Oleh : Jufri Bulian Ababil
Ikhlas
Ikhlas, secara lughawi (epistimologi) artinya selesai, tuntas, Berasal dari bahasa Arab, Khalasa sesuai dengan timbangan tatabahasa, kata ini merupakan mashdar (akar kata) yang memiliki pengertian kholas, (selesai) seperti pada kalimat Akhalashta hadza a’mal, yang berarti “sudahkah engkau menyelesaikan tugas-tugas ini?”.
Sedangkan secara istilah ilmiah (terminologi), kata Ikhlas mempunyai pengertian tulus dan murni, tidak bercampur dengan sesuatu yang lain. Pemaknaan ini dalam islam digunakan berkaitan dengan pekerjaan hati. Biasanya ikhlas selalu dihubungan dengan perbuatan yang baik (amal Sholeh) dan senantiasa dikaitkan dengan tujuan atau sasaran karena Allah semata-mata (lillahi ta’ala).
Ikhlas mempunyai banyak lawan kata, tidak ikhlash, bercampur, mendua hati dan setengah hati serta salah niat. Namun sebenarnya, ketidakikhlasan ini tetap memiliki akbibat yang sama, yaitu hasilnya tidak akan pernah tuntas maksimal dan sempurna. Maskudnya, kalau ada orang yang tidak ikhlash melakukan sesuatu, entah karena menyimpang niatnya, salah niat, punya maksud tertentu seperti kata pepatah ‘ada udang di balik batu’, mendua hati atau setengah hati, maka hampir bisa dipastikan hasil atau buah perbuatannya akan setengah jadi, gagal dan kurang maksimal pula atau jauh mendekati yang diharapkan; pokoknya kurang memuaskanlah.
Dienul Islam, sebagai agama yang diyakini mempunyai nilai spritualitas yang tinggi menempatkan kedudukan ikhlas sebagai standart nilai segala bentuk aktivitas kehidupan manusia, baik dalam melaksanakan ibadah ritual maupun dalam ibadah dalam arti umum yang menyangkut kehidupan masayarakat seperti saling menghormati, suka memberi, sopan dan sebagainya.
Jadi, ikhlas sebagai pekerjaan hati selalu dihubungankan dengan niat. Dan memang niat merupakan kunci utama dalam melaksanakan ibadah.
Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari Muslim dan lainnya (Jama’ah), bersumber dari Umar bin Khattab RA:
Artinya: “Sesungguhnya segala pekerjaan itu tergantung niatnya. Dan setiap segala sesuatu sesuatu hanya berhubungan dengan yang diniatkan. Orang yang hijrahnya karena Allah, maka (buah/hasil) pekerjaan itu akan karena Allah. Orang yang hijrahnya karena seorang perempuan, maka ia akan menikahinya dan orang yang hijrah karena dunia maka ia akan mendapatkannya”.
Ibadah
Ibadah menurut tata bahasa berarti penyembahan. Berasal dari kata Abada ya’budu ibadatan. Juga mempunyai bentukan kata lain yang banyak seperti, Abid dan Abdi (hamba), Makbud (sembahan), Ubudiyah (ajaran pengabdian) dan sebagainya.
Sementara dalam istilah Syara’ (ajaran Islam), Ibadah mengandung pengertian segala amal perbuatan yang berhubungan dengan Allah sebagai sasaran pengabdian, ketaatan baik dalam pelaksanaan perintah maupun larangan.
Para ulama membagi ibadah menjadi dua bagian, mahdhoh (khusus) dan ghairu mahdhoh (umum). Sebagian yang lain membaginya menjadi ritual dan sosial. Ada pula yang menurut pembagian hablum minallah (hungungan langsung kepada Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan manusia). Namun, kesemua pembagian jenis ibadah ini tetap berkaitan dengan perintah dan larangan agama atau kepatuhan dan ketaatan terhadap ajaran Islam. Ibadah khusus contohnya sholat, haji, puasa. Sedangkan ibadah umum contohnya, jujur dalam menimbang, suka menolong dan gemar menuntut ilmu.
Jadi, segala yang diperintahkan bila dilaksanakan akan bernilai ibadah, begitu juga segala yang dilarang apabila ditinggalkan akan mempunyai nilai ibadah, akan diberi ganjaran yang baik (pahala) dan dijanjikan kehidupan yang bahagia aman dan sejahtera di dunia dan di akherat.
Ikhlas dalam Beribadah
Dalam beribadah diperlukan kelurusan hati, sehingga pelaksanaannya sesuai dengan yang diharapkan, memuaskan dan bernilai positif dalam pandangan Allah.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, orang yang sholat dengan hati yang ikhlas, maka sholatnya akan menyerupai sebuah kilatan cahaya putih bersih yang amat terang benderang yang menembus langit ke tujuh dan langsung menghadap Allah sebagi sebuah persembahan seorang hamba. Allah bangga dengan orang yang mempersembahkan cahaya itu. Lalu Allah merestui sholatnya itu lalu dikembalikan kepada yang melakukannya dengan nilai yang berlipat ganda.
Sedangkan, orang yang sholat dengan hati yang tidak ikhlas, sholatnya juga akan keluar dari bumi menghadap Sang Pencipta, tetapi dengan penyerupaan yang jelek, hitam kusam dan kumuh, yang dalam riwayat diumpakan kain lap (bekas pembersih). Tetapi sholat itu tidak sampai kepada Allah, karena Allah berfirman: “Kembalilah kamu kepada tuanmu”.
Begitulah, tidak hanya sholat, segala perbuatan (amal) yang baik maupun yang buruk akan hidup dan bisa memberikan dampak atau pengaruh, akibat dan nilai bagi si pelakunya.
Firman Allah, dalam al Qur’an Surah Al-Bayyinah (98), ayat 5:
“Kamu tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas karena Allah (pemilik) Agama (Dien) dengan lurus (hanief/tidak melenceng), dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dan demikian itulah Agama yang tegak (kokoh)”.
Thursday, 21 May 2009
Ambillah Zakat, Bersihkan Diri dan Harta
Oleh : Jufri Bulian Ababil S. Sos.I
Kalau pajak, baik Pajak Bumi, PPh dan sebagainya dipungut setiap tahun barangkali sudah tidak asing lagi bagi kita, sehingga ketika terjadi penunggakan cepat diketahui. Tapi kalau ada ayat al-Qur’an yang memerintahkan kepada kita bahwa zakat pun harus dipungut oleh para petugas pemungut pajak (amil), dapat dipastikan pasti banyak di antara kita terkejut bahkan merasa kebingungan, “Opo iyo?”. Sebab umumnya dan biasanya, zakat itu setahu kita diantar si pembayar.
Sebenarnya isi perintah al-Qur’an zakat itu dipungut amil, bukan diserahkan pembayar zakat. Firman Allah SWT QS. 9 at-Taubah: 103:“Khuz min Amwalihim shodaqoh, lituthahhirihim wa tuzakkiyhim biha”. Kalau dibahasaindonesiakan artinya kira-kira, “Ambillah dari sebagian harta mereka itu shodaqah (zakat), supaya menyucikan dan membersihkan dengannya”. Namun banyak pertimbangan mafsalah marsalah yang membuat persoalan teknis tersebut berubah, namun diharapkan tidak merubah hakikat dan tujuan zakat itu sendiri. Banyak alasan yang dapat dikemukakan. Zaman Rasul kan orang Islam masih sedikit, sekarang? Apalagi di Indonesia. Tentu para amil amat kewalahan. Alasan lain mungkin, di masa Rasul dan sahabat kepemimpinan dan pemerintahan berada di tangan umat Islam, hukumnya pun hukum Islam (sesuai Qur’an dan nyunnah). Sehingga kebijakan pemerintah, political will, sistem dan kinerja roda kehidupan masyarakat saat itu terhadap kemajuan dan peradaban Islam sangat mendukung.
Di masa Rasulullah SAW dalam hal penunaian kewajiban rukun Islam ketiga tersebut, kan Nabi sebagai pemimpin komunitas sekaligus pemimpin spritual menunjuk sejumlah sahabat untuk memungut zakat. Zaman sekarang? Pemimpin kita kan macam-macam, multi idiologi. Ada yang idealis. Ada yang opportunis, ada yang pragmatis romantis. Ada beridiologi pancasila, ada agama, ada yang kapitalis, ada pula sosialis dan sebagainya. Tentu saja akan banyak hambatan untuk menggoalkan kebijakan soal ini. Jangan-jangan belum apa-apa masing-masing sudah saling guit (senggol, ada uangnya nggak?”).
Dalam satu riwayat tentang zakat yang sudah cukup pupuler adalah kisah sahabat Nabi yang bernama Tsa’labah yang luar biasanya miskinnya, saking papa dan melaratnya, kain (sarung) sholat pun harus berkongsi (bergilir) dengan sang isteri. Hal ini disinyalir Rasul ketika beliau melihat Tsa’labah langsung membalikkan badan tergopoh-gopoh seolah-olah mengejar seseatu. Begitu setiap hari. Rasul bertanya: Kenapa engkau begitu Tsaklabah?”. Kata Tsa’labah. “Kain saya Cuma satu ya Rasulullah. Istriku belum sholat ia tidak ada kain”. Suatu hari Tsa’labah minta didoakan oleh Rasul agar menjadi orang kaya, agar ia semakin rajin beribadah dan makin dekat kepada Allah. Ringkas cerita, setelah didesak dan telah mendengar pertimbangan dan sebagainya Rasul pun mendo’akan, tak lupa memberi Tsa’labah sepasang kambing yang akhirnya berkembangbiak menjadi banyak dan sehat-sehat.
Pada tahun-tahun pertama, Tsa’labah tetap taat beribadah, Zakatnya pun lancar. Tsa’labah telah stand by di rumahnya saat petugas pengambil zakat datang. Tapi lama-lama karena sibuk mengurusi ternaknya, Tsa’labah jarang dan akhirnya tak lagi muncul-muncul ke mesjid. Bahkan zakatnya pun sempat nunggak. Akhirnya, Rasul SAW melarang para petugas zakat mengutip zakat Tsa’labah. Dibayarnya pun nanti jangan diterima dulu sebelum ada izin dari Rasul. Akhirnya, azab Allah SWT ditimpakan kepada Tsa’labah karena kepelitan dan kedurhakaannya Allah dan mangkir janji pada Rasul saat akan didoakan dulu. Secara bertahap ternak Tsa’labah bermatian, karena terserang suatu penyakit, barangkali yang dikenal dengan anthrak atau entah apa?
Di masa kekhalifahan Abu Bakar Shiddique RA, pemerintahan Islam memerangi orang yang tak berzakat. Perang ini dikenal dengan perang Yamamah yang mengakibatkan sedikitnya tujuh puluhan Huffazh (Penghafal al-Qur’an) meninggal sebagai syuhada. Betapa pentingnya zakat bagi Islam. Begitu pun bagi peran pentingnya bagi pemerataan ekonomi. Satu hal lagi, zakat sangat penting bagi kesucian diri dan kebersihan harta dari milik yang mustahak (anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil dan lainnya). Krisis ekonomi dan moneter sudah berlalu. Ketimpangan sosial, ketidakadilan dan ketidakmerataan ekonomi sangat makin hari makin terasa menusuk mata dan hati. Ini menunjukkan betapa diri dan harta yang kotor telah menjangkiti bangsa ini membuat hati mati dan keras. Hingga penggusuran demi penggusuran terjadi. Dapatkah kita meyakini bahwa zakat adalah solusi?
Kalau pajak, baik Pajak Bumi, PPh dan sebagainya dipungut setiap tahun barangkali sudah tidak asing lagi bagi kita, sehingga ketika terjadi penunggakan cepat diketahui. Tapi kalau ada ayat al-Qur’an yang memerintahkan kepada kita bahwa zakat pun harus dipungut oleh para petugas pemungut pajak (amil), dapat dipastikan pasti banyak di antara kita terkejut bahkan merasa kebingungan, “Opo iyo?”. Sebab umumnya dan biasanya, zakat itu setahu kita diantar si pembayar.
Sebenarnya isi perintah al-Qur’an zakat itu dipungut amil, bukan diserahkan pembayar zakat. Firman Allah SWT QS. 9 at-Taubah: 103:“Khuz min Amwalihim shodaqoh, lituthahhirihim wa tuzakkiyhim biha”. Kalau dibahasaindonesiakan artinya kira-kira, “Ambillah dari sebagian harta mereka itu shodaqah (zakat), supaya menyucikan dan membersihkan dengannya”. Namun banyak pertimbangan mafsalah marsalah yang membuat persoalan teknis tersebut berubah, namun diharapkan tidak merubah hakikat dan tujuan zakat itu sendiri. Banyak alasan yang dapat dikemukakan. Zaman Rasul kan orang Islam masih sedikit, sekarang? Apalagi di Indonesia. Tentu para amil amat kewalahan. Alasan lain mungkin, di masa Rasul dan sahabat kepemimpinan dan pemerintahan berada di tangan umat Islam, hukumnya pun hukum Islam (sesuai Qur’an dan nyunnah). Sehingga kebijakan pemerintah, political will, sistem dan kinerja roda kehidupan masyarakat saat itu terhadap kemajuan dan peradaban Islam sangat mendukung.
Di masa Rasulullah SAW dalam hal penunaian kewajiban rukun Islam ketiga tersebut, kan Nabi sebagai pemimpin komunitas sekaligus pemimpin spritual menunjuk sejumlah sahabat untuk memungut zakat. Zaman sekarang? Pemimpin kita kan macam-macam, multi idiologi. Ada yang idealis. Ada yang opportunis, ada yang pragmatis romantis. Ada beridiologi pancasila, ada agama, ada yang kapitalis, ada pula sosialis dan sebagainya. Tentu saja akan banyak hambatan untuk menggoalkan kebijakan soal ini. Jangan-jangan belum apa-apa masing-masing sudah saling guit (senggol, ada uangnya nggak?”).
Dalam satu riwayat tentang zakat yang sudah cukup pupuler adalah kisah sahabat Nabi yang bernama Tsa’labah yang luar biasanya miskinnya, saking papa dan melaratnya, kain (sarung) sholat pun harus berkongsi (bergilir) dengan sang isteri. Hal ini disinyalir Rasul ketika beliau melihat Tsa’labah langsung membalikkan badan tergopoh-gopoh seolah-olah mengejar seseatu. Begitu setiap hari. Rasul bertanya: Kenapa engkau begitu Tsaklabah?”. Kata Tsa’labah. “Kain saya Cuma satu ya Rasulullah. Istriku belum sholat ia tidak ada kain”. Suatu hari Tsa’labah minta didoakan oleh Rasul agar menjadi orang kaya, agar ia semakin rajin beribadah dan makin dekat kepada Allah. Ringkas cerita, setelah didesak dan telah mendengar pertimbangan dan sebagainya Rasul pun mendo’akan, tak lupa memberi Tsa’labah sepasang kambing yang akhirnya berkembangbiak menjadi banyak dan sehat-sehat.
