mendekati sistem kepemimpinan negara yang berbentuk kerajaan atau negara teokrasi.

Sementara istilah walayah, juga berarti pemimpin; tetapi pemaknaannya lebih luas dan paling banyak penafsiran di antara istilah-istilah kepimpinan lainnya. Selian itu istilah ini yang paling banyak digunakan dalam al-Qur'an dan matan hadits. Kata walayah ini melahirkan kata Wali yang berarti wakil atau orang yang berkedudukan

Mala'il Qaum, dalam al-Qur'an istilah ini banyak juga disebut terutama dalam kisah-kisah yang berhubungan dengan para Nabi dan Rasul. Istilah ini berarti pembesar suatu kaum. Maksudnya, pemimpin-pemimpin yang dikenal luas, dapat memberikan pengertian seperti yang dikenal sekarang, pemimpin tradisonal, elit politik, pemimipin tradisional, kepada suku, pejabat tinggi. Jelasnya istilah mala' lebih menekankan kepada kepemimpian yang lebih figuristik dan ketokohan, baik dipandang karena memegang kepemimpinan di suatu dinas, kelompok tradisional dan lainnya, meskipun bukan tokoh sentral atau pemimpin utama/tertinggi.

Imarah, artinya kepemimpinan; dapat juga berarti kepengurusan, karena istilah ini diambil dari kata al-Amr, artinya perintah, instruksi atau amaran (bahasa Malaysia). Maksud istilah ini lebih mengedepankan program dan material yang menjadi misi dan usaha sebuah kepemimpinan dalam rangka mencapai tujuannya. Dari istilah Islam ini, dikenal luas istilah Ulil amri yang populer diartikan dengan pemerintahan atau orang-orang yang berwenang memegang suatu urusan. Dengan demikian, maka istilah ulil amri adalah istilah kepimpinan yang formal dan bersifat kedinasan.

Ra'iyah, memiliki pengertian yang hampir sama dengan Mas'uliyah. Bila masuliyah menyangkut pertanggungjawabannya, maka raiyah merupakan sosok yang bertanggungjawab.

Qawwamiyah, juga berarti memimpin. Istilah ini berasal dari kata Qoma (tegak) dan seakar kata pula dengan Qaum (bangsa). Kepemimpinan pada istilah ini lebih ditekankan pada aspek keadilan, keutamaan dan rasionalitas.


Tipe-Tipe Pemimpin dalam al-Qur'an
Dalam al-Qur'an, ada dua tipe pemimpin, yakni pemimpin yang jahat dan pemimpin yang baik. Pemimpin yang jahat mempunyai ciri-ciri berikut ini, yaitu: Menghancurkan bangsanya dengan menukar ajaran Allah dengan pandangan dan gaya hidup yang penuh kekafiran. Firman-Nya: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan memurukkan bangsanya ke lembah kebinasaan? (QS.14:48)

Selain itu, pemimpin yang jahat adalah pemimpin yang mempunyai tipikal seperti Fir'aun yang suka berbuat sewenang-wenang, memecah-belah rakyat dengan memanjakan kelompok tertentu (dengan fasilitas dan kewenangan) dan menindas yang lain; melakukan pengebirian terhadap aspirasi masyarakat, anti kritik, menghidupkan budaya menjilat, serta membuat kerusakan lingkungan dan merusak sumber daya manusia (pembodohan) melalui praktek money politik dan janji-janji kosong.

Firman Allah QS. 28:4, "Sesungguhnya Fir'aun berbuat sewenang-wenang di muka bumi, menjadikan penduduknya berpecah belah dengan menindas segolongan di antara mereka, dia membunuh anak laki-laki dan menghidupkan anak perempuan; sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang membuat kerusakan".

Sedangkan pemimpin yang baik adalah pemipin yang wajib dipatuhi dan ditaati, karena hal itu merupakan perintah Allah. Firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu….(QS. 4: 59).

Adapun ciri-ciri pemimpin (imam) yang baik itu antara lain; Adil, karena sifat ini paling dimuliakan Allah dan termasuk salah satu tipe manusia yang mendapat naungan dan perlindungan Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Jamaah pada Kitab Min Kunuziz Sunnah. Adil menurut prinsip Islam adalah selain menyesuaikan segala sesuatu sesuai kebutuhan dan kemampuan, juga mengandung makna tidak berat sebelah dalam mengambil keputusan (memihak). Adil adalah lawan kata dari curang atau terpengaruh pada kepentingan sesaat dan berat sebelah.

Selain memiliki sifat adil, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang punya sifat kepemimpinan seperti Rasulullah yaitu, Shiddiq (jujur), tabligh (menyampaikan kebenaran), amanah (terpercaya) dan fathonah (cakap/cerdas).

