27 Rajab yang Umat Islam memperingati peristiwa bersejarah yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW, yakni isra’ Mi’jraj persisnya pada tahun kesebelas diangkatnya beliau menjadi Nabi dan Rasul.
Selama ini tidak sedikit di antara kita, khususnya di Indonesia yang menganut agama Islam setiap tahunnya senantiasa memperingati peristiwa ini, baik dengan mengadakan tabligh akbar, ceramah agama, perlombaan seni islam dan sebagainya.
Selain itu, kita juga sudah cukup banyak mendengar seputar kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW baik selama perjalanan sejak di Masjidil harom sampai menerima perintah Sholat 5 waktu sehari semalam, lantas kembali lagi ke rumahnya dan berbaring lagi di sebelah ummul mukminim Aisyah Ra; maupun hikmah-hikmah, cerita-cerita dibalik kejadian itu. Bahkan juga, kitapun sudah pernah mendengar tentang tanggapan kaum Quraisy, Abu Bakar yang dijuluki Nabi Ash-Shiddiq karena beliau manusia yang pertama membenarkan dan lainnya tentang peristiwa yang beliau alami itu.
Oleh karena itu, yang hendak dikemukakan di sini tak lain dan tak bukan sekedar siaran ulangan, yang sebenarnya sudah sangat sering diulang-ulangi oleh para ulama, ustadz-uztadz, guru agama dan sebagainya; atau dari apa yang kita baca di literatur-literatur Islam serta yang kita dengar dari media massa. Kesemuanya itu adalah khazanah bagi kita, perbendaharaan informasi, ilmu dan wawasan bagi kita, untuk dapat kita resapi, hayati dan kita petik buahnya, kita nikmati inti sarinya. Sehingga yang sangat kita harapkan dari semua itu, agar dapat terjadi perubahan-perubahan spritual dalam diri kita dan keluarga kita.
Namun tak kalah pentingnya adalah penjabaran mengenai apa realisasi peristiwa ajaib itu dalam kehidupan pribadi seorang yang mengaku mukmin dan bagaimana Peringatan Isra’ Mijra’ yang menjadi track record suksesnya para Nabi khususnya Muhammad SAW dalam membangun bangsa Arab bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan, sehingga Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) mampu memperbaiki citranya di Dunia internasional, terutama Barat.
Sehingga diharapkan pula, dapat kita jadikan bahan diskusi bersama untuk menyegarkan kembali ghirah jihad dan semangat juang kita untuk memperjuangkan kejayaan Islam di tengah-tengah bangsa kita. Dan secara bertahap pula akan memancarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia, bagaikan cahaya Allah yang diumpamakan minyak dari sejenis pohon zaitun yang minyaknya saja walau tak disentuh api, dapat menerangi layaknya pelita raksasa.
Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Mahasuci (Allah) Yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsa yang telah Kami beri berkah di sekelilingnya, supaya hendak Kami tunjukkan sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Surah Al-Isra/Bani Israil (17): 1)”
Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Aku sholat malam bersama kalian di sini kemudian aku pergi ke Yerussalem di mana aku shalat di situ dan dini aku sholat fajar bersama kalian lagi”.
“Ya Rasulullah”, kata Ummu Hani, “Jangan kau ceritakan ini kepada manusia, karena akan mengingkari dan menyakitimu”.
“Sungguh aku akan menceritakannya”.
Isra’ Mi’raj: Hijrah dan Sholat
Kisah Isra’ Mi’raj berawal ketika suatu malam Nabi Muhammad terkantuk-kantuk di rumah sepupunya Ummu Hani puetri Abu Thalib, ia dijemput malaikat Jibriel untuk mengunjungi Masjidil Aqsha di Yerussalem dengan mengenderai buraq (sejenis kilat) yang dalam ukuran manusia saat itu akan menempuh perjalanan satu bulan pergi satu bulan pulang; lalu Jibriel mengiringinya menembus tujuh lapis langit. Jibriel hanya diizinkan Allah mendampingi Nabi sampai suatu tempat yang disebut Sidratul Muntaha (lembaran-lembaran terlarang). Nabi SAW sendiri menghadap Allah dan menerima langsung perintah Sholat yang semula berjumlah 50 waktu sehari semalam, dalam proses negoisasi atas saran-saran sejumlah Nabi-Nabi yang menjaga langit seperti Musa, Ibrahim, Idris, Nuh dan lainnya, Nabi bolak-balik menyampaikan permohonannya untuk terus mengurangi jumlah waktu sholat sampai akhirnya menjadi 5 waktu sehari semalam.
Sebenarnya banyak sekali hal-hal yang perlu untuk dikritisi mengenai kronologis Mi’raj. Apakah mengenai riwayat-riwayat di seputar Rasul singgah ke surga dan neraka, berdialog dengan sejumlah Nabi, maupun mengenai wujud buraq yang dikenderai Rasulullah. Namun mengingat hadits tentang Isra’ Mi’raj umumnya panjang-panjang. Sehingga memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Namun yang hendak ditekankan di sini adalah, peristiwa isra’ mi’raj hakikatnya adalah pengukuhan syari’at sholat dalam syaria’t Muhammad. Sebab sebelum Muhammad bukan tidak ada sholat. Ada. Hanya saja masih menggunakan syar’um man Qablana (syariat Nabi sebelumnya). Pada prinsipnya ada dua hal yang diinginkan Allah SWT mengisra’mi’rajkan Muhammad SAW. Namun kedua hal ini hakikatnya adalah satu. Yakni, sama-sama untuk perjuangan Islam dan jihad fi sabilillah semata. Kedua hal yang dimaksud adalah Hijrah dan Sholat.
Adapun Hijrah, merupakan tuntutan ketika itu. Abu Thalib yang selalu membela perjuangan beliau hanya berselang beberapa bulan wafat. Demikian pula isterinya Khadijah RA. yang selalu menopang dan mensupport tegaknya dienul Islam pun menyusul dipanggil Allah beberapa bulan setelah pamannya Abu Thalib meninggal, sehingga tahun tersebut disebut tahun duka cita. Dengan wafatnya dua penopang utama ini, orang-orang kafir Quraisy semakin genjar melakukan penyiksaan, pencobaan pembunuhan terhadap Nabi dan para pengikutnya. Setelah diboikot habis-habisan, diteror terus menerus. Akhirnya setelah Isra’ secara simbolis bersama Jibriel dilakukannya, maka Isra’ secara praktis benar-benar terjadi sebagaimana kebanyakan Nabi dan kebanyakan orang-orang terdahulu, diusir dari negeri sendiri oelh bangsa sendiri. Singkatnya, Rasulullah SAW mau tidak mau, tidak bisa tidak, harus melakukan perjalanan jauh bersama pengikutnya di malam hari dalam rangka menghindari tekanan yang tidak punya prikemanusiaan lagi atau yang diistilahkan sekarang pelanggaran HAM berat. Itulah peristiwa Hijrah sebagai buah dari Isra’.
Sedangkan sholat merupakan Mi’raj itu sendiri. Sebagaimana Sabda Nabi SAW: “Ashsholatu Mi’rajul Mukminin”, sholat itu Mi’rajnya orang-orang mukmin. Nabi menerima pengukuhan syariat sholat saat Mi’raj ke langit menuju pusat alam semesta adalah untuk menerima perintah sholat. Sholat disyari’atkan saat itu bukan saja sebagai sebuah kebutuhan spritual di mana secara batiniyah, kaum muslimin sangat perlu wahana yang mampu memperkuat kekuatan mental-spritual dalam menghadapi orang-orang kafir, musrik dan munafik; bahkan lebih jauh sholat telah menjadi ukuran kedekatan seorang mukmin dengan Penciptanya. Dengan kata lain sholat merupakan sarana atau alat naik bagi seorang mungkin baik dalam derajat ketaqwaannya, posisi sosialnya sesama mukmin, maupun yang paling penting ketinggian kualitasnya dan kedekatannya dalam pandangan Allah SWT.
Perjalanan Menuju Kebangkitan UIBI
Satu-satunya dalil al-Qur’an tentang peristiwa Isra’ adalah ayat pertama surat al-Isra’. Surah al-Isra’ ini oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat juga menyebutnya dengan surah Bani Israil. Hikmah yang terkandung pada “dua nama pada surat yang sama” dalam al-Qur’an banyak sekali. Salah satunya adalah mengajak kita melihat sesuatu yang sama dari aspek yang berbeda. Kesamaan dua atau lebih nama surat biasanya menunjukkan makna yang sama yang ingin ditunjukkan melalui aspek lain. Misalnya, nama lain dari surah at-Taubah yaitu Bara’ah.
Dan memang dalam hal ini yang dimaksud dengan taubat itu adalah bara’ah itu sendiri. Hanya saja sudut pandangnya yang berbeda. At-Taubah artinya kembali. Sedangkan Bara’ah artinya melepaskan diri/pemutusan hubungan. Maksudnya, orang yang bertaubat tentunya orang yang ingin kembali ke jalan Allah atau jalan kebenaran; pada saat yang sama harus menjadi orang yang bara’ah. Artinya, orang yang melepaskan diri dari jalan selain Allah atau memutuskan hubungan dengan segala jenis kejahatan/ kesalahan masa lalunya.
Demikian pula penamaan surat Isra’ dan Israil. Kata Bani Israil sendiri berasal dari dua kata yakni, kata Bani (artinya generasi, keturunan, anak-cucu; bentuk jamak setara abna-a, banin dari kata ibnu) dan kata Israil (yang berasal dari bahasa serapan Ibrani yang berarti berjalan di waktu malam). Jadi, Bani Israil artinya generasi yang berjalan malam. Bani Israil di sini, maksudnya keturunan Nabi Ya’qub AS, yang bergelar Israel karena keluar bersama pengikutnya dari saudara sebangsa dan setanah air lantas kemudian melakukan perjalanan di waktu malam dari negeri Kana’an (daerah Palestina sekarang) pada waktu malam untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Sedangkan kata Isra’ itu memang menunjukkan kepada perjalanan yang dilakukan pada malam hari juga sebagaimana yang dimaksud dengan kata Israil; hanya saja kata Israil lebih sifatnya kolektif ketika diidhafahkan atau dikaitkan dengan kata Bani, sedangkan kata Isra’ menunjukkan pelaku tunggal yakni Rasulullah SAW. Oleh karena itu, penamaan surat Isra’ yang menjadi satu-satunya dalil al-Qur’an mengenai peristiwa bersejarah tersebut dengan nama lain Bani Israil sebenarnya menunjukkan kejadian yang sama pada waktu yang berbeda dengan pelaku yang berbeda pula.
