Thursday, 21 May 2009

Gelar dan Nilai Seorang Kepala Negara: Manifesto Politik Surat 110, al-Lahab ayat 1-5

Bila ditelusuri lebih jauh makna-makna dalam al-Quur’an baik melalui kacamata sejarah, sosial budaya, sains dan teknologi, niscaya akan banyak ditemukan berbagai kandungan ayat yang bersisi segala hal yang tak terhitung banyaknya sesuai dengan susut pandang yang digunakan.
Ditinjau dari segi politik, surat al-Lahab mempunyai sejumlah konsep yang dapat dijadikan paradigma berpolitik, karena banyak faktor-faktor pelanggengan kekuasaan, teknik hagemoni dan sebagainya terkandung dari ayat-ayarnya.

Dari sejumlah kalimatnya saja, terdapat beberapa kata kunci (keyterms) yang dapat dimaknai ke arah itu, antara lain: “Yada_ni” yang berarti kedua tangan; Abu Labah, artinya “Bapak Gejolak”; al-Mal, berarti harta (materi); “Kasab” berarti upaya atau usaha; “Hammalah al-Hatob” yang artinya, pembawa kayu bakar dan “al-Masad” yang dapat berarti belenggu karena dikaitkan dengan kata sebelumnya “Jie_d” yang berarti leher.Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat al-Lahab (110): (1) Celakalah kedua tangan Abu Lahab maka celakalah ia (2) Tiada akan bermanfaat dari padanya hartanya dan apa yang ia usahakan (3) Kami akan melemparkannya ke dalam api yanbg menyala-nayala (4) Dan isterinya adalah pembawa kayu bakar (5) Di lehernya ada tali dari belenggu neraka”.

1. Kekuasaan

Pada ayat pertama yang berbunyi: “Celakalah kedua tangan Abu Lahab maka celakalah ia” menyiratkan bahwa Abu Lahab sebagai seorang pemimpin yang menggunakan kedua tangannya untuk menghalang-halangi Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah pernah dilempari tahi onta oleh Abu Lahab pada saat beliau Sholat, mau dibunuh dan sebagainya. Kiranya, manalah mungkin Abu Lahab berani mengacung-acungkan tangan kalau dia orang yang biasa-biasa saja seperti tukang beca, Jufri atau petugas kebersuhan (cleaning service/office boy) yang tak punya pengaruh apa-apa. Tentunya, arogansi muncul karena kedua tangannya punya kekuatan tertentu.

Asbabun Nuzul surat ini adalah ketika Rasulullah berdakwah kepada pemuka-pemuka Qabilah (suku) Quraisy, khususnya di tengah-tengah pihak keluarganya dari Bani (keturunan) Hasyim. Abu Lahab tiba-tiba mengacung-acungkan tangan, menonjok-nonjok sambil mencerca beliau, “Celaka Muhammad…Celaka Muhammad”. Maka turunlah ayat ini sebagai dukungan psikologis dari Allah kepada Rasulullah SAW, bahwa sebenarnya yang celaka adalah Abu Lahab.
Abu Lahab sendiri adalah gelar atau laqob yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab. Sehingga nama sebenarnya malah sulit ditemukan karena saking popolernya gelar yang diberikan kepadanya. Misalnya, Abu Jahal yang berarti Bapak Kebodohan adalah gelar bagi Umar Bin Hisyam, selain juga digelar sebagai Abu Hukkam atau Bapak kebijaksanaan, ketika jaya-jayanya dia berkuasa di Makkah saat itu. Padahal Umar Bin Hisyamlah namanya yang sesungguhnya.

Demikian pula Abu Thalib yang berarti Bapak Pelajar, disebabkan ketinggian ilmu dan keluasan wawasan yang dimilikinya saat itu, sehingga dia dikagumi dan disegani sebagai tokoh intelektual di masanya. Begitu pun dengan Abu Hurairah yang berarti Bapak Kucing, karena kebiasaannya memelihara kucing, sehingga rumahnya dipenuhi bayak kucing.

Ayat ini mengandung makna yang umum, artinya bukan hanya Abu Lahab saja yang celaka namun setiap orang yang menghalang-halangi dakwah Islam pasti akan dicelakakan Allah sesuai dengan kaidah Ushul “Al-Ibratu bi umumil lafzhi la bi khusususis Sababi”; artinya, pelajaran diambil dari umumnya lafazh, bukan dari sebab yang khusus (dikarenakan sebab tertentu).
Nah pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa dia (Abu Lahab) diberi gelar sebagai bapak gejolak (gelora). Abu artinya ayah, Lahab artinya gejolak api. Jawabnya tentu tak jauh beda pada masa-masa sekarang ini. Setiap pemimpin kiranya selalu diberi gelar-gelar tertentu. Tak usah jauh-jauh, di negeri Indonesia misalnya, kelima-lima presiden Indonesia memiliki gelarnya masing-masing sesuai dengan pamor, prestasi dan kemapuannya yang menonjol dalam menggagas, mensosialisasikan maupun mencetuskan sesuatu.

Presiden Pertama Ir. Soekarno, diberi gelar dengan Bapak Proklamator, karena dialah bersama Bung Hatta yang telah memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Selain itu Bung Karno juga digelar Bapak Penyambung Lidah Rakyat dan “Singa Podium” karena kemampuannya yang luar biasa dalam menggelorakan semangat rakyat melalui pidato-pidatonya yang berapi-api.

Presiden Kedua Jenderal Berbintang Empat (purn) H. Muhammad Soeharto, diberi gelar Bapak Pembangunan karena kemampuannya dalam menggagas Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pada saat ia berkuasa, juga karena kinerja kabinet pembangunannya, serta pembangunan sektor ekonomi yang dilakukannya dinilai telah mampu mengangkat ekonomi negara yang sudah hancur total di masa Presiden Soekarno dengan inflasi yang gila-gilaan.
Selanjutnya Presiden Ketiga Republik Indoenesi, Prof. Ir. Ing. Baharuddin Joesoef Habibie yang digelar Mr. Creek atau Bapak keseimbangan, karena penemuannya yang spektakuler dalam bidang teknologi, yakni menemukan keseimbangan pada sayap pesawat pada cuaca tertentu, sehingga pesawat terbang (plane) dapat tetap terbang dalam keadaan normal; penemua yang tidak saja menjadi sumbangsih kepada masyarakat teknologi dunia, namun juga merupakan putera bangsa yang mempu mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia.
Begitu pula Presiden Abdurrahman Wahid yang populer dengan gelar Bapak Prodem dan Bapak HM, karena jasa-jasanya dalam mengkampanyekan perdamaian dunia dan HAM di Indonesia serta menghidupkan sdemokrasi di Indonesia di saat-saat demokrasi nyaris mati di negara ini.
Dan terakhir, Presiden kelima, Ibu Hajjah Megawati Soekarno Puteri yang digelar ibu Wong Cili(ci)k, di saat saat kampaye Pemilu tahun 1999 lalu, dinilai karena berpihaknya kepada masyarakat tertindas saat itu.