Mengenai kepemimpinan berdasarkan gender, tidak ada larangan bersadarkan Islam, laki-laki boleh, perempuan juga boleh, kecuali menjadi pemimpin sentral suatu bangsa dan atau hakim yang memberi keputusan. Hal ini didasarkan dari banyak hadits. Salah satunya, yaitu: Sabda Nabi SAW: "Tidak akan beruntung suatu bangsa bila dipimpin seorang perempuan" (HR. Bukhari). Sementara kepemimpinan perempuan untuk menjadi kepala keluarga tidak dilarang bahkan memiliki kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki; asalkan syaratnya, mampu memberi nafkah dengan yang ia pimpin dan bisa menjaga diri.

Firman Allah QS. 4: 34, "Laki-laki itu pemimpin (qawwam) bagi perempuan, disebabkan Allah melebihkan sebagian kaum lelaki terhadap sebagian kaum perempuan telah memberikan sebagian harta mereka (memberi nafkah)". Itu berarti tidak semua laki-laki itu mampu memimpin perempuan; perempuan juga dapat memimpin laki-laki bila perempuan yang memberi nafkah kepada laki-laki. Sebab, kepemimpinan laki-laki gugur karena tidak memberi nafkah. Kendati demikian perempuan meskipun dibolehkan Islam bekerja di luar rumah, tetapi wajib menjaga diri dan mejaga kesucian.

Pemimpin Pilihan Allah
Pemimpin pilihan Allah adalah pemimpin (imam) yang mempunyai ilmu (agama) yang luas mendalam dan tubuh yang perkasa; sebagaimana dijelaskan pada ayat Allah QS. 2: 246-247 di atas.

Selain itu, Allah SWT berjanji akan menjadikan semua keturunan Ibrahim yang tidak zalim (berbuat aniaya seperti kejahatan kemanusiaan, syirik dan dosa besar lain) menjadi pemimpin (imam) manusia. Firman Allah QS. 2:124: "Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji dengan kalimah (perintah dan larangan) Tuhannya, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu pemimpin (imam), bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-KU ini tidak mengenai (tidak termasuk) orang-orang yang zalim. Ini berarti pemimin pilihan Allah adalah dari orang-orang yang shalih (senantiasa berbuat baik).

Selain dua tipe di atas, pemimpin pilihan Allah adalah pemimpin yang berasal dari orang-orang yang tertindas oleh kekuatan yang otoriter, sewenang-wenang dan penuh dengan kekerasan (tangan besi). Firman Allah: "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi dan hendak menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan kami akan teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta Militernya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu" (QS. 28:5-6).

Islam sebagai sebuah Dien yang mengatur secara sempurna ajaran hidup mengajarkan, dilarang dengan keras mengangkat orang kafir, orang fasiq, musyrik atau orang munafiq menjadi pemimpin, pelindung, pembuat dan pemberi keputusan hukum.

Seorang muslim dilarang juga meminta diangkat menjadi pemimpin atau menjanjikan bila dia nanti terpilih akan mengiming-imingi orang lain dengan hal-hal yang indah. Hal itu dilarang karena manusia seperti itu adalah manusia berhati atau berjiwa setan. Dan biasanya, manusia yang seperti itu hanya bermaksud menipu.

Firman Allah QS. 6: 112, "Dan demikianlah telah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu dari jenis manusia dan jin segian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah dengan maksud menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

Pendidikan dan Pengajaran Sebagai Misi Rasul Allah

Oleh : Jufri Bulian Ababil (ABAH)

Kondisi Dunia Pendidikan

Bukan bermaksud hendak mengasini air laut atau hendak mengajari tupai melompat, tetapi masyarakat umum pun tahu atau barangkali merasakan langsung situasi dan kondisi dunia pendidikan negara kita akhir-akhir ini. Tampaknya sudah semakin kacau balau dan seakan-tidak akan membuahkan hasil seperti selayaknya tujuan pendidikan itu sendiri, memanusiakan manusia. Celakanya, sebagian dari oarng-orang yang bergelut di dunia pendidikan ini pun jangankan untuk peduli terhadap nasib dunia pendidikan, malah sedikit yang justeru ikut menggerogoti sistem pendidikan hanya demi kepentingan kelompok, golongan, pribdai dan sebagainya.

Belum lagi habis gaung kontrovesi mengenai RUU Sisdiknas kemarin, belum lagi terbongkar sindikat-sindikat pemalsuan ijazah gelar dan sebagainya. Dunia pendiidkan akhir-akihir ini di nodai lagi dengan adanya indikasi masuk perguruan tinggi negeri dengan jalur alternatif dengan merogoh kocek sekian puluh atau sekian juata Rupiah.

Memang kontras kelihatannya bila dibandingkan dengan negara tetangga Malaisya apalagi Jepang dan negara-negara maju lain di dunia.

Kenapa anak-anak mereka bisa membuat radio setamat SD atau membuat jam tangan setamat SMP. Pusing bila memikir jawabannya. Jelasnya, semua ini karena umat Islam meninggalkan kurikulum pendidikan Allah dan Rasulnya, yang tidak lagi membutuhkan penyempurnaan, karena toh memang sudah sempurna.

