Thursday, 9 July 2009

MATERI WORKSHOP PEMBUATAN FILM BAGI ANAK USIA 8-17 tahun (FFA 2009)

MATERI 1:
Cinematografi dan pengenalan Film fiksi dan dokumenter berbasis anak
Output: Anak dapat memahami film secara keseluruhan dengan bahasa yang mudah dimengerti baik dari segi alur (opening, isi dan ending) maupun dari segi isi (dari frame, section, segment, shoot, scene hingga menjadi film utuh)

MATERI 2:
Menonton, Membedah dan Membuat Film: Dari sebuah ide menjadi sebuah film
Outcome: Anak dapat menggali imajinasi dan inspirasi melalui sebuah film dan menuangkannya menjadi cerita. Cerita tersebut kemudian direkonstruksi dan direkam
Output: Anak dapat mencari ide, menemukan ide & bekerjasama untuk merobah idenya menjadi film

MATERI 3:
Mengenal Seluk-Beluk Manajemen Produksi Film dan Bagaimana Anak Berpartisipasi?
Outcome: Anak mengenal tahapan produksi (prepare, produksi, pasca produksi) pembagian tim produksi baik bagian tim produksi seperti manajer produksi dan kru-krunya maupun bagian tim kreatif seperti sutradara dan kru-krunya
Output: Anak dapat membentuk tim produksi sederhana & membuat film dengan tim produksi yang dibentuk

MATERI 4
Pengenalan alat, teknik pengambilan gambar/ perekaman suara dan pemilihan objek
Outcome: Anak dapat mengenal bagian-bagian penting camcorder, memahami objek, sudut (angle) dan teknik pengambilan gambar.
Output: Anak dapat mengoperasikan kamera sesuai dengan kebutuhan cerita dan pemahaman penonton baik menggunakan EMC (establish, medium, closeup dsb) maupun statis – dinamis (tilt, zoom dsb)

MATERI 5
Teknik Penulisan Naskah, Pembuatan storyboard dan Editing film.
Outcome: Anak dapat memahami jenis dan bagian-bagian storyboard dan kaitannya dengan editing serta proses mengedit film melalui Pinnacle dan Ulead.
Output: Anak dapat menyusun story board, anak mengoperasikan sofware film editing dasar (pinnecle, ulead)

MATERI 6
Properties, setting lokasi, lighting dan makeup
Outcome: Anak dapat memahami pembuatan sebuah set lokasi dan menggunakan properties film
Output: Anak dapat melakukan set lokasi yang sederhana sesuai kebutuhan naskah, dan makeup yang dapat memberikan efek visual (horor, tragis dan sebagainya)

MATERI 7
Teknik Casting dan Penyutradaraan
Outcome: Anak dapat memahami seni koreografi, teknik penghayatan dan pengarahan dalam film
Output: Anak dapat menghayati sebuah cerita, menggali talenta, melakonkan peran dan mengarahkan peran

Pembicara: Onny Kresnawan, Andi Galunk, Eric Murdianto, Rius Suhendra, Wendy
Fasilitator: Misran Lubis, Jufri Bulian Ababil

Perfilman Anak

Pemprovsu, PKPA dan Komunitas Film Sumut Gelar Workhop Pembuatan Film Karya Anak

• Direktur PKPA: Jangan Anggap Remeh Kemampuan Anak-anak

Medan, - (Siaran Pers)
Pemerintah provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) melalui Biro Pemberdayaan Perempuan (PP), Anak dan Keluarga Berencana (KB) Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Utara (Setdaprovsu) bekerjasama dengan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) dan Komunitas Film Sumatera Utara (Kensington Institute, SFD, MSM, IMMC) menggelar Workhsop Pembuatan Film Karya Anak di Aula Martabe kantor Gubernur Sumatera Utara, Jumat-Sabtu (3-4 Juli) akhir pekan lalu.

“Workshop ini merupakan rangkaian kegiatan Hari Anak Nasional HAN tahun 2009, sekaligus bagian dari Festival Film Anak (FFA) ke-2 tahun 2009,“ kata Kepala Biro (Karo) PP, Anak dan KB Dra. Hj. Vita Lestari Nasution M.Si kepada wartawan di Medan, Selasa (7/7) kemarin.
Vita menambahkan, Workshop yang dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Gatot Pujonugroho didampingi oleh Staf Ahli Kementerian Pemberdayaan Perempuan itu diikuti oleh 65 anak usia 6-17 tahun yang berasal dari Medan, Deli Serdang, Langkat, Tebing Tinggi dan Pematang Siantar dengan melibatkan orang tua dan guru sebagai pendamping.

“Sebagaimana tujuan kegiatannya, yakni memfasilitasi anak-anak untuk berkreasi dan membekali mereka dengan pengetahuan yang berguna untuk membentengi diri mereka dari dampak negatif dari tayangan-tayangan horor dan kekerasan. Selain itu, materi dan praktek pada workhsop yang kita laksanakan itu juga telah disesuaikan dengan kemampuan dan tingkat usia mereka,” jelasnya.

Dijelaskan, materi yang disampaikan dan praktek latihan yang dilaksanakan dalam workhsop selama 2 hari itu antara lain, dasar-dasar sinematografi, penggalian ide, menulis naskah, dasar-dasar casting, manajemen produksi, pencahayaan, make up, setting lokasi dan editing.
“Anak-anak dibekali dengan pengetahuan praktis yang mudah dicerna, karena telah dikemas dengan metode bermain. Fasilitas pendukung dan instrumen perfilman juga sudah disesuaikan dengan tingkat usia dan minat bakat mereka,” ujarnya.

Vita, mengutip arahaan Wagubsu saat pembukaan kemarin kembali menyampaikan, anak-anak Indonesia, khususnya Sumatera Utara harus dididik untuk sehat dan kuat, cerdas, kreatif dan berakhlaq mulia.

Melalui perfilman anak sebagai salah satu ruang kreatifas anak yang digagas pertama kali di tahun 2008 melalui pelaksanaan Festival Film Anak (FFA) 2008, diharapkan anak-anak dapat berpartisipasi, berekspresi, menyalurkan minat bakat dan mengisi hari-harinya dengan kegiatan yang bermanfaat dan berguna bagi masa depan mereka.

Kemampuan Anak
Direktur Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Ahmad Sofian, SH, MA mengatakan, sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pemenuhan hak-hak anak, dibutuhkan kesabaran para orang tua, guru, masyarakat dan negara dalam mengikuti proses tumbuh kembang anak, karena dunia anak-anak sangat kaya dengan misteri dan teka-teki yang tidak seluruhnya bisa dipecahkan dalam waktu singkat. Karenanya, jangan meremehkan memampuan anak-anak.
“Kadang kita panik melihat perobahan yang terjadi, seperti usaha kita mengumpulkan telur kupu-kupu, kita panik saat yang ditetaskan bukan kupu-kupu melainkan ulat, kita terkadang menunggu dengan sabar perobahan berikutnya, tetapi yang kita lihat malah menjadi kepompong,” kata Sofian.
Padahal, kata Sofian, bila dipahami seluruh rangkaian metamorfosis alamiah, maka kita tidak perlu menganggap remeh kemampuan anak, atau bahkan menjadikan mereka subordinasi dari kehidupan ini.
“Dibalik keluguan dan kepolosan anak-anak kita, tersimpan kemampuan yang luar biasa yang tidak bisa diukur secara matematis, tetapi hanya bisa diarahkan dengan cara memberikan bimbingan, ruang dan fasilitas selama proses perobahan yang terjadi hingga mereka dewasa. Untuk itu kita harus memberikan ruang bagi mereka untuk mengisi berbagai kemampuan yang bermanfaat,” terang Sofian.

Regenerasi Sineas
Kordinator sekolah film, model dan bisnis Kensington Institute (KI) Rius Suhendra sehubungan dengan keterlibatan komunitas film Sumatera Utara pada pelaksanaan workshop Pembuatan Film Karya Anak itu mengatakan, kerjasama ini merupakan salah satu bentuk usaha regenerasi sumber daya perfilman di Sumatera Utara sekaligus memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berekspresi dan berkumpul sebagai bagian dari hak mereka yang juga menjadi tanggung jawab masyarakat.

“Target berapa film yang akan jadi, bukan persoalan, yang penting bagaimana anak-anak dapat mengenal film sesuai dengan dunia mereka, dan dapat menggali ide,” kata Suhendra kepada wartawan di Medan, Selasa.

Membentuk sineas muda dan regenerasi SDM di industri film, sambungnya, memang menjadi salah satu tujuan komunitas film Sumatera Utara melaksanakan kegiatan seperti ini. Namun, lanjutnya, tujuan tersebut lebih bersifat jangka panjang.
“Saya kira dibutuhkan proses yang akan memakan waktu lama. Tetapi kita berharap dengan dukungan pemerintah Sumatera Utara dan PKPA, proses tersebut dapat berjalan lebih cepat dan terarah,” cetusnya.***

Saturday, 13 June 2009

Festival Film Anak (FFA): Menelusuri Jejak Anak Rimba

Festival Film Anak (FFA) 2008: Pertama di Indonesia


Kembali, PKPA dan Komunitas Film di Sumut Selenggarakan FFA ke-2

• Pemropsu Diminta Jadikan FFA Menjadi Program Tahunan


Medan,
Setelah sukses menyelenggarakan Festival Film Anak (FFA) pada 2008 lalu, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) bekerjasama dengan komunitas film di Sumatera Utara kembali menyelenggarakan FFA 2009, yang memperlombakan film untuk katagori fiksi dan dokumenter. Pendaftarannya masih akan dibuka hingga 17 Agustus 2009 mendatang.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Steering Commite (SC) FFA, Onny Kresnawan didampingi SC FFA lainnya Rius Suhendra (Kensington Institute), Andi Hutagalung (Kofi 52), Erick Murdianto (MSM) dan Gunawan (IMMC) kepada wartawan di Medan, Kamis (11/6) lalu.

“Dalam tiga tahun pertama kami masih memberikan kelonggaran bagi anak-anak peserta yang masih melibatkan orang-orang dewasa dalam rangka melatih dan mendampingi anak-anak selama masa produksi. Jadi, sekarang ini hitungannya masih komposisi delapan puluh persen anak-anak dan dua puluh persen dewasa,” kata Onny.

Onny menambahkan, kelonggaran itu tentu saja harus tetap dibarengi dengan pengembangan jaringan sineas anak dan remaja di Indonesia melalui jaringan komunitas film independen seperti yang dilakukannya selama dua tahun terakhir.

Menurut Produser Sineas Film Documentary (SFD) itu, perlunya keterlibatan komunitas film indie ke dalam jaringan komunitas film anak merupakan pertimbangan yang matang, mengingat hal itu juga akan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama guru, orang tua dan sineas dewasa lainnya.

“Dengan adanya kerjasama sineas dewasa dan pendampingan produksi film anak di tiga tahun pertama ini, diharapkan akan memberikan warna bagi masyarakat agar lebih menemukan formulasi terbaik dalam melakukan pendekatan kepada anak-anak, sehingga dapat berfikir lebih berpersfektif anak,” ujarnya.

Namun, lanjut Onny, pihaknya menargetkan dalam lima tahun ke depan, film-film karya anak Indonesia benar-benar merupakan karya produksi anak-anak 100 persen walaupun pendampingan dan pemantauan produksi tetap akan dilakukan.

Mengenai soal usia 10-19 tahun Onny memaparkan, hal itu dilakukan lebih karena alasan realitas dunia anak. Soalnya, perlu waktu dan pelatihan yang serius untuk melibatkan anak-anak yang lebih dini dari usia tersebut.

“Kita tidak menafikan, tetapi kalau melibatkan, kita sudah melibatkan mereka sejak FFA 2008, malah aktor terbaiknya juga usianya baru 8 tahun, anak Bekasi Jawa Barat, siswa salah satu Sekolah Dasar Alam,” katanya.

Pertama di Indonesia
Festival Film Anak (FFA) di Medan merupakan festival film anak yang pertama di Indonesia, yang diselenggarakan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) bekerjasama dengan komunitas film dan belasan private sector di Sumut sejak 2008 lalu.