Jadi sebenarnya, Nabi Ya’qub AS juga pernah melakukan Isra’ di masanya dengan sebab, alasan dan tujuan yang sama dengan Nabi Muhammad SAW di masanya. Untuk lebih dapat memahami hal ini, kita dapat membandingkan pula dengan apa yang dialami oleh Nabi Musa AS di masanya. Firman Allah: “Dan sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa: “Berjalanlah (Asri) kamu bersama hamba-hambaku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di tengah laut itu; kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tak usah takut akan tenggelam” (QS. Tho-ha 20: 77).
Dari ayat tersebut jelaslah Nabi Musa AS juga mengalami Isra’ bersama pengikutnya di malam hari guna menghindari kejaran kelompok Militer Fir’aun. Sama halnya dengan Muhammad saat hijrahnya juga dalam pengejaran kaum Quraisy.
Namun bagi kita umat Islam bangsa Indonesia yang sudah sangat sering disakiti dihina, dicemooh dan dituduh teroris (sebab kata Jamaah Islamiyah itu artinya semua orang yang mengaku Islam) dapatkan mengambil sari pati Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad ini sebagai satu karomah atau kemuliaan bagi umat Islam. Dapatkah umat Islam yang masih bersih jiwanya, masih tertindas batinnya melihat kemaksiatan yang semakin merajalela di Indonesia untuk dapat menangkap dan menerima pesan-pesan yang terselubung, tersembunyi yang dikemas Rasul dibalik sejarah yang ia tulis dengan tinta emas, tinta air mata bahkan tinta darah? Itulah sejarah kebangkitan. Akan ada sejarah yang hancur menyusul sejarah kebangkitan. Akan ada yang tutup buku, dan yang lainnya buka lembaran baru. Tinggal, semua kita yang memilih di pihak yang mana.
Lantas ke mana kita akan bawa umat ini melakukan perjalanan di malam hari atau ke mana kita hendak lari? Kita dikejar siapa? Kan itu pertanyaannya. Bagi kita yang merasa dikejar-kejar, entah itu dikejar-kejar oleh dosanyanya sendiri atau karena ulahnya sendiri, cobalah untuk hijrah “menemukan sesuatu yang baru”. Seterusnya, bagi yang hendak membawa dan mengawal umat ini, silakan siang hari saja mau malam juga boleh. Terserah. Yang penting sebenarnya, galang persatuan umat Islam bangsa Indonesia dengan membangun jaringan dakwah dan sebagainya. Buat seolah kita bekerjasama dengan siapa saja, biarpun itu musuh Allah sekalipun. Buat siang seperti malam dan buat malam seperti siang. Bekerjalah dalam gelap malam sampai mulai tampak tanda-tanda fajar kemenangan seperti kata mantan Presiden Mesir Anwar Sadat.
Thursday, 21 May 2009
Idul Fitri apaLebaran?
Idul Fitri atau Lebaran?
Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Idul Fitri, apa lebaran?
Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.
Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.
Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.
Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.
Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.
Nuzulul Qur’an
Nuzulul Qur’an berarti turunnya alQur’an. Nuzul Qur’an diperingati setiap malam tujuh belas Ramadlan setiap tahunnya. Nuzul Qur’an adalah peristiwa sejarah turunnya wahyu pertama kali turun di saat Nabi sedang bertahannus (berkhalwat) di gua Hira. Bilamana saat tiba-tiba Jibriel datang memeluknya sambil berseru; “IQRA’!”. Muhammad ketakutan. Dari dahinya keluar keringat dingin saking takutnya. Dalam takutnya Muhammad menjawab, Saya tidak bisa membaca. Jibril mengulangi lagi seruannya memerintah Muhammad membaca: “IQRA’”, kata Jibriel lagi, sampai dua kali berturut turut dan Muhammad menjawab seperti jawabannya yang pertama. Perintah Jibriel yang ketiga, IQRA’ akhirnya dijawab Muhammad dengan perkataan: DENGAN APA SAYA HARUS MEMBACA?”. Maka langsung disambut oleh Malaikat Jibril “BACALAH DENGAN NAMA TUHAMMU YANG MENCIPTAKAN”. Kejadian itu terjadi pada bulan Ramadlan hari ke tujuh belas. Al-Qur’an Yang Mulia itu diturunkan pertama kali tepatnya pada malam tanggal 17 Ramadlan tahun ke empat puluh dari kenabian, di gua Hira’, terdiri dari 5 ayat (ayat 1-5 surah al-‘Alaq). FirmanNya: “Bacalah dengan menyebut nama TuhanMu yang menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan TuhanMu agungkan. Yang telah mengajarkan (manusia) dengan perantaraan Kalam, Ia mengajarkan manusia apa yang belum mereka ketahui”.
Bulan Ramadlan tidak saja bulan yang utama pada umat Muhammad SAW, tetapi juga sebenarnya merupakan bulan utama bagi umat-umat sebelum Muhammad SAW, baik itu umat Nabi Ibrahim, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Musa AS, karena pada bulan ini kitab-kitab suci umat sejumlah Nabi yang disebutkan tadi diturunkan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang bersumber dari Watsil bin al-Asqa’ Ra; Nabi s.a.w. bersabda:“Shuhuf Ibahim diturunkan malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadhan, dan Injil diturunkan tiga belas bulan empat bulan Ramadhan” (HR. Al-Musnad).
Keutamaan bulan Ramadlan membuatnya menjadi lebih mulia dan utama dari bulan-bulan lain. Pada bulan Ramadlan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang menjadi momentum kekuatan Islam, seperti terjadinya perang badar. Demikian pula keutamaan Ramadlan dengan lailatul Qadr, juga menjadikannya lebih baik dari ribuan bulan, bahkan Ulama sepakat bahwa pada malam lailatul Qadr itulah al-Qur’an itu diturunkan. Firman Allah QS. Al-Qadr, ayat 1-5:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an itu pada malam lailatul Qadr, tahukah kamu apakah malam lailatul Qadr itu. Lailatul Qard itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat dan ruh (Jibriel) dengan izin Tuhan mereka karena setiap (urusan yang ditetapkan). Keselamatan pada malam itu sampai terbit fajar”.Sesuai dari keterangan hadits-hadits Nabi SAW mengenai lailatil Qadr, bahwa malam ini diminta agar dicari pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan (21,23,25,27 atau 29 Ramadlan). Sehingga menimbulkan perbedaan pendapat mengenai Nuzulul Qur’an apakah pada malam ke tujuh belas atau pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadlan. Kendati demikian, sebagian ulama yang mengambil jalan tengah (Thariqatul Jam’iyah) dengan mengemukakan alasan-alasan dalil aqli dan naqli mengemukakan, Al-Qur’an diturunkan dari Luh Mahfuzh ke langit dunia pada malam lailatul Qadr dan diturunkan kepada Nabi Muhammad (wahyu pertama) pada malam ke tujuh belas, dan tentu saja tak ada yang bisa menyanggah bila al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadlan sebagai bulan yang berisi banyak hikmah bagi manusia. Namun sebenarnya di antara beberapa keutamaan itu yang paling tampak bagi kita adalah Mulianya Ramadlan bila dilihat dari keutamaan dan kemuliaan al-Qur’an. Firman Allah: “Sesungguhnya Inilah al-Qur’am Yang Mulia, Pada Kitab yang terpelihara, Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS. Al-Waqi’ah: 71-73).
Keutamaan dan kemuliaan Al-Qur’an sebagai Petunjuk kehidupan manusia, penjelasan-penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk Allah sekaligus juga sebagai pembeda antara Hak (Murni) dan batil (palsu), anata benar dan salah, antara dicintai dan dimurkai dalam al-Qur’an dirangkaikan Allah pada QS. 2:185, “Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan sebagai penjelasan bayyiyat, dari pentunjuk dan furqan (pembeda)…”.
Bulan Ramadlan tidak saja bulan yang utama pada umat Muhammad SAW, tetapi juga sebenarnya merupakan bulan utama bagi umat-umat sebelum Muhammad SAW, baik itu umat Nabi Ibrahim, Nabi Musa AS, Nabi Isa AS dan Nabi Musa AS, karena pada bulan ini kitab-kitab suci umat sejumlah Nabi yang disebutkan tadi diturunkan Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang bersumber dari Watsil bin al-Asqa’ Ra; Nabi s.a.w. bersabda:“Shuhuf Ibahim diturunkan malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadhan, dan Injil diturunkan tiga belas bulan empat bulan Ramadhan” (HR. Al-Musnad).
Keutamaan bulan Ramadlan membuatnya menjadi lebih mulia dan utama dari bulan-bulan lain. Pada bulan Ramadlan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting yang menjadi momentum kekuatan Islam, seperti terjadinya perang badar. Demikian pula keutamaan Ramadlan dengan lailatul Qadr, juga menjadikannya lebih baik dari ribuan bulan, bahkan Ulama sepakat bahwa pada malam lailatul Qadr itulah al-Qur’an itu diturunkan. Firman Allah QS. Al-Qadr, ayat 1-5:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an itu pada malam lailatul Qadr, tahukah kamu apakah malam lailatul Qadr itu. Lailatul Qard itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat dan ruh (Jibriel) dengan izin Tuhan mereka karena setiap (urusan yang ditetapkan). Keselamatan pada malam itu sampai terbit fajar”.Sesuai dari keterangan hadits-hadits Nabi SAW mengenai lailatil Qadr, bahwa malam ini diminta agar dicari pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadlan (21,23,25,27 atau 29 Ramadlan). Sehingga menimbulkan perbedaan pendapat mengenai Nuzulul Qur’an apakah pada malam ke tujuh belas atau pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadlan. Kendati demikian, sebagian ulama yang mengambil jalan tengah (Thariqatul Jam’iyah) dengan mengemukakan alasan-alasan dalil aqli dan naqli mengemukakan, Al-Qur’an diturunkan dari Luh Mahfuzh ke langit dunia pada malam lailatul Qadr dan diturunkan kepada Nabi Muhammad (wahyu pertama) pada malam ke tujuh belas, dan tentu saja tak ada yang bisa menyanggah bila al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadlan sebagai bulan yang berisi banyak hikmah bagi manusia. Namun sebenarnya di antara beberapa keutamaan itu yang paling tampak bagi kita adalah Mulianya Ramadlan bila dilihat dari keutamaan dan kemuliaan al-Qur’an. Firman Allah: “Sesungguhnya Inilah al-Qur’am Yang Mulia, Pada Kitab yang terpelihara, Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (QS. Al-Waqi’ah: 71-73).
Keutamaan dan kemuliaan Al-Qur’an sebagai Petunjuk kehidupan manusia, penjelasan-penjelasan terhadap petunjuk-petunjuk Allah sekaligus juga sebagai pembeda antara Hak (Murni) dan batil (palsu), anata benar dan salah, antara dicintai dan dimurkai dalam al-Qur’an dirangkaikan Allah pada QS. 2:185, “Bulan Ramadlan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan sebagai penjelasan bayyiyat, dari pentunjuk dan furqan (pembeda)…”.