Pada tahun-tahun pertama, Tsa’labah tetap taat beribadah, Zakatnya pun lancar. Tsa’labah telah stand by di rumahnya saat petugas pengambil zakat datang. Tapi lama-lama karena sibuk mengurusi ternaknya, Tsa’labah jarang dan akhirnya tak lagi muncul-muncul ke mesjid. Bahkan zakatnya pun sempat nunggak. Akhirnya, Rasul SAW melarang para petugas zakat mengutip zakat Tsa’labah. Dibayarnya pun nanti jangan diterima dulu sebelum ada izin dari Rasul. Akhirnya, azab Allah SWT ditimpakan kepada Tsa’labah karena kepelitan dan kedurhakaannya Allah dan mangkir janji pada Rasul saat akan didoakan dulu. Secara bertahap ternak Tsa’labah bermatian, karena terserang suatu penyakit, barangkali yang dikenal dengan anthrak atau entah apa?
Di masa kekhalifahan Abu Bakar Shiddique RA, pemerintahan Islam memerangi orang yang tak berzakat. Perang ini dikenal dengan perang Yamamah yang mengakibatkan sedikitnya tujuh puluhan Huffazh (Penghafal al-Qur’an) meninggal sebagai syuhada. Betapa pentingnya zakat bagi Islam. Begitu pun bagi peran pentingnya bagi pemerataan ekonomi. Satu hal lagi, zakat sangat penting bagi kesucian diri dan kebersihan harta dari milik yang mustahak (anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil dan lainnya). Krisis ekonomi dan moneter sudah berlalu. Ketimpangan sosial, ketidakadilan dan ketidakmerataan ekonomi sangat makin hari makin terasa menusuk mata dan hati. Ini menunjukkan betapa diri dan harta yang kotor telah menjangkiti bangsa ini membuat hati mati dan keras. Hingga penggusuran demi penggusuran terjadi. Dapatkah kita meyakini bahwa zakat adalah solusi?
Haji dan Sistem Infokom di Negara Muslim: Selamat Jalan Tamu Allah
Oleh : Jufri Bulian Ababil S.Sos.I
Labbaik Allahumma labbaika…la syarika laka Labbaika…Innal Hamda Wannikmata Laka wal Mulk…La syarika Lak. Alangkah harapnya hati mendengar suara panggilan Allah itu. Hadiah sudah siap dipersembahkan. Bertahun-tahun uang dikumpul agar bisa menjadi tamu Allah. Namun apa daya, gara-gara kurang diplomasi dan dan komfirmasi 30.000 calon jama’ah (7927 untuk Sumut) harus bersabar menerima kenyataan pahit, pemerintah kerajaan Saudi membatalkan penambahan kuota.
Kenyataan ini menunjukkan suatu hal yang dilematis, sangat kontras dan kontraproduktif antara apa yang dilakukan “seorang pahlawan pencari harta karun” dengan apa yang menjadi eksistensi Ibadah Haji itu sendiri. Walaupun memang tidak ada unsur kesengajaan, namun dari sudut pandang apapun, kita tetap akan memandang hal itu sebagai sesuatu yang sangat naif, sangat tolol dan memalukan bagi sebuah “instansi” yang mengatasnamakan sebuah negara/ seorang yang mengaku mewakili sebuah bangsa yang cukup besar.
Haji: Apa dan Siapa?
Secara bahasa, apa yang kita kenal dengan istilah “Haji” itu dapat berarti hujjah dan argumen, dapat pula berarti data dan bukti. Maksudnya bagaimana seseorang yang mewakili ide dan keyakinannya mewakili mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga bagi kemenangan kaumnya. Singkatnya, kata-kata ini erat sekali kaitannya dengan dunia informasi dan komunikasi dan tentu saja sangat erat terkait dengan sistem intelijen, sistem hubungan luar negeri.
Secara istilah Haji merupakan syariat Nabi Ibrahin AS yang dikukuhakan kembali kepada Nabi Muhammad SAW menjadi syariat bagi umatnya sebagai rukun. Dalam haji terdapat tonggak sejarah yang sangat menentukan bagi tegaknya kembali kekuatan Islam di seluruh dunia. Banyak hikmah yang dapat kita petik di balik “ceremonia” atau ritualitas haji, yang dipandang sebagai simbolisasi “perjuangan”, “proses memenangkan peperangan”, “kekuatan spitual”, “konsolidasi internal”, “keajaiban hidup” dan sebagainya.
Orang-orang yang mampu melaksanakan haji adalah bukti yang ditunjukkan Allah SWT untuk keterwakilan suatu suku, kelompok, kaum, bangsa atau negara dalam rangka memeuhi panggilan Allah SWT sebagai orang-orang yang dikukuhkan tetap dalam keterwakilannya. Itulah sebabnya, kita melihat segala bangsa, suku dan profesi bertemu di Rumah Allah, Rumah yang Ajaib dan Agung itu. Setiap kelompok setiap tahunnya punya keterwakilan. Ada yang mewakili buruh, petani, LSM, Pemerintah, para wali, sufi, pers, guru, pengusaha sampai pada seorang gembel pun ada perwakilannya.
Haji di Indonesia
Persoalan haji adalah persoalan negara. Berarti urusan Ibadah termasuk harus dikelola negara. Baik tidaknya ibadah warga negara ada keterkaitan terhadap fasilitas yang berikan negara di dalamnya. Jelasnya, urusan Islam berhubungan dengan negara. Di Indonesia, kendati rukun Islam ada lima, namun hanya UU yang mengatur haji dan zakat saja yang ada. UU Syahadat, sholat dan puasa belum ada. Terlepas dari “spekulasi” dan penilaian barangkali Haji dan Zakat ada duitnya (dapat memberikan input bagi negara), kita masih perlu bersyukur pemerintah masih mau mengurusi persoalan ke dua rukun Islam ini yang suci ini. Namun muncul pertanyaan, mungkinkah sesuatu yang suci dikelola oleh oknum-oknum yang tidak suci hatinya? Untuk menjawab hal itu, perlu dilihat dulu kenyataan bagaimana zakat dan haji dikelola. Kendatipun keduanya sama-sama bermasalah, di sini kita tidak membahas soal zakat, melainkan menukik langsung ke persoalan haji.
Sekali lagi sebagaimana diketahui banyak orang, urusan haji di Indonesia banyak menimbulkan masalah. Karena di negara sudah bayak bercampur yang hak dan yang batil. Apalagi haji sudah dijadikan oknum-oknum tertentu sebagai “barang dangagan” demi hawa nafsu keduniaan. Dari persoalan ONH, Kuota, Asrama, pengelolaan, pelayanan sampai pada kepulangan. Bila dihitung-hitung, rasanya perlu mengabiskan puluhan buku tebal untuk menuliskannya.
Banyak kalangan mencoba mengusulkan solusi persoalan seputar haji ini. Di antaranya sebagaimana yang diungkapkan Sekretaris MUI Pusat Dien Syamsuddin dan Mantan Menag Tarmidzi Taher, Kuota dari Depag untuk pejabat negara pergi ke tanah suci tahun ini sebaiknya dihapuskan saja dan jatah mereka diberikan kepada rakyat. Juga diusulkan rombongan amirul hajj ditiadakan karena jumlahnya membengkak dari apa yang ditetapkan menteri.
Menko Kesra Yusuf Kalla pun ikut bicara. Katanya, pemerintah akan keluarkan Keppres tentang haji, di mana seorang calon haji boleh melaksanakan haji sekali lima tahun. Karena hal ini pun dinilai bermasalah. Soalnya, banyak orang yang haji 3-4 kali masih diberangkatkan sementara yang belum pernah harus menunggu, bahkan kehabisan kuota. Meskipun Menurut Yusuf Kalla ONH 30.000 calon jemaah haji yang gagal berangkat akan dipulangkan, namun apakah persoalan ini akan selesai sebatas pemulangan uang. Bagaimana dengan bunga deposito di Bank-bank ONH selama ini yang nilainya milyaran bahkan triliunan rupiah itu dan tanggung jawab moral pemerintah terhadap dampak yang mungkin muncul.
Membangun Hubungan (Sistem) Infokom
Secara filosofis, haji adalah puncak tertinggi dari pembagunan Islam yang dimulai dari pengukuhan syahadat sebagai fondasi/azas (pembangunan Idiologi Islam), sholat sebagai tonggak/tiang/tulang punggung/pilar (pembangunan aparatur dan militer dalam Islam) zakat sebagai naungan/pengayoman (pembangunan sistem ekonomi umat), puasa sebagai dinding/tembok/perisai (pembangunan sistem informasi dan komunikasi/ hubungan luar negeri). Dengan demikian sempurnalah Islam dalam wujudnya sebagai negara Muslim yang kuat dan tak terkalahkan. Bila diumpakan tubuh haji merupakan sistem penglihatan dan pendengaran. Bila dalam perang urusan haji seperti urusan intelijen yang mencakup infiltrasi dan netrasi. Jadi sangat “telak” apa yang dialami calon jama’ah haji kita pada musim haji tahun ini. Taruhlah, ini tidak dianggap sebuah kegagalan diplomasi. Namun kelihatannya tidak seperti di negara-negara lain, banyak menteri yang merasa malu atas kegegabahannya sehingga mengundurkan diri atau meminta maaf kepada calon jemaah yang tentu saja sangat kecewa. Ini pun tidak dilakukan.
Dari segi syariatnya, pelaksanaan manasik haji adalah gambaran “puncak perjuangan” memenangkan Islam. Dari Thawaf dapat dilihat bagaimana proses sikluitasi berjalan menurut arus searah menggambarkan mekanisme “penghambaan dan ketaatan” harus berjalan seiring. Dalam sa’i dapat dilihat betapa konfirmasi guna mengikuti perkembangan perlu dilakukan agar menemukan jawaban paling “fit”. Begitu pula wukuf yang dapat menunjukkan betapa Islam menghimpun seluruh kekuatan untuk melakukan konsolidasi dan sharing informasi dan seterusnya. Jelasnya, Allah SWT telah mensyariatkan Haji sedemikian rupa agar dapat diaktualisasikan dalam dunia Islam, tidak hanya sebatas ritualitas atau “gelar dan embel-embel nama”.
Firman Allah (QS. Al-Baqarah 2: 160-163), “Dan ingatlah ketika kami menjadikan rumah ini (ka’bah) sebagai mastabah (tempat pengukuhan/pelantikan) dan pengamanan, dan menjadikan dari tempat tegak Ibrahim sebagai tempat Shalat. Dan kami janjikan kepada Ibrahim dan Ismail agar mereka berdua mensucikan Rumah-Ku itu bagi orang-orang yang thawaf, beriktikaf, rukuk dan sujud). Ibrahim berkata, Jadikanlah negara ini negara yang dipercaya (aman) dan berilah rezeki di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: “Siapa yang menentang, maka Aku akan memberinya kesenangan sedikit (dunia) selanjutnya, Aku akan mencampakkannya ke neraka Jahannam sebagai tempat kembali yang (jelek). Oh Tuhanku jadikanlah kami orang-oarng yang menegakkan sholat dan dari generasi (keturunan) kami. Ya tuhan kami. Oh tuhan Kami terimalah kami (untuk menghadap) dan terimalah kami. Sesungguhnya Engkau maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Tamu Allah
Selamat jalan Tamu Allah…semoga menjadi haji yang Mabrur. Ungkapan ini rasanya paling pantas untuk mengantarkan para calon jamaah haji kita. Namun perlu disadari, keberangkatan ke tanah suci bukan saja untuk pribadi yang melaksanakan tetapi juga untuk keterwakilan bangsa dan golongan kita. Haji mabrur adalah haji yang dapat mengukuhkan kedudukannya sebagai “orang yang mapan” di kalangannya. Seorang haji dari kalangan pers akan semakin mapan di bidangnya. Seorang perwira yang haji akan semakin mapan dalam tugas pengamanannya. Sebaliknya, bila hajinya tidak Mabrur maka ia juga akan semakin “parah” dalam melakukan tindakan yang menyimpang dari ajaran agama. Misalnya, seorang koruptor yang berstatus haji akan semakin mapan dalam menyelewengkan harta negara.
Labbaik Allahumma labbaika…la syarika laka Labbaika…Innal Hamda Wannikmata Laka wal Mulk…La syarika Lak. Alangkah harapnya hati mendengar suara panggilan Allah itu. Hadiah sudah siap dipersembahkan. Bertahun-tahun uang dikumpul agar bisa menjadi tamu Allah. Namun apa daya, gara-gara kurang diplomasi dan dan komfirmasi 30.000 calon jama’ah (7927 untuk Sumut) harus bersabar menerima kenyataan pahit, pemerintah kerajaan Saudi membatalkan penambahan kuota.
Kenyataan ini menunjukkan suatu hal yang dilematis, sangat kontras dan kontraproduktif antara apa yang dilakukan “seorang pahlawan pencari harta karun” dengan apa yang menjadi eksistensi Ibadah Haji itu sendiri. Walaupun memang tidak ada unsur kesengajaan, namun dari sudut pandang apapun, kita tetap akan memandang hal itu sebagai sesuatu yang sangat naif, sangat tolol dan memalukan bagi sebuah “instansi” yang mengatasnamakan sebuah negara/ seorang yang mengaku mewakili sebuah bangsa yang cukup besar.
Haji: Apa dan Siapa?
Secara bahasa, apa yang kita kenal dengan istilah “Haji” itu dapat berarti hujjah dan argumen, dapat pula berarti data dan bukti. Maksudnya bagaimana seseorang yang mewakili ide dan keyakinannya mewakili mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga bagi kemenangan kaumnya. Singkatnya, kata-kata ini erat sekali kaitannya dengan dunia informasi dan komunikasi dan tentu saja sangat erat terkait dengan sistem intelijen, sistem hubungan luar negeri.
Secara istilah Haji merupakan syariat Nabi Ibrahin AS yang dikukuhakan kembali kepada Nabi Muhammad SAW menjadi syariat bagi umatnya sebagai rukun. Dalam haji terdapat tonggak sejarah yang sangat menentukan bagi tegaknya kembali kekuatan Islam di seluruh dunia. Banyak hikmah yang dapat kita petik di balik “ceremonia” atau ritualitas haji, yang dipandang sebagai simbolisasi “perjuangan”, “proses memenangkan peperangan”, “kekuatan spitual”, “konsolidasi internal”, “keajaiban hidup” dan sebagainya.
Orang-orang yang mampu melaksanakan haji adalah bukti yang ditunjukkan Allah SWT untuk keterwakilan suatu suku, kelompok, kaum, bangsa atau negara dalam rangka memeuhi panggilan Allah SWT sebagai orang-orang yang dikukuhkan tetap dalam keterwakilannya. Itulah sebabnya, kita melihat segala bangsa, suku dan profesi bertemu di Rumah Allah, Rumah yang Ajaib dan Agung itu. Setiap kelompok setiap tahunnya punya keterwakilan. Ada yang mewakili buruh, petani, LSM, Pemerintah, para wali, sufi, pers, guru, pengusaha sampai pada seorang gembel pun ada perwakilannya.
Haji di Indonesia
Persoalan haji adalah persoalan negara. Berarti urusan Ibadah termasuk harus dikelola negara. Baik tidaknya ibadah warga negara ada keterkaitan terhadap fasilitas yang berikan negara di dalamnya. Jelasnya, urusan Islam berhubungan dengan negara. Di Indonesia, kendati rukun Islam ada lima, namun hanya UU yang mengatur haji dan zakat saja yang ada. UU Syahadat, sholat dan puasa belum ada. Terlepas dari “spekulasi” dan penilaian barangkali Haji dan Zakat ada duitnya (dapat memberikan input bagi negara), kita masih perlu bersyukur pemerintah masih mau mengurusi persoalan ke dua rukun Islam ini yang suci ini. Namun muncul pertanyaan, mungkinkah sesuatu yang suci dikelola oleh oknum-oknum yang tidak suci hatinya? Untuk menjawab hal itu, perlu dilihat dulu kenyataan bagaimana zakat dan haji dikelola. Kendatipun keduanya sama-sama bermasalah, di sini kita tidak membahas soal zakat, melainkan menukik langsung ke persoalan haji.