Direktur Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Ahmad Sofian, SH, MA di tempat terpisah kepada wartawan di Medan, Kamis (11/6) lalu menerangkan, FFA 2008 telah memperlombakan 17 film dokumenter dan fiksi karya anak-anak yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Aceh.

“Itu realitas anak-anak kita yang masih perlu dukungan banyak pihak. Terbatasnya akses mereka untuk mendapatkan informasi FFA merupakan salah satu faktor yang membuat kreatifitas perfilman anak di Indonesia kurang benar-benar menjadikan anak sebagai pelaku perubahan, bukan objek eksploitasi,” terang Sofian.

Selain menyelenggarakan festival, rangkaian kegiatan di FFA juga ada menyelenggarakan workshop, pendampingan produksi dan malam penganugerahan. Melalui workhop, anak diperkenalkan dan dilatih untuk menggunakan peralatan produksi film dari mulai penyusunan naskah, pembuatan stroty board, casting, penggunaan handycam sampai comcorder yang standar broadcast (camera 3ccd); sedangkan pendampingan dan pemantauan produksi dilakukan untuk memastikan orisinalitas dan kemungkinan kendala yang dihadapi anak-anak dalam berkreasi.

“Nah, malam penganugerahan merupakan malam puncak pengumuman dewan juri mengenai hasil seleksi terhadap film-film anak yang masuk ke Panitia,” jelasnya.

Program Tahunan
Sejak pelaksanaan FFA pertama yang diselenggarakan Juli 2008 silam, pemerintah Sumatera Utara (Pemprovsu) telah menjanjikan keseriusannya melalui Kepalada Dinas Kominfo Sumut untuk mendukung pelaksanaan Festival Film Anak (FFA), karena itu kepada Pemprovsu diminta untuk menjadikan FFA menjadi program tahunan.

”Bila diseriusi, FFA sebenarnya cukup strategis untuk mendorong anak ikut berpartisipasi memajukan pariwisata, budaya, pendidikan dan penyadaran di Sumatera Utara,” kata Kordinator Pelaksana (Coomitte Organizer) Jufri Bulian Ababil kepada wartawan di Sekretariat FFA di Jalan Abdul Hakim, Tanjung Sari Medan, Kamis (11/6).

Untuk itu, tambah Jufri, perfilman anak perlu mendapatkan perhatian dan tempat khusus bagi Sumatera Utara, agar anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang cerdas dan kreatif.

Menurut Jufri, saat ini pihaknya terus mendorong semua pihak baik di lingkungan instansi terkait seperti Biro PP Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Sumut, Dinas Kominfo, KPID maupun sektor swasta untuk mendukung pelaksanaan perhelatan film anak pertama di Indonesia ini.

”Film anak-anak yang diproduksi berdasarkan dukungan pihak yang memang seharusnya bertanggungjawab, tentunya akan bisa membangun kpribadian anak-anak melalui tontonan yang mendidik,” ujar tukas Kordinator Informasi dan Dokumentasi (Indok) PKPA itu.

Saat ini, kata Jufri, dirinya sedang mengupayakan langkah-langkah yang lebih maju mempromosikan Sumut hingga melalui film anak yang edukatif di seluruh lapisan tidak hanya dewasa tetapi juga anak-anak dan remaja. Karenanya, ia memandang perlunya dukungan banyak pihak, agar kegiatan seperti ini dapat menjadi program tahunan di Sumatera Utara.

Apalagi, imbuhnya, FFA juga sudah dilirik oleh sejumlah private sector di Sumatera Utara. Hal itu terbukti pada penyelenggaraan FFA tahun lalu, sudah belasan perusahaan swasta yang ikut andil mensponsori pelaksanaan FFA, dari mulai hadiah sampai publikasi. ***

(Jufri Bulian Ababil)

Thursday, 21 May 2009

Ikhlas Beribadah

Oleh : Jufri Bulian Ababil


Ikhlas
Ikhlas, secara lughawi (epistimologi) artinya selesai, tuntas, Berasal dari bahasa Arab, Khalasa sesuai dengan timbangan tatabahasa, kata ini merupakan mashdar (akar kata) yang memiliki pengertian kholas, (selesai) seperti pada kalimat Akhalashta hadza a’mal, yang berarti “sudahkah engkau menyelesaikan tugas-tugas ini?”.

Sedangkan secara istilah ilmiah (terminologi), kata Ikhlas mempunyai pengertian tulus dan murni, tidak bercampur dengan sesuatu yang lain. Pemaknaan ini dalam islam digunakan berkaitan dengan pekerjaan hati. Biasanya ikhlas selalu dihubungan dengan perbuatan yang baik (amal Sholeh) dan senantiasa dikaitkan dengan tujuan atau sasaran karena Allah semata-mata (lillahi ta’ala).

Ikhlas mempunyai banyak lawan kata, tidak ikhlash, bercampur, mendua hati dan setengah hati serta salah niat. Namun sebenarnya, ketidakikhlasan ini tetap memiliki akbibat yang sama, yaitu hasilnya tidak akan pernah tuntas maksimal dan sempurna. Maskudnya, kalau ada orang yang tidak ikhlash melakukan sesuatu, entah karena menyimpang niatnya, salah niat, punya maksud tertentu seperti kata pepatah ‘ada udang di balik batu’, mendua hati atau setengah hati, maka hampir bisa dipastikan hasil atau buah perbuatannya akan setengah jadi, gagal dan kurang maksimal pula atau jauh mendekati yang diharapkan; pokoknya kurang memuaskanlah.

Dienul Islam, sebagai agama yang diyakini mempunyai nilai spritualitas yang tinggi menempatkan kedudukan ikhlas sebagai standart nilai segala bentuk aktivitas kehidupan manusia, baik dalam melaksanakan ibadah ritual maupun dalam ibadah dalam arti umum yang menyangkut kehidupan masayarakat seperti saling menghormati, suka memberi, sopan dan sebagainya.

Jadi, ikhlas sebagai pekerjaan hati selalu dihubungankan dengan niat. Dan memang niat merupakan kunci utama dalam melaksanakan ibadah.

Sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari Muslim dan lainnya (Jama’ah), bersumber dari Umar bin Khattab RA:

Artinya: “Sesungguhnya segala pekerjaan itu tergantung niatnya. Dan setiap segala sesuatu sesuatu hanya berhubungan dengan yang diniatkan. Orang yang hijrahnya karena Allah, maka (buah/hasil) pekerjaan itu akan karena Allah. Orang yang hijrahnya karena seorang perempuan, maka ia akan menikahinya dan orang yang hijrah karena dunia maka ia akan mendapatkannya”.

Ibadah
Ibadah menurut tata bahasa berarti penyembahan. Berasal dari kata Abada ya’budu ibadatan. Juga mempunyai bentukan kata lain yang banyak seperti, Abid dan Abdi (hamba), Makbud (sembahan), Ubudiyah (ajaran pengabdian) dan sebagainya.

Sementara dalam istilah Syara’ (ajaran Islam), Ibadah mengandung pengertian segala amal perbuatan yang berhubungan dengan Allah sebagai sasaran pengabdian, ketaatan baik dalam pelaksanaan perintah maupun larangan.

Para ulama membagi ibadah menjadi dua bagian, mahdhoh (khusus) dan ghairu mahdhoh (umum). Sebagian yang lain membaginya menjadi ritual dan sosial. Ada pula yang menurut pembagian hablum minallah (hungungan langsung kepada Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan manusia). Namun, kesemua pembagian jenis ibadah ini tetap berkaitan dengan perintah dan larangan agama atau kepatuhan dan ketaatan terhadap ajaran Islam. Ibadah khusus contohnya sholat, haji, puasa. Sedangkan ibadah umum contohnya, jujur dalam menimbang, suka menolong dan gemar menuntut ilmu.

Jadi, segala yang diperintahkan bila dilaksanakan akan bernilai ibadah, begitu juga segala yang dilarang apabila ditinggalkan akan mempunyai nilai ibadah, akan diberi ganjaran yang baik (pahala) dan dijanjikan kehidupan yang bahagia aman dan sejahtera di dunia dan di akherat.

Ikhlas dalam Beribadah
Dalam beribadah diperlukan kelurusan hati, sehingga pelaksanaannya sesuai dengan yang diharapkan, memuaskan dan bernilai positif dalam pandangan Allah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, orang yang sholat dengan hati yang ikhlas, maka sholatnya akan menyerupai sebuah kilatan cahaya putih bersih yang amat terang benderang yang menembus langit ke tujuh dan langsung menghadap Allah sebagi sebuah persembahan seorang hamba. Allah bangga dengan orang yang mempersembahkan cahaya itu. Lalu Allah merestui sholatnya itu lalu dikembalikan kepada yang melakukannya dengan nilai yang berlipat ganda.

Sedangkan, orang yang sholat dengan hati yang tidak ikhlas, sholatnya juga akan keluar dari bumi menghadap Sang Pencipta, tetapi dengan penyerupaan yang jelek, hitam kusam dan kumuh, yang dalam riwayat diumpakan kain lap (bekas pembersih). Tetapi sholat itu tidak sampai kepada Allah, karena Allah berfirman: “Kembalilah kamu kepada tuanmu”.

Begitulah, tidak hanya sholat, segala perbuatan (amal) yang baik maupun yang buruk akan hidup dan bisa memberikan dampak atau pengaruh, akibat dan nilai bagi si pelakunya.

Firman Allah, dalam al Qur’an Surah Al-Bayyinah (98), ayat 5:

“Kamu tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas karena Allah (pemilik) Agama (Dien) dengan lurus (hanief/tidak melenceng), dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Dan demikian itulah Agama yang tegak (kokoh)”.

Ambillah Zakat, Bersihkan Diri dan Harta

Oleh : Jufri Bulian Ababil S. Sos.I


Kalau pajak, baik Pajak Bumi, PPh dan sebagainya dipungut setiap tahun barangkali sudah tidak asing lagi bagi kita, sehingga ketika terjadi penunggakan cepat diketahui. Tapi kalau ada ayat al-Qur’an yang memerintahkan kepada kita bahwa zakat pun harus dipungut oleh para petugas pemungut pajak (amil), dapat dipastikan pasti banyak di antara kita terkejut bahkan merasa kebingungan, “Opo iyo?”. Sebab umumnya dan biasanya, zakat itu setahu kita diantar si pembayar.

Sebenarnya isi perintah al-Qur’an zakat itu dipungut amil, bukan diserahkan pembayar zakat. Firman Allah SWT QS. 9 at-Taubah: 103:“Khuz min Amwalihim shodaqoh, lituthahhirihim wa tuzakkiyhim biha”. Kalau dibahasaindonesiakan artinya kira-kira, “Ambillah dari sebagian harta mereka itu shodaqah (zakat), supaya menyucikan dan membersihkan dengannya”. Namun banyak pertimbangan mafsalah marsalah yang membuat persoalan teknis tersebut berubah, namun diharapkan tidak merubah hakikat dan tujuan zakat itu sendiri. Banyak alasan yang dapat dikemukakan. Zaman Rasul kan orang Islam masih sedikit, sekarang? Apalagi di Indonesia. Tentu para amil amat kewalahan. Alasan lain mungkin, di masa Rasul dan sahabat kepemimpinan dan pemerintahan berada di tangan umat Islam, hukumnya pun hukum Islam (sesuai Qur’an dan nyunnah). Sehingga kebijakan pemerintah, political will, sistem dan kinerja roda kehidupan masyarakat saat itu terhadap kemajuan dan peradaban Islam sangat mendukung.

Di masa Rasulullah SAW dalam hal penunaian kewajiban rukun Islam ketiga tersebut, kan Nabi sebagai pemimpin komunitas sekaligus pemimpin spritual menunjuk sejumlah sahabat untuk memungut zakat. Zaman sekarang? Pemimpin kita kan macam-macam, multi idiologi. Ada yang idealis. Ada yang opportunis, ada yang pragmatis romantis. Ada beridiologi pancasila, ada agama, ada yang kapitalis, ada pula sosialis dan sebagainya. Tentu saja akan banyak hambatan untuk menggoalkan kebijakan soal ini. Jangan-jangan belum apa-apa masing-masing sudah saling guit (senggol, ada uangnya nggak?”).