Setan di Sekitar Kita
Oleh: Jufri Bulian Ababil
Kalau ada yang mengajak kepada kejahatan secara langsung dengan menjelaskan kejahatan-kejahatannya, berarti itu bukan setan. Tentu tak akan ada orang yang mau ikut. Tetapi, kalau ada yang mengajak kepada kejahatan yang telah dikemas dalam bungkus kebaikan, sehingga orang-orang yang melihatnya sekilas terpana, ini baru setan.
Jadi, pada prinsipnya orang tidak suka pada kejahatan, perbuatan dosa, munkar, maksiat atau apalah namanya. Namun, karena kejahatan itu dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan indah dan menarik, sehingga orang jadi terpengaruh. Demikian pula, perbuatan yang pada hakikatnya kejahatan atau maksiat, setelah diberi aksesoris-aksesoris tertentu sehingga hakikat perbuatan itu menjadi kabur. Misalnya dengan memperhalus istilah dan sebutan bagi suatu perbutan sehingga orang tidak merasa jijik lagi mendengarnya; Ini baru kerjaan setan.
Secara Epistimologis, sebutan setan yang dikenal dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab, syaithon; jamaknya syayathin.Kata syaiton sendiri berasal dari kata sya-tho-na mengandung makna "ba'uda minal haq". Artinya, jauh dari kebenaran.
Sedangkan menurut terminologi bahasa, setan didefenisikan dalam berbagai pengertian, tergantung dari sumber doktrin ajaran yang melekat pada si pemberi pengertian itu. Menurut definisi yang diberikan al-Qur'an yang merupakan doktrin ajaran Islam, setan dapat didefinisikan sebagai "Manusia atau jin yang secara sadar mengajak manusia dan jin lain untuk menentang Allah dengan meninggalkan perintah-Nya atau mengerjakan pelanggaran ajaran-Nya".
1. Existensi dan Aktivitas Setan
Dalam beberapa ayat yang dijelaskan al-Qur'an dan Hadits, existensi setan itu dapat terdiri dari bangsa jin dan manusia. Setan ada yang berbangsa jin Ada pula yang berbangsa manusia. Setan yang berbansa jin dapat menjelma atau menyerupai manusia (kecuali Nabi). Selain itu setan bangsa jin juga dapat menyerupai binatang seperti ular, kalajengking dan anjing hitam. Untuk menggoda manusia ia diberi Allah kemampuan menyusup melalui peredaran darah. Setan jin ini juga mengajarkan sihir kepada melalui bisikan hati.
Firman Allah SWT QS. 2: 208: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam di segala aspek (kehidupan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu".
Sedangkan setan yang berbangsa manusia merupakan merupakan musuh yang nyata bagi orang Mukmin. Setan-setan ini berkomplot untuk memusuhi Nabi dan Sunnahnya. Mereka juga mengajarkan kekufuran dan sihir melalui sains dan teknologi, menjerumuskan orang, lalu melepaskan tanggung jawab, suka menghasut, mengkompori dan mempropokasi serta suka mengajak kepada hukum thagut (hukum jahiliyah atau produk hawa nafsu manusia) dan meninggalkan syariat Allah, menjanjikan yang indah-indah dengan maksud menipu, suka mengada-ada, membingungkan orang sebingung-bingungnya, menyemarakkan manusia untuk hidup befoya-foya
Firman Allah SWT: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu dari setan-setan (jenis) menusia dan jin sebahagian mereka kepada sebagian yang lain membisikkan kata-kata yang indah untuk maksud menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka berhenti mengerjakan hal itu, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (QS. 6:12).
Strategi setan baik yang berbangsa jin maupun yang berbangsa manusia untuk mengalahkan kebenaran adalah dengan cara menghiasi perbuatan jahat dengan hal-hal yang mempesona sehingga membuat manusia yang kurang banyak mengingat Allah dan kurang minta perlindungan kepada Allah mudah terpengaruh dan terbuai. Sebaliknya juga, dengan trik-trik tertentu, setan juga dapat memutar balikkan faksa kebenaran dapat disulap dan dianggap sesat atau dipandang salah oleh orang banyak. Firman Allah SWT QS. 2: 168: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik yang terdapat di bumi , dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan sesuatu tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui"
2. Membentengi Diri Dari Setan
Agar dapat menbentengi dari kejahatan setan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menutup 10 jalan (pintu) masuk setan ke dalam diri manusia. Kesepuluh pintu masuk itu antara lain, (1) Menghilangkan sifat serakah dan buruk sangka sehingga melahirkan Qonaah dan yakin. Setan tidak akan mempengaruhi orang yang yakin. (2) Cinta dunia berleihan dan panjang angan-angan yang melahirkan takut mati (3) Bersantai santai, melalaikan diri merasa serba menikmati kesenangan (hedonis). (4) Ujub yang membutuh kesadaran terhadap diri sendiri (5) Menyepelakan atau tidak menghormati hak dan martabat orang lain (6) dengki dan tidak pernah merasa puas terhadap karunia yang diberikan Allah kepada yang lain. (7) Riya dan senang dipuji sehingga hilang rasa ikhlash karena Allah. Firman Allah QS. 15: 39-43, "Iblis berkata : ya Tuhanku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan (maksiat) mereka, di muka bumi, dan aku pasti akan menyasatkan mereka semuanya" Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlash di antara mereka". Allah Berfirman: "Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutmu, yaitu orang-orang yang lengah". (8) Sombong dan takabbur Kikir, pelit sehingga hilang rasa tawadlu' atau rendah hati (9) Tamak, rakus sehingga menghilangkan sifat zuhud. (10) Tidak berlebih-lebihan dan melakukan pembaziran yang menghilangkan sifat hemat dan pandai mengatur harta benda.Firman Allah QS. 17:27, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat menentang kepada Tuhannya".
Kesepuluh sifat itu wajib dihindari sebagai tanda kita benar-benar memusuhi setan. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat menutup diri dari kesepuluh pintu ini dikhawatirkan akan menjadi teman setan, yang pada akhirnya akan menjadi setan berbangsa manusia. Firman Allah QS. 17: 53, "Dan katakanlah kepada Hamba-hambaku: "Hendaklah mereka mengatakan ucapan yang baik-baik. Sesungguhnya setan itu pembuat perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia".
3. Sudah Terbelenggukah Setan dan Kejahatan?
Dalam persepsi kebanyakan anggota masyarakat tampaknya ada anggapan bahwa pada bulan Ramadhan semua hantu, setan-setan, jin-jin jahat atau yang dikenal luas dengan istilah-istilah mistik sebagai kuntilanak, dedemit, pocong, gondoruwo, begu ganjang dan sebagainya semua terbelenggu. Namun tak jelas yang membelenggu siapa. Membelenggunya pakai apa. Benarkah persepsi itu?
Kenyataannya, apabila beberapa hari bulan Ramadlan telah berjalan, mulai tampak orang-orang sudah merokok di jalan, kedai-kedai kopi sudah mulai ramai (bedanya hanya pakai tabir/tirai penutup kecuali kaki). Korupsi dan manipulasi barangkali tetap berjalan kendati gaya agak dialim-alimkan sehingga kelihatan seperti sudah tobat.
Pada malam-malam bulan Ramadhan di tengah-tengah gema sholawat dari bilal-bilal tawawih di Surau dan Mesjid, masih tampak di berbagai tempat, kedai-kedai tuak dan tetap dikunjungi, perempuan-perempuan malam (meskipun berkurang) tetap mangkal mengincar lelaki hidung belang (bejat) sehingga kesucian Ramadlan ternodai.
Pekerjaan-pekerjaan setan yang telah disebut di atas barangkali membuat kita heran kenapa pada anggapannya, bulan Ramadlan setan dibelenggu, kenapa pekerjaan-pekerjaan setan justru tetap ada, kendati sudah dihimbau. Agaknya perlu dipertanyakan, apakah bahasa himbauan, anjuran, peringatan baik dari para pemimpin, tokoh, ulama dan aparat keamanan sudah dianggap seperti mendengar suara "kentut" sehingga dianggap tidak lucu dan angin lalu (numpang lewat). Mohon ampun dan mohon perlindungan kepada Allah. Mudah-mudahan Allah membinasakan para pemimpin-pemimpin yang melindungi maksiat dan menggantikannya dengan pemimpin-pemimpin yang melindungi para penegak amar makruf nahi mungkar, sebagaimana Firman Allah: QS. 4: 75, "Mengapa kamu tidak mau berjuang di jalan Allah sementara sudah banyak orang-orang yang tertindas di antaramu berdoa: "Oh, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negara yang zalim (bejat, bengis, brutal) warganya ini. Dan karuniakanlah kami pemimpin dari sisimu…"
Kebanyakan rakyat sudah muak menyaksikan basa-basi sehingga hati mereka mati mendengar tentang penegakan hukum. Perut mereka mual melihat tampang-tampang yang masih pede bicara atas nama kebenaran, tapi kerjanya hanya menjual keringat orang. Kenyataan ketidakmerataan ekonomi dengan cara menjual segala yang ada di negara ini dengan harga murah, mulai dari jual informasi sampai jual "manusia". Bahasa-bahasa Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad (LJ) dan organ sevisi lainnya yang bahasanya mudah dimengerti setan-setan tadi justru dibela oleh Bapak-Bapaknya setan dengan alasan Ham him hum segala macam. Begitu bebas leluasanya mereka. Sehingga jauhlah realisasi Sabda Nabi SAW:
"Bila tiba malam pertama bulan Ramadlan, dibelenggu syaitan, dan para jin yang jahat, dan tertutup pintu-pintu neraka sehingga tiada satupun pintu yang terbuka; dan terbuka semua pintu surga sehingga tiada satupun yang tertutup; dan pada tiap malam ada seruan: "Wahai orang yang ingin baik, majulah. Wahai orang yang ingin jahat berhentilah. Dan Allah memerdekakan beberapa banyak dari api neraka dan yang demikian ini tiap malam" (HR. Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah)
Sebenarnya, setan yang ada dalam diri masing-masing kitalah yang perlu dibelenggu. Kejahatan dirinyalah yang pertama harus dibelenggunya. Kalau masing-masing sudah membelenggu setan dan kejahatan dalam dirinya insya Allah setan-setan lain ikut terbelenggu. Kecuali dia seorang penguasa sehingga ia dengan "politikal will"-nya dapat melakukan hal itu karena ia punya kekuatan, wewenang dan kewajiban untuk itu, untuk kebenaran, bukan untuk keuntungan.
Kalau ada yang mengajak kepada kejahatan secara langsung dengan menjelaskan kejahatan-kejahatannya, berarti itu bukan setan. Tentu tak akan ada orang yang mau ikut. Tetapi, kalau ada yang mengajak kepada kejahatan yang telah dikemas dalam bungkus kebaikan, sehingga orang-orang yang melihatnya sekilas terpana, ini baru setan.