Sekali lagi sebagaimana diketahui banyak orang, urusan haji di Indonesia banyak menimbulkan masalah. Karena di negara sudah bayak bercampur yang hak dan yang batil. Apalagi haji sudah dijadikan oknum-oknum tertentu sebagai “barang dangagan” demi hawa nafsu keduniaan. Dari persoalan ONH, Kuota, Asrama, pengelolaan, pelayanan sampai pada kepulangan. Bila dihitung-hitung, rasanya perlu mengabiskan puluhan buku tebal untuk menuliskannya.
Banyak kalangan mencoba mengusulkan solusi persoalan seputar haji ini. Di antaranya sebagaimana yang diungkapkan Sekretaris MUI Pusat Dien Syamsuddin dan Mantan Menag Tarmidzi Taher, Kuota dari Depag untuk pejabat negara pergi ke tanah suci tahun ini sebaiknya dihapuskan saja dan jatah mereka diberikan kepada rakyat. Juga diusulkan rombongan amirul hajj ditiadakan karena jumlahnya membengkak dari apa yang ditetapkan menteri.
Menko Kesra Yusuf Kalla pun ikut bicara. Katanya, pemerintah akan keluarkan Keppres tentang haji, di mana seorang calon haji boleh melaksanakan haji sekali lima tahun. Karena hal ini pun dinilai bermasalah. Soalnya, banyak orang yang haji 3-4 kali masih diberangkatkan sementara yang belum pernah harus menunggu, bahkan kehabisan kuota. Meskipun Menurut Yusuf Kalla ONH 30.000 calon jemaah haji yang gagal berangkat akan dipulangkan, namun apakah persoalan ini akan selesai sebatas pemulangan uang. Bagaimana dengan bunga deposito di Bank-bank ONH selama ini yang nilainya milyaran bahkan triliunan rupiah itu dan tanggung jawab moral pemerintah terhadap dampak yang mungkin muncul.
Membangun Hubungan (Sistem) Infokom
Secara filosofis, haji adalah puncak tertinggi dari pembagunan Islam yang dimulai dari pengukuhan syahadat sebagai fondasi/azas (pembangunan Idiologi Islam), sholat sebagai tonggak/tiang/tulang punggung/pilar (pembangunan aparatur dan militer dalam Islam) zakat sebagai naungan/pengayoman (pembangunan sistem ekonomi umat), puasa sebagai dinding/tembok/perisai (pembangunan sistem informasi dan komunikasi/ hubungan luar negeri). Dengan demikian sempurnalah Islam dalam wujudnya sebagai negara Muslim yang kuat dan tak terkalahkan. Bila diumpakan tubuh haji merupakan sistem penglihatan dan pendengaran. Bila dalam perang urusan haji seperti urusan intelijen yang mencakup infiltrasi dan netrasi. Jadi sangat “telak” apa yang dialami calon jama’ah haji kita pada musim haji tahun ini. Taruhlah, ini tidak dianggap sebuah kegagalan diplomasi. Namun kelihatannya tidak seperti di negara-negara lain, banyak menteri yang merasa malu atas kegegabahannya sehingga mengundurkan diri atau meminta maaf kepada calon jemaah yang tentu saja sangat kecewa. Ini pun tidak dilakukan.
Dari segi syariatnya, pelaksanaan manasik haji adalah gambaran “puncak perjuangan” memenangkan Islam. Dari Thawaf dapat dilihat bagaimana proses sikluitasi berjalan menurut arus searah menggambarkan mekanisme “penghambaan dan ketaatan” harus berjalan seiring. Dalam sa’i dapat dilihat betapa konfirmasi guna mengikuti perkembangan perlu dilakukan agar menemukan jawaban paling “fit”. Begitu pula wukuf yang dapat menunjukkan betapa Islam menghimpun seluruh kekuatan untuk melakukan konsolidasi dan sharing informasi dan seterusnya. Jelasnya, Allah SWT telah mensyariatkan Haji sedemikian rupa agar dapat diaktualisasikan dalam dunia Islam, tidak hanya sebatas ritualitas atau “gelar dan embel-embel nama”.
Firman Allah (QS. Al-Baqarah 2: 160-163), “Dan ingatlah ketika kami menjadikan rumah ini (ka’bah) sebagai mastabah (tempat pengukuhan/pelantikan) dan pengamanan, dan menjadikan dari tempat tegak Ibrahim sebagai tempat Shalat. Dan kami janjikan kepada Ibrahim dan Ismail agar mereka berdua mensucikan Rumah-Ku itu bagi orang-orang yang thawaf, beriktikaf, rukuk dan sujud). Ibrahim berkata, Jadikanlah negara ini negara yang dipercaya (aman) dan berilah rezeki di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: “Siapa yang menentang, maka Aku akan memberinya kesenangan sedikit (dunia) selanjutnya, Aku akan mencampakkannya ke neraka Jahannam sebagai tempat kembali yang (jelek). Oh Tuhanku jadikanlah kami orang-oarng yang menegakkan sholat dan dari generasi (keturunan) kami. Ya tuhan kami. Oh tuhan Kami terimalah kami (untuk menghadap) dan terimalah kami. Sesungguhnya Engkau maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Tamu Allah
Selamat jalan Tamu Allah…semoga menjadi haji yang Mabrur. Ungkapan ini rasanya paling pantas untuk mengantarkan para calon jamaah haji kita. Namun perlu disadari, keberangkatan ke tanah suci bukan saja untuk pribadi yang melaksanakan tetapi juga untuk keterwakilan bangsa dan golongan kita. Haji mabrur adalah haji yang dapat mengukuhkan kedudukannya sebagai “orang yang mapan” di kalangannya. Seorang haji dari kalangan pers akan semakin mapan di bidangnya. Seorang perwira yang haji akan semakin mapan dalam tugas pengamanannya. Sebaliknya, bila hajinya tidak Mabrur maka ia juga akan semakin “parah” dalam melakukan tindakan yang menyimpang dari ajaran agama. Misalnya, seorang koruptor yang berstatus haji akan semakin mapan dalam menyelewengkan harta negara.
Kisah Mimpi Raja Saat Nabi Yusuf A.S. Dipenjara Isyarat Al-Qur’an, 2004 Puncak Kekurangan Pangan
Kebenaran Islam tidak dapat diukur dari penganutnya, sebab ada sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan “Al-Islamu mahjubu bimuslim”, artinya: Kebenaran Islam terhalang oleh penganut Islam itu sendiri. Hal ini memang dapat dilihat dan dibuktikan dari banyaknya ungkapan orang-orang yang lari dari ajaran agama dan memilih dunia, gara-gara melihat kenyataan banyaknya tokoh-tokoh, cendikiawan dan aktivis Islam yang memakai atribut Islam, tetapi justeru telah membuat noda bagi Islam itu sendiri. Bagi umat yang berfikiran awam, justeru menjadikan ini tolak ukur kebenaran, sehingga muncul ungkapan, “haji, haji tapi korupsi juga”, atau ungkapan, “janggut bukan main panjangnya, jubah bukan main dalamnya, sorban sepuluh lilit tapi di otaknya duit dan duit” atau ungkapan-ungkapan lain yang bernada sisnis.
Kebenaran Islam yang hakiki dapat dirasakan, diterima, diakui dan dibuktikan, tanpa perlu diuji lagi hanyalah terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Berapa banyak profesor-profesor barat yang menjadi pemeluk Islam setelah meneliti dan mencoba menelaah isi kandungan Al-Qur’an. Dan alhamdulillah akhirnya Allah memberi mereka hidayah (petunjuk) karena mereka memang benar-benar mencari kebenaran. Dan kebenaran Islam memang kebenaran hakiki. Islam memang paling mulia dari agama yang lain, tidak bisa disamakan, tidak bisa dibanding-bandingkan, apalagi dibenci, seperti tuduhan dan sikap orang-orang yang benci tanpa mempelajari dulu sumber ajarannya.
Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah, bahwa ayat-ayatnya berlaku untuk sepanjang zaman. Segala zaman memerlukan al-Qur’an, karena segala peristiwa ungkapan, sifat, sikap dan ulah manusia yang terjadi dan termaktub dalam al-Qur’an adalah semua peristiwa yang dapat ditemukan sehari-hari, dari zaman ke zaman.
Tulisan saya kali ini akan mengulas bagaimana Allah menyusun skenario Nabi Yusuf memegang urusan logistik di Mesir dan kaitannya dengan krisis ekonomi di Indonesia, serta bagaimana caranya bangsa ini keluar dari keterpurukan, dengan didahului latar belakang dan penyebabnya.
Firman Allah SWT QS. Yusuf (12): 45-49: “(45). Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua (pelayan eks. Narapidana) dan teringat (kepada Yusuf yang masih dipenjara) sesudah beberapa waktu lamanya. “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”. (46). (Setelah pelayan itu berjumpa Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh lainnya kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya”. (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.(48) Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapi (tahun) sulit, kecuali sedikit dari bibit yang kamu simpan. (49) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur.
Peningkatan Pembangunan Ekonomi 1990-1997
Bila kita lihat pertumbuhan ekonomi di negara kita antara tahun 1990-1997, kita akan melihat bahwa, pembangunan ekonomi kita memang pas dan pantas diumpamakan seperti sapi gemuk-gemuk atau seperti 7 bulir gandum hijau saking melimpahnya produksi beras saat itu.
Dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Ed. 1-15 Desember 1997, Rudi Lengkong, seorang pengamat dalam wawancara tentang Perkembangan Eksport Handicraft Indonesia ke Manca Negara yang selalu berkembang (hlm. 10-11) mengatakan, setiap tahunnya jumlah nilai eksport tiap tahun rata-rata mencapai 3,5 USD. Dan sejak pertengahan tahun 1990 hingga saat ini (1997) mengalami kenaikan antara 10-15% /tahun. Negara kita, di masa-masa itu sedang menggalakkan program Swasembada Pangan di berbagai daerah.
Sedangkan pada tahun 1993, sebagaimana dilansir oleh Majalah Tempo Edisi 3 April 1993, ketika stok beras di Indonesia berlebih pemerintah sanggup mengeluarkan ratusan miliar rupiah untuk membeli gabah petani. Sehingga Badan Urusan Logistik Bulog kewalahan menampung hasil panen petani. Tahun 1991, tecatat 37.286 ton pembelian Bulog sementara produksi beras se Indonesia mencapai 1. 430.000 ton. Sedangkan pada tahun 1992, angka pembelian meningkat berkali-kali lipat menjadi 107.308 sementara produksi meningkat hampir dua kali lipat, 2,565 juta ton. Dan diproyeksikan pembelian Bulog untuk tahun 1993, mencapai 2 juta ton. Subhanallah.
Ekspor beras sampai April 1993 saja, masih menutur Tempo (3/4/93: hl.84) sudah dijanjikan kepada Bulog mencapai 200 ribu ton. Dari jumlah tersebut, 110-120 ribu ton sudah diekspor ke Afrika, Srilanka dan Eropa. Namun bila dipaksakan, harga yang diterima Bulog hanya Rp. 320/kg yang artinya Bulog rugi Rp. 280,-/kg. Bahkan, tahun-tahun selanjutnya, karena melimpahnya bahan pangan (beras) sampai Indonesia sanggup memberikan bantuan berupa beratus-ratus ton beras ke PBB .
Saran IMF
Firman Allah QS. 12, Yusuf: (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.
Ayat ini berisikan saran-saran Nabi Yusuf kepada Raja Mesir agar menahan diri untuk tidak memanen semua produksi gandum di saat mana tanda-tanda kekurangan pangan (defisit) mulai tampak. Dan hal itu disinyalir melalui mimpi raja berupa 7 ekor sapi gemuk memakan 7 ekor sapi kurus; 7 bulir gandum subur dan 7 bulir gandum kering. Hal itu dilakukan guna menghadapi masa-masa paceklik di masa selanjutnya.
Pengertian ayat ini, sama halnya dengan yang dikemukakan, Al Chaidar dalam Reformasi Prematur, bahwa ketika defisit transaksi berjalan Indonesia mulai meningkat pada 1995, kita masih bisa menghibur diri dengan masih mengalir masuknya modal asing (capital inflow).
Disebutkan AlChaidar, pada September 1996 tatkala Direktur Eksekutif IMF, Michael Camdessius berkunjung ke Indonesia, defisit ini juga terus meningkat, meski krisis moneter belum sampai meledak. Camdessius pun menyarankan agar Indonesia pandai-pandai menahan selama mungkin modal jangka pendek (short term capital) yang mengalir masuk. Syaratnya, iklim investasi di Indonesia harus kondusif. Itu berarti segala distorsi dihilangkan dan segala diskriminasi usaha (monopoli, monopsoni, fasilitas khusus) dihapus (1999: 167).
Saran Camdessius itu bukan tak beralasan, terbukti bahwa jauh sebelumnya, bahkan tahun 1992, Indonesia sudah mengalami defisit meskipun produksi meningkat tajam. Bulog sendiri, mengalami defisit Rp. 69 M. (Tempo: 3/4/93: hlm. 84).
Kata-kata “membiarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan” sebagaimana disebut ayat di atas menunjukkan, perlunya mempersiapkan cadangan devisa jangka penjang pada masa-masa pertumbuhan Ekonomi kita sedang meningkat. Sedangkan pemenuhan kebutuhan jangka pendek hanya dipergunakan sedikit dari produksi yang ada.
Reformasi IMF, sebagaimana dikemukakan Al Chaidar (1999) diharapkan muncul pengharapan baru, agar iklim berusaha lebih menjadi lebih kondusif. Kalau persyaratan ini dipenuhi, maka modal asing akan mengalir masuk, entah yang berjangka pendek (portofolio) maupun jangka panjang (investasi langsung). Para pelaku ekonomi harus menunggu implementasi memorandum oleh pemerintah.
Karena itu tulisnya, para pelaku ekonomi berharap agar kali ini pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan momentum memorandum. Jangan sampai terlepas lagi seperti hilangnya momentum letter of intent, oleh inkonsistensi kebijakan, misalnya soal pajal mobil nasional, keberadaan BPPC dan tata niaya kayu lapis.
Reformasi ekonomi ungkap Al-Chaidar lagi, dapat diibaratkan menanam sebagai menanam fondasi yang dapat menegakkan struktur unutk keperluan jangka panjang. Sementara untuk mengatasi masalah jangka pendeknya sebenarnya belum dapat ditanggulangi secara langsung dengan sekedar memorandum IMF.
Menurutnya, persoalan jang pendek pada dasarnya terletak pada dua hal. Pertama kelangkaan cadangan devisa yang terus tertekan. Kedua utang luar negeri yang jatuh tempo. Terhadap persoalan pertama, hanya ada satu solusi, yakni pencairan dana IMF dalam jumlah yang signifikan, dan dalam tempo yang cepat. Dana yang dibutuhkan ada pada IMF sekalipun sebahagian merupakan skema bantuan bilateral. Namun skema bilateral pun praktis menjadi multilateral dalam payung IMF, karena IMF beranggotakan 181 negara. Jadi, IMF kali ini memang pada posisi lender of the last resort, sebagai sumber pasokan devisa.