Jelasnya, mereka berlima diberi gelar sehebat itu tentu karena mempunyai kekuatan. Terlebih-lebih ketika kekuatan itu menjadi kongkrit yakni, sebuah kekuasaan. Itulah sebabnya ada orang yang diberi julukan Bapak Gejolak Seperti Abu Lahab, karena di masa ia berkuasa, dakwah Islam benar-benar tertindas. Peperangan di mana-mana, memfitnah lebih kejam dari tidak memfitnah sama sekali (sama-sama kejam), permusuhan terjadi di mana-mana, pelanggaran HAM sudah tak kenal peri kemanusiaan lagi. Banyak sahabat-sahabat Nabi yang disiksa dimasanya dengan sangat sadis, baik dengan cara mencincang, menarik anggota tubuh dengan kuda, menyeret orang ditengah-tengah padang pasir. Intinya semua polosok daerah bergejolak. Itulah makanya dia diberi gelar Bapak Gejolak.

2. Ekonomi dan Program Politik
Pada ayat selanjutnya (ayat 2) dinyatakan, “Tiada akan bermanfaat dari padanya hartanya dan apa yang ia usahakan”. Ini menunjukkan bahwa Abu Lahab telah berusaha dengan harta dan program-program yang direncanakan untuk menghancurkan kaum muslimin yang saat itu masih sangat sedikit akibat kekhawatirannya bila Muhammad SAW sewaktu-waktu dapat mengganggu kekuasaannya. Apabila ia mengetahui benar bahwa Muhammad tidak mau berkerjasama dengan pihak pemerintahan Quraisy.

Di negara-negara otokrasi yang dipimpin seorang diktator umumnya selalu menggunakan dua kekuatan dalam mencengkeramkan kekuasaannya. Pertama harta (mal) dan kedua dengan usaha (kasab).

Bicara harta berarti bicara materi. Bicara materi pasti bicara ekonomi. Seangkan bila kita bicara soal usaha, berarti mau tidak mau kita harus bicara tentang badan usaha, program, sasaran (target) dan tujuan serta hasil (output).

Namun inti dari usaha adalah managemen (pengelolaan) dari arti yang menyeluruh secara keseluruhan baik dari segi sitemnya, fungsinya, maupun perangkat-perangkatnya.

3. Neraka

Ayat ketiga surat ini yang berbunyi, “Kami akan melemparkannya ke dalam api yang menyala-nyala”. Menggambarkan sebuah realiti (kenyataan) yang terjadi secara paksa. Di sana ada kata-kata “yashla”. Abu Lahab diriwayatkan gugur dalam peperangan yang ia kobarkan sendiri.

Kata-kata api dalam bentuk “Nakirah” dalam ayat ini dapat merupakan bentuk yang lebih real, berupa kekacauan-kekacauan.

Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW yang amat masyhur dalam menggambarkan rumah tangganya sebagai surganya: “Baiti Jannati” yang artinya, Rumah tanggaku adalah surgaku. Maksudnya, rumah tangga yang harmonis, rukun, damai dan sentausa merupakan wujud surga di dunia ini. Bukan hanya sebatas kiasan. Jadi, tidak ada kata-kata “’adat at-Tamtsil” yang dibuang (mahdzuf) di sana. Karena hadist tersebut berbentuk mubtada’ dan khobar. Dari hadits tersebut billa diambil mafhum mukhalafahnya (pemahaman terbalik) berarti bahwa, rumah tangga yang sering cek-cok, tidak harmonis dan tidak rukun dan damai, merupakan wujud neraka.

Dalam scope yang lebih besar, sebuah organisasi (pehimpunan/jamaah) juga merupakan rumah tangga. Makanya ada Anggaran Rumah Tangganya (ART). Bahkan suatu bangsa atau negarapun adalah sebuah rumah tangga dan dipandang sebagai suatu satu keluarga. Karena ada kepala rumah tangganya, yakni pihak (puak) pemerintahan di tiap tingkatan dari tingkat nasional samapi tingkat lurah/ kepada desa.

Ini artinya bahwa, apabila sebuah negara tidak teratur, rakyatnya tidak pernah merasa aman karena gangguan penjahat di segala bidang dari kelaparan, kekacauan “banyak persekcokan terjadi di mana-mana, itu pun dapat disebut neraka sesuaid dengan pengembangan makna hadits tadi.

4. Pasangan Hidup kepala Negara

Ayat kelima surat al-Lahab berbunyi: “ Dan isterinya adalah pembawa kayu bakar”. Isteri Abu Lahab dikenal dengan gelar Ummu Jamilah (ibu yang cantik) merupakan aktor dibalik layar yang suka menggosok-gosok, menggesek-gesek dan krasak-krusuk terhadap semua persoalan, teruatam lawan-lawan politik suaminya Abu Lahab. Dia juga dikenal sebagai ibu negara yang tukang fitnah, yang menyebabkan masalah semakin besar dengan eskalasi yang semakin meluas.

Memang, sewajarnya bila pendamping seorang kepala negara menjadi begitu penting disebabkan faktor saling mempengaruhi dan interaksi yang terjadi di dalam rumah tangga. Misalnya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) digagas oleh almarhumah (Allah yarham) Ibu Siti Hartinah yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pembangunan ekonomi, bahkan mempengaruhi budaya dan politik ketika itu (orde baru). Itulah makanya, raja-raja di masa dahulu, demi mempersatukan beberapa kerajaan atau kepentingan ekspansi kekuasaan, saling menjodohkan anak mereka.

Oleh karena itu, tidak perlu heran bila seorang kepala negara yang mempunyai pasangan hidup seorang koruptor dapat memberantas korupsi. Bila pasangan hidupnya seorang pesolek, suka berfoya-foya; tak perlu heran bila negara tersebut akan menjadi negara penghasil kosmetik. Begitu pun yang lain misalnya, pasangannya seorang pecundang, mafia, pendendam dan sebagainya, sangat jarang dijumpai tidak mempunyai pengaruh terhadap jalannya pemerintahan yang sedang ia pimpin.

5. Belenggu
Sedangkan dalam ayat terakhir surat al-Lahab ditutup dengan pernyataan, “Di lehernya ada tali dari belenggu (neraka)”. Maksudnya, ayat ini merupakan kesimpulan dari keempat ayat sebelumnya, bahwa yang terjadi pada masa kepemimpinan (leadership) seorang semisal Abu Lahab, pasti terbelenggu dalam sebuah ikatan semu, pandangan hidup semu, yang insya Allah dijamin bakal menjadi penyesalan bagi seluruh rakyatnya. Ketika seorang pendamping pemimpin negara telah mengkalungkan di lehernya kalung “ketamakan’ atau semisal lain haus “darah”, lambat laun cepat atau lambat kebanyakan rakyat akan mengikut; mereka pun akan membelenggu dirinya dengan rantai yang terbuat dari neraka. Mereka tidak bisa keluar dari masalah dan senantiasa diliputi masalah, sampai mereka melepas belenggu itu. Artinya, pemimpinnya harus diganti. Perlu dicari seorang pemimpin lain yang berakhlak mulia dan pasangan hidupnya pun berakhlak mulia pula sebagai mana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW, dengan Ummahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi SAW) Radiallahu Anhunna, Wallahu A’lam Bissowab.

Ada Apa dengan “Thagut”?