Jadi, pada prinsipnya orang tidak suka pada kejahatan, perbuatan dosa, munkar, maksiat atau apalah namanya. Namun, karena kejahatan itu dikemas sedemikian rupa, sehingga kelihatan indah dan menarik, sehingga orang jadi terpengaruh. Demikian pula, perbuatan yang pada hakikatnya kejahatan atau maksiat, setelah diberi aksesoris-aksesoris tertentu sehingga hakikat perbuatan itu menjadi kabur. Misalnya dengan memperhalus istilah dan sebutan bagi suatu perbutan sehingga orang tidak merasa jijik lagi mendengarnya; Ini baru kerjaan setan.
Secara Epistimologis, sebutan setan yang dikenal dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab, syaithon; jamaknya syayathin.Kata syaiton sendiri berasal dari kata sya-tho-na mengandung makna "ba'uda minal haq". Artinya, jauh dari kebenaran.
Sedangkan menurut terminologi bahasa, setan didefenisikan dalam berbagai pengertian, tergantung dari sumber doktrin ajaran yang melekat pada si pemberi pengertian itu. Menurut definisi yang diberikan al-Qur'an yang merupakan doktrin ajaran Islam, setan dapat didefinisikan sebagai "Manusia atau jin yang secara sadar mengajak manusia dan jin lain untuk menentang Allah dengan meninggalkan perintah-Nya atau mengerjakan pelanggaran ajaran-Nya".
1. Existensi dan Aktivitas Setan
Dalam beberapa ayat yang dijelaskan al-Qur'an dan Hadits, existensi setan itu dapat terdiri dari bangsa jin dan manusia. Setan ada yang berbangsa jin Ada pula yang berbangsa manusia. Setan yang berbansa jin dapat menjelma atau menyerupai manusia (kecuali Nabi). Selain itu setan bangsa jin juga dapat menyerupai binatang seperti ular, kalajengking dan anjing hitam. Untuk menggoda manusia ia diberi Allah kemampuan menyusup melalui peredaran darah. Setan jin ini juga mengajarkan sihir kepada melalui bisikan hati.
Firman Allah SWT QS. 2: 208: "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam di segala aspek (kehidupan), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu".
Sedangkan setan yang berbangsa manusia merupakan merupakan musuh yang nyata bagi orang Mukmin. Setan-setan ini berkomplot untuk memusuhi Nabi dan Sunnahnya. Mereka juga mengajarkan kekufuran dan sihir melalui sains dan teknologi, menjerumuskan orang, lalu melepaskan tanggung jawab, suka menghasut, mengkompori dan mempropokasi serta suka mengajak kepada hukum thagut (hukum jahiliyah atau produk hawa nafsu manusia) dan meninggalkan syariat Allah, menjanjikan yang indah-indah dengan maksud menipu, suka mengada-ada, membingungkan orang sebingung-bingungnya, menyemarakkan manusia untuk hidup befoya-foya
Firman Allah SWT: "Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu dari setan-setan (jenis) menusia dan jin sebahagian mereka kepada sebagian yang lain membisikkan kata-kata yang indah untuk maksud menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki niscaya mereka berhenti mengerjakan hal itu, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (QS. 6:12).
Strategi setan baik yang berbangsa jin maupun yang berbangsa manusia untuk mengalahkan kebenaran adalah dengan cara menghiasi perbuatan jahat dengan hal-hal yang mempesona sehingga membuat manusia yang kurang banyak mengingat Allah dan kurang minta perlindungan kepada Allah mudah terpengaruh dan terbuai. Sebaliknya juga, dengan trik-trik tertentu, setan juga dapat memutar balikkan faksa kebenaran dapat disulap dan dianggap sesat atau dipandang salah oleh orang banyak. Firman Allah SWT QS. 2: 168: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik yang terdapat di bumi , dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan sesuatu tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui"
2. Membentengi Diri Dari Setan
Agar dapat menbentengi dari kejahatan setan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk menutup 10 jalan (pintu) masuk setan ke dalam diri manusia. Kesepuluh pintu masuk itu antara lain, (1) Menghilangkan sifat serakah dan buruk sangka sehingga melahirkan Qonaah dan yakin. Setan tidak akan mempengaruhi orang yang yakin. (2) Cinta dunia berleihan dan panjang angan-angan yang melahirkan takut mati (3) Bersantai santai, melalaikan diri merasa serba menikmati kesenangan (hedonis). (4) Ujub yang membutuh kesadaran terhadap diri sendiri (5) Menyepelakan atau tidak menghormati hak dan martabat orang lain (6) dengki dan tidak pernah merasa puas terhadap karunia yang diberikan Allah kepada yang lain. (7) Riya dan senang dipuji sehingga hilang rasa ikhlash karena Allah. Firman Allah QS. 15: 39-43, "Iblis berkata : ya Tuhanku, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan (maksiat) mereka, di muka bumi, dan aku pasti akan menyasatkan mereka semuanya" Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlash di antara mereka". Allah Berfirman: "Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutmu, yaitu orang-orang yang lengah". (8) Sombong dan takabbur Kikir, pelit sehingga hilang rasa tawadlu' atau rendah hati (9) Tamak, rakus sehingga menghilangkan sifat zuhud. (10) Tidak berlebih-lebihan dan melakukan pembaziran yang menghilangkan sifat hemat dan pandai mengatur harta benda.Firman Allah QS. 17:27, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat menentang kepada Tuhannya".
Kesepuluh sifat itu wajib dihindari sebagai tanda kita benar-benar memusuhi setan. Sebaliknya, mereka yang tidak dapat menutup diri dari kesepuluh pintu ini dikhawatirkan akan menjadi teman setan, yang pada akhirnya akan menjadi setan berbangsa manusia. Firman Allah QS. 17: 53, "Dan katakanlah kepada Hamba-hambaku: "Hendaklah mereka mengatakan ucapan yang baik-baik. Sesungguhnya setan itu pembuat perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia".
3. Sudah Terbelenggukah Setan dan Kejahatan?
Dalam persepsi kebanyakan anggota masyarakat tampaknya ada anggapan bahwa pada bulan Ramadhan semua hantu, setan-setan, jin-jin jahat atau yang dikenal luas dengan istilah-istilah mistik sebagai kuntilanak, dedemit, pocong, gondoruwo, begu ganjang dan sebagainya semua terbelenggu. Namun tak jelas yang membelenggu siapa. Membelenggunya pakai apa. Benarkah persepsi itu?
Kenyataannya, apabila beberapa hari bulan Ramadlan telah berjalan, mulai tampak orang-orang sudah merokok di jalan, kedai-kedai kopi sudah mulai ramai (bedanya hanya pakai tabir/tirai penutup kecuali kaki). Korupsi dan manipulasi barangkali tetap berjalan kendati gaya agak dialim-alimkan sehingga kelihatan seperti sudah tobat.
Pada malam-malam bulan Ramadhan di tengah-tengah gema sholawat dari bilal-bilal tawawih di Surau dan Mesjid, masih tampak di berbagai tempat, kedai-kedai tuak dan tetap dikunjungi, perempuan-perempuan malam (meskipun berkurang) tetap mangkal mengincar lelaki hidung belang (bejat) sehingga kesucian Ramadlan ternodai.
Pekerjaan-pekerjaan setan yang telah disebut di atas barangkali membuat kita heran kenapa pada anggapannya, bulan Ramadlan setan dibelenggu, kenapa pekerjaan-pekerjaan setan justru tetap ada, kendati sudah dihimbau. Agaknya perlu dipertanyakan, apakah bahasa himbauan, anjuran, peringatan baik dari para pemimpin, tokoh, ulama dan aparat keamanan sudah dianggap seperti mendengar suara "kentut" sehingga dianggap tidak lucu dan angin lalu (numpang lewat). Mohon ampun dan mohon perlindungan kepada Allah. Mudah-mudahan Allah membinasakan para pemimpin-pemimpin yang melindungi maksiat dan menggantikannya dengan pemimpin-pemimpin yang melindungi para penegak amar makruf nahi mungkar, sebagaimana Firman Allah: QS. 4: 75, "Mengapa kamu tidak mau berjuang di jalan Allah sementara sudah banyak orang-orang yang tertindas di antaramu berdoa: "Oh, Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negara yang zalim (bejat, bengis, brutal) warganya ini. Dan karuniakanlah kami pemimpin dari sisimu…"
Kebanyakan rakyat sudah muak menyaksikan basa-basi sehingga hati mereka mati mendengar tentang penegakan hukum. Perut mereka mual melihat tampang-tampang yang masih pede bicara atas nama kebenaran, tapi kerjanya hanya menjual keringat orang. Kenyataan ketidakmerataan ekonomi dengan cara menjual segala yang ada di negara ini dengan harga murah, mulai dari jual informasi sampai jual "manusia". Bahasa-bahasa Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad (LJ) dan organ sevisi lainnya yang bahasanya mudah dimengerti setan-setan tadi justru dibela oleh Bapak-Bapaknya setan dengan alasan Ham him hum segala macam. Begitu bebas leluasanya mereka. Sehingga jauhlah realisasi Sabda Nabi SAW:
"Bila tiba malam pertama bulan Ramadlan, dibelenggu syaitan, dan para jin yang jahat, dan tertutup pintu-pintu neraka sehingga tiada satupun pintu yang terbuka; dan terbuka semua pintu surga sehingga tiada satupun yang tertutup; dan pada tiap malam ada seruan: "Wahai orang yang ingin baik, majulah. Wahai orang yang ingin jahat berhentilah. Dan Allah memerdekakan beberapa banyak dari api neraka dan yang demikian ini tiap malam" (HR. Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Hurairah)
Sebenarnya, setan yang ada dalam diri masing-masing kitalah yang perlu dibelenggu. Kejahatan dirinyalah yang pertama harus dibelenggunya. Kalau masing-masing sudah membelenggu setan dan kejahatan dalam dirinya insya Allah setan-setan lain ikut terbelenggu. Kecuali dia seorang penguasa sehingga ia dengan "politikal will"-nya dapat melakukan hal itu karena ia punya kekuatan, wewenang dan kewajiban untuk itu, untuk kebenaran, bukan untuk keuntungan.
Sholat Hakiki, Tegakkan Islam atau AMNM
Oleh : Jufri Bulian Ababil
Mukaddimah
Tahun 2004 adalah tahun fitnah bagi Indonesia, sesuai jatuh tahunnya bersamaan dengan nomor surat al-Qur'an ke 104, disebut surat al-Lumazah yang berarti pengumpat lagi pencela. Pada surat ini antara lain dikemukakan Allah QS. 104: 1-2, "Celakalah bagi pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan hartanya lagi menghitung-hitungnya". Ayat ini jelas mengungkap, orang yang suka melakukan pembusukan, menjelek-jelekkan orang lain, menceritakan aib orang di depan publik, memfitnah, mengumpat, mencela, membuat manuver akan mengalami nasib celaka, dapat malapetaka, dan bakal ketiban sial. Tahun ini juga terjadi ketimpangan sosial yang cukup kontras karena di satu sisi kaum elit dan bandit-bandit besar menumpuk-numpuk harta, sementara banyak rakyat yang kelaparan.