7 Tahun Krisis Ekonomi (1997-2004)
Tanggal 8 Juli 1997 merupakan awal dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Kurs Rupiah anjlok sampai Rp. 7.900 per Dolar AS. Inflasi tahun 1997 melesat 2 digit menjadi 11, 05 %…. Penting difahami tentang krisis moneter juga mewariskan sisa-sisa krisis fiskal pada awal 1980-an dan jauh lebih dahsyat dari anjloknya harga migas tahun 1980-an itu. Krisis moneter yang akhirnya menjadi krisis ekonomi ini diduga disebabkan ulah spekulan asing George Soros. Krisis ini terjadi juga dipicu dengan jatuh temponya hutang-hutang swasta jangka pendeek LN. Selanjutnya, 31 Oktober 1997 IMF mengumumkan paket bantuan keuangan senilai 23 M USD yang diberikan secara bertahap.
Dalam reformasi Prematur ditulis bahwa, seharusnya dunia melihat bahwa Indonesia mulai melakukan reformasi ekonomi pada November 1997, ketika Indonesia meminta pertolongen IMF dan IMF sepakat dengan pinjaman berikut segala persayaratan reformasinya. Tetapi kemudian diulur sampai pertengahan Januari 1998 yang lalu dikenal dengan reformasi ekomomi 50 pasal. Kesepakatan Final baru diumumkan 11 April 1998. Tak mengherankan bila ada pendapat bahwa tahun 1999, ekonomi Asia pulih kecuali Indonesia, bahkan untuk Thailand, Filiphina dan Malaysia tanpa meminta pertolongan IMF (AlCahidar: 1999 hl. 165).
Skenario ini hampir sama ketika, Nabi Yusuf AS menunda pemberian makanan kepada saudara-saudaranya yang datang dari luar negeri yang memohon makanan karena di daerahnya habis stok makanan. Lalu Yusuf mengajukan syarat agar membawa saudaranya yang bernama Benyamin kehadapannya. Lalu mereka meminta kepada Nabi Ya’Qub menolak mengizinkan Benyamin dibawa, sebab khawatir akan hilang seperti hilangnya Yusuf ketika masih kecil.
Kekurangan Pangan
Di bidang ekonomi, apa yang terjadi sejak tahun 1997 sampai penghujung 2003 ini tampak jelas bahwa, apa yang kita hasilkan sejak tahun 1990-1997 (7 tahun) tak berarti apa-apa, persis seperti “dimakan” oleh kesulitan (krisis) yang dialami 7 tahun berikutnya. Penulis meyakini bahwa, inilah yang disebutkan Allah, 7 sapi gemuk memakan sapi kurus lewat kisah Nabi Yusuf di atas. Beras yang kita eksport ke sejumlah di Afrika dan Eropa, juga ke Srilanka ditambah beras yang kita sumbangkan pada PBB masa-masa sepanjang 1990-1997, ternyata tidak lebih sedikit bila dibanding beras yang kita import dari negara-negara seperti Thailand, India dan Vietnam dan sebagainya sejak krisis ekonomi 1997. Di beberapa daerah di Indonesia yang dulunya menjadi daerah swasembada pangan bahkan sekarang ini menjadi daerah kering dan warganya kekurangan pangan.
Di Sumut Misalnya, daerah Deli Serdang yang dulunya termasuk terkenal sebagai daerah swasembada pangan berskala nasional, saat ini kekurangan pangan pada masa-masa tertentu, karena puluhan ribu sawah dan lahan pertanian terlantar. Hal ini dinilai, meskipun masih menghasilkan surplus Beras, produksi beras Deli Serdang dinilai tidak teralokasikan dengan baik akibat adanya permainan ekonomi dan kurang tanggapnya lembaga Badan ketahanan Pangan atau Dinas Pertanian dalam persoalan ini.
Akhir 2004, Keluar dari Krisis Ekonomi
Firman Allah QS Yusuf, (49) “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur” menyiratkan bahwa, setelah tujuh tahun masa krisis ekonomi berakhir (pertengahan 2004), akan datang tahun yang bercukupan pangan. Selain itu ayat ini juga menyiratkan bahwa akan banyak dibuka lapangan kerja pada tahun-tahun itu, sebagaimana pengertian al-‘Asr selain dapat diartikan memeras anggur dapat pula diartikan, bekerja keras.
Maha benar Allah yang telah mendudukkan Nabi Yusuf Alaihis Salam yang sangat bisa dipercaya lagi bijaksana sebagai pemegang lumbung pangan. Sementara. Dan Indonesia merindukan sosok seperti Yusuf AS, sehingga tidak terjadi lagi apa yang namanya Bologgate, tidak tampak lagi rakyat rame-rame memeras keringat, mengemis bahkan ada yang dianiaya, jadi pelacur ke negara tetangga dekat dan jauh demi sesuap nasi. Sehingga pada Oktober 2004 nanti, insya Allah ekonomi kita akan berangsur bisa pulih, meskipun perlu banyak yang harus kita korbankan untuk itu. Dan setelah kita mengetahui sebahagian rahasia-rahasia ilmu Allah dalam al-Qur’an ini, semoga kita mau kembali kepada al-Qur’an. Fa’tabiru ya ulil Albab.
Kebenaran Islam yang hakiki dapat dirasakan, diterima, diakui dan dibuktikan, tanpa perlu diuji lagi hanyalah terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Berapa banyak profesor-profesor barat yang menjadi pemeluk Islam setelah meneliti dan mencoba menelaah isi kandungan Al-Qur’an. Dan alhamdulillah akhirnya Allah memberi mereka hidayah (petunjuk) karena mereka memang benar-benar mencari kebenaran. Dan kebenaran Islam memang kebenaran hakiki. Islam memang paling mulia dari agama yang lain, tidak bisa disamakan, tidak bisa dibanding-bandingkan, apalagi dibenci, seperti tuduhan dan sikap orang-orang yang benci tanpa mempelajari dulu sumber ajarannya.
Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah, bahwa ayat-ayatnya berlaku untuk sepanjang zaman. Segala zaman memerlukan al-Qur’an, karena segala peristiwa ungkapan, sifat, sikap dan ulah manusia yang terjadi dan termaktub dalam al-Qur’an adalah semua peristiwa yang dapat ditemukan sehari-hari, dari zaman ke zaman.
Tulisan saya kali ini akan mengulas bagaimana Allah menyusun skenario Nabi Yusuf memegang urusan logistik di Mesir dan kaitannya dengan krisis ekonomi di Indonesia, serta bagaimana caranya bangsa ini keluar dari keterpurukan, dengan didahului latar belakang dan penyebabnya.
Firman Allah SWT QS. Yusuf (12): 45-49: “(45). Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua (pelayan eks. Narapidana) dan teringat (kepada Yusuf yang masih dipenjara) sesudah beberapa waktu lamanya. “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”. (46). (Setelah pelayan itu berjumpa Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh lainnya kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya”. (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.(48) Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapi (tahun) sulit, kecuali sedikit dari bibit yang kamu simpan. (49) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur.
Peningkatan Pembangunan Ekonomi 1990-1997
Bila kita lihat pertumbuhan ekonomi di negara kita antara tahun 1990-1997, kita akan melihat bahwa, pembangunan ekonomi kita memang pas dan pantas diumpamakan seperti sapi gemuk-gemuk atau seperti 7 bulir gandum hijau saking melimpahnya produksi beras saat itu.
Dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Ed. 1-15 Desember 1997, Rudi Lengkong, seorang pengamat dalam wawancara tentang Perkembangan Eksport Handicraft Indonesia ke Manca Negara yang selalu berkembang (hlm. 10-11) mengatakan, setiap tahunnya jumlah nilai eksport tiap tahun rata-rata mencapai 3,5 USD. Dan sejak pertengahan tahun 1990 hingga saat ini (1997) mengalami kenaikan antara 10-15% /tahun. Negara kita, di masa-masa itu sedang menggalakkan program Swasembada Pangan di berbagai daerah.
Sedangkan pada tahun 1993, sebagaimana dilansir oleh Majalah Tempo Edisi 3 April 1993, ketika stok beras di Indonesia berlebih pemerintah sanggup mengeluarkan ratusan miliar rupiah untuk membeli gabah petani. Sehingga Badan Urusan Logistik Bulog kewalahan menampung hasil panen petani. Tahun 1991, tecatat 37.286 ton pembelian Bulog sementara produksi beras se Indonesia mencapai 1. 430.000 ton. Sedangkan pada tahun 1992, angka pembelian meningkat berkali-kali lipat menjadi 107.308 sementara produksi meningkat hampir dua kali lipat, 2,565 juta ton. Dan diproyeksikan pembelian Bulog untuk tahun 1993, mencapai 2 juta ton. Subhanallah.
Ekspor beras sampai April 1993 saja, masih menutur Tempo (3/4/93: hl.84) sudah dijanjikan kepada Bulog mencapai 200 ribu ton. Dari jumlah tersebut, 110-120 ribu ton sudah diekspor ke Afrika, Srilanka dan Eropa. Namun bila dipaksakan, harga yang diterima Bulog hanya Rp. 320/kg yang artinya Bulog rugi Rp. 280,-/kg. Bahkan, tahun-tahun selanjutnya, karena melimpahnya bahan pangan (beras) sampai Indonesia sanggup memberikan bantuan berupa beratus-ratus ton beras ke PBB .
Saran IMF
Firman Allah QS. 12, Yusuf: (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.
Ayat ini berisikan saran-saran Nabi Yusuf kepada Raja Mesir agar menahan diri untuk tidak memanen semua produksi gandum di saat mana tanda-tanda kekurangan pangan (defisit) mulai tampak. Dan hal itu disinyalir melalui mimpi raja berupa 7 ekor sapi gemuk memakan 7 ekor sapi kurus; 7 bulir gandum subur dan 7 bulir gandum kering. Hal itu dilakukan guna menghadapi masa-masa paceklik di masa selanjutnya.
Pengertian ayat ini, sama halnya dengan yang dikemukakan, Al Chaidar dalam Reformasi Prematur, bahwa ketika defisit transaksi berjalan Indonesia mulai meningkat pada 1995, kita masih bisa menghibur diri dengan masih mengalir masuknya modal asing (capital inflow).
Disebutkan AlChaidar, pada September 1996 tatkala Direktur Eksekutif IMF, Michael Camdessius berkunjung ke Indonesia, defisit ini juga terus meningkat, meski krisis moneter belum sampai meledak. Camdessius pun menyarankan agar Indonesia pandai-pandai menahan selama mungkin modal jangka pendek (short term capital) yang mengalir masuk. Syaratnya, iklim investasi di Indonesia harus kondusif. Itu berarti segala distorsi dihilangkan dan segala diskriminasi usaha (monopoli, monopsoni, fasilitas khusus) dihapus (1999: 167).
Saran Camdessius itu bukan tak beralasan, terbukti bahwa jauh sebelumnya, bahkan tahun 1992, Indonesia sudah mengalami defisit meskipun produksi meningkat tajam. Bulog sendiri, mengalami defisit Rp. 69 M. (Tempo: 3/4/93: hlm. 84).
Kata-kata “membiarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan” sebagaimana disebut ayat di atas menunjukkan, perlunya mempersiapkan cadangan devisa jangka penjang pada masa-masa pertumbuhan Ekonomi kita sedang meningkat. Sedangkan pemenuhan kebutuhan jangka pendek hanya dipergunakan sedikit dari produksi yang ada.
Reformasi IMF, sebagaimana dikemukakan Al Chaidar (1999) diharapkan muncul pengharapan baru, agar iklim berusaha lebih menjadi lebih kondusif. Kalau persyaratan ini dipenuhi, maka modal asing akan mengalir masuk, entah yang berjangka pendek (portofolio) maupun jangka panjang (investasi langsung). Para pelaku ekonomi harus menunggu implementasi memorandum oleh pemerintah.
Karena itu tulisnya, para pelaku ekonomi berharap agar kali ini pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan momentum memorandum. Jangan sampai terlepas lagi seperti hilangnya momentum letter of intent, oleh inkonsistensi kebijakan, misalnya soal pajal mobil nasional, keberadaan BPPC dan tata niaya kayu lapis.
Reformasi ekonomi ungkap Al-Chaidar lagi, dapat diibaratkan menanam sebagai menanam fondasi yang dapat menegakkan struktur unutk keperluan jangka panjang. Sementara untuk mengatasi masalah jangka pendeknya sebenarnya belum dapat ditanggulangi secara langsung dengan sekedar memorandum IMF.
Menurutnya, persoalan jang pendek pada dasarnya terletak pada dua hal. Pertama kelangkaan cadangan devisa yang terus tertekan. Kedua utang luar negeri yang jatuh tempo. Terhadap persoalan pertama, hanya ada satu solusi, yakni pencairan dana IMF dalam jumlah yang signifikan, dan dalam tempo yang cepat. Dana yang dibutuhkan ada pada IMF sekalipun sebahagian merupakan skema bantuan bilateral. Namun skema bilateral pun praktis menjadi multilateral dalam payung IMF, karena IMF beranggotakan 181 negara. Jadi, IMF kali ini memang pada posisi lender of the last resort, sebagai sumber pasokan devisa.
7 Tahun Krisis Ekonomi (1997-2004)
Tanggal 8 Juli 1997 merupakan awal dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Kurs Rupiah anjlok sampai Rp. 7.900 per Dolar AS. Inflasi tahun 1997 melesat 2 digit menjadi 11, 05 %…. Penting difahami tentang krisis moneter juga mewariskan sisa-sisa krisis fiskal pada awal 1980-an dan jauh lebih dahsyat dari anjloknya harga migas tahun 1980-an itu. Krisis moneter yang akhirnya menjadi krisis ekonomi ini diduga disebabkan ulah spekulan asing George Soros. Krisis ini terjadi juga dipicu dengan jatuh temponya hutang-hutang swasta jangka pendeek LN. Selanjutnya, 31 Oktober 1997 IMF mengumumkan paket bantuan keuangan senilai 23 M USD yang diberikan secara bertahap.
Dalam reformasi Prematur ditulis bahwa, seharusnya dunia melihat bahwa Indonesia mulai melakukan reformasi ekonomi pada November 1997, ketika Indonesia meminta pertolongen IMF dan IMF sepakat dengan pinjaman berikut segala persayaratan reformasinya. Tetapi kemudian diulur sampai pertengahan Januari 1998 yang lalu dikenal dengan reformasi ekomomi 50 pasal. Kesepakatan Final baru diumumkan 11 April 1998. Tak mengherankan bila ada pendapat bahwa tahun 1999, ekonomi Asia pulih kecuali Indonesia, bahkan untuk Thailand, Filiphina dan Malaysia tanpa meminta pertolongan IMF (AlCahidar: 1999 hl. 165).
Skenario ini hampir sama ketika, Nabi Yusuf AS menunda pemberian makanan kepada saudara-saudaranya yang datang dari luar negeri yang memohon makanan karena di daerahnya habis stok makanan. Lalu Yusuf mengajukan syarat agar membawa saudaranya yang bernama Benyamin kehadapannya. Lalu mereka meminta kepada Nabi Ya’Qub menolak mengizinkan Benyamin dibawa, sebab khawatir akan hilang seperti hilangnya Yusuf ketika masih kecil.