Dalam satu riwayat tentang zakat yang sudah cukup pupuler adalah kisah sahabat Nabi yang bernama Tsa’labah yang luar biasanya miskinnya, saking papa dan melaratnya, kain (sarung) sholat pun harus berkongsi (bergilir) dengan sang isteri. Hal ini disinyalir Rasul ketika beliau melihat Tsa’labah langsung membalikkan badan tergopoh-gopoh seolah-olah mengejar seseatu. Begitu setiap hari. Rasul bertanya: Kenapa engkau begitu Tsaklabah?”. Kata Tsa’labah. “Kain saya Cuma satu ya Rasulullah. Istriku belum sholat ia tidak ada kain”. Suatu hari Tsa’labah minta didoakan oleh Rasul agar menjadi orang kaya, agar ia semakin rajin beribadah dan makin dekat kepada Allah. Ringkas cerita, setelah didesak dan telah mendengar pertimbangan dan sebagainya Rasul pun mendo’akan, tak lupa memberi Tsa’labah sepasang kambing yang akhirnya berkembangbiak menjadi banyak dan sehat-sehat.

Pada tahun-tahun pertama, Tsa’labah tetap taat beribadah, Zakatnya pun lancar. Tsa’labah telah stand by di rumahnya saat petugas pengambil zakat datang. Tapi lama-lama karena sibuk mengurusi ternaknya, Tsa’labah jarang dan akhirnya tak lagi muncul-muncul ke mesjid. Bahkan zakatnya pun sempat nunggak. Akhirnya, Rasul SAW melarang para petugas zakat mengutip zakat Tsa’labah. Dibayarnya pun nanti jangan diterima dulu sebelum ada izin dari Rasul. Akhirnya, azab Allah SWT ditimpakan kepada Tsa’labah karena kepelitan dan kedurhakaannya Allah dan mangkir janji pada Rasul saat akan didoakan dulu. Secara bertahap ternak Tsa’labah bermatian, karena terserang suatu penyakit, barangkali yang dikenal dengan anthrak atau entah apa?

Di masa kekhalifahan Abu Bakar Shiddique RA, pemerintahan Islam memerangi orang yang tak berzakat. Perang ini dikenal dengan perang Yamamah yang mengakibatkan sedikitnya tujuh puluhan Huffazh (Penghafal al-Qur’an) meninggal sebagai syuhada. Betapa pentingnya zakat bagi Islam. Begitu pun bagi peran pentingnya bagi pemerataan ekonomi. Satu hal lagi, zakat sangat penting bagi kesucian diri dan kebersihan harta dari milik yang mustahak (anak yatim, fakir miskin, ibnu sabil dan lainnya). Krisis ekonomi dan moneter sudah berlalu. Ketimpangan sosial, ketidakadilan dan ketidakmerataan ekonomi sangat makin hari makin terasa menusuk mata dan hati. Ini menunjukkan betapa diri dan harta yang kotor telah menjangkiti bangsa ini membuat hati mati dan keras. Hingga penggusuran demi penggusuran terjadi. Dapatkah kita meyakini bahwa zakat adalah solusi?

Haji dan Sistem Infokom di Negara Muslim: Selamat Jalan Tamu Allah

Oleh : Jufri Bulian Ababil S.Sos.I

Labbaik Allahumma labbaika…la syarika laka Labbaika…Innal Hamda Wannikmata Laka wal Mulk…La syarika Lak. Alangkah harapnya hati mendengar suara panggilan Allah itu. Hadiah sudah siap dipersembahkan. Bertahun-tahun uang dikumpul agar bisa menjadi tamu Allah. Namun apa daya, gara-gara kurang diplomasi dan dan komfirmasi 30.000 calon jama’ah (7927 untuk Sumut) harus bersabar menerima kenyataan pahit, pemerintah kerajaan Saudi membatalkan penambahan kuota.

Kenyataan ini menunjukkan suatu hal yang dilematis, sangat kontras dan kontraproduktif antara apa yang dilakukan “seorang pahlawan pencari harta karun” dengan apa yang menjadi eksistensi Ibadah Haji itu sendiri. Walaupun memang tidak ada unsur kesengajaan, namun dari sudut pandang apapun, kita tetap akan memandang hal itu sebagai sesuatu yang sangat naif, sangat tolol dan memalukan bagi sebuah “instansi” yang mengatasnamakan sebuah negara/ seorang yang mengaku mewakili sebuah bangsa yang cukup besar.

Haji: Apa dan Siapa?
Secara bahasa, apa yang kita kenal dengan istilah “Haji” itu dapat berarti hujjah dan argumen, dapat pula berarti data dan bukti. Maksudnya bagaimana seseorang yang mewakili ide dan keyakinannya mewakili mempersembahkan sesuatu yang sangat berharga bagi kemenangan kaumnya. Singkatnya, kata-kata ini erat sekali kaitannya dengan dunia informasi dan komunikasi dan tentu saja sangat erat terkait dengan sistem intelijen, sistem hubungan luar negeri.

Secara istilah Haji merupakan syariat Nabi Ibrahin AS yang dikukuhakan kembali kepada Nabi Muhammad SAW menjadi syariat bagi umatnya sebagai rukun. Dalam haji terdapat tonggak sejarah yang sangat menentukan bagi tegaknya kembali kekuatan Islam di seluruh dunia. Banyak hikmah yang dapat kita petik di balik “ceremonia” atau ritualitas haji, yang dipandang sebagai simbolisasi “perjuangan”, “proses memenangkan peperangan”, “kekuatan spitual”, “konsolidasi internal”, “keajaiban hidup” dan sebagainya.

Orang-orang yang mampu melaksanakan haji adalah bukti yang ditunjukkan Allah SWT untuk keterwakilan suatu suku, kelompok, kaum, bangsa atau negara dalam rangka memeuhi panggilan Allah SWT sebagai orang-orang yang dikukuhkan tetap dalam keterwakilannya. Itulah sebabnya, kita melihat segala bangsa, suku dan profesi bertemu di Rumah Allah, Rumah yang Ajaib dan Agung itu. Setiap kelompok setiap tahunnya punya keterwakilan. Ada yang mewakili buruh, petani, LSM, Pemerintah, para wali, sufi, pers, guru, pengusaha sampai pada seorang gembel pun ada perwakilannya.

Haji di Indonesia
Persoalan haji adalah persoalan negara. Berarti urusan Ibadah termasuk harus dikelola negara. Baik tidaknya ibadah warga negara ada keterkaitan terhadap fasilitas yang berikan negara di dalamnya. Jelasnya, urusan Islam berhubungan dengan negara. Di Indonesia, kendati rukun Islam ada lima, namun hanya UU yang mengatur haji dan zakat saja yang ada. UU Syahadat, sholat dan puasa belum ada. Terlepas dari “spekulasi” dan penilaian barangkali Haji dan Zakat ada duitnya (dapat memberikan input bagi negara), kita masih perlu bersyukur pemerintah masih mau mengurusi persoalan ke dua rukun Islam ini yang suci ini. Namun muncul pertanyaan, mungkinkah sesuatu yang suci dikelola oleh oknum-oknum yang tidak suci hatinya? Untuk menjawab hal itu, perlu dilihat dulu kenyataan bagaimana zakat dan haji dikelola. Kendatipun keduanya sama-sama bermasalah, di sini kita tidak membahas soal zakat, melainkan menukik langsung ke persoalan haji.

Sekali lagi sebagaimana diketahui banyak orang, urusan haji di Indonesia banyak menimbulkan masalah. Karena di negara sudah bayak bercampur yang hak dan yang batil. Apalagi haji sudah dijadikan oknum-oknum tertentu sebagai “barang dangagan” demi hawa nafsu keduniaan. Dari persoalan ONH, Kuota, Asrama, pengelolaan, pelayanan sampai pada kepulangan. Bila dihitung-hitung, rasanya perlu mengabiskan puluhan buku tebal untuk menuliskannya.

Banyak kalangan mencoba mengusulkan solusi persoalan seputar haji ini. Di antaranya sebagaimana yang diungkapkan Sekretaris MUI Pusat Dien Syamsuddin dan Mantan Menag Tarmidzi Taher, Kuota dari Depag untuk pejabat negara pergi ke tanah suci tahun ini sebaiknya dihapuskan saja dan jatah mereka diberikan kepada rakyat. Juga diusulkan rombongan amirul hajj ditiadakan karena jumlahnya membengkak dari apa yang ditetapkan menteri.

Menko Kesra Yusuf Kalla pun ikut bicara. Katanya, pemerintah akan keluarkan Keppres tentang haji, di mana seorang calon haji boleh melaksanakan haji sekali lima tahun. Karena hal ini pun dinilai bermasalah. Soalnya, banyak orang yang haji 3-4 kali masih diberangkatkan sementara yang belum pernah harus menunggu, bahkan kehabisan kuota. Meskipun Menurut Yusuf Kalla ONH 30.000 calon jemaah haji yang gagal berangkat akan dipulangkan, namun apakah persoalan ini akan selesai sebatas pemulangan uang. Bagaimana dengan bunga deposito di Bank-bank ONH selama ini yang nilainya milyaran bahkan triliunan rupiah itu dan tanggung jawab moral pemerintah terhadap dampak yang mungkin muncul.

Membangun Hubungan (Sistem) Infokom
Secara filosofis, haji adalah puncak tertinggi dari pembagunan Islam yang dimulai dari pengukuhan syahadat sebagai fondasi/azas (pembangunan Idiologi Islam), sholat sebagai tonggak/tiang/tulang punggung/pilar (pembangunan aparatur dan militer dalam Islam) zakat sebagai naungan/pengayoman (pembangunan sistem ekonomi umat), puasa sebagai dinding/tembok/perisai (pembangunan sistem informasi dan komunikasi/ hubungan luar negeri). Dengan demikian sempurnalah Islam dalam wujudnya sebagai negara Muslim yang kuat dan tak terkalahkan. Bila diumpakan tubuh haji merupakan sistem penglihatan dan pendengaran. Bila dalam perang urusan haji seperti urusan intelijen yang mencakup infiltrasi dan netrasi. Jadi sangat “telak” apa yang dialami calon jama’ah haji kita pada musim haji tahun ini. Taruhlah, ini tidak dianggap sebuah kegagalan diplomasi. Namun kelihatannya tidak seperti di negara-negara lain, banyak menteri yang merasa malu atas kegegabahannya sehingga mengundurkan diri atau meminta maaf kepada calon jemaah yang tentu saja sangat kecewa. Ini pun tidak dilakukan.

Dari segi syariatnya, pelaksanaan manasik haji adalah gambaran “puncak perjuangan” memenangkan Islam. Dari Thawaf dapat dilihat bagaimana proses sikluitasi berjalan menurut arus searah menggambarkan mekanisme “penghambaan dan ketaatan” harus berjalan seiring. Dalam sa’i dapat dilihat betapa konfirmasi guna mengikuti perkembangan perlu dilakukan agar menemukan jawaban paling “fit”. Begitu pula wukuf yang dapat menunjukkan betapa Islam menghimpun seluruh kekuatan untuk melakukan konsolidasi dan sharing informasi dan seterusnya. Jelasnya, Allah SWT telah mensyariatkan Haji sedemikian rupa agar dapat diaktualisasikan dalam dunia Islam, tidak hanya sebatas ritualitas atau “gelar dan embel-embel nama”.