Kalau ditanya, "Lho, kok berani-beraninya Bang Jufri menghubung-hubungkan Nomor surat al-Qur'an dengan tipe tahun? Kenapa harus di Indonesia? Apa alasannya?". Hal itu bisa terjawab karena memang seluruh Nomor Surat ada maknanya dengan tahun. Itulah salah satu mukjizat al-Qur'an. Nanti ada tulisan khusus soal ini.
Misalnya, tahun 1999, jatuh pada surat 99 (al-Zalzalah) berarti kegoncangan. Dan memang saat itu terjadi berbagai kegocangan di segala bidang, khususnya di Indonesia. Demikian pula pada tahun 2000, jatuh pada surat 100, (al-Adiyat) kuda perang yang meringkih dengan keras, di mana sepanjang tahun ini terjadi mobilisasi rakyat besar-besaran di negara kita oleh para aktifis sosial, sehingga proses demokratisasi sangat dominan di tahun ini. Begitu pula tahun 2001 bertepatan dengan surat 101 (al-Qari'ah), artinya mengetok dengan keras. Maksudnya pada tahun ini banyak peristiwa-peristiwa hukum terjadi karena dipaksakan, banyak keputusan yang keras lahir akibat krisis kepemimpinan; sampai pada tahun ini juga, Gus Dur dilengserkeprabonkan melalui ketok palu yang keras oleh duet MPR/DPR. Tahun 2003 tergambar dalam surat 102, at-Takatsur, berarti bermegah-megahan. Maksudnya pada tahun ini Indonesia terjadi foya-foya dan penghamburan uang negara oleh segelintir orang sehingga hutang luar negeri bertambah banyak, sedangkan rakyat tidak menikmati. Tahun 2003 terkenal dengan surat 103 (al-Ashr) yang berarti bekerja keras, panen, memeras anggur di mana memang sepanjang tahun ini, banyak kemajuan-kemajuan yang dicapai Indonesia dalam bidang ekonomi dan sistem politik.
Pada tahun fitnah, 2004 ini kelihatannya Media Massa, baik cetak maupun elektronik akan banyak diuntungkan, karena berita bakalan banyak, apalagi tahun ini merupakan "era keterbukaan habis-habisan". Pejabat saling buka borok, pejudi politik saling buka kartu, pengkhianat bangsa saling tikam dari belakang, tukang-tukang olah saling gergaji dari bawah dan sebagainya. Pertanyaannya adalah, apa peran umat Islam di tengah-tengah zaman fitnah, yang dikatakan oleh Joyoboyo dengan "Goro-goro" itu? Apa seharusnya dilakukan umat Islam dalam rangka menyelamatkan agamanya, dirinya dan bangsanya? Inilah pertanyaan yang mau dijawab oleh tulisan ini.
Umat Islam tahun 2004
Di tahun fitnah ini, umat Islam di Indonesia secara kepemimpinan terpecah menjadi sekitar 7000-7300 kelompok dengan berbagai bendera, antribut, faham, aliran dan masing-masing pecahan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya, bangga pada capresnya, bangga pada Islam menurut fahamnya, bangga pada sosok Allah dalam pandangannya, Islam menurut versinya, ahlus sunnah wal jama'ah menurut penafsirannya masing-masing. Itulah sebabnya amat langka bahkan bisa jadi mustahil bila 5 orang ustadz dari 5 kelompok faham bisa duduk bersama dalam satu majelis menjawab satu masalah, atau parpol berlabel Islam melakukan koalisi. Mungkin bisa kiamat bila mereka melebur menjadi satu kekuatan.
Hiruk-pikuk hukum, hingar-bingar soal politik dan bengisnya kriminalitas sangat mewarnai tahun ini. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sebagian umat Islam ikut berjibaku dan larut ke dalam konflik sementara lainnya "moh". Sehingga sebenarnya sekilas memang seolah-olah umat Islam terpecah sampai beribu bagian. Namun sebenarnya, hanya terbagi menjadi 2 kelompok besar saja, golongan pertama yang inggih politik dan golongan kedua yang "moh" tadi.
Umat Islam yang ikut terlibat terlalu jauh dalam percaturan politik cukup banyak. Sebenarnya mereka berijtihad bahwa, nasib bangsa dan negara ini perlu diperbaiki dan hal ini sah-sah saja. Namun, sayangnya mereka menggunakan cara yang tidak baik atau ingin memperbaiki sebuah sistem yang sudah sangat sulit untuk diperbaiki. Kalau diumpamakan batu-batu permata yang indah, mereka telah memasukkan diri ke dalam tong sampah sehingga tetap dipukulratakan, sama-sama sampah. Atau diumpamakan orang yang ingin membersihkan sesuatu yang kotor dengan menggunakan air comberan. Ini golongan pertama.
Sementara segolongan umat Islam dan umat lain, golongan kedua meyakini, bahwa kondisi ini merupakan kamuflase semata, fatamorgana atau sandiwara saja. Golongan ini meyakini, mereka yang teriak-teriak soal politik dan kekuasaan sebenarnya hanya calon korban sebuah kepentingan global. Politik yang sebenarnya justeru berada di tangan segelintir orang, tim thank, sekelumit aktor dibalik layar dan sejumlah manusia superman yang bergerak seperti hantu, bak dalang bagi wayangnya, bak sutradara bagi setting filmnya.
Mereka yang termasuk golongan kedua ini sadar bahwa tahun 2004, adalah masa terjadinya revolusi sosial yang melelahkan. Perang sebenarnya antara keadilan dan penindasan belum dimulai. Siapa yang membuang terlalu banyak amunisi akan kalah dan terhina. Perang sebenarnya adalah perang melawan nafsu untuk berkuasa dan hidup berlebih-lebihan. Bagi golongan kedua yang memingit diri (ekslusif) ini terdiri dari kalangan ulama, pendeta, diplomat, tentara rakyat biasa ini memiliki tiga prinsip: yakni Solidaritas, Kesejahteraan dan Kebenaran.
Ketiga hal ini merupakan satu paket penyelamatan bangsa tanpa harus menceburkan diri ke dalam fitnah dan huru-hara. Dan ketiga hal ini pulalah disebut Sholat, menegakkan Islam dan Amar Makruf Nahi Mungkar (AMNM) yang merupakan satu pakt yang memiliki hakikat yang sama.
Hakikat Sholat
Secara definitif sholat berarti do'a, yakni sebuah kegiatan ritualitas yang dikenal luas dalam kalangan umat Islam ibadah khusus yang dimulai, takbir dan diakhiri salam dengan syarat-syarat dan rukun rukun tertentu.
Firman Allah:"Datangkanlah apa yang diwahyukan dari (sebagian) al-Kitab dan tegakkanlah sholat. Sesungguhnya sholat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar (nahi Mungkar)". QS. 29 (al-Ankabut).
Sabda Rasul SAW: "Sholat itu tiang agama (Islam). Siapa yang menegakkannya, maka dia menegakkan Islam. Siapa yang meninggalkannya berarti menghancurkan agama (Islam)", Hadits Bukhari.
Dalam syariatnya, sholat sebaiknya dilakukan dengan berjamaah karena 27 kali lebih bernilai 27 kali lipat dibanding sholat sendiri. Bahkan, di masa rasul, orang yang meninggalkan sholat berjamaah karena sengaja diancam bakar rumahnya. Sholat berjamaah diperintahkan agar terbangun solidaritas umat. Karena dengan berjamaah, umat Islam akan terkordinir, termenej dan terkomando dengan baik dalam sebuah kepemimpinan. Sholat berjamaah berarti membangun barisan (shaff) yang kokoh, teratur dan terorganisir.
Dalam berjamah kendali komando dipegang oleh satu imam. Belum pernah kita dengar ada sholat berjamaah berimam dua orang. Atau ada imam yang mengomandoi untuk rukuk, terus makmumnya justru sujud. Tidak demikian tentunya. Begitu seragam dan padunya gerakan yang diajarkan dalam sholat itu.
Jadi, hakikinya sholat adalah menyusun barisan yang berlapis-lapis, setia kepada dan patuh kepada imam umat Islam. Dengan rapatnya barisan, musuh (setan dan provokator) tidak akan bisa masuk ke dalam barisan umat Islam. Dengan demikian umat Islam tidak akan bisa dibisik-bisiki, diiming-iming-imingi uang dan kekuasaan.
Dari hakikat sholat ini sebenarnya dapat diperoleh beberapa rumusan gerakan yang cukup sederhana. Mereka yang mau menegakkan Islam adalah mereka yang mau menggalang persatuan dengan merapatkan barisan umat Islam. Sebaliknya bagi yang demi kepentingan pribadinya dan kelompoknya meninggalkan persatuan umat Islam berarti mereka inilah penghancur Islam yang sebenar-benarnya.
Mereka yang mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salahlah orang-orang yang menegakkan sholat. Sebaliknya, mereka yang suka merekayasa dan memutarbalikkan hukum-hukum Allah adalah orang-orang kafir yang menggunakan kedok cendikiawan atau tokoh Islam. Bahayanya, orang-orang yang seperti "keledai dungu" diperalat musuh-musuh Islam secara global ini tanpa mereka sadari. Sedangkan pengikut-pengikutnya pun tidak sadar dengan kebodohan mereka. Masya Allah.
Kiat Kemenangan
Untuk memenangkan umat Islam di tengah-tengah hiruk pikuk perebutan kue kekuasaan, hingar bingar soal politik busuk, perlu dibangun proses kesadaran agar tidak terlibat ke dalam pertarungan semu demi kepentingan elit kekuasaan. Sebaliknya, yang perlu dibangun adalah komitmen, semangat dan budaya Hijrah. Konsekwensinya, kita harus meninggalkan segala bentuk keterlibatan dalam hal busuk membusukkan dan jegal menjegal. Bangun barisan dan semangat baru dari hati-ke hati untuk duduk bersama di ruang ring, di balik layar untuk menggiring umat Islam untuk membangun kebersamaan bersama umat-umat lain. Bagi yang mau jadikan saudara, bagi yang tidak mau jangan dimusuhi tetapi cukup tinggalkan.
Inilah kiat kemenangan sesuai dengan firman Allah di tiga letak surat berbeda bermuatan sama QS. Al-Bara'ah (9): 33, As-Shaff (61):8 dan Al-Fath (48): 28. "Dialah Allah Yang mengutus rasul-Nya dengan Agama yang Hakiki, supaya rasul itu (bersama pengikutnya) memenangkan agama itu kepada seluruh agama yang ada walaupun orang-orang musyrik/kafir membenci/cukuplah Allah selaku saksi".