Sistem Pendidikan Islam

Pendidiakan dan pengajaran dalam Islam telah diaplikasikan para rasul Allah sebagai misi yang bertujuan Islam itu sendiri, menyempurnakan akhlak, terwujudnya kesejahteraan dunia dan akhirat serta menjadi rahmat universal. Metode yang diabngun Rasul Allah. Termasuk nabi Muhammad SAW tetap mengetengahkan tiga tahapan strategis. Firman Allah :
“Dialah Allah yang telah mengutus kepada bangsa yang buta huruf (buta konsep), seorang Rasul dari bangsanya sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya (konsepsi). Mensucikan mereka ( bina lapangan keterampilan) dan mengajarkan mereka tentang kitab ( dokumentasi ) dan Hikmah (kebijakan), padahal mereka sebelumnya adalah dalam kesesatan (kebingungan) yang nyata (tampak dalam realitas). (QS. al-Jum’ah 62 : 2 ).

1. Tilawah
Tilawah adalah lapangan pendidikan yang diajarkan al-Qur’an dalam rangka mengasah kemampuan teoritis dengan cara penyuluhan dan berdiskusi yang dimulai dari apa yang diketahui orang lain, sehingga pembicaraan nyambung. Secara bahasa tilawah berarti “membacakan”, dapat juga diartikan mendampingi”. Berbeda dengan kata “Qira’ah” yang lebih umum dan dapat dilakukan sendiri, tilawah harus melibatkan orang lain dan membutuhkan seseorang yang dianggap berkompeten melakukannya. Dalam proses ini, seorang rasul selaku pendidik membangun semangat kritis kepada umatnya dalam melihat persoalan, pertanyaan, kesenjangan ide realita, dikemukakan, para rasul menunjukkan standar baku, rumusan-rumusan, pola dan paradigma yang digunakan dengan menunjukan dalil-dalil al-Qur’an. Mengenai penjelasan ayat-ayat yang belum dimengerti, mereka, para rasul itu memberikan “bayyinat” ayat al-Qur’an baik dari ayat lain maupun dari sabda-sabda beliau. Denagn demikian mereka tetap mendampingi umatnya. Bukan habis didakwah, terima amplop lantas ditinggalkan, tak peduli mereka faham atau tidak, dakwah yang disampaikan menimbulkan masalah atau tidak.

2. Tazkiyah
Tazkiyah artinya “mensyucikan jiwa”, maksudnya mensucikan seluruh yang melekat pada jiwa yang meliputi kesadaran, emosi, ego dan pola fikir. Berbeda dengan kata “thaharah” yang berarti suci fisik-maerial dan kata “fitrah” yang berarti suci dari rekayasa makhluk serta kata subhan yang juga berarti suci dalanm pengertian sucinya Allah dari sifat kekeurangan sebagaimana yang dimiliki makhluk. Kesemua pengertian tersebut jelas memiliki makna, maksud dan tujuan berbeda serta aspek yang berbeda pula. Para rasul selaku pendidik, setelah membangun kemampuan teoritis yang didukung dengan rumus-rumus dan sebagianya yang wajib dihafal, proses pendidikan dilanjutkan dengan praktek kelapangan sehingga teori yang sudah diajarkan tidak lupa. Jelasnya, satu pokok pembahasan sekali praktek, sehingga ilmu dapat diterjemahkan secara langsung menjadi amal yang justeu akan menambah ilmu yang baru, baik pengalaman, keterampilan dan penguasaan objek persoalan. Dalam hal ini para rasul masih selaku pendidik bertindak sebagai pemandu umatnya, menjadikan mereka terampil dan kreatif sambil tetap memantau keadaan emosi, ego, intelektualitas dan hal-hal lain dalam kaitan psikologi. Dan pada ujung proses ini, para rasul meminta pertanggung jawaban, mengevaluasi praktek, tugas,penanganan masalah yang mereka hadapi, apakah masih sesuai dengan garis-garis al-Qur’an atau telah tersimpangkan.

3. Ta’lim
Artinya mengajarkan berasal dari kata ‘allama yang berbentuk bina taktsir yang menunjukkan pngertian proses pengerjaan/aktivitas yang dilakukan terus-menerus/kontiniu, berirama dan berulang-ulang. Maksudnya, proses pendidikan dalam Islam pada tahapan ini dilakukan secara teratur, rutin dan melakukan pengulangan kembali (refleksi) dari apa yang pernah dibacakan atau dipraktekkan. Selanjutnya, dalam rangka menindaklanjuti sebuah output awal dari sebuah hasil pendidikan, para rasul selaku pendidik, melakukan pendalaman terrhadap ayat-ayat yang sudah pernah diajarkan. Dengan proses pembelajaran kembali ini diharapkan, umat dapat melakukan rekonsepsi. Sedangkan penguasaan materi dan penataan keahlian juga mewarnai proses ini, terutama menyangkut penemuan baru dan pengembangan, baik ditingkat wawasan keilmuan maupun ditingkat pengambilan kebijakn/keputusan dengan inisiatif-inisiatigf yang terpola adan dipahami bersama.