Kesadaran untuk Mengenal Thagut

Kalau dilayar lebar, belum lama ini ada flim produk tanah air berjudul “Ada apa dengan Cinta?”. Mungkin sejuta kesan yang dapat dirasakan, tergantung orangnya. Boleh jadi ada yang menanggapi judul itu begitu romantis, ada pula yang menanggapi terlalu bikin penasaran, atau jangan-jangan ada yang sedikit sok tahu, sehingga mengatakan itu terlalu didramatisir. Toh, cinta tidak ada apanya, tidak ngapa-ngapain dan lain sebagainya. Nah,bagaimana kalau ada orangyang menyebut-nyebut kata “babi/”. Tentu, sangat berbalik jadinya.

Dibenak kita langsung sebagai persepsi, “Ada apa dengan babi”? Namun dinyakini, kesannya tentu tak jauh beda satu sama lain. Boleh jadi yang terlintas adalah kesan menjijikkan, jorok, binatang yang diharamkan Allah, atau boleh jadi kata yang umumnya diucapkan untuk mengekspresikan kebencian kepada orang lain. Biasa kata ini memang dipakai dalam mendahului kalimat makian. Demikian marahnya dan jijiknya orang bila mendengar kata itu, padahal beberapa ayat saja dalam al-Qur’an yang menyinggung kata “babi” di atas.

Lantas kenapa kita harus marah ? Tentu karena kita tidak mau disamakan dengan babi. Namun bila ada orang yang menyebut-nyebut kata Thagut, atau menggelari kita thagut, mungkuin kebanyakan kita malah merasa aneh, menyernyitkan kening mengangkat kedua bahu, menggeleng atau diam karena tidak tahu; atau malah terseyum seyum. Begitu asingnya kata thagut ini di tengah-tengah kita.

Padahal istilah yang satu akar dengan thagut ini justeru jauh lebih banyak disebut dalam al-qur’an. Puluhan ayat bahkan ratusan yang meyinggung tentang Thagut, baik ayat yang mengharamkan, ayat yang memerintahkan untuk membangkang dan menjauhinya, menjelaskan jauh lebih menjijikkan dan sebagainya.

Namun sayangnya karena, kita belum kenal apa itu thagut, yang smestinya dijauhi, e eeh, malah satu rumah malah satu tempat tidur dengan kita; yang semestinya diharamkan Allah, e eeh, malah kita kantongi dan kita bawa ke mana-mana.. Ini tak jauh beda ketika ada yang berteriak maling (pencuri!) semua orang yang mendengar langsung sontak, tak peduli pintu rumah apa sudah sempat dikunci atau belu. Tak peduli bawa apa di tangan, yang penting bisa jadi senjata. Karena tak tahu malingnya siapa, tau-tau malingnya justru ikut mencari maling yang diteriakin. Begitu pula misalnya ada tim pemberantas korupsi. Karena tidak tahu siapa yang korupsi, entah karena saking banyaknya, e eh, tau-tau koruptor-koruptornya ikut masuk dalam tim. Firman Allah: “Hanya saja Allah mengharamkan terhadap kamu bangkai dan daging babi serta binatang yang disembelih selain nama Allah…”, (QS. 2: 173).

Bentuk dan Karakter Taghut

Sebenarnya apa ya Thagut itu? Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim tentu kita akan penasaran bila tidak menenal tahgut, karena siapa yang tidak mengenal thagut, dia tidak akan dapat beribadah atau menyembah kepada Allah sebagaimana mestinya. Jelasnya, Thagut adalah Rival (saingan) Allah dalam segala aspek kehidupan. Thagut itu sebenarnya berarti melampaui batas atau “kelewat batas”, melanggar garis, seperti menyelonongnya orang ke daerah terlarang, melanggar police line atau seperti berbuat di luar aturan main, anggaran dasar atau kesepakatan musayawarah.

Dalam al-Qur’an istilah Thagut ini digambarkan Allah dalam berbagai wujud. Adakalanya ia dapat berwujud karakter manusia. Firman Allah : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas (yatgha)” (QS. Al-Alaq, 96:6). Dan pada kesempatan lain dia dapat berwujud benda mati, benda keramat dan benda-benda lain. Thagut di sini disebut berhala/patung. Di suatu tempat ia bisa berbentuk sosok pemimpin (raja) yang suka menindas, sewenang-wenang, perusak dan pemecah belah rakyat, seperti Firman Allah: “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas (thagha)”. (QS. Thaha 20:24). Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di buminya, dan menjadikan rakyatnya terpecah belah. Ia menyembelih anak laki-laki dan menghidupkan anak perempuan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS.28:4).

Dan ditempat lain ia bisa pula berbentuk benda abstrak seperti kebiasaan, ajaran, hukum dan lambang partai atau negara yang bertentangan atau tidak dilandasi wahyu, dan sebagainya. Inilah disebut pemberhalaan. Firman Allah: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengklaim dirinya beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan kepada sebelum kamu? Mereka menginginkan berhukum dengan Thagut, padahal mereka diperintahkan untuk membangkang kepada Thagut itu. Dan Syaitan menginginkan untu menyesatkan mereka sesesat-sesatnya”. (QS. 4:60).

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap bangsa untuk menyerukan: “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut itu”. Maka di antara bangsa itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yangtelah pastui kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi ini dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS. 16: 36).

MTQ: Tidak Sekedar Lomba Baca

1. Makna dan Pelaksanaan MTQ
Musabaqah artinya berlomba-lomba atau saling mendahuli, berasal dari kata Sabaqa, artinya mendahului/telah lewat. Kata ini punya bentukan lain seperti kata Masbuq, artinya terlambat/didahului, fastabiqul kahirat yang berarti berlomba-lombalah dalam kebajikan, sabiq yang berarti juara atau “yang keduluan”dan sebagainya.

Firman Allah QS. 35: 32: “Kemudian kami wariskan Kitab itu (al-Qur’an) kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami. Di antara mereka ada yang menganiaya dirinya, sementara di antara mereka ada yang mengambil jalan tengah (karena ada maksud-maksud/kepentingan tertentu), dan di antara mereka ada orang yang lebih dahulu (juara) dalam kebajikan. Itulah karunia yang Agung”.

Firman Allah QS. 2: 148: “Dan setiap bidang (arah/jurusan) ada pemusatannya (kiblat). Maka berlombalah-lombalah kamu dalam kebajikan. Di mana saja kamu berada Allah akan mendatangi kamu semuanya. Sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu Maha Menetukan (Ukuran)”.

Tilawah berarti membacakan. Maksud yang sebenarnya adalah membacakan isi kandungan, bukan hanya sekedar membaca teks sebagaimana pada pengetian qira’ah. FirmanNya QS. 2: 151: “Sebagaimana telah Kami utus untuk kamu Rasul, rasul-rasul di antara kamu, yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Kami, dan mensucikan Kamu serta mengajarkan kepada Kamu Ilmu dan Hikmah, dan juga mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui”. Dengan demikian, musabaqah tilawatil Qur’an merupakan perlombaan membacakan isi kandungan al-Qur’an.

Dalam pelaksanaannya, MTQ sejak pertama kali diadakan hingga saat ini telah memperlombakan berbagai cabang ilmu pengetahuan tentang al-Qur’an. Di antara cabang-cabangnya itu adalah Mujawwad yang berarti pentajwidan; yakni, tata cara dan adab membaca al-Qur’an baik kefasihan lidah, tajwid, faqahah dan sebagainya. Sehingga dalam perkembangannya dikenal secara internasional 7 irama lantunan ayat al-Qur’an berikut variasi dan pecahannya, yaitu Bayyati (Suri, Nawa, Qarar) Shaba, Hijaz, Nahawan, Rasy, Sikha dan Dziharkah. Namun Indonesia, dipandang sebagai negera yang paling banyak Qari dan Qari’ahnya yang menguasai Mujawwad ini.