Bara'ah berarti berlepas diri dari orang musyrik, putus hubungan dengan yang batil, tidak mau terlibat kedalam konflik dan kembali/taubat kepada Allah); As-Shaff artinya membangun barisan yang rapi dan kokoh; al-Fath artinya meraih kemenangan, menaklukkan musuh dan membuka komunitas yang teratur atau membuka daerah baru tanpa fitnah.
Mukaddimah
Tahun 2004 adalah tahun fitnah bagi Indonesia, sesuai jatuh tahunnya bersamaan dengan nomor surat al-Qur'an ke 104, disebut surat al-Lumazah yang berarti pengumpat lagi pencela. Pada surat ini antara lain dikemukakan Allah QS. 104: 1-2, "Celakalah bagi pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan hartanya lagi menghitung-hitungnya". Ayat ini jelas mengungkap, orang yang suka melakukan pembusukan, menjelek-jelekkan orang lain, menceritakan aib orang di depan publik, memfitnah, mengumpat, mencela, membuat manuver akan mengalami nasib celaka, dapat malapetaka, dan bakal ketiban sial. Tahun ini juga terjadi ketimpangan sosial yang cukup kontras karena di satu sisi kaum elit dan bandit-bandit besar menumpuk-numpuk harta, sementara banyak rakyat yang kelaparan.
Kalau ditanya, "Lho, kok berani-beraninya Bang Jufri menghubung-hubungkan Nomor surat al-Qur'an dengan tipe tahun? Kenapa harus di Indonesia? Apa alasannya?". Hal itu bisa terjawab karena memang seluruh Nomor Surat ada maknanya dengan tahun. Itulah salah satu mukjizat al-Qur'an. Nanti ada tulisan khusus soal ini.
Misalnya, tahun 1999, jatuh pada surat 99 (al-Zalzalah) berarti kegoncangan. Dan memang saat itu terjadi berbagai kegocangan di segala bidang, khususnya di Indonesia. Demikian pula pada tahun 2000, jatuh pada surat 100, (al-Adiyat) kuda perang yang meringkih dengan keras, di mana sepanjang tahun ini terjadi mobilisasi rakyat besar-besaran di negara kita oleh para aktifis sosial, sehingga proses demokratisasi sangat dominan di tahun ini. Begitu pula tahun 2001 bertepatan dengan surat 101 (al-Qari'ah), artinya mengetok dengan keras. Maksudnya pada tahun ini banyak peristiwa-peristiwa hukum terjadi karena dipaksakan, banyak keputusan yang keras lahir akibat krisis kepemimpinan; sampai pada tahun ini juga, Gus Dur dilengserkeprabonkan melalui ketok palu yang keras oleh duet MPR/DPR. Tahun 2003 tergambar dalam surat 102, at-Takatsur, berarti bermegah-megahan. Maksudnya pada tahun ini Indonesia terjadi foya-foya dan penghamburan uang negara oleh segelintir orang sehingga hutang luar negeri bertambah banyak, sedangkan rakyat tidak menikmati. Tahun 2003 terkenal dengan surat 103 (al-Ashr) yang berarti bekerja keras, panen, memeras anggur di mana memang sepanjang tahun ini, banyak kemajuan-kemajuan yang dicapai Indonesia dalam bidang ekonomi dan sistem politik.
Pada tahun fitnah, 2004 ini kelihatannya Media Massa, baik cetak maupun elektronik akan banyak diuntungkan, karena berita bakalan banyak, apalagi tahun ini merupakan "era keterbukaan habis-habisan". Pejabat saling buka borok, pejudi politik saling buka kartu, pengkhianat bangsa saling tikam dari belakang, tukang-tukang olah saling gergaji dari bawah dan sebagainya. Pertanyaannya adalah, apa peran umat Islam di tengah-tengah zaman fitnah, yang dikatakan oleh Joyoboyo dengan "Goro-goro" itu? Apa seharusnya dilakukan umat Islam dalam rangka menyelamatkan agamanya, dirinya dan bangsanya? Inilah pertanyaan yang mau dijawab oleh tulisan ini.
Umat Islam tahun 2004
Di tahun fitnah ini, umat Islam di Indonesia secara kepemimpinan terpecah menjadi sekitar 7000-7300 kelompok dengan berbagai bendera, antribut, faham, aliran dan masing-masing pecahan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongannya, bangga pada capresnya, bangga pada Islam menurut fahamnya, bangga pada sosok Allah dalam pandangannya, Islam menurut versinya, ahlus sunnah wal jama'ah menurut penafsirannya masing-masing. Itulah sebabnya amat langka bahkan bisa jadi mustahil bila 5 orang ustadz dari 5 kelompok faham bisa duduk bersama dalam satu majelis menjawab satu masalah, atau parpol berlabel Islam melakukan koalisi. Mungkin bisa kiamat bila mereka melebur menjadi satu kekuatan.
Hiruk-pikuk hukum, hingar-bingar soal politik dan bengisnya kriminalitas sangat mewarnai tahun ini. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, sebagian umat Islam ikut berjibaku dan larut ke dalam konflik sementara lainnya "moh". Sehingga sebenarnya sekilas memang seolah-olah umat Islam terpecah sampai beribu bagian. Namun sebenarnya, hanya terbagi menjadi 2 kelompok besar saja, golongan pertama yang inggih politik dan golongan kedua yang "moh" tadi.
Umat Islam yang ikut terlibat terlalu jauh dalam percaturan politik cukup banyak. Sebenarnya mereka berijtihad bahwa, nasib bangsa dan negara ini perlu diperbaiki dan hal ini sah-sah saja. Namun, sayangnya mereka menggunakan cara yang tidak baik atau ingin memperbaiki sebuah sistem yang sudah sangat sulit untuk diperbaiki. Kalau diumpamakan batu-batu permata yang indah, mereka telah memasukkan diri ke dalam tong sampah sehingga tetap dipukulratakan, sama-sama sampah. Atau diumpamakan orang yang ingin membersihkan sesuatu yang kotor dengan menggunakan air comberan. Ini golongan pertama.
Sementara segolongan umat Islam dan umat lain, golongan kedua meyakini, bahwa kondisi ini merupakan kamuflase semata, fatamorgana atau sandiwara saja. Golongan ini meyakini, mereka yang teriak-teriak soal politik dan kekuasaan sebenarnya hanya calon korban sebuah kepentingan global. Politik yang sebenarnya justeru berada di tangan segelintir orang, tim thank, sekelumit aktor dibalik layar dan sejumlah manusia superman yang bergerak seperti hantu, bak dalang bagi wayangnya, bak sutradara bagi setting filmnya.
Mereka yang termasuk golongan kedua ini sadar bahwa tahun 2004, adalah masa terjadinya revolusi sosial yang melelahkan. Perang sebenarnya antara keadilan dan penindasan belum dimulai. Siapa yang membuang terlalu banyak amunisi akan kalah dan terhina. Perang sebenarnya adalah perang melawan nafsu untuk berkuasa dan hidup berlebih-lebihan. Bagi golongan kedua yang memingit diri (ekslusif) ini terdiri dari kalangan ulama, pendeta, diplomat, tentara rakyat biasa ini memiliki tiga prinsip: yakni Solidaritas, Kesejahteraan dan Kebenaran.
Ketiga hal ini merupakan satu paket penyelamatan bangsa tanpa harus menceburkan diri ke dalam fitnah dan huru-hara. Dan ketiga hal ini pulalah disebut Sholat, menegakkan Islam dan Amar Makruf Nahi Mungkar (AMNM) yang merupakan satu pakt yang memiliki hakikat yang sama.
Hakikat Sholat
Secara definitif sholat berarti do'a, yakni sebuah kegiatan ritualitas yang dikenal luas dalam kalangan umat Islam ibadah khusus yang dimulai, takbir dan diakhiri salam dengan syarat-syarat dan rukun rukun tertentu.
Firman Allah:"Datangkanlah apa yang diwahyukan dari (sebagian) al-Kitab dan tegakkanlah sholat. Sesungguhnya sholat adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar (nahi Mungkar)". QS. 29 (al-Ankabut).
Sabda Rasul SAW: "Sholat itu tiang agama (Islam). Siapa yang menegakkannya, maka dia menegakkan Islam. Siapa yang meninggalkannya berarti menghancurkan agama (Islam)", Hadits Bukhari.
Dalam syariatnya, sholat sebaiknya dilakukan dengan berjamaah karena 27 kali lebih bernilai 27 kali lipat dibanding sholat sendiri. Bahkan, di masa rasul, orang yang meninggalkan sholat berjamaah karena sengaja diancam bakar rumahnya. Sholat berjamaah diperintahkan agar terbangun solidaritas umat. Karena dengan berjamaah, umat Islam akan terkordinir, termenej dan terkomando dengan baik dalam sebuah kepemimpinan. Sholat berjamaah berarti membangun barisan (shaff) yang kokoh, teratur dan terorganisir.
Dalam berjamah kendali komando dipegang oleh satu imam. Belum pernah kita dengar ada sholat berjamaah berimam dua orang. Atau ada imam yang mengomandoi untuk rukuk, terus makmumnya justru sujud. Tidak demikian tentunya. Begitu seragam dan padunya gerakan yang diajarkan dalam sholat itu.
Jadi, hakikinya sholat adalah menyusun barisan yang berlapis-lapis, setia kepada dan patuh kepada imam umat Islam. Dengan rapatnya barisan, musuh (setan dan provokator) tidak akan bisa masuk ke dalam barisan umat Islam. Dengan demikian umat Islam tidak akan bisa dibisik-bisiki, diiming-iming-imingi uang dan kekuasaan.
Dari hakikat sholat ini sebenarnya dapat diperoleh beberapa rumusan gerakan yang cukup sederhana. Mereka yang mau menegakkan Islam adalah mereka yang mau menggalang persatuan dengan merapatkan barisan umat Islam. Sebaliknya bagi yang demi kepentingan pribadinya dan kelompoknya meninggalkan persatuan umat Islam berarti mereka inilah penghancur Islam yang sebenar-benarnya.
Mereka yang mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salahlah orang-orang yang menegakkan sholat. Sebaliknya, mereka yang suka merekayasa dan memutarbalikkan hukum-hukum Allah adalah orang-orang kafir yang menggunakan kedok cendikiawan atau tokoh Islam. Bahayanya, orang-orang yang seperti "keledai dungu" diperalat musuh-musuh Islam secara global ini tanpa mereka sadari. Sedangkan pengikut-pengikutnya pun tidak sadar dengan kebodohan mereka. Masya Allah.