Firman Allah (QS. Al-Baqarah 2: 160-163), “Dan ingatlah ketika kami menjadikan rumah ini (ka’bah) sebagai mastabah (tempat pengukuhan/pelantikan) dan pengamanan, dan menjadikan dari tempat tegak Ibrahim sebagai tempat Shalat. Dan kami janjikan kepada Ibrahim dan Ismail agar mereka berdua mensucikan Rumah-Ku itu bagi orang-orang yang thawaf, beriktikaf, rukuk dan sujud). Ibrahim berkata, Jadikanlah negara ini negara yang dipercaya (aman) dan berilah rezeki di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: “Siapa yang menentang, maka Aku akan memberinya kesenangan sedikit (dunia) selanjutnya, Aku akan mencampakkannya ke neraka Jahannam sebagai tempat kembali yang (jelek). Oh Tuhanku jadikanlah kami orang-oarng yang menegakkan sholat dan dari generasi (keturunan) kami. Ya tuhan kami. Oh tuhan Kami terimalah kami (untuk menghadap) dan terimalah kami. Sesungguhnya Engkau maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Tamu Allah
Selamat jalan Tamu Allah…semoga menjadi haji yang Mabrur. Ungkapan ini rasanya paling pantas untuk mengantarkan para calon jamaah haji kita. Namun perlu disadari, keberangkatan ke tanah suci bukan saja untuk pribadi yang melaksanakan tetapi juga untuk keterwakilan bangsa dan golongan kita. Haji mabrur adalah haji yang dapat mengukuhkan kedudukannya sebagai “orang yang mapan” di kalangannya. Seorang haji dari kalangan pers akan semakin mapan di bidangnya. Seorang perwira yang haji akan semakin mapan dalam tugas pengamanannya. Sebaliknya, bila hajinya tidak Mabrur maka ia juga akan semakin “parah” dalam melakukan tindakan yang menyimpang dari ajaran agama. Misalnya, seorang koruptor yang berstatus haji akan semakin mapan dalam menyelewengkan harta negara.

Kisah Mimpi Raja Saat Nabi Yusuf A.S. Dipenjara Isyarat Al-Qur’an, 2004 Puncak Kekurangan Pangan

Kebenaran Islam tidak dapat diukur dari penganutnya, sebab ada sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan “Al-Islamu mahjubu bimuslim”, artinya: Kebenaran Islam terhalang oleh penganut Islam itu sendiri. Hal ini memang dapat dilihat dan dibuktikan dari banyaknya ungkapan orang-orang yang lari dari ajaran agama dan memilih dunia, gara-gara melihat kenyataan banyaknya tokoh-tokoh, cendikiawan dan aktivis Islam yang memakai atribut Islam, tetapi justeru telah membuat noda bagi Islam itu sendiri. Bagi umat yang berfikiran awam, justeru menjadikan ini tolak ukur kebenaran, sehingga muncul ungkapan, “haji, haji tapi korupsi juga”, atau ungkapan, “janggut bukan main panjangnya, jubah bukan main dalamnya, sorban sepuluh lilit tapi di otaknya duit dan duit” atau ungkapan-ungkapan lain yang bernada sisnis.

Kebenaran Islam yang hakiki dapat dirasakan, diterima, diakui dan dibuktikan, tanpa perlu diuji lagi hanyalah terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Berapa banyak profesor-profesor barat yang menjadi pemeluk Islam setelah meneliti dan mencoba menelaah isi kandungan Al-Qur’an. Dan alhamdulillah akhirnya Allah memberi mereka hidayah (petunjuk) karena mereka memang benar-benar mencari kebenaran. Dan kebenaran Islam memang kebenaran hakiki. Islam memang paling mulia dari agama yang lain, tidak bisa disamakan, tidak bisa dibanding-bandingkan, apalagi dibenci, seperti tuduhan dan sikap orang-orang yang benci tanpa mempelajari dulu sumber ajarannya.

Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah, bahwa ayat-ayatnya berlaku untuk sepanjang zaman. Segala zaman memerlukan al-Qur’an, karena segala peristiwa ungkapan, sifat, sikap dan ulah manusia yang terjadi dan termaktub dalam al-Qur’an adalah semua peristiwa yang dapat ditemukan sehari-hari, dari zaman ke zaman.

Tulisan saya kali ini akan mengulas bagaimana Allah menyusun skenario Nabi Yusuf memegang urusan logistik di Mesir dan kaitannya dengan krisis ekonomi di Indonesia, serta bagaimana caranya bangsa ini keluar dari keterpurukan, dengan didahului latar belakang dan penyebabnya.

Firman Allah SWT QS. Yusuf (12): 45-49: “(45). Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua (pelayan eks. Narapidana) dan teringat (kepada Yusuf yang masih dipenjara) sesudah beberapa waktu lamanya. “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”. (46). (Setelah pelayan itu berjumpa Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh lainnya kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya”. (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.(48) Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapi (tahun) sulit, kecuali sedikit dari bibit yang kamu simpan. (49) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur.

Peningkatan Pembangunan Ekonomi 1990-1997
Bila kita lihat pertumbuhan ekonomi di negara kita antara tahun 1990-1997, kita akan melihat bahwa, pembangunan ekonomi kita memang pas dan pantas diumpamakan seperti sapi gemuk-gemuk atau seperti 7 bulir gandum hijau saking melimpahnya produksi beras saat itu.

Dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Ed. 1-15 Desember 1997, Rudi Lengkong, seorang pengamat dalam wawancara tentang Perkembangan Eksport Handicraft Indonesia ke Manca Negara yang selalu berkembang (hlm. 10-11) mengatakan, setiap tahunnya jumlah nilai eksport tiap tahun rata-rata mencapai 3,5 USD. Dan sejak pertengahan tahun 1990 hingga saat ini (1997) mengalami kenaikan antara 10-15% /tahun. Negara kita, di masa-masa itu sedang menggalakkan program Swasembada Pangan di berbagai daerah.

Sedangkan pada tahun 1993, sebagaimana dilansir oleh Majalah Tempo Edisi 3 April 1993, ketika stok beras di Indonesia berlebih pemerintah sanggup mengeluarkan ratusan miliar rupiah untuk membeli gabah petani. Sehingga Badan Urusan Logistik Bulog kewalahan menampung hasil panen petani. Tahun 1991, tecatat 37.286 ton pembelian Bulog sementara produksi beras se Indonesia mencapai 1. 430.000 ton. Sedangkan pada tahun 1992, angka pembelian meningkat berkali-kali lipat menjadi 107.308 sementara produksi meningkat hampir dua kali lipat, 2,565 juta ton. Dan diproyeksikan pembelian Bulog untuk tahun 1993, mencapai 2 juta ton. Subhanallah.

Ekspor beras sampai April 1993 saja, masih menutur Tempo (3/4/93: hl.84) sudah dijanjikan kepada Bulog mencapai 200 ribu ton. Dari jumlah tersebut, 110-120 ribu ton sudah diekspor ke Afrika, Srilanka dan Eropa. Namun bila dipaksakan, harga yang diterima Bulog hanya Rp. 320/kg yang artinya Bulog rugi Rp. 280,-/kg. Bahkan, tahun-tahun selanjutnya, karena melimpahnya bahan pangan (beras) sampai Indonesia sanggup memberikan bantuan berupa beratus-ratus ton beras ke PBB .

Saran IMF
Firman Allah QS. 12, Yusuf: (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.

Ayat ini berisikan saran-saran Nabi Yusuf kepada Raja Mesir agar menahan diri untuk tidak memanen semua produksi gandum di saat mana tanda-tanda kekurangan pangan (defisit) mulai tampak. Dan hal itu disinyalir melalui mimpi raja berupa 7 ekor sapi gemuk memakan 7 ekor sapi kurus; 7 bulir gandum subur dan 7 bulir gandum kering. Hal itu dilakukan guna menghadapi masa-masa paceklik di masa selanjutnya.

Pengertian ayat ini, sama halnya dengan yang dikemukakan, Al Chaidar dalam Reformasi Prematur, bahwa ketika defisit transaksi berjalan Indonesia mulai meningkat pada 1995, kita masih bisa menghibur diri dengan masih mengalir masuknya modal asing (capital inflow).

Disebutkan AlChaidar, pada September 1996 tatkala Direktur Eksekutif IMF, Michael Camdessius berkunjung ke Indonesia, defisit ini juga terus meningkat, meski krisis moneter belum sampai meledak. Camdessius pun menyarankan agar Indonesia pandai-pandai menahan selama mungkin modal jangka pendek (short term capital) yang mengalir masuk. Syaratnya, iklim investasi di Indonesia harus kondusif. Itu berarti segala distorsi dihilangkan dan segala diskriminasi usaha (monopoli, monopsoni, fasilitas khusus) dihapus (1999: 167).

Saran Camdessius itu bukan tak beralasan, terbukti bahwa jauh sebelumnya, bahkan tahun 1992, Indonesia sudah mengalami defisit meskipun produksi meningkat tajam. Bulog sendiri, mengalami defisit Rp. 69 M. (Tempo: 3/4/93: hlm. 84).

Kata-kata “membiarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan” sebagaimana disebut ayat di atas menunjukkan, perlunya mempersiapkan cadangan devisa jangka penjang pada masa-masa pertumbuhan Ekonomi kita sedang meningkat. Sedangkan pemenuhan kebutuhan jangka pendek hanya dipergunakan sedikit dari produksi yang ada.

Reformasi IMF, sebagaimana dikemukakan Al Chaidar (1999) diharapkan muncul pengharapan baru, agar iklim berusaha lebih menjadi lebih kondusif. Kalau persyaratan ini dipenuhi, maka modal asing akan mengalir masuk, entah yang berjangka pendek (portofolio) maupun jangka panjang (investasi langsung). Para pelaku ekonomi harus menunggu implementasi memorandum oleh pemerintah.

Karena itu tulisnya, para pelaku ekonomi berharap agar kali ini pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan momentum memorandum. Jangan sampai terlepas lagi seperti hilangnya momentum letter of intent, oleh inkonsistensi kebijakan, misalnya soal pajal mobil nasional, keberadaan BPPC dan tata niaya kayu lapis.

Reformasi ekonomi ungkap Al-Chaidar lagi, dapat diibaratkan menanam sebagai menanam fondasi yang dapat menegakkan struktur unutk keperluan jangka panjang. Sementara untuk mengatasi masalah jangka pendeknya sebenarnya belum dapat ditanggulangi secara langsung dengan sekedar memorandum IMF.

Menurutnya, persoalan jang pendek pada dasarnya terletak pada dua hal. Pertama kelangkaan cadangan devisa yang terus tertekan. Kedua utang luar negeri yang jatuh tempo. Terhadap persoalan pertama, hanya ada satu solusi, yakni pencairan dana IMF dalam jumlah yang signifikan, dan dalam tempo yang cepat. Dana yang dibutuhkan ada pada IMF sekalipun sebahagian merupakan skema bantuan bilateral. Namun skema bilateral pun praktis menjadi multilateral dalam payung IMF, karena IMF beranggotakan 181 negara. Jadi, IMF kali ini memang pada posisi lender of the last resort, sebagai sumber pasokan devisa.

7 Tahun Krisis Ekonomi (1997-2004)

Tanggal 8 Juli 1997 merupakan awal dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Kurs Rupiah anjlok sampai Rp. 7.900 per Dolar AS. Inflasi tahun 1997 melesat 2 digit menjadi 11, 05 %…. Penting difahami tentang krisis moneter juga mewariskan sisa-sisa krisis fiskal pada awal 1980-an dan jauh lebih dahsyat dari anjloknya harga migas tahun 1980-an itu. Krisis moneter yang akhirnya menjadi krisis ekonomi ini diduga disebabkan ulah spekulan asing George Soros. Krisis ini terjadi juga dipicu dengan jatuh temponya hutang-hutang swasta jangka pendeek LN. Selanjutnya, 31 Oktober 1997 IMF mengumumkan paket bantuan keuangan senilai 23 M USD yang diberikan secara bertahap.

Dalam reformasi Prematur ditulis bahwa, seharusnya dunia melihat bahwa Indonesia mulai melakukan reformasi ekonomi pada November 1997, ketika Indonesia meminta pertolongen IMF dan IMF sepakat dengan pinjaman berikut segala persayaratan reformasinya. Tetapi kemudian diulur sampai pertengahan Januari 1998 yang lalu dikenal dengan reformasi ekomomi 50 pasal. Kesepakatan Final baru diumumkan 11 April 1998. Tak mengherankan bila ada pendapat bahwa tahun 1999, ekonomi Asia pulih kecuali Indonesia, bahkan untuk Thailand, Filiphina dan Malaysia tanpa meminta pertolongan IMF (AlCahidar: 1999 hl. 165).