Kekurangan Pangan
Di bidang ekonomi, apa yang terjadi sejak tahun 1997 sampai penghujung 2003 ini tampak jelas bahwa, apa yang kita hasilkan sejak tahun 1990-1997 (7 tahun) tak berarti apa-apa, persis seperti “dimakan” oleh kesulitan (krisis) yang dialami 7 tahun berikutnya. Penulis meyakini bahwa, inilah yang disebutkan Allah, 7 sapi gemuk memakan sapi kurus lewat kisah Nabi Yusuf di atas. Beras yang kita eksport ke sejumlah di Afrika dan Eropa, juga ke Srilanka ditambah beras yang kita sumbangkan pada PBB masa-masa sepanjang 1990-1997, ternyata tidak lebih sedikit bila dibanding beras yang kita import dari negara-negara seperti Thailand, India dan Vietnam dan sebagainya sejak krisis ekonomi 1997. Di beberapa daerah di Indonesia yang dulunya menjadi daerah swasembada pangan bahkan sekarang ini menjadi daerah kering dan warganya kekurangan pangan.
Di Sumut Misalnya, daerah Deli Serdang yang dulunya termasuk terkenal sebagai daerah swasembada pangan berskala nasional, saat ini kekurangan pangan pada masa-masa tertentu, karena puluhan ribu sawah dan lahan pertanian terlantar. Hal ini dinilai, meskipun masih menghasilkan surplus Beras, produksi beras Deli Serdang dinilai tidak teralokasikan dengan baik akibat adanya permainan ekonomi dan kurang tanggapnya lembaga Badan ketahanan Pangan atau Dinas Pertanian dalam persoalan ini.
Akhir 2004, Keluar dari Krisis Ekonomi
Firman Allah QS Yusuf, (49) “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur” menyiratkan bahwa, setelah tujuh tahun masa krisis ekonomi berakhir (pertengahan 2004), akan datang tahun yang bercukupan pangan. Selain itu ayat ini juga menyiratkan bahwa akan banyak dibuka lapangan kerja pada tahun-tahun itu, sebagaimana pengertian al-‘Asr selain dapat diartikan memeras anggur dapat pula diartikan, bekerja keras.
Maha benar Allah yang telah mendudukkan Nabi Yusuf Alaihis Salam yang sangat bisa dipercaya lagi bijaksana sebagai pemegang lumbung pangan. Sementara. Dan Indonesia merindukan sosok seperti Yusuf AS, sehingga tidak terjadi lagi apa yang namanya Bologgate, tidak tampak lagi rakyat rame-rame memeras keringat, mengemis bahkan ada yang dianiaya, jadi pelacur ke negara tetangga dekat dan jauh demi sesuap nasi. Sehingga pada Oktober 2004 nanti, insya Allah ekonomi kita akan berangsur bisa pulih, meskipun perlu banyak yang harus kita korbankan untuk itu. Dan setelah kita mengetahui sebahagian rahasia-rahasia ilmu Allah dalam al-Qur’an ini, semoga kita mau kembali kepada al-Qur’an. Fa’tabiru ya ulil Albab.
Kisah Mimpi Raja Saat Nabi Yusuf A.S. Dipenjara Isyarat Al-Qur’an, 2004 Puncak Kekurangan Pangan
Kebenaran Islam tidak dapat diukur dari penganutnya, sebab ada sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan “Al-Islamu mahjubu bimuslim”, artinya: Kebenaran Islam terhalang oleh penganut Islam itu sendiri. Hal ini memang dapat dilihat dan dibuktikan dari banyaknya ungkapan orang-orang yang lari dari ajaran agama dan memilih dunia, gara-gara melihat kenyataan banyaknya tokoh-tokoh, cendikiawan dan aktivis Islam yang memakai atribut Islam, tetapi justeru telah membuat noda bagi Islam itu sendiri. Bagi umat yang berfikiran awam, justeru menjadikan ini tolak ukur kebenaran, sehingga muncul ungkapan, “haji, haji tapi korupsi juga”, atau ungkapan, “janggut bukan main panjangnya, jubah bukan main dalamnya, sorban sepuluh lilit tapi di otaknya duit dan duit” atau ungkapan-ungkapan lain yang bernada sisnis.
Kebenaran Islam yang hakiki dapat dirasakan, diterima, diakui dan dibuktikan, tanpa perlu diuji lagi hanyalah terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Berapa banyak profesor-profesor barat yang menjadi pemeluk Islam setelah meneliti dan mencoba menelaah isi kandungan Al-Qur’an. Dan alhamdulillah akhirnya Allah memberi mereka hidayah (petunjuk) karena mereka memang benar-benar mencari kebenaran. Dan kebenaran Islam memang kebenaran hakiki. Islam memang paling mulia dari agama yang lain, tidak bisa disamakan, tidak bisa dibanding-bandingkan, apalagi dibenci, seperti tuduhan dan sikap orang-orang yang benci tanpa mempelajari dulu sumber ajarannya.
Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah, bahwa ayat-ayatnya berlaku untuk sepanjang zaman. Segala zaman memerlukan al-Qur’an, karena segala peristiwa ungkapan, sifat, sikap dan ulah manusia yang terjadi dan termaktub dalam al-Qur’an adalah semua peristiwa yang dapat ditemukan sehari-hari, dari zaman ke zaman.
Tulisan saya kali ini akan mengulas bagaimana Allah menyusun skenario Nabi Yusuf memegang urusan logistik di Mesir dan kaitannya dengan krisis ekonomi di Indonesia, serta bagaimana caranya bangsa ini keluar dari keterpurukan, dengan didahului latar belakang dan penyebabnya.
Firman Allah SWT QS. Yusuf (12): 45-49: “(45). Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua (pelayan eks. Narapidana) dan teringat (kepada Yusuf yang masih dipenjara) sesudah beberapa waktu lamanya. “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”. (46). (Setelah pelayan itu berjumpa Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh lainnya kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya”. (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.(48) Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapi (tahun) sulit, kecuali sedikit dari bibit yang kamu simpan. (49) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur.
Peningkatan Pembangunan Ekonomi 1990-1997
Bila kita lihat pertumbuhan ekonomi di negara kita antara tahun 1990-1997, kita akan melihat bahwa, pembangunan ekonomi kita memang pas dan pantas diumpamakan seperti sapi gemuk-gemuk atau seperti 7 bulir gandum hijau saking melimpahnya produksi beras saat itu.
Dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Ed. 1-15 Desember 1997, Rudi Lengkong, seorang pengamat dalam wawancara tentang Perkembangan Eksport Handicraft Indonesia ke Manca Negara yang selalu berkembang (hlm. 10-11) mengatakan, setiap tahunnya jumlah nilai eksport tiap tahun rata-rata mencapai 3,5 USD. Dan sejak pertengahan tahun 1990 hingga saat ini (1997) mengalami kenaikan antara 10-15% /tahun. Negara kita, di masa-masa itu sedang menggalakkan program Swasembada Pangan di berbagai daerah.
Sedangkan pada tahun 1993, sebagaimana dilansir oleh Majalah Tempo Edisi 3 April 1993, ketika stok beras di Indonesia berlebih pemerintah sanggup mengeluarkan ratusan miliar rupiah untuk membeli gabah petani. Sehingga Badan Urusan Logistik Bulog kewalahan menampung hasil panen petani. Tahun 1991, tecatat 37.286 ton pembelian Bulog sementara produksi beras se Indonesia mencapai 1. 430.000 ton. Sedangkan pada tahun 1992, angka pembelian meningkat berkali-kali lipat menjadi 107.308 sementara produksi meningkat hampir dua kali lipat, 2,565 juta ton. Dan diproyeksikan pembelian Bulog untuk tahun 1993, mencapai 2 juta ton. Subhanallah.
Ekspor beras sampai April 1993 saja, masih menutur Tempo (3/4/93: hl.84) sudah dijanjikan kepada Bulog mencapai 200 ribu ton. Dari jumlah tersebut, 110-120 ribu ton sudah diekspor ke Afrika, Srilanka dan Eropa. Namun bila dipaksakan, harga yang diterima Bulog hanya Rp. 320/kg yang artinya Bulog rugi Rp. 280,-/kg. Bahkan, tahun-tahun selanjutnya, karena melimpahnya bahan pangan (beras) sampai Indonesia sanggup memberikan bantuan berupa beratus-ratus ton beras ke PBB .
Saran IMF
Firman Allah QS. 12, Yusuf: (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.
Ayat ini berisikan saran-saran Nabi Yusuf kepada Raja Mesir agar menahan diri untuk tidak memanen semua produksi gandum di saat mana tanda-tanda kekurangan pangan (defisit) mulai tampak. Dan hal itu disinyalir melalui mimpi raja berupa 7 ekor sapi gemuk memakan 7 ekor sapi kurus; 7 bulir gandum subur dan 7 bulir gandum kering. Hal itu dilakukan guna menghadapi masa-masa paceklik di masa selanjutnya.
Pengertian ayat ini, sama halnya dengan yang dikemukakan, Al Chaidar dalam Reformasi Prematur, bahwa ketika defisit transaksi berjalan Indonesia mulai meningkat pada 1995, kita masih bisa menghibur diri dengan masih mengalir masuknya modal asing (capital inflow).
Disebutkan AlChaidar, pada September 1996 tatkala Direktur Eksekutif IMF, Michael Camdessius berkunjung ke Indonesia, defisit ini juga terus meningkat, meski krisis moneter belum sampai meledak. Camdessius pun menyarankan agar Indonesia pandai-pandai menahan selama mungkin modal jangka pendek (short term capital) yang mengalir masuk. Syaratnya, iklim investasi di Indonesia harus kondusif. Itu berarti segala distorsi dihilangkan dan segala diskriminasi usaha (monopoli, monopsoni, fasilitas khusus) dihapus (1999: 167).
Saran Camdessius itu bukan tak beralasan, terbukti bahwa jauh sebelumnya, bahkan tahun 1992, Indonesia sudah mengalami defisit meskipun produksi meningkat tajam. Bulog sendiri, mengalami defisit Rp. 69 M. (Tempo: 3/4/93: hlm. 84).
Kata-kata “membiarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan” sebagaimana disebut ayat di atas menunjukkan, perlunya mempersiapkan cadangan devisa jangka penjang pada masa-masa pertumbuhan Ekonomi kita sedang meningkat. Sedangkan pemenuhan kebutuhan jangka pendek hanya dipergunakan sedikit dari produksi yang ada.
Reformasi IMF, sebagaimana dikemukakan Al Chaidar (1999) diharapkan muncul pengharapan baru, agar iklim berusaha lebih menjadi lebih kondusif. Kalau persyaratan ini dipenuhi, maka modal asing akan mengalir masuk, entah yang berjangka pendek (portofolio) maupun jangka panjang (investasi langsung). Para pelaku ekonomi harus menunggu implementasi memorandum oleh pemerintah.
Karena itu tulisnya, para pelaku ekonomi berharap agar kali ini pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan momentum memorandum. Jangan sampai terlepas lagi seperti hilangnya momentum letter of intent, oleh inkonsistensi kebijakan, misalnya soal pajal mobil nasional, keberadaan BPPC dan tata niaya kayu lapis.
Reformasi ekonomi ungkap Al-Chaidar lagi, dapat diibaratkan menanam sebagai menanam fondasi yang dapat menegakkan struktur unutk keperluan jangka panjang. Sementara untuk mengatasi masalah jangka pendeknya sebenarnya belum dapat ditanggulangi secara langsung dengan sekedar memorandum IMF.
Menurutnya, persoalan jang pendek pada dasarnya terletak pada dua hal. Pertama kelangkaan cadangan devisa yang terus tertekan. Kedua utang luar negeri yang jatuh tempo. Terhadap persoalan pertama, hanya ada satu solusi, yakni pencairan dana IMF dalam jumlah yang signifikan, dan dalam tempo yang cepat. Dana yang dibutuhkan ada pada IMF sekalipun sebahagian merupakan skema bantuan bilateral. Namun skema bilateral pun praktis menjadi multilateral dalam payung IMF, karena IMF beranggotakan 181 negara. Jadi, IMF kali ini memang pada posisi lender of the last resort, sebagai sumber pasokan devisa.
7 Tahun Krisis Ekonomi (1997-2004)
Tanggal 8 Juli 1997 merupakan awal dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Kurs Rupiah anjlok sampai Rp. 7.900 per Dolar AS. Inflasi tahun 1997 melesat 2 digit menjadi 11, 05 %…. Penting difahami tentang krisis moneter juga mewariskan sisa-sisa krisis fiskal pada awal 1980-an dan jauh lebih dahsyat dari anjloknya harga migas tahun 1980-an itu. Krisis moneter yang akhirnya menjadi krisis ekonomi ini diduga disebabkan ulah spekulan asing George Soros. Krisis ini terjadi juga dipicu dengan jatuh temponya hutang-hutang swasta jangka pendeek LN. Selanjutnya, 31 Oktober 1997 IMF mengumumkan paket bantuan keuangan senilai 23 M USD yang diberikan secara bertahap.
Dalam reformasi Prematur ditulis bahwa, seharusnya dunia melihat bahwa Indonesia mulai melakukan reformasi ekonomi pada November 1997, ketika Indonesia meminta pertolongen IMF dan IMF sepakat dengan pinjaman berikut segala persayaratan reformasinya. Tetapi kemudian diulur sampai pertengahan Januari 1998 yang lalu dikenal dengan reformasi ekomomi 50 pasal. Kesepakatan Final baru diumumkan 11 April 1998. Tak mengherankan bila ada pendapat bahwa tahun 1999, ekonomi Asia pulih kecuali Indonesia, bahkan untuk Thailand, Filiphina dan Malaysia tanpa meminta pertolongan IMF (AlCahidar: 1999 hl. 165).
Skenario ini hampir sama ketika, Nabi Yusuf AS menunda pemberian makanan kepada saudara-saudaranya yang datang dari luar negeri yang memohon makanan karena di daerahnya habis stok makanan. Lalu Yusuf mengajukan syarat agar membawa saudaranya yang bernama Benyamin kehadapannya. Lalu mereka meminta kepada Nabi Ya’Qub menolak mengizinkan Benyamin dibawa, sebab khawatir akan hilang seperti hilangnya Yusuf ketika masih kecil.
Kekurangan Pangan
Di bidang ekonomi, apa yang terjadi sejak tahun 1997 sampai penghujung 2003 ini tampak jelas bahwa, apa yang kita hasilkan sejak tahun 1990-1997 (7 tahun) tak berarti apa-apa, persis seperti “dimakan” oleh kesulitan (krisis) yang dialami 7 tahun berikutnya. Penulis meyakini bahwa, inilah yang disebutkan Allah, 7 sapi gemuk memakan sapi kurus lewat kisah Nabi Yusuf di atas. Beras yang kita eksport ke sejumlah di Afrika dan Eropa, juga ke Srilanka ditambah beras yang kita sumbangkan pada PBB masa-masa sepanjang 1990-1997, ternyata tidak lebih sedikit bila dibanding beras yang kita import dari negara-negara seperti Thailand, India dan Vietnam dan sebagainya sejak krisis ekonomi 1997. Di beberapa daerah di Indonesia yang dulunya menjadi daerah swasembada pangan bahkan sekarang ini menjadi daerah kering dan warganya kekurangan pangan.