Ada juga cabang cerdas cermat isi kandungan al-Qur’an atau diistilahkan fahmil Qur’an (pemahaman yang meliputi sejarah Islam, Ulumul Qur’an, hadist dan Budaya Islam). Selain itu, ada juga cabang menghafal (hifzul Qur’an); cabang menulis indah (khattil Qur’an/kaligrafi) seperti khat Khaoufi, Tsuluth, Diwani Jali, Naskh, Farsi, Andalus dan lainnya; cabang syarh al-Qur’an (menjelaskan pesan-pesan ayat); dan Bazar produk Islam.

Selain itu, menurut Walikota Medan, MTQ diselenggarakan dalam rangka syiar Islam dan pembinaan kemasyarakatan. Pelaksanaanya juga dimaksudkan sebagai sarana penggemblengan bagi qori dan qoriah untuk diterjunkan mewakili kota medan pada MTQ tingkat propinsi. Setiap pemerintah daerah, baik kecamatan Kota/Kab maupun propinsi tetap selalu berharap MTQ dapat melahirkan qori dan qoriah yang berkualitas, sehingga mampu mencatat prestasi terbaik di MTQ di tingkat yang lebih tinggi. Karena, dapat mengangkat dan mengharumkan nama baik daerahnya, dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan.

Musabaqah Tilawatil Qur’an merupakan perlombaan rutin tahunan yang diselenggarakan secara Nasional mulai dari tingkat Kecamatan sampai Tingkat Internasional. Biasanya, oknum pejabat-pejabat Pemerintahan RI , tidak ketinggalan “ambil bagian” dalam Musabaqah ini, apalagi mereka yang ditunjuk sebagai Panitia, tuan rumah dan fasilitator lain. Selain kegiatan ini menasional sifatnya, juga karena seperti biasanya, memang ada “bagian yang bisa diambil” darinya. Entah itu siapa, entah kapan dan entah bagaimana caranya, yang jelas seperti yang sudah-sudah, memang, semua bidang dan sektor pembangunan sepertinya telah “ada jatah” sesuai dengan pangkat dan kedudukan masing-masing.

Tetapi, maaf cakap maaf cerita, itulah kondisi realitas sosial-politik yang telah membumi dan mendarah daging sampai kerakyat-rakyat kecil. Kita bisa lihat langsung pelaksanaan Pemilu lalu, kita bisa saksikan pelaksanaan Zakat dan Haji beberapa waktu lalu. Tak ada yang bisa unjuk diri sok suci sekarang ini. Karena, boleh jadi itu karena mereka belum ada kesempatan. Sehingga, muncul tanda tanya besar. Lomba membaca, menghafal, menulis, dan memahami serta menjelaskan telah dilakukan. Belumkah datang waktunya kepada kita untuk berlomba-lomba menerapkan al-Qur’an di keluarga sampai di sistem bernegara kita?

Terlepas dari itu semua, kita juga mau tidak mau harus mengakui jujur, tidak semua oknum pejabat terkontaminasi sistem yang sarat dengan budaya “ambil bagian” seperti yang umumnya dibicarakan orang-orang. Oleh karenanya kita bisa merasa sedikit bangga dengan pengakuan Walikota Medan, Ketua DPR dan Ketua Panitia kemarin saat meresmikan pembukaan MTQ kemarin. Mudah-mudahan mereka benar seperti yang mereka ucapkan.

2. MTQ di Medan
Kota Medan, kota Metropolitan yang diimpi-impikan itu, baru-baru ini menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) . Kelihatannya, Pemko berharap besar yang kemarin disampaikan Pak “Wali”, MTQ bisa mendukung program pembangunan kota Medan khususnya program pemberdayaan masyarakat; mengingat pentingnya peranan MTQ dalam pembinaan kemasyarakatan. Apakah ini pernyataan yang jujur, lipservice, atau ada kepentingan lain, soal ini kita serahkan saja ke pengamat politik.

Pak “Wali”, sebagaimana dipidatokannya, jua minta dukungan segenap komponen masyarakat, termasuk dari tokoh-tokoh agama, agar dapat membina umatnya menjadi masyarakat yang beriman dan bertaqwa, sehingga dengan tulus dapat memberikan dukungan penuh dalam memberhasilkan program pemberdayaan masyarakat di kota Medan.

Dia benar. Dapat dibayangkan, kalau tokoh-tokoh agamanya pun tidak mendukung atau malah “ikut ambil bagian”, tentu saja akan terbangun image, seperti pembolehan. Padahal itu karena oknum dan pribadi. Namun, sedikit yang bisa membedakannya. Makanya, semangat dan keberanian para koruptor dan mafia kuning pun akan terpompa, tersulut. Taring “tikusnya” pun akan siap diasah melirik aset-aset gurih dan “kue-kue kekuasaan” yang basah-basah.

Begitu juga, Pak Ketua (DPRD Medan) dalam sambutannya yang senada dan menambahkan, al-Qur’an sebagai petunjuk yang benar bila dihayati akan dapat menjadi solusi terhadap semua persoalan bangsa dan negara. MTQ diadakan tak lain merupakan salah satu upaya meningkatkan minat masyarakat membaca al-Qur’an. Seperti dicontohkannya, gejolak sosial yang terjadi saat ini, akan dapat teratasi dengan adanya MTQ. Karena MTQ juga salah satu alat dalam rangka membina kehidupan yang lebih damai, mampu memberikan suasana persaudaraan, silaturrahmi. Sehingga masyarakat dan pemerintah agar lebih akrab, agar persaolan dapat diselesaikan dengan damai.

Jadi, bila dari tahun ke tahun semua persoalan bangsa dan negara tak kunjung selesai-selesai, berarti dia benar. Itu artinya, al-Qur’an belum dihayati atau warga negara Indonesia masih mencari petunjuk yang tidak benar. Signifikannya juga, kalau minat sebagian masyarakat dari hari ke hari lebih meminati acara dangdutan “dihadiri puluhan ribu” dan AFI “jutaan remaja/emak-emak” ketimbang MTQ (cuma 12 ribu, itupun pas malam pembukaan dan penutupan, hari-hari lain hanya beberapa ratus pengunjung), berarti Pak Tom benar juga. Misi MTQ belum mengenai sasaran. Memang pas harapannya bila, panitia dan para peserta diingatkan, agar benar-benar memiliki dan menjaga niat tulus untuk mencari Ridha Allah, bukan mencari “bagian” atau yang lainnya. Juga, ia juga minta didukung semua pihak dengan sama-sama menjaga keamanan dan kebersihan.

Kita yakin, siapapun yang keluar sebagai yang terbaik adalah yang terbaik membaca, menulis, memahami, menjelaskan dan menghafal al-Qur’an untuk kota Medan. Tinggal kita mencari siapa yang terbaik mengamalkannya.