Skenario ini hampir sama ketika, Nabi Yusuf AS menunda pemberian makanan kepada saudara-saudaranya yang datang dari luar negeri yang memohon makanan karena di daerahnya habis stok makanan. Lalu Yusuf mengajukan syarat agar membawa saudaranya yang bernama Benyamin kehadapannya. Lalu mereka meminta kepada Nabi Ya’Qub menolak mengizinkan Benyamin dibawa, sebab khawatir akan hilang seperti hilangnya Yusuf ketika masih kecil.

Kekurangan Pangan
Di bidang ekonomi, apa yang terjadi sejak tahun 1997 sampai penghujung 2003 ini tampak jelas bahwa, apa yang kita hasilkan sejak tahun 1990-1997 (7 tahun) tak berarti apa-apa, persis seperti “dimakan” oleh kesulitan (krisis) yang dialami 7 tahun berikutnya. Penulis meyakini bahwa, inilah yang disebutkan Allah, 7 sapi gemuk memakan sapi kurus lewat kisah Nabi Yusuf di atas. Beras yang kita eksport ke sejumlah di Afrika dan Eropa, juga ke Srilanka ditambah beras yang kita sumbangkan pada PBB masa-masa sepanjang 1990-1997, ternyata tidak lebih sedikit bila dibanding beras yang kita import dari negara-negara seperti Thailand, India dan Vietnam dan sebagainya sejak krisis ekonomi 1997. Di beberapa daerah di Indonesia yang dulunya menjadi daerah swasembada pangan bahkan sekarang ini menjadi daerah kering dan warganya kekurangan pangan.

Di Sumut Misalnya, daerah Deli Serdang yang dulunya termasuk terkenal sebagai daerah swasembada pangan berskala nasional, saat ini kekurangan pangan pada masa-masa tertentu, karena puluhan ribu sawah dan lahan pertanian terlantar. Hal ini dinilai, meskipun masih menghasilkan surplus Beras, produksi beras Deli Serdang dinilai tidak teralokasikan dengan baik akibat adanya permainan ekonomi dan kurang tanggapnya lembaga Badan ketahanan Pangan atau Dinas Pertanian dalam persoalan ini.

Akhir 2004, Keluar dari Krisis Ekonomi
Firman Allah QS Yusuf, (49) “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur” menyiratkan bahwa, setelah tujuh tahun masa krisis ekonomi berakhir (pertengahan 2004), akan datang tahun yang bercukupan pangan. Selain itu ayat ini juga menyiratkan bahwa akan banyak dibuka lapangan kerja pada tahun-tahun itu, sebagaimana pengertian al-‘Asr selain dapat diartikan memeras anggur dapat pula diartikan, bekerja keras.

Maha benar Allah yang telah mendudukkan Nabi Yusuf Alaihis Salam yang sangat bisa dipercaya lagi bijaksana sebagai pemegang lumbung pangan. Sementara. Dan Indonesia merindukan sosok seperti Yusuf AS, sehingga tidak terjadi lagi apa yang namanya Bologgate, tidak tampak lagi rakyat rame-rame memeras keringat, mengemis bahkan ada yang dianiaya, jadi pelacur ke negara tetangga dekat dan jauh demi sesuap nasi. Sehingga pada Oktober 2004 nanti, insya Allah ekonomi kita akan berangsur bisa pulih, meskipun perlu banyak yang harus kita korbankan untuk itu. Dan setelah kita mengetahui sebahagian rahasia-rahasia ilmu Allah dalam al-Qur’an ini, semoga kita mau kembali kepada al-Qur’an. Fa’tabiru ya ulil Albab.

Kisah Mimpi Raja Saat Nabi Yusuf A.S. Dipenjara Isyarat Al-Qur’an, 2004 Puncak Kekurangan Pangan

Kebenaran Islam tidak dapat diukur dari penganutnya, sebab ada sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan “Al-Islamu mahjubu bimuslim”, artinya: Kebenaran Islam terhalang oleh penganut Islam itu sendiri. Hal ini memang dapat dilihat dan dibuktikan dari banyaknya ungkapan orang-orang yang lari dari ajaran agama dan memilih dunia, gara-gara melihat kenyataan banyaknya tokoh-tokoh, cendikiawan dan aktivis Islam yang memakai atribut Islam, tetapi justeru telah membuat noda bagi Islam itu sendiri. Bagi umat yang berfikiran awam, justeru menjadikan ini tolak ukur kebenaran, sehingga muncul ungkapan, “haji, haji tapi korupsi juga”, atau ungkapan, “janggut bukan main panjangnya, jubah bukan main dalamnya, sorban sepuluh lilit tapi di otaknya duit dan duit” atau ungkapan-ungkapan lain yang bernada sisnis.

Kebenaran Islam yang hakiki dapat dirasakan, diterima, diakui dan dibuktikan, tanpa perlu diuji lagi hanyalah terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an. Berapa banyak profesor-profesor barat yang menjadi pemeluk Islam setelah meneliti dan mencoba menelaah isi kandungan Al-Qur’an. Dan alhamdulillah akhirnya Allah memberi mereka hidayah (petunjuk) karena mereka memang benar-benar mencari kebenaran. Dan kebenaran Islam memang kebenaran hakiki. Islam memang paling mulia dari agama yang lain, tidak bisa disamakan, tidak bisa dibanding-bandingkan, apalagi dibenci, seperti tuduhan dan sikap orang-orang yang benci tanpa mempelajari dulu sumber ajarannya.

Salah satu mukjizat al-Qur’an adalah, bahwa ayat-ayatnya berlaku untuk sepanjang zaman. Segala zaman memerlukan al-Qur’an, karena segala peristiwa ungkapan, sifat, sikap dan ulah manusia yang terjadi dan termaktub dalam al-Qur’an adalah semua peristiwa yang dapat ditemukan sehari-hari, dari zaman ke zaman.

Tulisan saya kali ini akan mengulas bagaimana Allah menyusun skenario Nabi Yusuf memegang urusan logistik di Mesir dan kaitannya dengan krisis ekonomi di Indonesia, serta bagaimana caranya bangsa ini keluar dari keterpurukan, dengan didahului latar belakang dan penyebabnya.

Firman Allah SWT QS. Yusuf (12): 45-49: “(45). Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua (pelayan eks. Narapidana) dan teringat (kepada Yusuf yang masih dipenjara) sesudah beberapa waktu lamanya. “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta’birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)”. (46). (Setelah pelayan itu berjumpa Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh (bulir) gandum yang hijau dan (tujuh lainnya kering agar aku kembali kepada orang-orang itu agar mereka mengetahuinya”. (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.(48) Kemudian setelah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapi (tahun) sulit, kecuali sedikit dari bibit yang kamu simpan. (49) Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur.

Peningkatan Pembangunan Ekonomi 1990-1997
Bila kita lihat pertumbuhan ekonomi di negara kita antara tahun 1990-1997, kita akan melihat bahwa, pembangunan ekonomi kita memang pas dan pantas diumpamakan seperti sapi gemuk-gemuk atau seperti 7 bulir gandum hijau saking melimpahnya produksi beras saat itu.

Dalam Majalah Suara Muhammadiyah No. 23 Ed. 1-15 Desember 1997, Rudi Lengkong, seorang pengamat dalam wawancara tentang Perkembangan Eksport Handicraft Indonesia ke Manca Negara yang selalu berkembang (hlm. 10-11) mengatakan, setiap tahunnya jumlah nilai eksport tiap tahun rata-rata mencapai 3,5 USD. Dan sejak pertengahan tahun 1990 hingga saat ini (1997) mengalami kenaikan antara 10-15% /tahun. Negara kita, di masa-masa itu sedang menggalakkan program Swasembada Pangan di berbagai daerah.

Sedangkan pada tahun 1993, sebagaimana dilansir oleh Majalah Tempo Edisi 3 April 1993, ketika stok beras di Indonesia berlebih pemerintah sanggup mengeluarkan ratusan miliar rupiah untuk membeli gabah petani. Sehingga Badan Urusan Logistik Bulog kewalahan menampung hasil panen petani. Tahun 1991, tecatat 37.286 ton pembelian Bulog sementara produksi beras se Indonesia mencapai 1. 430.000 ton. Sedangkan pada tahun 1992, angka pembelian meningkat berkali-kali lipat menjadi 107.308 sementara produksi meningkat hampir dua kali lipat, 2,565 juta ton. Dan diproyeksikan pembelian Bulog untuk tahun 1993, mencapai 2 juta ton. Subhanallah.

Ekspor beras sampai April 1993 saja, masih menutur Tempo (3/4/93: hl.84) sudah dijanjikan kepada Bulog mencapai 200 ribu ton. Dari jumlah tersebut, 110-120 ribu ton sudah diekspor ke Afrika, Srilanka dan Eropa. Namun bila dipaksakan, harga yang diterima Bulog hanya Rp. 320/kg yang artinya Bulog rugi Rp. 280,-/kg. Bahkan, tahun-tahun selanjutnya, karena melimpahnya bahan pangan (beras) sampai Indonesia sanggup memberikan bantuan berupa beratus-ratus ton beras ke PBB .

Saran IMF
Firman Allah QS. 12, Yusuf: (47). Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan”.

Ayat ini berisikan saran-saran Nabi Yusuf kepada Raja Mesir agar menahan diri untuk tidak memanen semua produksi gandum di saat mana tanda-tanda kekurangan pangan (defisit) mulai tampak. Dan hal itu disinyalir melalui mimpi raja berupa 7 ekor sapi gemuk memakan 7 ekor sapi kurus; 7 bulir gandum subur dan 7 bulir gandum kering. Hal itu dilakukan guna menghadapi masa-masa paceklik di masa selanjutnya.

Pengertian ayat ini, sama halnya dengan yang dikemukakan, Al Chaidar dalam Reformasi Prematur, bahwa ketika defisit transaksi berjalan Indonesia mulai meningkat pada 1995, kita masih bisa menghibur diri dengan masih mengalir masuknya modal asing (capital inflow).

Disebutkan AlChaidar, pada September 1996 tatkala Direktur Eksekutif IMF, Michael Camdessius berkunjung ke Indonesia, defisit ini juga terus meningkat, meski krisis moneter belum sampai meledak. Camdessius pun menyarankan agar Indonesia pandai-pandai menahan selama mungkin modal jangka pendek (short term capital) yang mengalir masuk. Syaratnya, iklim investasi di Indonesia harus kondusif. Itu berarti segala distorsi dihilangkan dan segala diskriminasi usaha (monopoli, monopsoni, fasilitas khusus) dihapus (1999: 167).

Saran Camdessius itu bukan tak beralasan, terbukti bahwa jauh sebelumnya, bahkan tahun 1992, Indonesia sudah mengalami defisit meskipun produksi meningkat tajam. Bulog sendiri, mengalami defisit Rp. 69 M. (Tempo: 3/4/93: hlm. 84).

Kata-kata “membiarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan” sebagaimana disebut ayat di atas menunjukkan, perlunya mempersiapkan cadangan devisa jangka penjang pada masa-masa pertumbuhan Ekonomi kita sedang meningkat. Sedangkan pemenuhan kebutuhan jangka pendek hanya dipergunakan sedikit dari produksi yang ada.

Reformasi IMF, sebagaimana dikemukakan Al Chaidar (1999) diharapkan muncul pengharapan baru, agar iklim berusaha lebih menjadi lebih kondusif. Kalau persyaratan ini dipenuhi, maka modal asing akan mengalir masuk, entah yang berjangka pendek (portofolio) maupun jangka panjang (investasi langsung). Para pelaku ekonomi harus menunggu implementasi memorandum oleh pemerintah.

Karena itu tulisnya, para pelaku ekonomi berharap agar kali ini pemerintah tidak lagi menyia-nyiakan momentum memorandum. Jangan sampai terlepas lagi seperti hilangnya momentum letter of intent, oleh inkonsistensi kebijakan, misalnya soal pajal mobil nasional, keberadaan BPPC dan tata niaya kayu lapis.