Di Sumut Misalnya, daerah Deli Serdang yang dulunya termasuk terkenal sebagai daerah swasembada pangan berskala nasional, saat ini kekurangan pangan pada masa-masa tertentu, karena puluhan ribu sawah dan lahan pertanian terlantar. Hal ini dinilai, meskipun masih menghasilkan surplus Beras, produksi beras Deli Serdang dinilai tidak teralokasikan dengan baik akibat adanya permainan ekonomi dan kurang tanggapnya lembaga Badan ketahanan Pangan atau Dinas Pertanian dalam persoalan ini.
Akhir 2004, Keluar dari Krisis Ekonomi
Firman Allah QS Yusuf, (49) “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur” menyiratkan bahwa, setelah tujuh tahun masa krisis ekonomi berakhir (pertengahan 2004), akan datang tahun yang bercukupan pangan. Selain itu ayat ini juga menyiratkan bahwa akan banyak dibuka lapangan kerja pada tahun-tahun itu, sebagaimana pengertian al-‘Asr selain dapat diartikan memeras anggur dapat pula diartikan, bekerja keras.
Maha benar Allah yang telah mendudukkan Nabi Yusuf Alaihis Salam yang sangat bisa dipercaya lagi bijaksana sebagai pemegang lumbung pangan. Sementara. Dan Indonesia merindukan sosok seperti Yusuf AS, sehingga tidak terjadi lagi apa yang namanya Bologgate, tidak tampak lagi rakyat rame-rame memeras keringat, mengemis bahkan ada yang dianiaya, jadi pelacur ke negara tetangga dekat dan jauh demi sesuap nasi. Sehingga pada Oktober 2004 nanti, insya Allah ekonomi kita akan berangsur bisa pulih, meskipun perlu banyak yang harus kita korbankan untuk itu. Dan setelah kita mengetahui sebahagian rahasia-rahasia ilmu Allah dalam al-Qur’an ini, semoga kita mau kembali kepada al-Qur’an. Fa’tabiru ya ulil Albab.
Kebenaran Islam yang hakiki dapat dirasakan, diterima, diakui dan dibuktikan, tanpa perlu diuji lagi hanyalah terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Berapa banyak profesor-profesor barat yang menjadi pemeluk Islam setelah meneliti dan mencoba menelaah isi kandungan Al-Qur’an. Dan alhamdulillah akhirnya Allah memberi mereka hidayah (petunjuk) karena mereka memang benar-benar mencari kebenaran. Dan kebenaran Islam memang kebenaran hakiki. Islam memang paling mulia dari agama yang lain, tidak bisa disamakan, tidak bisa dibanding-bandingkan, apalagi dibenci, seperti tuduhan dan sikap orang-orang yang benci tanpa mempelajari dulu sumber ajarannya.
Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah, bahwa ayat-ayatnya berlaku untuk sepanjang zaman. Segala zaman memerlukan al-Qur’an, karena segala peristiwa ungkapan, sifat, sikap dan ulah manusia yang terjadi dan termaktub dalam al-Qur’an adalah semua peristiwa yang dapat ditemukan sehari-hari, dari zaman ke zaman.
Tulisan saya kali ini akan mengulas bagaimana Allah menyusun skenario Nabi Yusuf memegang urusan logistik di Mesir dan kaitannya dengan krisis ekonomi di Indonesia, serta bagaimana caranya bangsa ini keluar dari keterpurukan, dengan didahului latar belakang dan penyebabnya.
Firman Allah SWT QS. Yusuf (12): 45-49: “(45). Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua (pelayan eks. Narapidana) dan teringat (kepada Yusuf yang masih dipenjara) sesudah beberapa waktu lamanya. “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”. (46). (Setelah pelayan itu berjumpa Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh lainnya kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya”. (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.(48) Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapi (tahun) sulit, kecuali sedikit dari bibit yang kamu simpan. (49) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur.
Peningkatan Pembangunan Ekonomi 1990-1997
Bila kita lihat pertumbuhan ekonomi di negara kita antara tahun 1990-1997, kita akan melihat bahwa, pembangunan ekonomi kita memang pas dan pantas diumpamakan seperti sapi gemuk-gemuk atau seperti 7 bulir gandum hijau saking melimpahnya produksi beras saat itu.
Dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Ed. 1-15 Desember 1997, Rudi Lengkong, seorang pengamat dalam wawancara tentang Perkembangan Eksport Handicraft Indonesia ke Manca Negara yang selalu berkembang (hlm. 10-11) mengatakan, setiap tahunnya jumlah nilai eksport tiap tahun rata-rata mencapai 3,5 USD. Dan sejak pertengahan tahun 1990 hingga saat ini (1997) mengalami kenaikan antara 10-15% /tahun. Negara kita, di masa-masa itu sedang menggalakkan program Swasembada Pangan di berbagai daerah.
Sedangkan pada tahun 1993, sebagaimana dilansir oleh Majalah Tempo Edisi 3 April 1993, ketika stok beras di Indonesia berlebih pemerintah sanggup mengeluarkan ratusan miliar rupiah untuk membeli gabah petani. Sehingga Badan Urusan Logistik Bulog kewalahan menampung hasil panen petani. Tahun 1991, tecatat 37.286 ton pembelian Bulog sementara produksi beras se Indonesia mencapai 1. 430.000 ton. Sedangkan pada tahun 1992, angka pembelian meningkat berkali-kali lipat menjadi 107.308 sementara produksi meningkat hampir dua kali lipat, 2,565 juta ton. Dan diproyeksikan pembelian Bulog untuk tahun 1993, mencapai 2 juta ton. Subhanallah.
Ekspor beras sampai April 1993 saja, masih menutur Tempo (3/4/93: hl.84) sudah dijanjikan kepada Bulog mencapai 200 ribu ton. Dari jumlah tersebut, 110-120 ribu ton sudah diekspor ke Afrika, Srilanka dan Eropa. Namun bila dipaksakan, harga yang diterima Bulog hanya Rp. 320/kg yang artinya Bulog rugi Rp. 280,-/kg. Bahkan, tahun-tahun selanjutnya, karena melimpahnya bahan pangan (beras) sampai Indonesia sanggup memberikan bantuan berupa beratus-ratus ton beras ke PBB .
Saran IMF
Firman Allah QS. 12, Yusuf: (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.
Ayat ini berisikan saran-saran Nabi Yusuf kepada Raja Mesir agar menahan diri untuk tidak memanen semua produksi gandum di saat mana tanda-tanda kekurangan pangan (defisit) mulai tampak. Dan hal itu disinyalir melalui mimpi raja berupa 7 ekor sapi gemuk memakan 7 ekor sapi kurus; 7 bulir gandum subur dan 7 bulir gandum kering. Hal itu dilakukan guna menghadapi masa-masa paceklik di masa selanjutnya.
Pengertian ayat ini, sama halnya dengan yang dikemukakan, Al Chaidar dalam Reformasi Prematur, bahwa ketika defisit transaksi berjalan Indonesia mulai meningkat pada 1995, kita masih bisa menghibur diri dengan masih mengalir masuknya modal asing (capital inflow).
Disebutkan AlChaidar, pada September 1996 tatkala Direktur Eksekutif IMF, Michael Camdessius berkunjung ke Indonesia, defisit ini juga terus meningkat, meski krisis moneter belum sampai meledak. Camdessius pun menyarankan agar Indonesia pandai-pandai menahan selama mungkin modal jangka pendek (short term capital) yang mengalir masuk. Syaratnya, iklim investasi di Indonesia harus kondusif. Itu berarti segala distorsi dihilangkan dan segala diskriminasi usaha (monopoli, monopsoni, fasilitas khusus) dihapus (1999: 167).
Saran Camdessius itu bukan tak beralasan, terbukti bahwa jauh sebelumnya, bahkan tahun 1992, Indonesia sudah mengalami defisit meskipun produksi meningkat tajam. Bulog sendiri, mengalami defisit Rp. 69 M. (Tempo: 3/4/93: hlm. 84).
Kata-kata “membiarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan” sebagaimana disebut ayat di atas menunjukkan, perlunya mempersiapkan cadangan devisa jangka penjang pada masa-masa pertumbuhan Ekonomi kita sedang meningkat. Sedangkan pemenuhan kebutuhan jangka pendek hanya dipergunakan sedikit dari produksi yang ada.
Reformasi IMF, sebagaimana dikemukakan Al Chaidar (1999) diharapkan muncul pengharapan baru, agar iklim berusaha lebih menjadi lebih kondusif. Kalau persyaratan ini dipenuhi, maka modal asing akan mengalir masuk, entah yang berjangka pendek (portofolio) maupun jangka panjang (investasi langsung). Para pelaku ekonomi harus menunggu implementasi memorandum oleh pemerintah.
Karena itu tulisnya, para pelaku ekonomi berharap agar kali ini pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan momentum memorandum. Jangan sampai terlepas lagi seperti hilangnya momentum letter of intent, oleh inkonsistensi kebijakan, misalnya soal pajal mobil nasional, keberadaan BPPC dan tata niaya kayu lapis.
Reformasi ekonomi ungkap Al-Chaidar lagi, dapat diibaratkan menanam sebagai menanam fondasi yang dapat menegakkan struktur unutk keperluan jangka panjang. Sementara untuk mengatasi masalah jangka pendeknya sebenarnya belum dapat ditanggulangi secara langsung dengan sekedar memorandum IMF.
Menurutnya, persoalan jang pendek pada dasarnya terletak pada dua hal. Pertama kelangkaan cadangan devisa yang terus tertekan. Kedua utang luar negeri yang jatuh tempo. Terhadap persoalan pertama, hanya ada satu solusi, yakni pencairan dana IMF dalam jumlah yang signifikan, dan dalam tempo yang cepat. Dana yang dibutuhkan ada pada IMF sekalipun sebahagian merupakan skema bantuan bilateral. Namun skema bilateral pun praktis menjadi multilateral dalam payung IMF, karena IMF beranggotakan 181 negara. Jadi, IMF kali ini memang pada posisi lender of the last resort, sebagai sumber pasokan devisa.
7 Tahun Krisis Ekonomi (1997-2004)
Tanggal 8 Juli 1997 merupakan awal dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Kurs Rupiah anjlok sampai Rp. 7.900 per Dolar AS. Inflasi tahun 1997 melesat 2 digit menjadi 11, 05 %…. Penting difahami tentang krisis moneter juga mewariskan sisa-sisa krisis fiskal pada awal 1980-an dan jauh lebih dahsyat dari anjloknya harga migas tahun 1980-an itu. Krisis moneter yang akhirnya menjadi krisis ekonomi ini diduga disebabkan ulah spekulan asing George Soros. Krisis ini terjadi juga dipicu dengan jatuh temponya hutang-hutang swasta jangka pendeek LN. Selanjutnya, 31 Oktober 1997 IMF mengumumkan paket bantuan keuangan senilai 23 M USD yang diberikan secara bertahap.
Dalam reformasi Prematur ditulis bahwa, seharusnya dunia melihat bahwa Indonesia mulai melakukan reformasi ekonomi pada November 1997, ketika Indonesia meminta pertolongen IMF dan IMF sepakat dengan pinjaman berikut segala persayaratan reformasinya. Tetapi kemudian diulur sampai pertengahan Januari 1998 yang lalu dikenal dengan reformasi ekomomi 50 pasal. Kesepakatan Final baru diumumkan 11 April 1998. Tak mengherankan bila ada pendapat bahwa tahun 1999, ekonomi Asia pulih kecuali Indonesia, bahkan untuk Thailand, Filiphina dan Malaysia tanpa meminta pertolongan IMF (AlCahidar: 1999 hl. 165).
Skenario ini hampir sama ketika, Nabi Yusuf AS menunda pemberian makanan kepada saudara-saudaranya yang datang dari luar negeri yang memohon makanan karena di daerahnya habis stok makanan. Lalu Yusuf mengajukan syarat agar membawa saudaranya yang bernama Benyamin kehadapannya. Lalu mereka meminta kepada Nabi Ya’Qub menolak mengizinkan Benyamin dibawa, sebab khawatir akan hilang seperti hilangnya Yusuf ketika masih kecil.
Kekurangan Pangan
Di bidang ekonomi, apa yang terjadi sejak tahun 1997 sampai penghujung 2003 ini tampak jelas bahwa, apa yang kita hasilkan sejak tahun 1990-1997 (7 tahun) tak berarti apa-apa, persis seperti “dimakan” oleh kesulitan (krisis) yang dialami 7 tahun berikutnya. Penulis meyakini bahwa, inilah yang disebutkan Allah, 7 sapi gemuk memakan sapi kurus lewat kisah Nabi Yusuf di atas. Beras yang kita eksport ke sejumlah di Afrika dan Eropa, juga ke Srilanka ditambah beras yang kita sumbangkan pada PBB masa-masa sepanjang 1990-1997, ternyata tidak lebih sedikit bila dibanding beras yang kita import dari negara-negara seperti Thailand, India dan Vietnam dan sebagainya sejak krisis ekonomi 1997. Di beberapa daerah di Indonesia yang dulunya menjadi daerah swasembada pangan bahkan sekarang ini menjadi daerah kering dan warganya kekurangan pangan.
Di Sumut Misalnya, daerah Deli Serdang yang dulunya termasuk terkenal sebagai daerah swasembada pangan berskala nasional, saat ini kekurangan pangan pada masa-masa tertentu, karena puluhan ribu sawah dan lahan pertanian terlantar. Hal ini dinilai, meskipun masih menghasilkan surplus Beras, produksi beras Deli Serdang dinilai tidak teralokasikan dengan baik akibat adanya permainan ekonomi dan kurang tanggapnya lembaga Badan ketahanan Pangan atau Dinas Pertanian dalam persoalan ini.
Akhir 2004, Keluar dari Krisis Ekonomi
Firman Allah QS Yusuf, (49) “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur” menyiratkan bahwa, setelah tujuh tahun masa krisis ekonomi berakhir (pertengahan 2004), akan datang tahun yang bercukupan pangan. Selain itu ayat ini juga menyiratkan bahwa akan banyak dibuka lapangan kerja pada tahun-tahun itu, sebagaimana pengertian al-‘Asr selain dapat diartikan memeras anggur dapat pula diartikan, bekerja keras.
Maha benar Allah yang telah mendudukkan Nabi Yusuf Alaihis Salam yang sangat bisa dipercaya lagi bijaksana sebagai pemegang lumbung pangan. Sementara. Dan Indonesia merindukan sosok seperti Yusuf AS, sehingga tidak terjadi lagi apa yang namanya Bologgate, tidak tampak lagi rakyat rame-rame memeras keringat, mengemis bahkan ada yang dianiaya, jadi pelacur ke negara tetangga dekat dan jauh demi sesuap nasi. Sehingga pada Oktober 2004 nanti, insya Allah ekonomi kita akan berangsur bisa pulih, meskipun perlu banyak yang harus kita korbankan untuk itu. Dan setelah kita mengetahui sebahagian rahasia-rahasia ilmu Allah dalam al-Qur’an ini, semoga kita mau kembali kepada al-Qur’an. Fa’tabiru ya ulil Albab.