Sedikit Menghibur Diri

Bila mana dilakukan evaluasi terhadap output dari semua institusi pendidikan dinegara kita, bolehlah kita menyaksikan para profesor yangmenganggur akhirnya memilih mengaplikasikan ilmunya di negara lain. Begitu juga dengan sarjana dan tamatan SMA lainnya. Namun kendati demikian kita perlu merasa bangga dan menarik napas legah melihat tumbuh suburnya, taman pembacaan al-Qur’an, Taman kanak-kanak, Madrasyah Diniya Awaliyah, Play group for Islamic Children dan setingkat dengan itu dengan sistem belajar dan metode Iqra’ dan kitabah yang diajarkan para ummi dan buya muda. Kenapa? Tanpa ingin membandingkan dengan tamatan aliyah dan sederajat. Jelas kualitas mereka tidak jauh lebih baik dari kakak-kakak mereka. Apakah itu ditinjau dari praktek ibadah maupun kualitas daya ingat dan daya tangkap . bayangkan saja anak sekecil itu rata-rata 4-9 tahun sudah hafal satu juz amma ( juz 30 ), al-Qur’an, hafal banyak doa dalam segala aktivitas sehari-hari. Generasi ini insya Allah nantinya diharapkan dapat menggantikan beberapa generasi diatasnya yang dikhawatirkan banyak pengamat sebagai “the lost generation”( generasi yang hilang ), karena terlepas darimereka yang m,ampu bertahan sebagian besar sudah terlibat narkoba, seks bebas dan berbagai bentuk kekerasan, tidak bisa baca doa, tidak hafal juz amma seperti adik-adik mereka yang masih TK dan kecil kemungkinan untuk diharapkan lagi memperjuangkan agama dan negara ini.

Mukmin Sejati: Proses dan Keutamaan

Oleh: Jufri Bulian Ababil

Landasan Wahyu:
Dalam pandangan Islam, keimanan merupakan masalah yang fundamental yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Seorang manusia tidak akan masuk kedalam siksa neraka Allah selama-lamanya apabila terdapat sebiji zarrah keimanan dalam dadanya.

Iman itu bagaikan akar bagi sebuah pohon, di mana ia memiliki fungsi sebagai penopang tegaknya batang dan cabang. Semakin baik kualitas akarnya, maka akan semakin terjaminlah kekuatan pohon itu. Selain itu juga akar memiliki fungsi-fungsi lain, yakni sebagai penyerap unsur-unsur hara dan fungsi lainnya.

Secara bahasa iman berarti percaya. Dalam bahasa Inggeris penyesuaan kata Iman berbeda dengan kata Trust, melainkan relatif lebih sepadan dengan believement. Dalam lidah Arab, kata yang menunjukkan arti yakin juga ada beberapa lafazh, seperti Yaqien, al-Iman dan

Iman itu ada yang sejati, ada pula yang palsu. Iman yang sejati ini, adalah iman yang senantiasa berproses menuju kepada penyempurnaannya. Sedangkan iman yang bercampur dengan kekufuran, syirik dan nifaq adalah kualitas iman orang-orang yang menganggap diri mereka sudah bersih, menganggap diri lebih dari yang lain, dan banyak lagi keadaan-keadaan yang menjerumuskan orang kepada pemalsuan iman, banyak juga sifat-sifat yang menjadi ciri-ciri manusia yang beriman, tetapi imannya bercampur dengan sesuatu yang membuatnya celaka.

Firman Allah QS. 8:2-5: "Orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apa bila disebut Asma Allah bergetar hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatnya bertambah iman mereka; dan kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal. Mereka orang-orang yang menegakkan Sholat dan dari sebahagian harta mereka, mereka nafkahkan. Mereka itulah orang-orang mukmin sejati. Bagi mereka derajat-derajat yang tinggi di sisi Tuhan mereka dan mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia.

Sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya iman itu adalah membenarkan dengan hati mengikrarkan dengan lidah dan melaksanakan dengan anggota tubuh (perbuatan)".

Ciri Mukmin Sejati
Mukmin sejati memiliki ciri-ciri kesejatian hati. Sebab di hatilah iman itu bersemaian. Untuk mencapai kesejatian hati itu, seorang yang mengaku muslim harus selalu menimbulkan stimulus-stimulus untuk menggetarkan hatinya. Stimulus itu adalah zikir kepada Allah, dengan banyak-banyak mengingat keagunganNya, keesaanNya dan KemahakuasaanNya. Selain itu, perlu juga banyak-banyak menyebut Asma Allah baik di dalam hatinya (sirr) maupun secara lafzhi dengan lidah.

Dengan demikian diharapkan akan timbul getaran-getaran kecil. Bila getaran-getaran kecil ini mulai tumbuha, maka secara otomatis tenaga gerak akan muncul. Getaran yang secara berkesinambungan akan melahirkan energi gerak. Inilah yang disebut dengan gerak hati. Itulah makanya orang yang banyak mengingat Allah adalah orang yang semangat hidupnya tinggi, energik dan survive serta memiliki daya tahan tinggi.