Reformasi ekonomi ungkap Al-Chaidar lagi, dapat diibaratkan menanam sebagai menanam fondasi yang dapat menegakkan struktur unutk keperluan jangka panjang. Sementara untuk mengatasi masalah jangka pendeknya sebenarnya belum dapat ditanggulangi secara langsung dengan sekedar memorandum IMF.

Menurutnya, persoalan jang pendek pada dasarnya terletak pada dua hal. Pertama kelangkaan cadangan devisa yang terus tertekan. Kedua utang luar negeri yang jatuh tempo. Terhadap persoalan pertama, hanya ada satu solusi, yakni pencairan dana IMF dalam jumlah yang signifikan, dan dalam tempo yang cepat. Dana yang dibutuhkan ada pada IMF sekalipun sebahagian merupakan skema bantuan bilateral. Namun skema bilateral pun praktis menjadi multilateral dalam payung IMF, karena IMF beranggotakan 181 negara. Jadi, IMF kali ini memang pada posisi lender of the last resort, sebagai sumber pasokan devisa.

7 Tahun Krisis Ekonomi (1997-2004)

Tanggal 8 Juli 1997 merupakan awal dari krisis moneter yang terjadi di Indonesia. Kurs Rupiah anjlok sampai Rp. 7.900 per Dolar AS. Inflasi tahun 1997 melesat 2 digit menjadi 11, 05 %…. Penting difahami tentang krisis moneter juga mewariskan sisa-sisa krisis fiskal pada awal 1980-an dan jauh lebih dahsyat dari anjloknya harga migas tahun 1980-an itu. Krisis moneter yang akhirnya menjadi krisis ekonomi ini diduga disebabkan ulah spekulan asing George Soros. Krisis ini terjadi juga dipicu dengan jatuh temponya hutang-hutang swasta jangka pendeek LN. Selanjutnya, 31 Oktober 1997 IMF mengumumkan paket bantuan keuangan senilai 23 M USD yang diberikan secara bertahap.

Dalam reformasi Prematur ditulis bahwa, seharusnya dunia melihat bahwa Indonesia mulai melakukan reformasi ekonomi pada November 1997, ketika Indonesia meminta pertolongen IMF dan IMF sepakat dengan pinjaman berikut segala persayaratan reformasinya. Tetapi kemudian diulur sampai pertengahan Januari 1998 yang lalu dikenal dengan reformasi ekomomi 50 pasal. Kesepakatan Final baru diumumkan 11 April 1998. Tak mengherankan bila ada pendapat bahwa tahun 1999, ekonomi Asia pulih kecuali Indonesia, bahkan untuk Thailand, Filiphina dan Malaysia tanpa meminta pertolongan IMF (AlCahidar: 1999 hl. 165).

Skenario ini hampir sama ketika, Nabi Yusuf AS menunda pemberian makanan kepada saudara-saudaranya yang datang dari luar negeri yang memohon makanan karena di daerahnya habis stok makanan. Lalu Yusuf mengajukan syarat agar membawa saudaranya yang bernama Benyamin kehadapannya. Lalu mereka meminta kepada Nabi Ya’Qub menolak mengizinkan Benyamin dibawa, sebab khawatir akan hilang seperti hilangnya Yusuf ketika masih kecil.

Kekurangan Pangan
Di bidang ekonomi, apa yang terjadi sejak tahun 1997 sampai penghujung 2003 ini tampak jelas bahwa, apa yang kita hasilkan sejak tahun 1990-1997 (7 tahun) tak berarti apa-apa, persis seperti “dimakan” oleh kesulitan (krisis) yang dialami 7 tahun berikutnya. Penulis meyakini bahwa, inilah yang disebutkan Allah, 7 sapi gemuk memakan sapi kurus lewat kisah Nabi Yusuf di atas. Beras yang kita eksport ke sejumlah di Afrika dan Eropa, juga ke Srilanka ditambah beras yang kita sumbangkan pada PBB masa-masa sepanjang 1990-1997, ternyata tidak lebih sedikit bila dibanding beras yang kita import dari negara-negara seperti Thailand, India dan Vietnam dan sebagainya sejak krisis ekonomi 1997. Di beberapa daerah di Indonesia yang dulunya menjadi daerah swasembada pangan bahkan sekarang ini menjadi daerah kering dan warganya kekurangan pangan.

Di Sumut Misalnya, daerah Deli Serdang yang dulunya termasuk terkenal sebagai daerah swasembada pangan berskala nasional, saat ini kekurangan pangan pada masa-masa tertentu, karena puluhan ribu sawah dan lahan pertanian terlantar. Hal ini dinilai, meskipun masih menghasilkan surplus Beras, produksi beras Deli Serdang dinilai tidak teralokasikan dengan baik akibat adanya permainan ekonomi dan kurang tanggapnya lembaga Badan ketahanan Pangan atau Dinas Pertanian dalam persoalan ini.

Akhir 2004, Keluar dari Krisis Ekonomi
Firman Allah QS Yusuf, (49) “Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya diberi hujan (dengan cukup) dan masa itu mereka memeras anggur” menyiratkan bahwa, setelah tujuh tahun masa krisis ekonomi berakhir (pertengahan 2004), akan datang tahun yang bercukupan pangan. Selain itu ayat ini juga menyiratkan bahwa akan banyak dibuka lapangan kerja pada tahun-tahun itu, sebagaimana pengertian al-‘Asr selain dapat diartikan memeras anggur dapat pula diartikan, bekerja keras.

Maha benar Allah yang telah mendudukkan Nabi Yusuf Alaihis Salam yang sangat bisa dipercaya lagi bijaksana sebagai pemegang lumbung pangan. Sementara. Dan Indonesia merindukan sosok seperti Yusuf AS, sehingga tidak terjadi lagi apa yang namanya Bologgate, tidak tampak lagi rakyat rame-rame memeras keringat, mengemis bahkan ada yang dianiaya, jadi pelacur ke negara tetangga dekat dan jauh demi sesuap nasi. Sehingga pada Oktober 2004 nanti, insya Allah ekonomi kita akan berangsur bisa pulih, meskipun perlu banyak yang harus kita korbankan untuk itu. Dan setelah kita mengetahui sebahagian rahasia-rahasia ilmu Allah dalam al-Qur’an ini, semoga kita mau kembali kepada al-Qur’an. Fa’tabiru ya ulil Albab.

Gesekan Hak Vs. Batil Dari Penangkapan Aktivis Islam, sampai Penggelapan Dana Haji

Awal tahun 2003 ditandai dengan penangkapan sejumlah aktivis Islam dengan berbagai tuduhan, akhir tahunnya ditandai dengan kecewanya para jemaah haji yang sudah ber“iya-iya” mau berangkat. Itu untuk skala nasional. Untuk scope daerah Sumut, khususnya kota Medan sendiri, tahun 2003 diakhiri dengan mencuatnya “persoalan” raibnya milyaran rupiah dana bantuan bagi jemaah haji yang direncanakan –ada yang mengatakan dijanjikan- oleh Pak “Wali” akan dibagi-bagikan kepada seluruh jamaah pada saat menjelang keberangkatan dari tanah air menuju tanah suci. Berbagai dugaan bermunculan dari tengah-tengah pluralitas masyarakat kota Medan.

Ada yang menduga dana itu “dipinjam”, Tapi ada yang mengatakan dana yang berjumlah 250 Riyal atau Rp. 1 Miliar lebih itu “dicuri”. Setelah 7000-an calon jemaah haji Sumut gagal berangkat, sekali lagi, jemaah haji kota Medan kecewa. Umat Islam ikut kecewa. Bantuan yang setidaknya dapat membantu meringankan beban jemaah dalam menjalankan ibadah fisik-mental spiritual itu, tak dapat mereka nikmati gara-gara ulah beberapa “kepala” yang akibat ulahnya nampak, tapi makhluknya masih “gaib” dan gentayangan di Kota Medan, walaupun belakangan ada yang disebut-sebut sebagai calon tersangka.

Belum lagi babak demi babak, proses demi proses yang terjadi sepanjang tahun yang dialami umat Islam (termasuk warga muslim kota Medan) seharusnya membuat umat Islam membuka mata. Mengapa kita bangsa Indonesia yang berpopulasi penganut Islam terbesar di dunia, bahkan mungkin terbanyak sepanjang sejarah manusia, tetapi justeru menjadi bangsa yang mempunyai koruptor terbanyak, penggarap anak kandung terbanyak, pembunuh tersadis, dunia mistik terheboh dan ter-ter lainnya. Kenapa umat Islam menjadi “bulan-bulanan”, jadi “target” dan masih banyak jauh tertinggal, dari banyak sisi? Inilah sepenggal pangkal dan ujung kisah yang dapat dijadikan refleksi.

Refleksi 2003, Hak Vs. Batil
Sebenarnya sudah tampak jelas, tahun 2003 menjadi tahun transisi. Di satu sisi yang “haq”, Islam yang sebenar-benar Islam, yang hakiki tanpa atribut, tanpa “cover”, sedang menggeliat menuju kebangkitan. Hal itu disinyalir dari semakin merambahnya kekuatan dakwah Islam ke berbagai komponen bangsa di semua sektor dan keahlian, baik dari kalangan sipil maupun militer.

Di sisi lain, sebahagian yang masih ber-KTP Islam tetapi masih tetap “diliputi dosanya” atau mereka sudah terlalu sulit menarik diri dari kebiasaan-kebiasaan buruk yang selama ini terus mereka lakukan. Kaum yang sepintas kelihatan seperti bagian dari umat Islam ini “insya Allah” akan hancur.

Kenapa demikian? Karena Allah berkehendak supaya memisahkan para pencandu yang “batil-batil” ini dari penegak yang Haq tadi, sehingga kekuatan Islam tidak bercampur dengan kekuatan batil. Sebab logikanya, Haq ditambah batil sama dengan batil. Pada akhirnya, komunitas yang diridhoi akan tetap terbimbing membangun kembali bangsa dan negara yang mereka cintai ini dengan landasan yang Haq, sementara yang batil-batil tadi akan saling makan, saling cakar, saling fitnah, saling bunuh dan saling hancur mengancurkan. Mereka kelihatan bersatu dalam satu “bendera” tapi sebenarnya hati mereka berpecah belah. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya pertentangan intern di kalangan mereka itu.

Firman Allah: “Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan yang bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau dibalik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu hati sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti” (QS. 59:14).

Ayat di atas mengingatkan, begitu pun banyaknya kelompok dan golongan yang berisi orang-orang yang Islamo fobia, antek-antek yahudi, kaum sekularis yang berbaju nasionalis dan sosialis, namun tidak sekalipun mereka pernah berani secara terbuka dan serentak melakukan perlawanan terhadap Islam, apalagi menghancurkan Islam. Banyak kepentingan yang mengganggu mereka. Idealisme mereka semu. Solidaritas mereka lemah. Itulah makanya, Islam hanya sering dipojokkan dengan cara fitnah, ditangkap tanpa bukti. Dituduh tanpa dasar. Biasanya, ini dilakukan dengan cara mencari kambing hitam, mencari “pion” yang bisa dikorbankan.

Penulis melihat, sepanjang tahun 2003, pergesekan-pergesekan antara kedua kubu (Haq-batil) ini mulai nampak di tengah-tengah kita, bahkan sepertinya sempat menimbulkan percikan-percikan kecil. Barangkali, tidak tertutup kemungkinan pada tahun 2004 gesekan-gesekan itu secara akumulatif akan semakin membesar dan akan menimbulkan percikan yang lebih besar. Namun, sebagai seorang yang beriman perlu diyakini, Allah pasti melindung yang Haq.

Haq jangan disembunyikan tapi juga tidak perlu dimuncul-munculkan, sebab yang Haq pasti akan muncul dengan sendirinya. Yang batil tidak perlu dihancurkan, karena yang batil itu akan hancur dengan sendirinya juga. Itulah makanya ayat Allah yang menjelaskan “Katakanlah: Yang haq telah datang dan yang batil telah hancur, sesungguhnya yang batil itu pasti hancur”.(QS. 17: 81) berbentuk “bina lazim” bukan “bina muta’addi”, artinya Allah tidak menjelaskan sama sekali yang menghancurkan yang batil itu adalah yang Haq, apalagi tak satu pun ayat yang memerintahkan kita untuk menghancurkan yang batil. Ayat Allah justeru memerintahkan kita agar memisahkan diri dari yang batil. Sebab kalau kita bercampur dengan yang batil-batil, kita digolongkan batil.