Gesekan Hak Vs. Batil Dari Penangkapan Aktivis Islam, sampai Penggelapan Dana Haji
Awal tahun 2003 ditandai dengan penangkapan sejumlah aktivis Islam dengan berbagai tuduhan, akhir tahunnya ditandai dengan kecewanya para jemaah haji yang sudah ber“iya-iya” mau berangkat. Itu untuk skala nasional. Untuk scope daerah Sumut, khususnya kota Medan sendiri, tahun 2003 diakhiri dengan mencuatnya “persoalan” raibnya milyaran rupiah dana bantuan bagi jemaah haji yang direncanakan –ada yang mengatakan dijanjikan- oleh Pak “Wali” akan dibagi-bagikan kepada seluruh jamaah pada saat menjelang keberangkatan dari tanah air menuju tanah suci. Berbagai dugaan bermunculan dari tengah-tengah pluralitas masyarakat kota Medan.
Ada yang menduga dana itu “dipinjam”, Tapi ada yang mengatakan dana yang berjumlah 250 Riyal atau Rp. 1 Miliar lebih itu “dicuri”. Setelah 7000-an calon jemaah haji Sumut gagal berangkat, sekali lagi, jemaah haji kota Medan kecewa. Umat Islam ikut kecewa. Bantuan yang setidaknya dapat membantu meringankan beban jemaah dalam menjalankan ibadah fisik-mental spiritual itu, tak dapat mereka nikmati gara-gara ulah beberapa “kepala” yang akibat ulahnya nampak, tapi makhluknya masih “gaib” dan gentayangan di Kota Medan, walaupun belakangan ada yang disebut-sebut sebagai calon tersangka.
Belum lagi babak demi babak, proses demi proses yang terjadi sepanjang tahun yang dialami umat Islam (termasuk warga muslim kota Medan) seharusnya membuat umat Islam membuka mata. Mengapa kita bangsa Indonesia yang berpopulasi penganut Islam terbesar di dunia, bahkan mungkin terbanyak sepanjang sejarah manusia, tetapi justeru menjadi bangsa yang mempunyai koruptor terbanyak, penggarap anak kandung terbanyak, pembunuh tersadis, dunia mistik terheboh dan ter-ter lainnya. Kenapa umat Islam menjadi “bulan-bulanan”, jadi “target” dan masih banyak jauh tertinggal, dari banyak sisi? Inilah sepenggal pangkal dan ujung kisah yang dapat dijadikan refleksi.
Refleksi 2003, Hak Vs. Batil
Sebenarnya sudah tampak jelas, tahun 2003 menjadi tahun transisi. Di satu sisi yang “haq”, Islam yang sebenar-benar Islam, yang hakiki tanpa atribut, tanpa “cover”, sedang menggeliat menuju kebangkitan. Hal itu disinyalir dari semakin merambahnya kekuatan dakwah Islam ke berbagai komponen bangsa di semua sektor dan keahlian, baik dari kalangan sipil maupun militer.
Di sisi lain, sebahagian yang masih ber-KTP Islam tetapi masih tetap “diliputi dosanya” atau mereka sudah terlalu sulit menarik diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini terus mereka lakukan. Kaum yang sepintas kelihatan seperti bagian dari umat Islam ini “insya Allah” akan hancur.
Kenapa demikian? Karena Allah berkehendak supaya memisahkan para pencandu yang “batil-batil” ini dari penegak yang Haq tadi, sehingga kekuatan Islam tidak bercampur dengan kekuatan batil. Sebab logikanya, Haq ditambah batil sama dengan batil. Pada akhirnya, komunitas yang diridhoi akan tetap terbimbing membangun kembali bangsa dan negara yang mereka cintai ini dengan landasan yang Haq, sementara yang batil-batil tadi akan saling makan, saling cakar, saling fitnah, saling bunuh dan saling hancur mengancurkan. Mereka kelihatan bersatu dalam satu “bendera” tapi sebenarnya hati mereka berpecah belah. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pertentangan intern di kalangan mereka itu.
Firman Allah: “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan yang bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dibalik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu hati sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti” (QS. 59:14).
Ayat di atas mengingatkan, begitu pun banyaknya kelompok dan golongan yang berisi orang-orang yang Islamo fobia, antek-antek yahudi, kaum sekularis yang berbaju nasionalis dan sosialis, namun tidak sekalipun mereka pernah berani secara terbuka dan serentak melakukan perlawanan terhadap Islam, apalagi menghancurkan Islam. Banyak kepentingan yang mengganggu mereka. Idealisme mereka semu. Solidaritas mereka lemah. Itulah makanya, Islam hanya sering dipojokkan dengan cara fitnah, ditangkap tanpa bukti. Dituduh tanpa dasar. Biasanya, ini dilakukan dengan cara mencari kambing hitam, mencari “pion” yang bisa dikorbankan.
Penulis melihat, sepanjang tahun 2003, pergesekan-pergesekan antara kedua kubu (Haq-batil) ini mulai nampak di tengah-tengah kita, bahkan sepertinya sempat menimbulkan percikan-percikan kecil. Barangkali, tidak tertutup kemungkinan pada tahun 2004 gesekan-gesekan itu secara akumulatif akan semakin membesar dan akan menimbulkan percikan yang lebih besar. Namun, sebagai seorang yang beriman perlu diyakini, Allah pasti melindung yang Haq.
Haq jangan disembunyikan tapi juga tidak perlu dimuncul-munculkan, sebab yang Haq pasti akan muncul dengan sendirinya. Yang batil tidak perlu dihancurkan, karena yang batil itu akan hancur dengan sendirinya juga. Itulah makanya ayat Allah yang menjelaskan “Katakanlah: Yang haq telah datang dan yang batil telah hancur, sesungguhnya yang batil itu pasti hancur”.(QS. 17: 81) berbentuk “bina lazim” bukan “bina muta’addi”, artinya Allah tidak menjelaskan sama sekali yang menghancurkan yang batil itu adalah yang Haq, apalagi tak satu pun ayat yang memerintahkan kita untuk menghancurkan yang batil. Ayat Allah justeru memerintahkan kita agar memisahkan diri dari yang batil. Sebab kalau kita bercampur dengan yang batil-batil, kita digolongkan batil.
Firman Allah: “Janganlah kamu campuradukkan yang Hak dan batil sementara yang Hak kamu sembunyikan sedangkan kamu mengetahuinya” (QS. 2: 42).
2004, Perubahan Cepat: “Menarik Diri” atau Hancur !
Rakyat Indonesia khususnya umat Islam di masa sekarang ini ibarat sedang kembali digodok dalam sebuah kancah perubahan yang sangat cepat. Kita melihat dari waktu ke waktu, terjadi banyak perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan sosial, baik itu berubahnya persepsi masyarakat dalam memandang dunia politik, dunia Islam, dunia barat dan sebagainya. Dari perubahan pemikiran dan pandangan ini perlu dimatangkan lagi, perlu digodok lagi sampai umat Islam dan rakyat Indonesia umumnya dapat menjadi bangsa yang dewasa. Dewasa dalam menyelesaikan persoalan, dewasa dalam menyikapi keadaan dan sebagainya.
Kendati demikian, perlu digarisbawahi, perubahan adalah sesuatu yang direncanakan dan diproses secara matang. Sedikit saja terlambat di masa-masa seperti sekarang ini, jangan harap dapat mengejarnya dalam waktu yang singkat.
Oleh karena itu, tahun 2003 telah berlalu. Perlu diadakan muhasabah, (evaluasi) sudah sejauh mana kita memisahkan diri dari yang batil, sejauh mana pula kita telah mengintegrasikan segenap jiwa raga kita kepada yang Haq. Bila yang batil belum terpisah dari sekeliling kita, berarti tinggal menunggu giliran. Sekeliling kita sewaktu-waktu pasti siap membinasakan kita. Tak peduli kita salah atau tidak, tetap jadi korban.
Sebaliknya bila yang Haq sudah menyatu dalam kehidupan kita, al-Qur’an dan Sunnah sudah jadi kebutuhan hidup sehari-hari, alhamdulillah, berarti kita telah bersiap-siap menerima tiga hal dari Allah, rezki yang mulia, ampunan dan derajat kemenangan. Sebab di sekeliling kita sewaktu-waktu pasti siap mengembangkan potensi kita.
Selain itu, aktivis yang ditangkapi awal tahun lalu bila benar bersalah, semoga disadarkan Allah untuk bisa kembali ke jalan benar. Tetapi bila tidak benar bersalah melainkan hanya korban fitnah keji, insya Allah 2004 Allah akan tunjukkan jawabnya. Siapa yang menabur fitnah, pasti menuai “fitnah besar” dan makan fitnah.
Bagi para 30.000 jemaah haji yang tidak jadi berangkat, perlu diingatkan. Semua ini ujian dari Allah. Allah SWT tidak pernah menganiaya hamba-Nya. Niat kita tetap akan disampaikan Allah. Walaupun kita tak jadi berangkat ke Makkah, barangkali Allah sudah mengutus malaikat “dengan menyerupai wajah kita atau tidak” untuk menghajikan kita. Karena ini terjadi setiap musim haji. Tiga hari terakhir, para jemaah dari beberapa kelompok terbang sudah berangkat. Kita doakan mereka. Ikhlaskan menerima ujian ini. Barangkali, saat jemaah haji yang berangkat tahun ini juga menemukan “kita” di sana.
Ada yang menduga dana itu “dipinjam”, Tapi ada yang mengatakan dana yang berjumlah 250 Riyal atau Rp. 1 Miliar lebih itu “dicuri”. Setelah 7000-an calon jemaah haji Sumut gagal berangkat, sekali lagi, jemaah haji kota Medan kecewa. Umat Islam ikut kecewa. Bantuan yang setidaknya dapat membantu meringankan beban jemaah dalam menjalankan ibadah fisik-mental spiritual itu, tak dapat mereka nikmati gara-gara ulah beberapa “kepala” yang akibat ulahnya nampak, tapi makhluknya masih “gaib” dan gentayangan di Kota Medan, walaupun belakangan ada yang disebut-sebut sebagai calon tersangka.
Belum lagi babak demi babak, proses demi proses yang terjadi sepanjang tahun yang dialami umat Islam (termasuk warga muslim kota Medan) seharusnya membuat umat Islam membuka mata. Mengapa kita bangsa Indonesia yang berpopulasi penganut Islam terbesar di dunia, bahkan mungkin terbanyak sepanjang sejarah manusia, tetapi justeru menjadi bangsa yang mempunyai koruptor terbanyak, penggarap anak kandung terbanyak, pembunuh tersadis, dunia mistik terheboh dan ter-ter lainnya. Kenapa umat Islam menjadi “bulan-bulanan”, jadi “target” dan masih banyak jauh tertinggal, dari banyak sisi? Inilah sepenggal pangkal dan ujung kisah yang dapat dijadikan refleksi.
Refleksi 2003, Hak Vs. Batil
Sebenarnya sudah tampak jelas, tahun 2003 menjadi tahun transisi. Di satu sisi yang “haq”, Islam yang sebenar-benar Islam, yang hakiki tanpa atribut, tanpa “cover”, sedang menggeliat menuju kebangkitan. Hal itu disinyalir dari semakin merambahnya kekuatan dakwah Islam ke berbagai komponen bangsa di semua sektor dan keahlian, baik dari kalangan sipil maupun militer.
Di sisi lain, sebahagian yang masih ber-KTP Islam tetapi masih tetap “diliputi dosanya” atau mereka sudah terlalu sulit menarik diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini terus mereka lakukan. Kaum yang sepintas kelihatan seperti bagian dari umat Islam ini “insya Allah” akan hancur.
Kenapa demikian? Karena Allah berkehendak supaya memisahkan para pencandu yang “batil-batil” ini dari penegak yang Haq tadi, sehingga kekuatan Islam tidak bercampur dengan kekuatan batil. Sebab logikanya, Haq ditambah batil sama dengan batil. Pada akhirnya, komunitas yang diridhoi akan tetap terbimbing membangun kembali bangsa dan negara yang mereka cintai ini dengan landasan yang Haq, sementara yang batil-batil tadi akan saling makan, saling cakar, saling fitnah, saling bunuh dan saling hancur mengancurkan. Mereka kelihatan bersatu dalam satu “bendera” tapi sebenarnya hati mereka berpecah belah. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pertentangan intern di kalangan mereka itu.
Firman Allah: “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan yang bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dibalik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu hati sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti” (QS. 59:14).
Ayat di atas mengingatkan, begitu pun banyaknya kelompok dan golongan yang berisi orang-orang yang Islamo fobia, antek-antek yahudi, kaum sekularis yang berbaju nasionalis dan sosialis, namun tidak sekalipun mereka pernah berani secara terbuka dan serentak melakukan perlawanan terhadap Islam, apalagi menghancurkan Islam. Banyak kepentingan yang mengganggu mereka. Idealisme mereka semu. Solidaritas mereka lemah. Itulah makanya, Islam hanya sering dipojokkan dengan cara fitnah, ditangkap tanpa bukti. Dituduh tanpa dasar. Biasanya, ini dilakukan dengan cara mencari kambing hitam, mencari “pion” yang bisa dikorbankan.
Penulis melihat, sepanjang tahun 2003, pergesekan-pergesekan antara kedua kubu (Haq-batil) ini mulai nampak di tengah-tengah kita, bahkan sepertinya sempat menimbulkan percikan-percikan kecil. Barangkali, tidak tertutup kemungkinan pada tahun 2004 gesekan-gesekan itu secara akumulatif akan semakin membesar dan akan menimbulkan percikan yang lebih besar. Namun, sebagai seorang yang beriman perlu diyakini, Allah pasti melindung yang Haq.
Haq jangan disembunyikan tapi juga tidak perlu dimuncul-munculkan, sebab yang Haq pasti akan muncul dengan sendirinya. Yang batil tidak perlu dihancurkan, karena yang batil itu akan hancur dengan sendirinya juga. Itulah makanya ayat Allah yang menjelaskan “Katakanlah: Yang haq telah datang dan yang batil telah hancur, sesungguhnya yang batil itu pasti hancur”.(QS. 17: 81) berbentuk “bina lazim” bukan “bina muta’addi”, artinya Allah tidak menjelaskan sama sekali yang menghancurkan yang batil itu adalah yang Haq, apalagi tak satu pun ayat yang memerintahkan kita untuk menghancurkan yang batil. Ayat Allah justeru memerintahkan kita agar memisahkan diri dari yang batil. Sebab kalau kita bercampur dengan yang batil-batil, kita digolongkan batil.
Firman Allah: “Janganlah kamu campuradukkan yang Hak dan batil sementara yang Hak kamu sembunyikan sedangkan kamu mengetahuinya” (QS. 2: 42).
2004, Perubahan Cepat: “Menarik Diri” atau Hancur !
Rakyat Indonesia khususnya umat Islam di masa sekarang ini ibarat sedang kembali digodok dalam sebuah kancah perubahan yang sangat cepat. Kita melihat dari waktu ke waktu, terjadi banyak perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan sosial, baik itu berubahnya persepsi masyarakat dalam memandang dunia politik, dunia Islam, dunia barat dan sebagainya. Dari perubahan pemikiran dan pandangan ini perlu dimatangkan lagi, perlu digodok lagi sampai umat Islam dan rakyat Indonesia umumnya dapat menjadi bangsa yang dewasa. Dewasa dalam menyelesaikan persoalan, dewasa dalam menyikapi keadaan dan sebagainya.