Para pengunjung pelaksanaan Musabaqh Tilawatil Qur’an Kota Medan tahun kali ini pun tidak semuanya mampu menyesuaikan diri. Pasalnya, hingga memasuki hari ke-4 sebagian pengunjung tampaknya masih banyak yang datang ke lokasi MTQ dengan mengenakan pakaian ketat, tak mengenakan jilbab, memakai rok pendek; bahkan ada pula yang memakai “you can see” (kalau diterjemahkan, baju nampak ketiak). Selain itu, ada juga yang datang ke sana berpasang-pasangan, padahal diduga keras, bukan suami isteri.

Beberapa pengunjung lain sempat menyampaikan keresahannya seputar hal itu. Diherankannya sebagian yang datang ke sana bukan mau mendengarkan al-Qur’an. Padahal, kita diperintahkan supaya mendengarkan sungguh-sungguh dan menyimak, kalau ada orang yang sedang baca Qur’an. Bazar dan perhelatan lain yang ada di arena alun-alun Istana Maimun banyak membuat sebagian pengunjung lupa, acara yang sesungguhnya, yakni Musabaqah.

Kita patut menyesalkan sikap Pemko Medan yang kurang peka terhadap hal ini, kendati dapat difahami sebagian akhlak masyarakat kota Medan belakangan ini. Seharusnya Pemko melalui Panitia dan petugas yang berwenang lainnya mengkordinasikan hal ini agar dapat memberikan himbauan laungsung maupun tidak langsung kepada para pengunjung. Diharapkan agar lebih dapat menyesuaikan diri terhadap situasi keagamaan. Memang, istana Maimun merupakan salah satu lokasi bersejarah dan objek wisata kota Medan. Namun, acara keislaman jangan dinodai dengan hal-hal kecil apapun, tanpa harus dibuat peraturan, diharapkan akan dapat dimengerti sendiri. Firman Allah QS. 47: 24: “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an. Apakah hati mereka telah tertutup?”.

3. Lomba Menerapkan, Kapan?
MTQ dilaksanakan, sebagaimana dikatakan Ketua Panitia, adalah dalam rangka usaha mengembangkan kemampuan bacaan alQur’an dengan baik dan benar, mampu memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam al-Qur’an dan membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an. Tujuannya kata Farid, adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan merealisasikan (penerapan) ajaran agama dalam masyarakat. Sangat ideal tentunya.

Tetapi, bagaimana bisa menerapkan al-Qur’an bila perangkat-perangkat hukum negara, sistem negara, oknum-oknum aparatur negara masih banyak yang belum mendukung masyarakat untuk menerapkan ajaran Agama. Misalnya, Perjudian, korupsi dan sogok menyogok (cuap-cuap) masih diperankan. Menipu, menganiaya rakyat masih dilakonkan. Pabrik Miras tidak ditutup dan sebagainya. Dan kelihatannya belum muncul perlombaan itu.

Apakah perlombaan ini sudah terjadi dengan adanya kasak-kusuk berebut kursi agar bisa “menyelamatkan” legislatif dari wajah-wajah lama yang dinilai korup, biar harus beli suara sama oknum cukong suara “berkedok PPK”. Apakah perlombaan itu juga terjadi dengan merebut kursi presiden sehingga harus siram sana siram sini. Pokoknya kalau kegiatan perlombaan sejenis ini justru sangat terencana dan terkordinir, termenej terjaga dan terselamatkan dengan komplit, rapi, teliti, baik dan benar-benar seperti tak terkalahkan. Walaupun ada satu-satu yang jatuh, itu pasti kurang “siram”. Tetapi, kalau difikir-fikir. Kalau tidak begitu cara masuknya. Bagaimana lagi? Nanti, katanya khawatir kalau non-Muslim yang mendahului masuk sitem, Bah?!! Ini apologi atau cari kambing hitam, atau dua-duanya? Wallahu a’lam.

Qurban, Korban dan Taqarrub, Apa Hubungannya (?)

Qurban secara bahasa berarti dzibah atau penyembelihan. Dalam ajaran agama Kristen dikenal Mezbah yang merupakan meja atau semacam altar tempat persembahan kepada Tuhan, baik itu berupa anggur maupun roti. Kata Qurban sendiri dalam bahasa Arab berasal dari kata Qaraba yang dibentuk dalam isim bina mubalaghah dari timbangan kata fu’laan (ditambah huruf alif dan nun), memiliki arti bersangatan, Padanan kata ini misalnya, terdapat pada kata qara’a yang berubah bentuk menjadi qur’an (sangat sering dibaca), kata sabaha menjadi subhan (maha suci), na’ima menjadi nu’man (penuh kenikmatan) dan malaka menjadi mulkan (kekuasaan yang kokoh).

Dari akar kata Qarban (mashdar dari Qaraba) banyak diperoleh berbagai kata bentukan lain. Misalnya, Qoriib dan Qarabah (dekat) yang ditransfer dan direduksi ke dalam bahasa India, Kareeb (dibaca: Karib, artinya dekat) dan ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata karib kerabat, akrab.

Selanjutnya kata Qurban sendiri, selain istilah yang dikenal sebagai salah satu ibadah dalam Islam juga dalam bahasa Indonesia –entah sejak kapan- telah dibakukan menjadi satu kata dasar, yaitu kata korban; sehingga terbentuk kata berimbuhan berkorban dan pengorbanan. Hal ini diyakini disebabkan adanya hubungan kesamaan dalam makna yang terkandung pada kata Qurban. Selain bentukan kata yang disebutkan tadi, kata Qurban juga mempunyai akar kata yang sama dengan taqarrub (proses pendekatan diri) kepada Allah.

1. Makna dan Kedudukan Qurban
Secara syariat Islam, Qurban bermakna menumpahkan darah hewan sembelihan. Bila dikaji lebih mendalam, di dalam makna ini terdapat suatu hakikat kebenaran, yakni kesakitan, penderitaan dan kerugian. Hal inilah barangkali membuat orang Indonesia mengambil kata Qurban lantas dibahasaindonesiakan menjadi “korban”. Sebab kita ‘mafhum’ alias tahu sama tahu, yang namanya ‘korban’ memang selamanya menderita, mengalami kesakitan dan penderitaan atau kerugian, baik secara fisik material maupun mental spiritual.
Belum pernah kita dengar kata korban dimasukkan ke dalam kalimat yang enak-enak atau berkonotasi keberuntungan seperti misalnya, si Halimah (pinjam nama dulu) salah seorang ‘korban’ dalam pesta itu; atau ada kalimat, dalam pengumuman lomba memasak itu, si Ari memberikan hadiah kepada 5 ‘korban’. Ini jelas salah, karena selama masih berstatus korban, pasti tidak ada enaknya.

Di media massa kita juga sering mendengar misalnya ada berita, 2 ruko terbakar, tidak ada korban jiwa; atau terjadi pemboman di Irak, 5 korban tewas 30 lainnya luka-luka; begitu juga kata korban pembunuhan, korban perkosaan, korban bencana alam dan korban perampokan. Dalam bahasa anak muda pun ada istilah ‘korban perasaan’.

Nah, selanjutnya secara hakikat, Qurban mengandung makna mendidik, menguji dan melatih. Kenapa demikian? Pemaknaan mendidik di sini berkaitan erat dengan makna ‘memisahkan’. Kalau yang disembelih itu seekor kambing, unta, lembu atau ayam, maka akibatnya terjadi pemisahan antara kepala dan badan disebabkan lehernya disembelih berdarah-darah. Jelas ada unsur kesakitannya.