Firman Allah: “Janganlah kamu campuradukkan yang Hak dan batil sementara yang Hak kamu sembunyikan sedangkan kamu mengetahuinya” (QS. 2: 42).
2004, Perubahan Cepat: “Menarik Diri” atau Hancur !

Rakyat Indonesia khususnya umat Islam di masa sekarang ini ibarat sedang kembali digodok dalam sebuah kancah perubahan yang sangat cepat. Kita melihat dari waktu ke waktu, terjadi banyak perubahan yang sangat mendasar dalam kehidupan sosial, baik itu berubahnya persepsi masyarakat dalam memandang dunia politik, dunia Islam, dunia barat dan sebagainya. Dari perubahan pemikiran dan pandangan ini perlu dimatangkan lagi, perlu digodok lagi sampai umat Islam dan rakyat Indonesia umumnya dapat menjadi bangsa yang dewasa. Dewasa dalam menyelesaikan persoalan, dewasa dalam menyikapi keadaan dan sebagainya.

Kendati demikian, perlu digarisbawahi, perubahan adalah sesuatu yang direncanakan dan diproses secara matang. Sedikit saja terlambat di masa-masa seperti sekarang ini, jangan harap dapat mengejarnya dalam waktu yang singkat.

Oleh karena itu, tahun 2003 telah berlalu. Perlu diadakan muhasabah, (evaluasi) sudah sejauh mana kita memisahkan diri dari yang batil, sejauh mana pula kita telah mengintegrasikan segenap jiwa raga kita kepada yang Haq. Bila yang batil belum terpisah dari sekeliling kita, berarti tinggal menunggu giliran. Sekeliling kita sewaktu-waktu pasti siap membinasakan kita. Tak peduli kita salah atau tidak, tetap jadi korban.

Sebaliknya bila yang Haq sudah menyatu dalam kehidupan kita, al-Qur’an dan Sunnah sudah jadi kebutuhan hidup sehari-hari, alhamdulillah, berarti kita telah bersiap-siap menerima tiga hal dari Allah, rezki yang mulia, ampunan dan derajat kemenangan. Sebab di sekeliling kita sewaktu-waktu pasti siap mengembangkan potensi kita.

Selain itu, aktivis yang ditangkapi awal tahun lalu bila benar bersalah, semoga disadarkan Allah untuk bisa kembali ke jalan benar. Tetapi bila tidak benar bersalah melainkan hanya korban fitnah keji, insya Allah 2004 Allah akan tunjukkan jawabnya. Siapa yang menabur fitnah, pasti menuai “fitnah besar” dan makan fitnah.

Bagi para 30.000 jemaah haji yang tidak jadi berangkat, perlu diingatkan. Semua ini ujian dari Allah. Allah SWT tidak pernah menganiaya hamba-Nya. Niat kita tetap akan disampaikan Allah. Walaupun kita tak jadi berangkat ke Makkah, barangkali Allah sudah mengutus malaikat “dengan menyerupai wajah kita atau tidak” untuk menghajikan kita. Karena ini terjadi setiap musim haji. Tiga hari terakhir, para jemaah dari beberapa kelompok terbang sudah berangkat. Kita doakan mereka. Ikhlaskan menerima ujian ini. Barangkali, saat jemaah haji yang berangkat tahun ini juga menemukan “kita” di sana.

Krisis Iman dan Lemahnya Kesadaran Sosial

Oleh : Jufri Bulian Ababil


Bila dicermati lebih mendalam pola hidup kita selaku umat beragama, khususnya kita yang menganut agama Islam atau minimal yang mengaku muslim, tampaklah jelas tidak sedikit diantara kita yang muslim kuatitatif, bukan kualitas, artinya islam hanya kulit dengan pemahaman yang sekedar tahu saja, sehingga belum memiliki kesadaran yang memadai untuk dapat dikatakan seorang yang beriman atau mukmin. Firman Allah: "Dan diantara manusia itu ada yang menyembah Allah dipinggir-pinggir saja." (QS : 22 : 13)

Mengapa kesadaran yang memadai merupakan tolak ukur dari keimanan atau aqidah memang begitulah semestinya. Bila mungkin pengertian kesadaran itu adalah aqidah/iman dan itu dapat kita terima, mengapa tidak ? mengapa kita tidak berani menerjemahkan kata IMAN itu kepada bahasa indonesia yang kaya dan kita bangga-banggakan dengan sebuah kata SADAR. Mengapa kita tidak berani, sedangkan Nabi Muhammad SAW sendiri jelas-jelas membuka jalan pengertian kearah itu, Sabda Beliau : "Iman itu ialah mengenal dengan hati, mengucapkan dengan lidah, dan berbuat dengan anggota tubuh" (HR Tabrani & Ali bin Abi Thalib). "Iman itu ialah bahwa engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, kadar baik dan buruk. (HR. Muslim dari Umar Bin Khatab).

Pada dua defenisi berdasarkan kedua hadist diatas memang sangat sulit bagi kita untuk memastikan iman adalah kesadaran, namun mari kita telusuri berbagai hadist-hadist lain yang menjelaskan secara exsplisit mengenai cabang-cabang keimanan yang selanjutnya kita sebut saja, aspek-aspek kesadaran.


Iman dan Kesadaran

Dalam berbagai hadist saheh dan terpercaya, nabi kita Muhammad SAW menyebutkan bahwa ada 70 cabang iman ( baca : aspek kesadaran ), daimana yang paling utama ialah kalimat Laila Haillallah dan paling sederhana membuang duri dari jalan umum. Dalam riwayat lain pula menyebutkan ada 60 cabang. Sabda nabi Muhammad SAW : "Iman itu terdiri dari 60 cabang. Dan rasa malu adalah satu cabang dari iman". ( HR. Bukhari dari Abu Hurairah ).

Keenam puluh aspek kesadaran itu sebagian besar menyoroti permasalahan sosial. Adapun kesadaran ritual dalam hal ini tentu tidak dibahas. Disini akan diuraikan 5 diantara 9 aspek-aspek kesadaran yang dinilai amat penting untuk kita renungkan antara lain :

Iman dan Rasa Malu.

Sabda Rasul : "rasa malu dan iman itu saling berkaitan erat, apabila hilang salah satu maka hilanglah yang lainnya" (HR. Abu Nain dari Ibn. Umar). Hadist Nabi yang lain : "malu itu satu cabang dari iman". Bila kita perhatiakn perkembangan masyarakat akhir-akhir ini, praktek maksiat telah dapat dikatakan gila-gilaan tanpa menyisakan sedikitpun rasa malu. Kita masih ingat dulu sewaktu orde baru, seorang koruptor masih malu unjuk muka didepan publik lalu berbicara soal kejujuran dan menyelamatkan bangsa. Majalah atau surat kabar porno masih lebih mencetak dan menerbitkan majalah dan korannya. Tapi sekarang masyaAllah! Orang sudah terang-terangan mempertontonkan aurat diberbagai bentuk media, orang sudah tidak malu-malu lagi mengkomersilkan diri. Apakah barang kali setanpun merasa malu melihat sepak terjang kebanyakan kita dalam melakukan dosa jangankan malu kepada Allah, kepada orang lain, kepada keluarga sendiripun rasa malunya nyaris pupus lalu diamana kita dapat melihat tanda-tanda keimanan itu hari ini ?.

Iman dan Kebersihan Lingkungan.

Sabda Rasulullah SAW : "dan kebersiahan itu adalah sebahagian dari iman". Kalau kesadaran hidup bersih benar-benar tertanam bersama keimanan kita tak mungkin ada sampah yang berserakan disegala pelosok kota-kota (sama saja ). Tentu dinas kebersihan kota akan terbantu tugasnya. Namun karena lemahnya kesadaran kita tumpukan sampah justru menjadi santapan sehari-hari yang baunya tidak sedap tidak lagi mampu membuat kita terpolusi karena sudah terbiasa. Wajar bila got atau parit sampah tersumbat sampah sehingga setiap hujan menjadi banjir.

Iman dan Solidaritas Umat Islam.

Sabda Rasul SAW: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain menguatkan". (HR. Bukhari Muslim dari Abu Musa). Ada orang yang mengatakan, dari dulu bangsa kita ini suka main keroyok. Siapa yang duduk paling atas, dia akan dikeroyok. Bila tidak lagi mampu mengeroyok karena terlalu kuat, satu-satunya jalan yang ditempuh, yakni yang sudah mudah tidak asing lagi, menjilat. Apakah omongan itu benar, sebagian kita pun mungkin sama-sama tahu. Kapan umat Islam dapat kuat, bila bersatu hanya demi kepentingan sesaat, hanya demi kepentingan oknum-oknum tertentu. Bukan untuk izzul Islam, tetapi untuk Izzul organisasi masing-masing.


Iman dan Mengutamakan Diam Ketimbang Omong (Sok Tau).

Sabda Nabi SAW: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya, dan siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia berkata yang baik (tidak membikin resah) atau (kalau tidak bisa maka lebih baik diam)". (HR Bukhari Muslim dari abu Hurairah).


Iman dan Tidak Melakukan Kebohongan Publik.

Sabda Nabi SAW: "Jauhi kamulah dusta, karena sesungguhnya dusta itu mengikis keimanan". (HR. Ahmad). Mungkin banyak di antara kita yang benar-benar pernah menelan berbagai bentuk pembohongan publik. Tak usahlah kita buka lembaran-lembaran politik masa lalu, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sekarang saja msih banyak pembohongan publik/ penipuan dengan modus operandi penerimaan TKW tetapi malah dijadikan "korban kejahatan seksual" dengan diperdagangkan secara gelap di mancanegara. Begitu juga praktek pemalsuan ijazah untuk dapat masuk ke suatu instansi, pemberitaan yang sepihak (tanpa receck) dan dibumbu-bumbui sehingga mencoreng nama baik dunia jurnalistik dan sebagainya.

Masihkah Umat Mengaku Muslim Bersaudara?


1. Persaudaraan Dalam Islam

Mewujudkan dan menerjemahkan kata “saudara” ditengah-tengah kehidupan memang tak semudah mengucapkannya. Banyak orang setiap pidato, ceramah dan sebagainya mengatakan “saudara-saudara sekalian”, tetapi entah sadar atau tidak, entah tau entah tidak atau entah merasakan atau tidak “indahnya” kata itu. Atau mungkin ini hanya sekedar kebiasaan yang lahir karena tiru meniru. Begitu dibuat orang, begitulah yang dibuatnya, sehingga barangkali tidak pernah mengetahui, memahami dan merasakan beratnya tanggung jawab dari “kata saudara” yang diucapkannya.