Proses getaran-getaran hati, secara otomatis memunculkan kecendrungan-kecendrungan untuk selalu tertarik kepada hal-hal yang mendekatkannya kepada Allah. Ini berarti getaran-getaran yang muncul dari zikir mempunyai daya geser sedikit demi sedikit. Daya geser itu semakin mendekat ke satu titik. Pergeseran inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah atau pendekatan diri kepada Allah SWT.

Untuk mempercepat gerak yang disebut taqarrub itu, perlu daya picu, motivasi atau daya dorong yang terus menerus, sehingga diharapkan pergeseran nilai dari satu titik pengenalan kepada titik mahabbah tidak tersendat-sendat karena banyaknya pengaruh-pengaruh hawa nafsu dan setan yang coba memutar arah proses tadi ke arah yang semakin jauh dari Allah.

Oleh karenanya, perlu bagi seorang muknin untuk menambah keimananya dengan banyak mendengar ayat-ayat Allah dengan cara mencari majelis-majelis ilmu, duduk dan berdiskusi dengan para ulama, mujahid dakwah, melakukan sharing informasi dan hal-hal yang berhubungan dengan mendengar nasehat-nasehat sesama saudara seiman dan seaqidah.

Bila daya picu dan percepatan ini terjadi dalam diri seorang mukmin, maka ia sedang memasuki sebuah tahapan yang disebut dengan "hijrah", atau perpindahan total (moved). Yang dimaksud pindah total di sisi adalah seorang mukmin telah melewati titik batas tertentu yang memiliki kemungkinan yang sama yang membuatnya lebih dengan kepada Allah ketimbang Thagut, bentuk penghambaan atau penuhanan lainnya. Seperti sebuah titik nol, bergeser setapak ke depan mendapat nilai 1, bergeser spoin ke belakang mendapat nilai -1.

Selanjutnya, yang merupakan ciri mukin sejati itu bila mana telah memasuki tahap pindah total ini adalah tahap jihad. Jihad adalah usaha yang dihasilkan dari energi dan percepatan. Semakin besar energi dan percepatan yang diberikan, maka akan semakin besar pula kekuatan usaha.

Secara umum, jihad diterjemahkan kepada arti berperang. Namun, pemaknaan ini dipandang terlalu khusus. Padahal, kendati memang dapat diartikan demikian, makna yang lebih sesuai sebenarnya adalah berjuang dan bersungguh-sungguh.

Pemaknaan terhadap usaha ini hampir sama atau malah bisa disamakan dengan kata ikhtiyar (usaha/ memilih), karena pada ujung usaha, seseorang dituntut agar bisa mengambil pilihan dan keputusan.

Unsur-unsur yang terkandung dalam jihad itu sendiri ada dua hal. Pertama, mengerahkan segenap kemampuan yang ada di diri dan semua persiapan materi, dalam rangka mencapai keberuntungan.

Puncak tertinggi dari usaha dan jihad adalah tawakkal. Dengan kata lain, tawakkal merupakan upaya terakhir, kemampuan dan jalan terakhir yang harus diambil dalam rangka menyelesaikan sebuah persoalan atau urusan. Hal ini merupakan batas seorang muslim untuk diizinkan mengambil keputusan dan pilihan.

Seorang tidak dapat dikatakan bertawakkal sebelum ia benar-benar berjihad atau secara sungguh-sungguh melakukan sesuatu. Begitu pun, seorang tidak bisa dikatakan berjihad kalau ia tidak sampai pada puncak ikhtiarnya menyelesaikan atau menangani suaru urusan atau persoalan.

Itulah sebabnya, surah Al-Anfal ayat 2 ini menjelaskan secara bertahap bagaimana seorang muslim berproses menjadi seorang mukmin sejati.

Adapun tiga input atau jalan yang harus dilalui adalah, Zikrullah (mengingat Allah), Tasmi' 'alat Tilawah (mendengar ayat Allah) dan tawakkal.

Sedangkan proses yang akan dilalui dengan melalui ketiga strategi itu yakni, getaran (daya gerak) yang memunculkan daya geser (taqarrub); selanjutnya terjadilah usaha yang memunculkan daya picu (jihad).

Penegasan ketiga makna tersirat ini (Iman Hijrah dan Jihad) kemudian dipaparkan Allah ayat-ayat terakhir di penghujung Surah Al-Anfal ini, seperti yang dapat kita temukan pada ayat 72,74 dan 75.

Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dan orang-orang yang menyediakan pertolongan. Mereka itulah orang-orang mukmin sejati; bagi mereka ampunan dan rezeki dan mulia" (QS. 8: 74).


Keutamaan Mukmin Sejati
Orang-orang yang sejati imannya dijanjikan Allah dengan tiga ganjaran, tiga keutamaan dan nilai plus.