Bila makna ini diterjemahkan ke dalam sebuah proses pendidikan, seorang kader, murid, santri, siswa atau apalah namanya, pasti akan mengalami berbagai pemisahan. Seorang ‘kader mujahid dengan senantiasa dididik ber“al-Qur’an” pasti akan terjadi pemisahan antara pola fikir (di kepala) dan iman (di hati), pemisahan hak dan batil dan pemisahan kepentingan jihad dan dunia (selektif).

Begitu pula halnya, seorang anak didik kemiliteran harus mampu memisahkan “urusan tugas” dan “urusan kekeluargaan”. Seorang kader organisasi harus dapat memisahkan antara perasaan dan logika pergerakannya. Kader bisnis pun begitu, harus mampu memisahkan rasa sosial dengan logika bisnisnya. Sehingga, jadilah mereka kader yang tangguh, yang mapan di bidangnya, yang tahan uji lagi tahan menderita. Kader yang sabar dan bermental “pertapa” dan “tidak takut dirugikan”, seperti ternak yang dewasa yang bersedia digembala dan siap disembelih.

Inilah salah satu tolak ukur keberhasilan seorang pendidik dalam setiap Tujuan Pendidikan Khusus (TPK), di mana, peserta didik harus dapat memilah-milah dan menentukan pilihannya. Sebelum standart ini terpenuhi, insya Allah, perusahaan, organisasi, sekolah atau lembaga apapun namanya dijamin akan kecewa, karena hanya akan melahirkan karyawan-karyawan yang “menggek”, tentara-tentara yang tidak disiplin, kader-kader yang “cengeng”, orang-orang pergerakan atau bisnismen yang mudah frustasi dan “merajuk”, yang tidak bisa dijamin kapabilitasnya (layak dan mampu), kualitasnya (bermutu dan bernilai), kredibilitasnya (jujur dan berakhlak mulia) apalagi integritasnya (patuh dan punya rasa memiliki) dan loyalitas (setia dan pembela) kepada siapa (institusi) yang mendidiknya. Jadi, dalam pemaknaan ini kita harus belajar dari Nabi Ibrahim Alaihis Salam. Firman Allah SWT QS. 37: 100-108:

“(100). Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang shaleh. (101). Maka kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang amat sabar. (102). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku meyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu”. Ia menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (103). Tatkala keduanya berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya)”. (104). Dan Kami panngillah dia, “Hai Ibrahim”, (105) sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, “sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (106). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (107). Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, (108). Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian”.

Isra’ Mi’jraj: Perjalanan Menuju Kebangkitan Umat Islam Bangsa Indonesia

27 Rajab yang Umat Islam memperingati peristiwa bersejarah yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW, yakni isra’ Mi’jraj persisnya pada tahun kesebelas diangkatnya beliau menjadi Nabi dan Rasul.

Selama ini tidak sedikit di antara kita, khususnya di Indonesia yang menganut agama Islam setiap tahunnya senantiasa memperingati peristiwa ini, baik dengan mengadakan tabligh akbar, ceramah agama, perlombaan seni islam dan sebagainya.

Selain itu, kita juga sudah cukup banyak mendengar seputar kisah Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad SAW baik selama perjalanan sejak di Masjidil harom sampai menerima perintah Sholat 5 waktu sehari semalam, lantas kembali lagi ke rumahnya dan berbaring lagi di sebelah ummul mukminim Aisyah Ra; maupun hikmah-hikmah, cerita-cerita dibalik kejadian itu. Bahkan juga, kitapun sudah pernah mendengar tentang tanggapan kaum Quraisy, Abu Bakar yang dijuluki Nabi Ash-Shiddiq karena beliau manusia yang pertama membenarkan dan lainnya tentang peristiwa yang beliau alami itu.

Oleh karena itu, yang hendak dikemukakan di sini tak lain dan tak bukan sekedar siaran ulangan, yang sebenarnya sudah sangat sering diulang-ulangi oleh para ulama, ustadz-uztadz, guru agama dan sebagainya; atau dari apa yang kita baca di literatur-literatur Islam serta yang kita dengar dari media massa. Kesemuanya itu adalah khazanah bagi kita, perbendaharaan informasi, ilmu dan wawasan bagi kita, untuk dapat kita resapi, hayati dan kita petik buahnya, kita nikmati inti sarinya. Sehingga yang sangat kita harapkan dari semua itu, agar dapat terjadi perubahan-perubahan spritual dalam diri kita dan keluarga kita.

Namun tak kalah pentingnya adalah penjabaran mengenai apa realisasi peristiwa ajaib itu dalam kehidupan pribadi seorang yang mengaku mukmin dan bagaimana Peringatan Isra’ Mijra’ yang menjadi track record suksesnya para Nabi khususnya Muhammad SAW dalam membangun bangsa Arab bagi perjalanan bangsa Indonesia ke depan, sehingga Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) mampu memperbaiki citranya di Dunia internasional, terutama Barat.

Sehingga diharapkan pula, dapat kita jadikan bahan diskusi bersama untuk menyegarkan kembali ghirah jihad dan semangat juang kita untuk memperjuangkan kejayaan Islam di tengah-tengah bangsa kita. Dan secara bertahap pula akan memancarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia, bagaikan cahaya Allah yang diumpamakan minyak dari sejenis pohon zaitun yang minyaknya saja walau tak disentuh api, dapat menerangi layaknya pelita raksasa.

Dalil Al-Qur’an dan Hadits

Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Mahasuci (Allah) Yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsa yang telah Kami beri berkah di sekelilingnya, supaya hendak Kami tunjukkan sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Surah Al-Isra/Bani Israil (17): 1)”

Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Aku sholat malam bersama kalian di sini kemudian aku pergi ke Yerussalem di mana aku shalat di situ dan dini aku sholat fajar bersama kalian lagi”.

“Ya Rasulullah”, kata Ummu Hani, “Jangan kau ceritakan ini kepada manusia, karena akan mengingkari dan menyakitimu”.
“Sungguh aku akan menceritakannya”.

Isra’ Mi’raj: Hijrah dan Sholat
Kisah Isra’ Mi’raj berawal ketika suatu malam Nabi Muhammad terkantuk-kantuk di rumah sepupunya Ummu Hani puetri Abu Thalib, ia dijemput malaikat Jibriel untuk mengunjungi Masjidil Aqsha di Yerussalem dengan mengenderai buraq (sejenis kilat) yang dalam ukuran manusia saat itu akan menempuh perjalanan satu bulan pergi satu bulan pulang; lalu Jibriel mengiringinya menembus tujuh lapis langit. Jibriel hanya diizinkan Allah mendampingi Nabi sampai suatu tempat yang disebut Sidratul Muntaha (lembaran-lembaran terlarang). Nabi SAW sendiri menghadap Allah dan menerima langsung perintah Sholat yang semula berjumlah 50 waktu sehari semalam, dalam proses negoisasi atas saran-saran sejumlah Nabi-Nabi yang menjaga langit seperti Musa, Ibrahim, Idris, Nuh dan lainnya, Nabi bolak-balik menyampaikan permohonannya untuk terus mengurangi jumlah waktu sholat sampai akhirnya menjadi 5 waktu sehari semalam.