Kiat Kemenangan
Untuk memenangkan umat Islam di tengah-tengah hiruk pikuk perebutan kue kekuasaan, hingar bingar soal politik busuk, perlu dibangun proses kesadaran agar tidak terlibat ke dalam pertarungan semu demi kepentingan elit kekuasaan. Sebaliknya, yang perlu dibangun adalah komitmen, semangat dan budaya Hijrah. Konsekwensinya, kita harus meninggalkan segala bentuk keterlibatan dalam hal busuk membusukkan dan jegal menjegal. Bangun barisan dan semangat baru dari hati-ke hati untuk duduk bersama di ruang ring, di balik layar untuk menggiring umat Islam untuk membangun kebersamaan bersama umat-umat lain. Bagi yang mau jadikan saudara, bagi yang tidak mau jangan dimusuhi tetapi cukup tinggalkan.
Inilah kiat kemenangan sesuai dengan firman Allah di tiga letak surat berbeda bermuatan sama QS. Al-Bara'ah (9): 33, As-Shaff (61):8 dan Al-Fath (48): 28. "Dialah Allah Yang mengutus rasul-Nya dengan Agama yang Hakiki, supaya rasul itu (bersama pengikutnya) memenangkan agama itu kepada seluruh agama yang ada walaupun orang-orang musyrik/kafir membenci/cukuplah Allah selaku saksi".
Bara'ah berarti berlepas diri dari orang musyrik, putus hubungan dengan yang batil, tidak mau terlibat kedalam konflik dan kembali/taubat kepada Allah); As-Shaff artinya membangun barisan yang rapi dan kokoh; al-Fath artinya meraih kemenangan, menaklukkan musuh dan membuka komunitas yang teratur atau membuka daerah baru tanpa fitnah.
Strategi Islam dalam Penanggulangan Narkoba
Oleh: Jufri Ababil S.Sos.I
Seputar “hantu” Narkoba
Akhir-akhir ini, narkoba semakin menjelma menjadi hantu sekaligus mesin pembunuh bagi generasi penerus bangsa. Seperti diungkapkan Kapolri Da’i Bakhtiar sudah 50% lebih penghuni lembaga pemasyarakatan terkait masalah narkoba. Dari mulai jenis ganja, pil kurtak, pil koplo, putaw, morfin, narkotika sampai pada shabu-shabu, ineks atau jenis lain dari pil ekstasi. Dari hanya sekedar pemakai, pengedar, pemasok sampai pada sindikat pem’back-up’ dan pengusaha. Dari yang tertangkap basah “saat pesta”, yang buron atau DPO lalu dibuser, sampai yang tertembus peluru timah panas.
Kononnya, pemakai saja sebagaimana yang diungkapkan Wapres RI, sudah dua jutaan jumlahnya, belum lagi uang anggaran belanja negara yang yang seharusnya dapat digunakan untuk masyarakat miskin, bayar hutang Luar Negeri, mengatasi krisis dan jumlah pengangguran dan sebagainya; akhirnya habis terkuras dan terbuang sia-sia mengurusi mereka yang menjadi korban narkoba, walaupun tak dapat dinafikan sebagian uang negara juga habis karena dikorupsi.
Dari berbagai kasus yang sedang dan telah terjadi, terdapat berbagai faktor penyebab dan pemicu semakin merambahknya narkoba ke tengah-tengah masyarakat. Faktor penyebabnya antara lain, perkembangan informasi yang tidak berimbang dengan pengaruh global yang destruktif terhadap generasi muda, masalah keluarga/ rumah tangga yang tidak harmonis (broken home) atau lemahnya pendidikan keluarga serta lemahnya mentalitas/ kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga sering mengambil jalan pintas atau lari dari masalah dan coba menikmati kesenangan sesaat. Sedangkan faktor pemicu antara lain, rasa ingin tahu, terpengaruh lingkungan, ikut-ikutan cari perhatian orang tua dan sebagianya.
Untuk sementara penangulangan narkoba dinilai belum berhasil. Banyak pihak yang beriktikad baik mencoba menaggulangi para pecandu berat narkoba (pengkonsumsi aktif), pengguna ringan sampai pada tingkat paling ringan, yakni baru sekedar coba-coba dan iktu-ikutan. Namun jumlah pemakai secara keseluruhan tetap saja semakin meningkat tajam. Berbagai upaya dilakukan, dari upaya rehabilitasi, kampanye, operasi penggeledahan dan penangkapan ke tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat lain yang diduga sarangnya, sampai ya itu tadi mengeluarkan isi kas negara.
Strategi Islam
Dalam Islam, istilah Narkoba atau jenis-jenis seperti yang disebutkan terdahulu tidak ada. Ini bukan berarti narkoba tidak mendapat sorotan dalam Islam. Tidak hanya sekedar menyoroti, Islam bahkan telah menawarkan solusi terbaik bagi penanggulangan Narkoba. Hanya saja perlu pendalaman dan penelaahan yang lebih relevan.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap yang memabukkan itu khamar dan setiap yang memabukkan itu haram” (HR. Bukhari). Apabila diqiyashkan (dianalogikan), khamar dan narkoba mempunyai ‘illat (aspek) yang sama yakni sama-sama memabukkan atau menghilangkan akal sehat dan kesadaran karena zat yang terkandung di dalamnya. Jelaslah, pengharaman Narkoba dikarenakan bahan-bahan itu mengandung zat “muskir” (zat yang memabukkan).
Zaman Jahiliyah di jazirah Arab dulu, khamar sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat seperti mendarah dagingnya shabu-sahbu, morfin dan jenis narkotika lain di tengah-tengah sebagian masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di kota-kota Besar, termasuk kota Medan. Maka Islam melakukan perubahan. Perubahan masyarakat terproses secara alami dan gradual, tidak terkesan dipaksakan. Itulah sebabnya ada beberapa ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan khamar tidak turun sekaligus, tetapi sesuai dengan kondisi realitas. Turunnya ayat-ayat hukum yang disebut “Tadriej ul-Hukm” (tahapan hukum) ini dipandang sebagai strategi yang dipandang akan sangat efektif bagi pecandu narkoba.
Terlalu dini bila generasi muda yang menjadi korban (bukan sindikat atau pengedar) penyalahgunaan narkoba dijatuhi hukuman berat atau dipandang sebagai sampah masyarakat, sampah pembangunan. Ini sangat keterlaluan dan tidak dapat disetujui. Seharusnya memang harus ada tahapan-tahapan strategis yang mereka lalui untuk dapat berhenti secara total.
Adapun tahpan-tahapan yang diajarkan Islam dalam menaggulangi bahaya narkoba, yakni:
Pertama: Menjelaskan manfaat dan bahaya Narkoba.
Firman Allah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakannlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya…”. (QS. 2: 129).
Jelas telah terjadi kebohongan yang nyata kepada generasi muda bahwa banyak pihak yang mengatakan “ngedrug” itu tidak ada manfaatnya . Siapa bilang? Hanya orang-orang munafik atau idiotlah yang yang sanggup mengatakan bahwa narkoba itu tidak ada manfaatnya. Mana mungkin generasi muda (yang sudah tuapun ada) sebanyak dua juta pecandu itu mau mengkonsumsi narkoba dan menghabiskan biaya puluhan bahkan ratusan ribu perhari kalau yang mereka konsumsi tidak ada mafaatnya. Bodoh amat?!!
Bila mana penanganan masalah narkoba dengan pemaparan adil antara manfaat dan dampak negatif (mudharat), tentu orang-orang yang waras dan cerdas akan dapat mengambil perbandingan dan pada akhirnya akan memilih yang terbaik. Tetapi sebaliknya, bila informasinya tidak berimbang, orang yang waras dan cerdas justeru penasaran, “Tak bermanfaat, tetapi kenapa banyak yang suka?”
2. Mengajak Menjahui Narkoba pada Saat-saat Tertentu.
Selanjutnya, tahapan yang perlu dilakukan adalah mengajak menjauhi narkoba pada jam-jam tertentu seperti jam kerja, jam istirahat, dan terpenting saat-saat menjelang waktu sholat dan sebagainya. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…” (QS. 4:43).
Di Indonesia, sedikit sekali bisa dijumpai “Superman” yang mampu menghentikan untuk mengkonsumsi narkoba secara drastis, atau barangkali tidak ada. Oleh karena itu, perlu penjadwalan dan pengaturan pemakaian secara periodik sampai pemakaian dapat dihentikan secara total.
Di zaman Rasulllah Muhammad SAW hidup, banyak para sahabat yang dulunya masuk Islam tetapi tidak dilarang secara tegas meninggalkan khamar, sampai turunnya ayar 43 surah an-Nisa ini. Itupun hanya terbatas pada saat saat menjelang masuknya waktu sholat. Jadi, bagi mereka yang ingin menghentikan penggunaan narkoba, diharapkan mampu menahan diri pada saat-saat produktif atau jam kerja, sehingga diharapkan nantinya, pecandu beratpun dapat berhenti mengkonsumsi pada seluruh waktunya. Tapi bagaimana dengan pecandu yang pengangguran? Wallau A’lam.
3. Menjelaskan Dampak Narkoba secara Psikologis dan Sosial
Firman Allah: “Hai orang-oarng yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat kemenangan. Seungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan judi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah, maka berhentilah kamu…” (QS. 5: 90-91).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa, tidak perlu mengajak orang untuk tidak melakukan hal yang ia senangi, tetapi buatlah sesuatu agar dia membenci perbuatannya; karena kata-kata “rijsun” pada ayat di atas menurut lidah Arab semakna dengan kata-kata “jorok”, menjijikkan atau benda yang dibenci; dan kata “min ‘amalis syaithan” menunjukkan pengertian “perbuatan syaithan”, sehingga para sahabat Nabi membenci perbuatan meminum khamar. Inilah yang disebut dampak psikologis. Sedangkan dampak sosial yang diajarkan Allah SWT yaitu: permusuhan, kebencian dan terhalang mengingat Allah serta terganggu melaksanakan ibadah shalat. Karena dengan mengingat Allah dan shalat, hati manusia akan tenang. Dengan ketenangan, segala masalah sosial sebesar apapun akan dapat diselesaikan dengan bijaksana. Tetapi dengan mengkonsumsi narkoba orang akan lupa segala-galanya termasuk melupakan Allah, sehingga ia tidak akan mendapat lagi mengendalikan diri dan cenderung emosional, akhirnya masalah sepele pun dapat berakhir dengan penjara atau kematian.
4. Menjelaskan Aspek Hukum
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Setiap yang memabukkan itu khamar dan setiap khamar itu haram”. (HR. Bukhari). Hadits ini mengandung kata umum (kulliyat), sehingga segala jenis bahan yang memabukkan dikatagorikan khamar dan hukumnya haram. Pada tahapan ini, penegasan aspek hukum baru dimulai, yakni setelah para sabahat di masa Rasul SAW hidup telah mampu mengendalikan diri untuk tidak meminum khamar pada saat-saat tertentu, atau mereka telah mulai mengerti dampak- dampak negatif yang mungkin muncul akibat mengkonsumsi khamar. Demikian pula halnya dengan mereka yang menjadi korban narkoba.