Ketiga nilai plus itu yakni, ketinggian derajat dalam pandangan Allah, ampunan dan rezeki yang mulia. Namun, tiga keutamaan ini tidak diperoleh sekaligus, melainkan hanya didapatkan dalam proses perjalanan mencapai kesejatian tadi.

Iman, Hijrah dan jihad yang merupakan inti persoalan dari surah Al-Anfal (rampasan perang) itu merupakan balasan yang diberikan Allah secara bertahap menurut sejauh mana proses yang telah dilalui.

Pada proses awal saat seorang abid tergetar hatinya ketika mengingat Allah, pada saat itu pula secara bertahap derajatnya meningkat pada ketinggian tertentu dalam pandangan Allah. Harkat, martabat dan nilai jiwa seorang manusia semakin tinggi dan berharga hanya dapat meningkat dan semakin meninggi berbanding lurus dengan tingkat kekuatan getar, kehebatan energi yang dimunculkan dalam jiwanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Inilah keutamaan pertama yang diberikan Allah.

Keutamaan kedua, yaitu maghfirah atau keampunan. Keampunan ini merupakan bukti pendekatan diri seorang mukmin kepada Allah. Dengan pendekatan yang benar kepada Allah, semakin jauhlah ia dari dosa dan maksiat. Artinya, semakin dekatlah pula ia kepada Allah. Dengan semakin dekat kepada Allah berarti semakin besarlah pengawasan Allah kepadanya, kian hebat pula perlindungan Allah untuk membentengi dirinya dari dosa. Sehingga dosa-dosa yang pernah dibuatnya tenggelam dan tertutupi dengan kebaikan-kebaikannya. Inilah yang dimaksud dengan memperoleh pengampunan dalam proses. Jelaslah, proses menuju jihad dapat mengampunkan dosa-dosa. Tanpa hijrah dan jihad, kemungkinan orang untuk berbuat dosa sangat besar, sedangkan Allah tidak mengampuni orang yang selalu berulang-ulang melakukan kesalahan yang sama.

Selanjutnya, keutamaan ketiga adalah buah usaha dan tawakkal, yaitu rezeki dan mulia. Hal ini berkaitan erat dengan takdir Allah yang sering banyak disalahartikan.

Dalam suatu riwayat, seorang sahabat pernah menanyakan pengertian Tawakkal kepada Nabi Muhammad SAW, ketika beliau bertemu. Dikatakannya, "Ya Rasulullah. Aku mempunyai seekor unta. Apakah ketika aku sholat lalu aku meninggalkannya tanpa ditambat, apakah aku disebut bertawakkal?". Rasulullah SAW bersabda: "Tambatlah untamu, maka engkau telah bertawakkal".

Dari riwayat itu, jelas nilai dari tawakkal adalah usaha atau ikhtiar. Hal ini mengandung makna, seseorang tidak boleh menggantungkan dirinya pada nasib sebelum ia benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya.

Rezeki memang dari Allah. Namun Allah tidak akan memberikan rezeki itu secara mulia, selain dengan cara dengan gigih berusaha mencarinya, yakni dengan cara sungguh-sungguh ikhtiyar. Mengenai hasilnya, barulah diserahkan kepada Allah dan dituntut pula bagi kita untuk menerimanya dengan Qana'ah.

Jadi, jelaslah semakin besar usaha, maka semakin besar tawakkal dan semakin besar mulia pula rezeki yang akan Allah berikan. Namun antara keutamaan dan ciri mukmin sejati ini, Allah SWT memperantarainya dengan sebuah ayat "Mereka mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian hartanya".

Betapa tinggi dan luhurnya ajaran Allah itu. Walaupun kita diperintahkan untuk memproses diri untuk mencapai keutamaan-keutamaan yang tak ternilai harganya, namun Allah mengingatkan agar seorang yang mencari iman sejati jangan lupa menegakkan sholat dan menafqahkan sebagian hartanya. Ini ciri mukin sejati.

Puasa dan Kesehatan

Sebagian di antara kita mungkin ada yang hafal tau paling tidak pernah membaca sebuah hadit Nabi SAW yang cukup singkat, namun punya nilai yang sangat besar bagi kehidupan; Bunyinya, "Shumu Tashihhu", berarti "Puasalah kamu, pasti kamu kan sehat".

Kebanyakan kita bukan pakar atau ahli bidang ilmu hadits, sehingga kita tidak tahu mata rantai sanad hadist ini dari nabi sampai periwayatnya. Bahkan, periwayatnya pun barangkali kita sudah lupa, Bukharikah? Imam Ahmadkah atau yang lainnya. Tetapi yang jelas, hadits itu sangat populer sehingga dalam makna bisa disebut hadits mutawatir lafzhi

Untuk tidak memperdebatkan lebih jauh mengenai apa teks asli hadits dan siapa perawinya dan dalam kitab apa, lebih baik kita buka hikmah yang ada dari hadits tersebut. Sebab, sebagaimana kita ketahui keluar dari perdebatan dan perbedaan dalam Islam lebih diutamakan dan dianjurkan.