Sebenarnya banyak sekali hal-hal yang perlu untuk dikritisi mengenai kronologis Mi’raj. Apakah mengenai riwayat-riwayat di seputar Rasul singgah ke surga dan neraka, berdialog dengan sejumlah Nabi, maupun mengenai wujud buraq yang dikenderai Rasulullah. Namun mengingat hadits tentang Isra’ Mi’raj umumnya panjang-panjang. Sehingga memerlukan pembahasan lebih lanjut.

Namun yang hendak ditekankan di sini adalah, peristiwa isra’ mi’raj hakikatnya adalah pengukuhan syari’at sholat dalam syaria’t Muhammad. Sebab sebelum Muhammad bukan tidak ada sholat. Ada. Hanya saja masih menggunakan syar’um man Qablana (syariat Nabi sebelumnya). Pada prinsipnya ada dua hal yang diinginkan Allah SWT mengisra’mi’rajkan Muhammad SAW. Namun kedua hal ini hakikatnya adalah satu. Yakni, sama-sama untuk perjuangan Islam dan jihad fi sabilillah semata. Kedua hal yang dimaksud adalah Hijrah dan Sholat.

Adapun Hijrah, merupakan tuntutan ketika itu. Abu Thalib yang selalu membela perjuangan beliau hanya berselang beberapa bulan wafat. Demikian pula isterinya Khadijah RA. yang selalu menopang dan mensupport tegaknya dienul Islam pun menyusul dipanggil Allah beberapa bulan setelah pamannya Abu Thalib meninggal, sehingga tahun tersebut disebut tahun duka cita. Dengan wafatnya dua penopang utama ini, orang-orang kafir Quraisy semakin genjar melakukan penyiksaan, pencobaan pembunuhan terhadap Nabi dan para pengikutnya. Setelah diboikot habis-habisan, diteror terus menerus. Akhirnya setelah Isra’ secara simbolis bersama Jibriel dilakukannya, maka Isra’ secara praktis benar-benar terjadi sebagaimana kebanyakan Nabi dan kebanyakan orang-orang terdahulu, diusir dari negeri sendiri oelh bangsa sendiri. Singkatnya, Rasulullah SAW mau tidak mau, tidak bisa tidak, harus melakukan perjalanan jauh bersama pengikutnya di malam hari dalam rangka menghindari tekanan yang tidak punya prikemanusiaan lagi atau yang diistilahkan sekarang pelanggaran HAM berat. Itulah peristiwa Hijrah sebagai buah dari Isra’.

Sedangkan sholat merupakan Mi’raj itu sendiri. Sebagaimana Sabda Nabi SAW: “Ashsholatu Mi’rajul Mukminin”, sholat itu Mi’rajnya orang-orang mukmin. Nabi menerima pengukuhan syariat sholat saat Mi’raj ke langit menuju pusat alam semesta adalah untuk menerima perintah sholat. Sholat disyari’atkan saat itu bukan saja sebagai sebuah kebutuhan spritual di mana secara batiniyah, kaum muslimin sangat perlu wahana yang mampu memperkuat kekuatan mental-spritual dalam menghadapi orang-orang kafir, musrik dan munafik; bahkan lebih jauh sholat telah menjadi ukuran kedekatan seorang mukmin dengan Penciptanya. Dengan kata lain sholat merupakan sarana atau alat naik bagi seorang mungkin baik dalam derajat ketaqwaannya, posisi sosialnya sesama mukmin, maupun yang paling penting ketinggian kualitasnya dan kedekatannya dalam pandangan Allah SWT.

Perjalanan Menuju Kebangkitan UIBI
Satu-satunya dalil al-Qur’an tentang peristiwa Isra’ adalah ayat pertama surat al-Isra’. Surah al-Isra’ ini oleh Rasulullah SAW dan para Sahabat juga menyebutnya dengan surah Bani Israil. Hikmah yang terkandung pada “dua nama pada surat yang sama” dalam al-Qur’an banyak sekali. Salah satunya adalah mengajak kita melihat sesuatu yang sama dari aspek yang berbeda. Kesamaan dua atau lebih nama surat biasanya menunjukkan makna yang sama yang ingin ditunjukkan melalui aspek lain. Misalnya, nama lain dari surah at-Taubah yaitu Bara’ah.
Dan memang dalam hal ini yang dimaksud dengan taubat itu adalah bara’ah itu sendiri. Hanya saja sudut pandangnya yang berbeda. At-Taubah artinya kembali. Sedangkan Bara’ah artinya melepaskan diri/pemutusan hubungan. Maksudnya, orang yang bertaubat tentunya orang yang ingin kembali ke jalan Allah atau jalan kebenaran; pada saat yang sama harus menjadi orang yang bara’ah. Artinya, orang yang melepaskan diri dari jalan selain Allah atau memutuskan hubungan dengan segala jenis kejahatan/ kesalahan masa lalunya.
Demikian pula penamaan surat Isra’ dan Israil. Kata Bani Israil sendiri berasal dari dua kata yakni, kata Bani (artinya generasi, keturunan, anak-cucu; bentuk jamak setara abna-a, banin dari kata ibnu) dan kata Israil (yang berasal dari bahasa serapan Ibrani yang berarti berjalan di waktu malam). Jadi, Bani Israil artinya generasi yang berjalan malam. Bani Israil di sini, maksudnya keturunan Nabi Ya’qub AS, yang bergelar Israel karena keluar bersama pengikutnya dari saudara sebangsa dan setanah air lantas kemudian melakukan perjalanan di waktu malam dari negeri Kana’an (daerah Palestina sekarang) pada waktu malam untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Sedangkan kata Isra’ itu memang menunjukkan kepada perjalanan yang dilakukan pada malam hari juga sebagaimana yang dimaksud dengan kata Israil; hanya saja kata Israil lebih sifatnya kolektif ketika diidhafahkan atau dikaitkan dengan kata Bani, sedangkan kata Isra’ menunjukkan pelaku tunggal yakni Rasulullah SAW. Oleh karena itu, penamaan surat Isra’ yang menjadi satu-satunya dalil al-Qur’an mengenai peristiwa bersejarah tersebut dengan nama lain Bani Israil sebenarnya menunjukkan kejadian yang sama pada waktu yang berbeda dengan pelaku yang berbeda pula.

Jadi sebenarnya, Nabi Ya’qub AS juga pernah melakukan Isra’ di masanya dengan sebab, alasan dan tujuan yang sama dengan Nabi Muhammad SAW di masanya. Untuk lebih dapat memahami hal ini, kita dapat membandingkan pula dengan apa yang dialami oleh Nabi Musa AS di masanya. Firman Allah: “Dan sesungguhnya telah kami wahyukan kepada Musa: “Berjalanlah (Asri) kamu bersama hamba-hambaku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di tengah laut itu; kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tak usah takut akan tenggelam” (QS. Tho-ha 20: 77).

Dari ayat tersebut jelaslah Nabi Musa AS juga mengalami Isra’ bersama pengikutnya di malam hari guna menghindari kejaran kelompok Militer Fir’aun. Sama halnya dengan Muhammad saat hijrahnya juga dalam pengejaran kaum Quraisy.