5. Merealisasikan proses hukum dan Mengeksekusi Produsen, Pembackup Pengedar dan Pemakai.
Rasulullah SAW telah mendera (mencambuk) para peminum khamar (pemabuk) dengan pelepah tamar. Ini tahapan akhir, barulah Islam menegaskan hukuman bagi para peminum khamar. Demikian pula hendaknya dapat diterapkan bagi para pecandu Narkoba. Dan yang terpenting, hukuman bagi para pengedar, produsen dan pembackup hendaknya jauh lebih berat ketimbang hanya sekedar pemakai.
Seputar “hantu” Narkoba
Akhir-akhir ini, narkoba semakin menjelma menjadi hantu sekaligus mesin pembunuh bagi generasi penerus bangsa. Seperti diungkapkan Kapolri Da’i Bakhtiar sudah 50% lebih penghuni lembaga pemasyarakatan terkait masalah narkoba. Dari mulai jenis ganja, pil kurtak, pil koplo, putaw, morfin, narkotika sampai pada shabu-shabu, ineks atau jenis lain dari pil ekstasi. Dari hanya sekedar pemakai, pengedar, pemasok sampai pada sindikat pem’back-up’ dan pengusaha. Dari yang tertangkap basah “saat pesta”, yang buron atau DPO lalu dibuser, sampai yang tertembus peluru timah panas.
Kononnya, pemakai saja sebagaimana yang diungkapkan Wapres RI, sudah dua jutaan jumlahnya, belum lagi uang anggaran belanja negara yang yang seharusnya dapat digunakan untuk masyarakat miskin, bayar hutang Luar Negeri, mengatasi krisis dan jumlah pengangguran dan sebagainya; akhirnya habis terkuras dan terbuang sia-sia mengurusi mereka yang menjadi korban narkoba, walaupun tak dapat dinafikan sebagian uang negara juga habis karena dikorupsi.
Dari berbagai kasus yang sedang dan telah terjadi, terdapat berbagai faktor penyebab dan pemicu semakin merambahknya narkoba ke tengah-tengah masyarakat. Faktor penyebabnya antara lain, perkembangan informasi yang tidak berimbang dengan pengaruh global yang destruktif terhadap generasi muda, masalah keluarga/ rumah tangga yang tidak harmonis (broken home) atau lemahnya pendidikan keluarga serta lemahnya mentalitas/ kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan, sehingga sering mengambil jalan pintas atau lari dari masalah dan coba menikmati kesenangan sesaat. Sedangkan faktor pemicu antara lain, rasa ingin tahu, terpengaruh lingkungan, ikut-ikutan cari perhatian orang tua dan sebagianya.
Untuk sementara penangulangan narkoba dinilai belum berhasil. Banyak pihak yang beriktikad baik mencoba menaggulangi para pecandu berat narkoba (pengkonsumsi aktif), pengguna ringan sampai pada tingkat paling ringan, yakni baru sekedar coba-coba dan iktu-ikutan. Namun jumlah pemakai secara keseluruhan tetap saja semakin meningkat tajam. Berbagai upaya dilakukan, dari upaya rehabilitasi, kampanye, operasi penggeledahan dan penangkapan ke tempat-tempat hiburan dan tempat-tempat lain yang diduga sarangnya, sampai ya itu tadi mengeluarkan isi kas negara.
Strategi Islam
Dalam Islam, istilah Narkoba atau jenis-jenis seperti yang disebutkan terdahulu tidak ada. Ini bukan berarti narkoba tidak mendapat sorotan dalam Islam. Tidak hanya sekedar menyoroti, Islam bahkan telah menawarkan solusi terbaik bagi penanggulangan Narkoba. Hanya saja perlu pendalaman dan penelaahan yang lebih relevan.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap yang memabukkan itu khamar dan setiap yang memabukkan itu haram” (HR. Bukhari). Apabila diqiyashkan (dianalogikan), khamar dan narkoba mempunyai ‘illat (aspek) yang sama yakni sama-sama memabukkan atau menghilangkan akal sehat dan kesadaran karena zat yang terkandung di dalamnya. Jelaslah, pengharaman Narkoba dikarenakan bahan-bahan itu mengandung zat “muskir” (zat yang memabukkan).
Zaman Jahiliyah di jazirah Arab dulu, khamar sudah mendarah daging di tengah-tengah masyarakat seperti mendarah dagingnya shabu-sahbu, morfin dan jenis narkotika lain di tengah-tengah sebagian masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di kota-kota Besar, termasuk kota Medan. Maka Islam melakukan perubahan. Perubahan masyarakat terproses secara alami dan gradual, tidak terkesan dipaksakan. Itulah sebabnya ada beberapa ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan khamar tidak turun sekaligus, tetapi sesuai dengan kondisi realitas. Turunnya ayat-ayat hukum yang disebut “Tadriej ul-Hukm” (tahapan hukum) ini dipandang sebagai strategi yang dipandang akan sangat efektif bagi pecandu narkoba.
Terlalu dini bila generasi muda yang menjadi korban (bukan sindikat atau pengedar) penyalahgunaan narkoba dijatuhi hukuman berat atau dipandang sebagai sampah masyarakat, sampah pembangunan. Ini sangat keterlaluan dan tidak dapat disetujui. Seharusnya memang harus ada tahapan-tahapan strategis yang mereka lalui untuk dapat berhenti secara total.
Adapun tahpan-tahapan yang diajarkan Islam dalam menaggulangi bahaya narkoba, yakni:
Pertama: Menjelaskan manfaat dan bahaya Narkoba.
Firman Allah: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakannlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya…”. (QS. 2: 129).
Jelas telah terjadi kebohongan yang nyata kepada generasi muda bahwa banyak pihak yang mengatakan “ngedrug” itu tidak ada manfaatnya . Siapa bilang? Hanya orang-orang munafik atau idiotlah yang yang sanggup mengatakan bahwa narkoba itu tidak ada manfaatnya. Mana mungkin generasi muda (yang sudah tuapun ada) sebanyak dua juta pecandu itu mau mengkonsumsi narkoba dan menghabiskan biaya puluhan bahkan ratusan ribu perhari kalau yang mereka konsumsi tidak ada mafaatnya. Bodoh amat?!!
Bila mana penanganan masalah narkoba dengan pemaparan adil antara manfaat dan dampak negatif (mudharat), tentu orang-orang yang waras dan cerdas akan dapat mengambil perbandingan dan pada akhirnya akan memilih yang terbaik. Tetapi sebaliknya, bila informasinya tidak berimbang, orang yang waras dan cerdas justeru penasaran, “Tak bermanfaat, tetapi kenapa banyak yang suka?”
2. Mengajak Menjahui Narkoba pada Saat-saat Tertentu.
Selanjutnya, tahapan yang perlu dilakukan adalah mengajak menjauhi narkoba pada jam-jam tertentu seperti jam kerja, jam istirahat, dan terpenting saat-saat menjelang waktu sholat dan sebagainya. Firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…” (QS. 4:43).
Di Indonesia, sedikit sekali bisa dijumpai “Superman” yang mampu menghentikan untuk mengkonsumsi narkoba secara drastis, atau barangkali tidak ada. Oleh karena itu, perlu penjadwalan dan pengaturan pemakaian secara periodik sampai pemakaian dapat dihentikan secara total.
Di zaman Rasulllah Muhammad SAW hidup, banyak para sahabat yang dulunya masuk Islam tetapi tidak dilarang secara tegas meninggalkan khamar, sampai turunnya ayar 43 surah an-Nisa ini. Itupun hanya terbatas pada saat saat menjelang masuknya waktu sholat. Jadi, bagi mereka yang ingin menghentikan penggunaan narkoba, diharapkan mampu menahan diri pada saat-saat produktif atau jam kerja, sehingga diharapkan nantinya, pecandu beratpun dapat berhenti mengkonsumsi pada seluruh waktunya. Tapi bagaimana dengan pecandu yang pengangguran? Wallau A’lam.
3. Menjelaskan Dampak Narkoba secara Psikologis dan Sosial
Firman Allah: “Hai orang-oarng yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat kemenangan. Seungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan judi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah, maka berhentilah kamu…” (QS. 5: 90-91).
Ayat tersebut mengajarkan bahwa, tidak perlu mengajak orang untuk tidak melakukan hal yang ia senangi, tetapi buatlah sesuatu agar dia membenci perbuatannya; karena kata-kata “rijsun” pada ayat di atas menurut lidah Arab semakna dengan kata-kata “jorok”, menjijikkan atau benda yang dibenci; dan kata “min ‘amalis syaithan” menunjukkan pengertian “perbuatan syaithan”, sehingga para sahabat Nabi membenci perbuatan meminum khamar. Inilah yang disebut dampak psikologis. Sedangkan dampak sosial yang diajarkan Allah SWT yaitu: permusuhan, kebencian dan terhalang mengingat Allah serta terganggu melaksanakan ibadah shalat. Karena dengan mengingat Allah dan shalat, hati manusia akan tenang. Dengan ketenangan, segala masalah sosial sebesar apapun akan dapat diselesaikan dengan bijaksana. Tetapi dengan mengkonsumsi narkoba orang akan lupa segala-galanya termasuk melupakan Allah, sehingga ia tidak akan mendapat lagi mengendalikan diri dan cenderung emosional, akhirnya masalah sepele pun dapat berakhir dengan penjara atau kematian.
4. Menjelaskan Aspek Hukum
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Setiap yang memabukkan itu khamar dan setiap khamar itu haram”. (HR. Bukhari). Hadits ini mengandung kata umum (kulliyat), sehingga segala jenis bahan yang memabukkan dikatagorikan khamar dan hukumnya haram. Pada tahapan ini, penegasan aspek hukum baru dimulai, yakni setelah para sabahat di masa Rasul SAW hidup telah mampu mengendalikan diri untuk tidak meminum khamar pada saat-saat tertentu, atau mereka telah mulai mengerti dampak- dampak negatif yang mungkin muncul akibat mengkonsumsi khamar. Demikian pula halnya dengan mereka yang menjadi korban narkoba.
5. Merealisasikan proses hukum dan Mengeksekusi Produsen, Pembackup Pengedar dan Pemakai.
Rasulullah SAW telah mendera (mencambuk) para peminum khamar (pemabuk) dengan pelepah tamar. Ini tahapan akhir, barulah Islam menegaskan hukuman bagi para peminum khamar. Demikian pula hendaknya dapat diterapkan bagi para pecandu Narkoba. Dan yang terpenting, hukuman bagi para pengedar, produsen dan pembackup hendaknya jauh lebih berat ketimbang hanya sekedar pemakai.
Subscribe to:
Posts (Atom)