Puasa (Shaum) selain memiliki berbagai keajaiban, keunggulan, keistemewaan juga mempunyai manfaat yang sangat banyak. Di antara manfaatnya, menumbuhkan rasa kebersamaan, melatih kesabaran, melatih kesadaran hukum dan meningkatkan partisipasi dalam kehidupan sosial. Selain manfaat-manfaat itu (mungkin tidak dijelaskan di tulisan ini), puasa juga mempunyai manfaat bagi kesehatan.

Tak berlebihan bila kebanyakan orang yang telah berumur di antara kita yang pernah mengalami berbagai hambatan kesehatan dalam menjalankan ibadah puasa setiap tahunnya. Mungkin karena sudah berkurangnya stamina dan daya tahan tubuh karena sudah semakin menuanya sel-sel tubuh, fungsi-fungsi organ serta melemahnya sistem kekebalan tubuh seiring dengan semakin bertambahnya usia.

Namun ada juga yang pernah mendengar pengalaman baik mengenai dampak positif berpuasa bagi kesehatan; apalagi pengalaman tersebut didukung dengan pernyataan dokter dan ahli kesehatan.

Puasa dan Tubuh Kita
Tubuh kita (manusia) terdiri terdiri dari beberapa sistem yang saling mendukung dan mempengaruhi satu sama lainnya, sehingga menjadi satu keutuhan yang utuh. Sistem itu antara lain, metabolisme, pengeluaran, pernafasan dan tranportasi (darah), syaraf, tulang dan sistem otot.

Pada saat metabolisme atau pencernaan kita bekerja mengolah makanan yang melibatkan mulut (gigi), kelenjar ludah, lambung, usus besar, usus dua belas jari dan usus halus sampai ke anus, sistem tubuh tidak maksimal dalam melakukan immunisasi dengan sistem kekebalan tubuh dengan kelenjar getah bening dan sel darah putih.

Bila dibandingkan pada saat berpuasa sistem, kekebalan tubuh relatif dapat bekerja lebih maksimal untuk menjalankan fungsinya melawan segala jenis penyakit, racun dan sisa-sisa endapan makanan yang dikonsumsi selama setahun ketimbang mereka yang tidak berpuasa.

Demikian pula hubungannya dengan sistem kerja syaraf yang sangat berkaitan dengan metabolisme. Tidak makan dan minum dapat lebih memperjernih kerja akal sehat sehingga bisa berfikir lebih jernih dan tenang, karena syaraf-syaraf rasa akan mengalami pengurangan kepekaan terhadap nafsu syahwat dan sifat-sifat kebinatangan lain ketika orang sedang berpuasa. Meskipun ini belum mendapat perhatian yang serius untuk diuji secara ilmiyah, namun diyakini sesuai menurut Ulama-ulama dan kaum sufi dahulu, induk segala dosa berada diperut atau terletak pada hawa nafsu makan dan minum.

Perut dan Neraka
Dalam suatu riwayat pernah diceritakan, bahwa ketika hawa nafsu diciptakan Allah, hawa nafsu sudah lebih cenderung mendurhakai Allah dan enggan mengakui Keagungan Allah. Sehingga Allah Murka kepadanya dan berfirman kepada Hawa nafsu akan menjatuhkannya hukuman yang amat berat. Tetapi bukannya takut, hawa nafsu malah menantang akan menjalani segala hukuman yang dijatuhkan. Segala bentuk siksaan dijatuhkan padanya, tetapi hawa nafsu belum juga menunjukkan tanda-tanda menyerah pada kehendak dan keinginan Tuhannya. Ia tetap enggan minta ampun. Mula-mula hawa nafsu dimasukkan ke neraka panas, selanjutnya neraka dingin yang sangat membekukan. Ia tetap bersikeras. Sampailah akhirnya Allah memasukkannya ke neraka lapar dan dahaga. Bukan main sakitnya rasa hawa nafsu ketika dimasukkan ke sana. Hawa nafsu tak dapat menahan lapar dan haus sehingga akhirnya ia minta ampun kepada Allah dan memohon agar dikeluarkan dari siksa NERAKA.

Jelasnya, perlu dijaga perut dari makan yang berlebihan, pembaziran, makan yang baik (bergizi) dan paling utama segi kehalalannya. Sebab, perut merupakan tempat kita memasukkan api neraka ke dalam tubuh kita, Sebagaimana Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim, sesungguhnya tidak ada yang mereka konsumsi di dalam tubuh mereka selain api neraka…". (Ayat). Dengan demikian, kita terhindar dari penyakit yang aneh-aneh dan sangat menyiksa akibat dosa-dosa perut kita.

Puasa bagi Kesehatan
Kesehatan sangat mahal. Saking mahalnya tak dapat dibayar berapapun, tak dapat dipindahpindahkan kepada orang lain. Bahkan tidak sedikit beranggapan kesehatan adalah segala-galanya. Tidak ada artinya hidup bila tidak sehat atau sakit-sakitan, minimal berkuranglah nikmat hidup bila kesehatan jauh dari jiwa raga kita.