Namun bagi kita umat Islam bangsa Indonesia yang sudah sangat sering disakiti dihina, dicemooh dan dituduh teroris (sebab kata Jamaah Islamiyah itu artinya semua orang yang mengaku Islam) dapatkan mengambil sari pati Isra’ Mi’rajnya Nabi Muhammad ini sebagai satu karomah atau kemuliaan bagi umat Islam. Dapatkah umat Islam yang masih bersih jiwanya, masih tertindas batinnya melihat kemaksiatan yang semakin merajalela di Indonesia untuk dapat menangkap dan menerima pesan-pesan yang terselubung, tersembunyi yang dikemas Rasul dibalik sejarah yang ia tulis dengan tinta emas, tinta air mata bahkan tinta darah? Itulah sejarah kebangkitan. Akan ada sejarah yang hancur menyusul sejarah kebangkitan. Akan ada yang tutup buku, dan yang lainnya buka lembaran baru. Tinggal, semua kita yang memilih di pihak yang mana.

Lantas ke mana kita akan bawa umat ini melakukan perjalanan di malam hari atau ke mana kita hendak lari? Kita dikejar siapa? Kan itu pertanyaannya. Bagi kita yang merasa dikejar-kejar, entah itu dikejar-kejar oleh dosanyanya sendiri atau karena ulahnya sendiri, cobalah untuk hijrah “menemukan sesuatu yang baru”. Seterusnya, bagi yang hendak membawa dan mengawal umat ini, silakan siang hari saja mau malam juga boleh. Terserah. Yang penting sebenarnya, galang persatuan umat Islam bangsa Indonesia dengan membangun jaringan dakwah dan sebagainya. Buat seolah kita bekerjasama dengan siapa saja, biarpun itu musuh Allah sekalipun. Buat siang seperti malam dan buat malam seperti siang. Bekerjalah dalam gelap malam sampai mulai tampak tanda-tanda fajar kemenangan seperti kata mantan Presiden Mesir Anwar Sadat.

Idul Fitri apaLebaran?

Idul Fitri atau Lebaran?
Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.

Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.

Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.

Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.

Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.

Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.

Idul Fitri, apa lebaran?

Entah siapa yang menukang-nukangi istilah-istilah Islam yang ada di segala aspek di tengah-tengah bangsa kita ini, sehingga ada saja istilah-istilah Islam yang hilang dan sudah tak dikenal lagi, bahkan dari tahun ke tahun semakin asing bagi umatnya sendiri. Memang tak ada gunaya bila langsung dituding, “Lha ini pasti kerjaan musuh –musuh, musuh-musuh Allah dan rasulNya dengan cara westerniasi. Mereka tidak suka bila bahasa dunia Islam (Arab) dikenal. Pasti ini ulah mereka”, tetapi mana orangnya tak pernah tahu. Nanti dikira kita kerjanya menuding saja tanpa bukti.

Kalau dulu, di dunia pendidikan orang-orang tua kita masih tahu betul apa itu ilmu hayat, aljabar, ilmu hisab. Sekarang diganti istilah biologi dan matematik dan geometri. Mungkin kalau agak diinggris-inggriskan kedengarannya lebih keren, modern dan tren ketimbang diarab-arabkan. Tapi tak apa-apa, tak perlu marah. Soalnya, artinya masih itu-itu juga, kalaupun tidak sama, pokoknya maknanya masih ada menyenggol sedikit-sedikit. Sama hal istilah Hari Raya Idul Fitri. Entah siapa punya kerjaan menggantinya dengan istilah Lebaran yang sama sekali tidak punya alasan jelas. Anehnya begitu banyak orang Islam di sini kok manut, nrimo begitu saja. Padahal perubahan istilah ini sangat mempengaruhi bentuk, sifat dan pelaksanaan peristiwa Syawal itu. Contohnya, ada yang mengundang acara makan-makan di rumah saudari Zahara (minjam nama dulu!). Pada hari yang sama, teman Zahara pun membenarkan kalau Zahara mau nraktir teman-temannya makan di rumah yang sama pada jam sama pula. Semua yang diundang pada berdatangan. Rupanya, tiba-tiba nama acaranya –tak tahu entah kenapa- dirubah; atau memang si penyampai undangan kurang memahami hakikat, essensi acara itu apa. Kata Zahara, sebenarnya acara itu acara niat sedekah, soalnya dia ada kaul, niatan pengen ngasih makan teman-temannya. Menu makanannya sama, tertib acaranya sama, cuma nama acaranya saja yang diganti.

Diyakini, perubahan istilah itu pasti besar pengaruhnya dalam mengubah jalannya acara. Kalau istilahnya nraktir makan, sepertinya acara itu bakalan seru dan cendrung hura-hura. Kalau istilahnya acara makan-makan barangkali lebih mengesankan apa adanya, tidak formal dan menunjukkan suasana keakraban. Coba kalau acara sedekah, Wahayoo?!! Kita bisa bayangkan bagaimana undangan-undangan yang salah niat tadi bakalan mengikuti acara itu, bisa ditebak apa kata mereka. “Apa nggak salah, nih”, kata yang satu. “Tumben nih, Rah”, kata yang lain.

Kalau digunakan dan dipopulerkan istilah Idul Fitri. Orang setidaknya mencaritahu istilah yang berarti kembali kepada fitrah, kembali suci, kembali murni itu. Apakah di zaman gila ini orang sudah malu kepada kesucian, kemurnian dan fitrah sehingga meskipun sebenarnya tidak enak didengar, kata lebaran yang tak jelas entah apanya yang “lebar” tetap digunakan. Tentu sangat menyedihkan bila ada yang kebingungan bila dikatakan, “Kita sebentar lagi memasuki hari raya idul fitri”. Lantas yang bingung bertanya, “Idul fitri itu apa?”. Lalu dijawab, “Idul Fitri itu ya lebaran!” dan terakhir ia manggut-manggut, “Oo, lebaran. Bilang dong dari tadi”.

Akhirnya, bagi kita yang ingin mencintai Islam, jangan dilupakan bahwa keislaman kita didukung oleh hal-hal yang kelihatannya sepele tadi. Singkatnya, orang yang mencintai Islam akan cinta produk-produk Islam, agar mereka tak terjajah secara ekonomi. Orang Islam akan cinta dan menjaga Istilah-istilah Islam yang sampai hilang dari masyarakat. Peninggalan dan berbagai bukti sejarah peradaban Islam, agar sejarah Islam tidak diputarbalikkan dan lain sebagainya.
Itulah sebabnya soal robah-merobah istilah, walaupun perbuatannya kelihatannya sepele, tetapi bagi Allah sangat besar maknanya sehingga memberikan hukuman yang berat kepada orang-orang Yahudi di masa Nabi Musa AS dulu, mereka diperintah Allah menggunakan istilah “Hitthoh” tetapi diplesetkan mereka menjadi istilah “Bitthoh”.

Firman Allah QS. 2 (al-Baqarah: 60-61). “Dan ingatlah ketika kami mengatakan: Masuklah kamu ke pemukiman dan makan apa yang ada di sana sekira-kira yang kamu inginkan dan katakanlah: Hittah, Kami pasti kan ampuni kesalahan-kesalahan kamu sekalian. Dan kami pasti akan membalas orang-orang yang berbuat kebaikan (ambil peduli). “Maka orang-orang zalim yang ada di antara mereka mengganti istilah yang bukan istilah yang diucapkan kepada mereka. Maka Kami turunkan terhadap orang-orang zalim itu, kutukan dari langit disebabkan hal-hal yang mereka fasiq (menganggap remeh) padanya.