Kendati demikian, perlu digarisbawahi, perubahan adalah sesuatu yang direncanakan dan diproses secara matang. Sedikit saja terlambat di masa-masa seperti sekarang ini, jangan harap dapat mengejarnya dalam waktu yang singkat.
Oleh karena itu, tahun 2003 telah berlalu. Perlu diadakan muhasabah, (evaluasi) sudah sejauh mana kita memisahkan diri dari yang batil, sejauh mana pula kita telah mengintegrasikan segenap jiwa raga kita kepada yang Haq. Bila yang batil belum terpisah dari sekeliling kita, berarti tinggal menunggu giliran. Sekeliling kita sewaktu-waktu pasti siap membinasakan kita. Tak peduli kita salah atau tidak, tetap jadi korban.
Sebaliknya bila yang Haq sudah menyatu dalam kehidupan kita, al-Qur’an dan Sunnah sudah jadi kebutuhan hidup sehari-hari, alhamdulillah, berarti kita telah bersiap-siap menerima tiga hal dari Allah, rezki yang mulia, ampunan dan derajat kemenangan. Sebab di sekeliling kita sewaktu-waktu pasti siap mengembangkan potensi kita.
Selain itu, aktivis yang ditangkapi awal tahun lalu bila benar bersalah, semoga disadarkan Allah untuk bisa kembali ke jalan benar. Tetapi bila tidak benar bersalah melainkan hanya korban fitnah keji, insya Allah 2004 Allah akan tunjukkan jawabnya. Siapa yang menabur fitnah, pasti menuai “fitnah besar” dan makan fitnah.
Bagi para 30.000 jemaah haji yang tidak jadi berangkat, perlu diingatkan. Semua ini ujian dari Allah. Allah SWT tidak pernah menganiaya hamba-Nya. Niat kita tetap akan disampaikan Allah. Walaupun kita tak jadi berangkat ke Makkah, barangkali Allah sudah mengutus malaikat “dengan menyerupai wajah kita atau tidak” untuk menghajikan kita. Karena ini terjadi setiap musim haji. Tiga hari terakhir, para jemaah dari beberapa kelompok terbang sudah berangkat. Kita doakan mereka. Ikhlaskan menerima ujian ini. Barangkali, saat jemaah haji yang berangkat tahun ini juga menemukan “kita” di sana.
Krisis Iman dan Lemahnya Kesadaran Sosial
Oleh : Jufri Bulian Ababil
Bila dicermati lebih mendalam pola hidup kita selaku umat beragama, khususnya kita yang menganut agama Islam atau minimal yang mengaku muslim, tampaklah jelas tidak sedikit diantara kita yang muslim kuatitatif, bukan kualitas, artinya islam hanya kulit dengan pemahaman yang sekedar tahu saja, sehingga belum memiliki kesadaran yang memadai untuk dapat dikatakan seorang yang beriman atau mukmin. Firman Allah: "Dan diantara manusia itu ada yang menyembah Allah dipinggir-pinggir saja." (QS : 22 : 13)
Mengapa kesadaran yang memadai merupakan tolak ukur dari keimanan atau aqidah memang begitulah semestinya. Bila mungkin pengertian kesadaran itu adalah aqidah/iman dan itu dapat kita terima, mengapa tidak ? mengapa kita tidak berani menerjemahkan kata IMAN itu kepada bahasa indonesia yang kaya dan kita bangga-banggakan dengan sebuah kata SADAR. Mengapa kita tidak berani, sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri jelas-jelas membuka jalan pengertian kearah itu, Sabda Beliau : "Iman itu ialah mengenal dengan hati, mengucapkan dengan lidah, dan berbuat dengan anggota tubuh" (HR Tabrani & Ali bin Abi Thalib). "Iman itu ialah bahwa engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, kadar baik dan buruk. (HR. Muslim dari Umar Bin Khatab).
Pada dua defenisi berdasarkan kedua hadist diatas memang sangat sulit bagi kita untuk memastikan iman adalah kesadaran, namun mari kita telusuri berbagai hadist-hadist lain yang menjelaskan secara exsplisit mengenai cabang-cabang keimanan yang selanjutnya kita sebut saja, aspek-aspek kesadaran.
Iman dan Kesadaran
Dalam berbagai hadist saheh dan terpercaya, nabi kita Muhammad SAW menyebutkan bahwa ada 70 cabang iman ( baca : aspek kesadaran ), daimana yang paling utama ialah kalimat Laila Haillallah dan paling sederhana membuang duri dari jalan umum. Dalam riwayat lain pula menyebutkan ada 60 cabang. Sabda nabi Muhammad SAW : "Iman itu terdiri dari 60 cabang. Dan rasa malu adalah satu cabang dari iman". ( HR. Bukhari dari Abu Hurairah ).
Keenam puluh aspek kesadaran itu sebagian besar menyoroti permasalahan sosial. Adapun kesadaran ritual dalam hal ini tentu tidak dibahas. Disini akan diuraikan 5 diantara 9 aspek-aspek kesadaran yang dinilai amat penting untuk kita renungkan antara lain :
Iman dan Rasa Malu.
Sabda Rasul : "rasa malu dan iman itu saling berkaitan erat, apabila hilang salah satu maka hilanglah yang lainnya" (HR. Abu Nain dari Ibn. Umar). Hadist Nabi yang lain : "malu itu satu cabang dari iman". Bila kita perhatiakn perkembangan masyarakat akhir-akhir ini, praktek maksiat telah dapat dikatakan gila-gilaan tanpa menyisakan sedikitpun rasa malu. Kita masih ingat dulu sewaktu orde baru, seorang koruptor masih malu unjuk muka didepan publik lalu berbicara soal kejujuran dan menyelamatkan bangsa. Majalah atau surat kabar porno masih lebih mencetak dan menerbitkan majalah dan korannya. Tapi sekarang masyaAllah! Orang sudah terang-terangan mempertontonkan aurat diberbagai bentuk media, orang sudah tidak malu-malu lagi mengkomersilkan diri. Apakah barang kali setanpun merasa malu melihat sepak terjang kebanyakan kita dalam melakukan dosa jangankan malu kepada Allah, kepada orang lain, kepada keluarga sendiripun rasa malunya nyaris pupus lalu diamana kita dapat melihat tanda-tanda keimanan itu hari ini ?.
Iman dan Kebersihan Lingkungan.
Sabda Rasulullah SAW : "dan kebersiahan itu adalah sebahagian dari iman". Kalau kesadaran hidup bersih benar-benar tertanam bersama keimanan kita tak mungkin ada sampah yang berserakan disegala pelosok kota-kota (sama saja ). Tentu dinas kebersihan kota akan terbantu tugasnya. Namun karena lemahnya kesadaran kita tumpukan sampah justru menjadi santapan sehari-hari yang baunya tidak sedap tidak lagi mampu membuat kita terpolusi karena sudah terbiasa. Wajar bila got atau parit sampah tersumbat sampah sehingga setiap hujan menjadi banjir.
Iman dan Solidaritas Umat Islam.
Sabda Rasul SAW: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain menguatkan". (HR. Bukhari Muslim dari Abu Musa). Ada orang yang mengatakan, dari dulu bangsa kita ini suka main keroyok. Siapa yang duduk paling atas, dia akan dikeroyok. Bila tidak lagi mampu mengeroyok karena terlalu kuat, satu-satunya jalan yang ditempuh, yakni yang sudah mudah tidak asing lagi, menjilat. Apakah omongan itu benar, sebagian kita pun mungkin sama-sama tahu. Kapan umat Islam dapat kuat, bila bersatu hanya demi kepentingan sesaat, hanya demi kepentingan oknum-oknum tertentu. Bukan untuk izzul Islam, tetapi untuk Izzul organisasi masing-masing.
Iman dan Mengutamakan Diam Ketimbang Omong (Sok Tau).
Sabda Nabi SAW: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya, dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berkata yang baik (tidak membikin resah) atau (kalau tidak bisa maka lebih baik diam)". (HR Bukhari Muslim dari abu Hurairah).
Iman dan Tidak Melakukan Kebohongan Publik.
Sabda Nabi SAW: "Jauhi kamulah dusta, karena sesungguhnya dusta itu mengikis keimanan". (HR. Ahmad). Mungkin banyak di antara kita yang benar-benar pernah menelan berbagai bentuk pembohongan publik. Tak usahlah kita buka lembaran-lembaran politik masa lalu, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sekarang saja msih banyak pembohongan publik/ penipuan dengan modus operandi penerimaan TKW tetapi malah dijadikan "korban kejahatan seksual" dengan diperdagangkan secara gelap di mancanegara. Begitu juga praktek pemalsuan ijazah untuk dapat masuk ke suatu instansi, pemberitaan yang sepihak (tanpa receck) dan dibumbu-bumbui sehingga mencoreng nama baik dunia jurnalistik dan sebagainya.
Bila dicermati lebih mendalam pola hidup kita selaku umat beragama, khususnya kita yang menganut agama Islam atau minimal yang mengaku muslim, tampaklah jelas tidak sedikit diantara kita yang muslim kuatitatif, bukan kualitas, artinya islam hanya kulit dengan pemahaman yang sekedar tahu saja, sehingga belum memiliki kesadaran yang memadai untuk dapat dikatakan seorang yang beriman atau mukmin. Firman Allah: "Dan diantara manusia itu ada yang menyembah Allah dipinggir-pinggir saja." (QS : 22 : 13)
Mengapa kesadaran yang memadai merupakan tolak ukur dari keimanan atau aqidah memang begitulah semestinya. Bila mungkin pengertian kesadaran itu adalah aqidah/iman dan itu dapat kita terima, mengapa tidak ? mengapa kita tidak berani menerjemahkan kata IMAN itu kepada bahasa indonesia yang kaya dan kita bangga-banggakan dengan sebuah kata SADAR. Mengapa kita tidak berani, sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri jelas-jelas membuka jalan pengertian kearah itu, Sabda Beliau : "Iman itu ialah mengenal dengan hati, mengucapkan dengan lidah, dan berbuat dengan anggota tubuh" (HR Tabrani & Ali bin Abi Thalib). "Iman itu ialah bahwa engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, kadar baik dan buruk. (HR. Muslim dari Umar Bin Khatab).
Pada dua defenisi berdasarkan kedua hadist diatas memang sangat sulit bagi kita untuk memastikan iman adalah kesadaran, namun mari kita telusuri berbagai hadist-hadist lain yang menjelaskan secara exsplisit mengenai cabang-cabang keimanan yang selanjutnya kita sebut saja, aspek-aspek kesadaran.
Iman dan Kesadaran
Dalam berbagai hadist saheh dan terpercaya, nabi kita Muhammad SAW menyebutkan bahwa ada 70 cabang iman ( baca : aspek kesadaran ), daimana yang paling utama ialah kalimat Laila Haillallah dan paling sederhana membuang duri dari jalan umum. Dalam riwayat lain pula menyebutkan ada 60 cabang. Sabda nabi Muhammad SAW : "Iman itu terdiri dari 60 cabang. Dan rasa malu adalah satu cabang dari iman". ( HR. Bukhari dari Abu Hurairah ).
Keenam puluh aspek kesadaran itu sebagian besar menyoroti permasalahan sosial. Adapun kesadaran ritual dalam hal ini tentu tidak dibahas. Disini akan diuraikan 5 diantara 9 aspek-aspek kesadaran yang dinilai amat penting untuk kita renungkan antara lain :
Iman dan Rasa Malu.
Sabda Rasul : "rasa malu dan iman itu saling berkaitan erat, apabila hilang salah satu maka hilanglah yang lainnya" (HR. Abu Nain dari Ibn. Umar). Hadist Nabi yang lain : "malu itu satu cabang dari iman". Bila kita perhatiakn perkembangan masyarakat akhir-akhir ini, praktek maksiat telah dapat dikatakan gila-gilaan tanpa menyisakan sedikitpun rasa malu. Kita masih ingat dulu sewaktu orde baru, seorang koruptor masih malu unjuk muka didepan publik lalu berbicara soal kejujuran dan menyelamatkan bangsa. Majalah atau surat kabar porno masih lebih mencetak dan menerbitkan majalah dan korannya. Tapi sekarang masyaAllah! Orang sudah terang-terangan mempertontonkan aurat diberbagai bentuk media, orang sudah tidak malu-malu lagi mengkomersilkan diri. Apakah barang kali setanpun merasa malu melihat sepak terjang kebanyakan kita dalam melakukan dosa jangankan malu kepada Allah, kepada orang lain, kepada keluarga sendiripun rasa malunya nyaris pupus lalu diamana kita dapat melihat tanda-tanda keimanan itu hari ini ?.
Iman dan Kebersihan Lingkungan.
Sabda Rasulullah SAW : "dan kebersiahan itu adalah sebahagian dari iman". Kalau kesadaran hidup bersih benar-benar tertanam bersama keimanan kita tak mungkin ada sampah yang berserakan disegala pelosok kota-kota (sama saja ). Tentu dinas kebersihan kota akan terbantu tugasnya. Namun karena lemahnya kesadaran kita tumpukan sampah justru menjadi santapan sehari-hari yang baunya tidak sedap tidak lagi mampu membuat kita terpolusi karena sudah terbiasa. Wajar bila got atau parit sampah tersumbat sampah sehingga setiap hujan menjadi banjir.
Iman dan Solidaritas Umat Islam.
Sabda Rasul SAW: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain menguatkan". (HR. Bukhari Muslim dari Abu Musa). Ada orang yang mengatakan, dari dulu bangsa kita ini suka main keroyok. Siapa yang duduk paling atas, dia akan dikeroyok. Bila tidak lagi mampu mengeroyok karena terlalu kuat, satu-satunya jalan yang ditempuh, yakni yang sudah mudah tidak asing lagi, menjilat. Apakah omongan itu benar, sebagian kita pun mungkin sama-sama tahu. Kapan umat Islam dapat kuat, bila bersatu hanya demi kepentingan sesaat, hanya demi kepentingan oknum-oknum tertentu. Bukan untuk izzul Islam, tetapi untuk Izzul organisasi masing-masing.
Iman dan Mengutamakan Diam Ketimbang Omong (Sok Tau).
Sabda Nabi SAW: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya, dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berkata yang baik (tidak membikin resah) atau (kalau tidak bisa maka lebih baik diam)". (HR Bukhari Muslim dari abu Hurairah).
Iman dan Tidak Melakukan Kebohongan Publik.
Sabda Nabi SAW: "Jauhi kamulah dusta, karena sesungguhnya dusta itu mengikis keimanan". (HR. Ahmad). Mungkin banyak di antara kita yang benar-benar pernah menelan berbagai bentuk pembohongan publik. Tak usahlah kita buka lembaran-lembaran politik masa lalu, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sekarang saja msih banyak pembohongan publik/ penipuan dengan modus operandi penerimaan TKW tetapi malah dijadikan "korban kejahatan seksual" dengan diperdagangkan secara gelap di mancanegara. Begitu juga praktek pemalsuan ijazah untuk dapat masuk ke suatu instansi, pemberitaan yang sepihak (tanpa receck) dan dibumbu-bumbui sehingga mencoreng nama baik dunia jurnalistik dan sebagainya.
Subscribe to:
Posts (Atom)