Kesehatan yang hendak diobati melalui berpuasa tidak saja kesehatan mental spritulal, bahkan juga kesehatan fisik dan kebugaran tubuh. Memang perlu diakui saat berpuasa, kita kadang terasa haus dan lapar. Apalagi cuaca panas, rasanya begitu lemas dan membuat kita lesu. Karena itu, perlu dibiasakan sehingga terbiasa.

Mereka yang terbiasa berpuasa, tentu mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik dari mereka yang kurang membiasakannya. Begitupula tingkat kesabaran dan kegigihan dalam mempertahankan atau memperjuangkan cita-cita dan keinginannya. Artinya, berpuasa selain dapat menyehatkan jiwa dari penyakit-penyakit sombong, mementingkan diri sendiri, dengki dan sebaginya juga mampu menyehatkan fisik, yakni membersihkan metabolisme, membersihkan racun dalam tubuh dan lainnya seperti dikemukakan di atas.

Keutamaan Puasa

Bila orang hendak menawarkan sesuatu agar yang lain tertarik, tentu dikemukakan keistimewaan, kelebihan, keutamaan, manfaat dan hal-hal yang bernilai plus dari sesuatu itu. Inilah yang dikenal dengan iklan dan promosi dalam istilah dagang, kampanye dan propaganda dalam istilah sosial-politik.
Dalam Islam dikenal pula dakwah yang memiliki kesamaan tujuan dari istilah-istilah yang disebut tadi. Dalam Islam, dakwah dipandang sangat perlu dalam mentranformasikan nilai-nilai Islam dan keutamaannya bagi masyarakat. Demikian pula dalam pelaksanaan ibadah baik yang wajib maupun sunat, dikenal istilah "Fadilatul A'mal", yakni keutamaan-keutamaan suatu amal, agar menarik hati mereka yang mengaharapkan ganjaran lebih untuk selalu berpacu melaksanakan ibadah wajib dan sunat dengan keutamaan masing-masing.

Bulan Ramadlan merupakan penghulu segala bulan di sisi Allah. Di dalamnya terdapat banyak peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah para Nabi seperti turunnya Shuhuf Ibrahim dan Kitab-kitab Suci lainnya termasuk al-Qur'an, perang Badar, selain juga tentunya bulan di mana umat Islam di sentreo jagat diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Selain bulannya, ibadah puasa sendiri mempunyai berbagai keistimewaan atau keutamaan, antara lain:
1. Amal ibadah dan kebajikan yang dilaksanakan seseorang dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai 700 kali lipat. Dalam riwayat lain dijelaskan pula amal yang sunat dihitung setara amal wajib dan amal wajib diganjar 70 kali lipat; sampai-sampai tidurnya orang yang berpuasa pun dinilai berzikir kepada Allah.

2. Puasa itu langsung tertuju kepada Allah, tanpa perantara. Allah juga Yang langsung membalas setiap pahala/ ganjaran orang yang berpuasa Berbeda dengan amal ibadah yang lain, Allah telah memberitugas kepada malaikat Kiraman dan Katibin (Raqib/ Atid) yang mencatat amal perbuatan manusia baik yang jahat maupun yang baik, Puasa tidak demikian. Allah yang langsung menerima dan memberi nilai bagi puasa hambaNya.

3. Selain itu puasa juga dapat dijadikan sebagai Benteng dari siksa Api Neraka. Karena di dalam berpuasa orang yang beriman dilatih untuk mengendalikan diri, sabar, menundukkan pandangan dan sebagainya. Sehingga sumber-sumber kejahatan yang paling berbahaya seperti mata dan perut benar-benar dapat ditutup. Sehingga terdindinglan ia dari neraka.

4. Pada saat orang berpuasa, lambung akan kosong karena tidak terisi makanan, sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap bagi mulut. Untuk memicu dan membahagiakan orang-orang yang sedang berpuasa Allah justeru menilai mulut orang yang berpuasa lebih harum dari wangi Kasturi.

Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits Qudsi: "Sesungguhnya Tuhanmu berfirman: Tiap kebaikan sepuluh kali lipat samapi tujuh ratus kali lipat gandaanya. Dan puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa itu perisai (benteng) dari api neraka. Dan dari Mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau misik kasturi. Dan jika ada sesorang yang membodohi salah seorang kamu dengan suatu perbuatan yang jahil dan dia sedang berpuasa, maka hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Dan bagi Orang yang berpuasa dua kegembiraan. Gembira saat berbuka dan ketika kegembiraan saat bertemu Rabb-(Pengaturnya)"(HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Dengan mengetahui berbagai keutamaan dan keistimewaan puasa, tentunya diharapkan bagi kita dengan penuh kesadaran untuk menambah gairah dan semangat untuk menjalani puasa Ramadlan sampai sebulan penuh kelak, Amin.