Oleh karena itu, dalam hal ini perlu dilihat bagaimana persaudaraan itu bisa lahir, dan bagaimana proses menuju persaudaraan dan tahapan-tahapan yang mestinya dilalui, sehingga tanggung jawab sesama orang yang mengaku saudara dapat direalisasikan. Tahapan-tahapan tersebut yaitu :

a. saling mengenal (ta’aruf). Untuk dapat mewujudkan persaudaraan, maka perlu dilakukan saling tukar informasi, tukar pikiran dan saling menghubungkan silaturrahmi, agar kebekuan dan miscomunication sesama umat Islam selama ini dapat dicairkan kembali. Singkatnya, dalam bersaudara, belajar untuk mengenal orang lain atau kelompok lain sangat dibutuhkan.

b. Saling memahami (tahasyum/tafahum). Informasi dan pemikiran yang telah saling diperkenalkan oleh masing-masing komponen umat semstinya tidak dilihat dari sisi perbedaan yang menjadi sumber perpecahan, seperti khilafiyah yang tak kunjung reda. Tapi hendaknya diharapkan agar saling memahami cara pandang dan alat dan media yang digunakan dalam perbedaan yang ada. Singkatnya, tak mau tau maka tak faham. Sebaliknya banyak keinginan untuk tahu akan banyak faham dengan banyak hal.

c. Saling Menyayangi (tarahum). Apabila umat saling memahami dan dapat menerima perbedaan, kelebihan dan kekurangan serta menerima realtas pemikiran dan budaya yang dibangun, insya allah rasa saling menyayangi akan tumbuh ditengah-tengah kita. Benar kata pepatah: Tak kenl maka tak sayang.

d. Saling menolong (ta’awun). Kenapa banyak orang
yang membutuhkan pertolongan,banyk yang menolak memberikan pertolongan,? Jelas karena ada berat hati atau rasa sungkan yang disebabkan karena tidak adanya ikatan batin yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang lainnya. Dalam hal ini perlu dilihat, pada mana proses tahap menuju persaudaraan itu terputus. Pada proses mengenal, memahami atau menyayangi? Singkatnya, perlu dilakukan sehingga disaat orang lain menolak untuk memberikan pertolongan, tidak ada rasa kecewa. Mungkin tidak ada rasa keterbukaan, kesalah pahaman, ketidak percayaandan tidak sebagainya.

e. Saling Mencintai (tahabbub). Cinta kepada saudara seiman dan seaqidah membuahkan rasa kebersamaan danrasa senasip sepenanggungan. Dalam fungsi boleh beda, tetapi tak terhadap sesama tetap sama. Itulah makanya Rasulullah SAW tak pernah menyebut pengikutnya dengan panggilan anggota, anak buah dan sebagainya, tetapi beliau justeru menyebutnya sahabat lebih menunjukkan ikatan yang tulus yang berisi cinta.

f. Saling membela (Takaful). Inilah puncak dari persaudaran dalam Islam. Darah saudara harus dibalas dengan darah. Kehormatan saudara harus ditebus dengan kehormatan. Apabila saudara disakiti, sakitnya terasa juga kediri. Apabila saudara bahagia dan sejahtera, hatipun ikut sejahtera. Inilah orang-orang yang benar-benar merasakan nikmatnya menjadi seorang mukmin. Hidupnya tak pernah terlantar. Hatinya tak pernah mati dan diharpkan dapat menjadi pemimpin bagi orang-orang yang taqwa. Amin. Sabda Rasulullah SAW “seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti bangunan yang satu sama lain saling menguatkan”.(HR. Bukhari Muslim dari Abu Musa ).

2. Kesatuan Umat
Umat Islam yang bersatu adalah umat yang bersaudara. Persaudaraan umat islam adalah persaudaraan seiman dan seaqidah. Yakni aqidah Islam. Persaudaraan yang satu hati satu jiwa, persaudaraan yang lebih tinggi nilainya dari persaudaraan ikatan darah, kesukuan dan kebangsaan atau saudara karena ikatan perkawinan. Persaudaraan yang bukan hanya sekedar manis dimulut atau disebabkan kepentingan, tetapi persaudaraan yang lahir dari niat suci membangun masyarakat Isalam demi terciptanya ridha Allah semata. Persaudaraan yang lahir dari kesadaran sama-sama bertuhankan tuhan yang satu, agama yang satu dan pegangan hidup yang satu.

Sebaliknya umat Islam yang berfirqah-firqah dan bnerpecah belah adalah umat Islam yang tidak mengenal arti persaudaraan. Mereka kelihatanya satu organisasi, satu perjuangan, satu bangsa, satu partai, satu kepentingan, tetapi hati mereka terpecah-pecah, jiwa mereka takl pernah merasa puas melihat Rahmat dan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain, mungkin terbentuk kelebihan dalam suatu hal dan sebagainya. Persaudaraan bagi mereka ini hanya sebatas kepentingan dan janji-janji manis belaka. Sedangkan dalam hatinya penuh dengan maksud-maksud lain demi kepentingan sesaa. Itulah makanya, bagi umat yang mengaku muslim seperti ini sangat langka ditemukan “sidang” atau “rapat” atau musyawarah yang kondusif dengan cara hati kehati, yang terjadi pasti perdebatan, pertentangan faham yang sangat tajam, bahkan saling hujat dan saling sesat menyesatkan dan bid’ah membid’ahkan. Padahal disekeliling mereka banyak yang korupsi, tapi tak ada yang sangup menyatakan langsung bahwa perbuatan itu sesat. Begitu pula kalau ada yang berjudi, berjina, membuka aurat, mencuri, merampok dan sebagainya, justeru tak digubris apalagi berani menyatakan secara terang-terangan inilah perbuatan ayang sesat. Tidak ada. Yang ada apabila ada pengajian yang tidak sesuai menurut selera mereka, ini yang disesatka. Dibilang “pengajian sesat”, meresahkan masyarakat atau barang kali-dituduh keluar dari Islam.

Umat yang bersatu adalah umat yang bertauhid, sementara umat yang terpecahbelah adalah umat yang telah terjerumus kedalam salah satu kategori musyrik. Karena tauhid adalah kebalikan dari syirik. Firman Allah. “dan janganalah kamu menjadi orang-orang yang musyrik. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompok mereka (QS. 30 :31-32 ). Sebagaimana yang dimaksud ayat diatas, jelaslah bahwa orang dikatakan musyrik bukan saja disebabkan karena menduakan atau menyerupakan Allah, karena siapa yang pernah bertemu dengan Allah sehingga sok mampu menyerupakan-Nya? Atau menyerupakan sifat-sifatNya dengan makhluk, seperti menyerupakan Allah yang bersifat al Hakim ( Maha Pembuat Kebijakan ) makhluk dengan cara mencari hakim (pembuat hukum) selain dari Allah sehingga banyak ditemukan hukum-hukum tandingan selain hukum Allah.

Terlepas dari mereka yang tidak dapat diharapkan lagi komitmen keIslamannya, semua sepakat akan hal itu. Begitu pula dengan pemahaman bahwa tidak boleh mensekutukan Allah dengan memuja-muja benda yang dianggap dapat menghilangkan bala atau mendatangkan kebaikan tanpa sedikitpun mengharapkan pertolongan Allah. Umumnya juga sepakat akan hal ini. Tetapi pernahkah dipertanyakan orang musyrik itu KTPnya apa? Idealismenya ada berapa? Kesetiaanya dan kepatuhannya terbagi berapa? Kualitas solidaritasnya sejauh mana? Memang tidak mudah menjawab hal ini. Karena, untuk mendapat jawaban yang lengkap, perlu difahami dan diamalkan surat al-Hujurat yang merupakan pedoman dalam mewujudkan persaudaraan. Firman Allah QS. 49 :11 “sesungguhnyaa orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damailah sesama saudara-saudara kamu….”

Masihkah Umat Mengaku Muslim Bersaudara?

1. Persaudaraan Dalam Islam

Mewujudkan dan menerjemahkan kata “saudara” ditengah-tengah kehidupan memang tak semudah mengucapkannya. Banyak orang setiap pidato, ceramah dan sebagainya mengatakan “saudara-saudara sekalian”, tetapi entah sadar atau tidak, entah tau entah tidak atau entah merasakan atau tidak “indahnya” kata itu. Atau mungkin ini hanya sekedar kebiasaan yang lahir karena tiru meniru. Begitu dibuat orang, begitulah yang dibuatnya, sehingga barangkali tidak pernah mengetahui, memahami dan merasakan beratnya tanggung jawab dari “kata saudara” yang diucapkannya.

Oleh karena itu, dalam hal ini perlu dilihat bagaimana persaudaraan itu bisa lahir, dan bagaimana proses menuju persaudaraan dan tahapan-tahapan yang mestinya dilalui, sehingga tanggung jawab sesama orang yang mengaku saudara dapat direalisasikan. Tahapan-tahapan tersebut yaitu :

a. saling mengenal (ta’aruf). Untuk dapat mewujudkan persaudaraan, maka perlu dilakukan saling tukar informasi, tukar pikiran dan saling menghubungkan silaturrahmi, agar kebekuan dan miscomunication sesama umat Islam selama ini dapat dicairkan kembali. Singkatnya, dalam bersaudara, belajar untuk mengenal orang lain atau kelompok lain sangat dibutuhkan.

b. Saling memahami (tahasyum/tafahum). Informasi dan pemikiran yang telah saling diperkenalkan oleh masing-masing komponen umat semstinya tidak dilihat dari sisi perbedaan yang menjadi sumber perpecahan, seperti khilafiyah yang tak kunjung reda. Tapi hendaknya diharapkan agar saling memahami cara pandang dan alat dan media yang digunakan dalam perbedaan yang ada. Singkatnya, tak mau tau maka tak faham. Sebaliknya banyak keinginan untuk tahu akan banyak faham dengan banyak hal.

c. Saling Menyayangi (tarahum). Apabila umat saling memahami dan dapat menerima perbedaan, kelebihan dan kekurangan serta menerima realtas pemikiran dan budaya yang dibangun, insya allah rasa saling menyayangi akan tumbuh ditengah-tengah kita. Benar kata pepatah: Tak kenl maka tak sayang.

d. Saling menolong (ta’awun). Kenapa banyak orang
yang membutuhkan pertolongan,banyk yang menolak memberikan pertolongan,? Jelas karena ada berat hati atau rasa sungkan yang disebabkan karena tidak adanya ikatan batin yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhan yang lainnya. Dalam hal ini perlu dilihat, pada mana proses tahap menuju persaudaraan itu terputus. Pada proses mengenal, memahami atau menyayangi? Singkatnya, perlu dilakukan sehingga disaat orang lain menolak untuk memberikan pertolongan, tidak ada rasa kecewa. Mungkin tidak ada rasa keterbukaan, kesalah pahaman, ketidak percayaandan tidak sebagainya.

e. Saling Mencintai (tahabbub). Cinta kepada saudara seiman dan seaqidah membuahkan rasa kebersamaan danrasa senasip sepenanggungan. Dalam fungsi boleh beda, tetapi tak terhadap sesama tetap sama. Itulah makanya Rasulullah SAW tak pernah menyebut pengikutnya dengan panggilan anggota, anak buah dan sebagainya, tetapi beliau justeru menyebutnya sahabat lebih menunjukkan ikatan yang tulus yang berisi cinta.

f. Saling membela (Takaful). Inilah puncak dari persaudaran dalam Islam. Darah saudara harus dibalas dengan darah. Kehormatan saudara harus ditebus dengan kehormatan. Apabila saudara disakiti, sakitnya terasa juga kediri. Apabila saudara bahagia dan sejahtera, hatipun ikut sejahtera. Inilah orang-orang yang benar-benar merasakan nikmatnya menjadi seorang mukmin. Hidupnya tak pernah terlantar. Hatinya tak pernah mati dan diharpkan dapat menjadi pemimpin bagi orang-orang yang taqwa. Amin. Sabda Rasulullah SAW “seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti bangunan yang satu sama lain saling menguatkan”.(HR. Bukhari Muslim dari Abu Musa ).

2. Kesatuan Umat
Umat Islam yang bersatu adalah umat yang bersaudara. Persaudaraan umat islam adalah persaudaraan seiman dan seaqidah. Yakni aqidah Islam. Persaudaraan yang satu hati satu jiwa, persaudaraan yang lebih tinggi nilainya dari persaudaraan ikatan darah, kesukuan dan kebangsaan atau saudara karena ikatan perkawinan. Persaudaraan yang bukan hanya sekedar manis dimulut atau disebabkan kepentingan, tetapi persaudaraan yang lahir dari niat suci membangun masyarakat Isalam demi terciptanya ridha Allah semata. Persaudaraan yang lahir dari kesadaran sama-sama bertuhankan tuhan yang satu, agama yang satu dan pegangan hidup yang satu.

Sebaliknya umat Islam yang berfirqah-firqah dan bnerpecah belah adalah umat Islam yang tidak mengenal arti persaudaraan. Mereka kelihatanya satu organisasi, satu perjuangan, satu bangsa, satu partai, satu kepentingan, tetapi hati mereka terpecah-pecah, jiwa mereka takl pernah merasa puas melihat Rahmat dan karunia yang diberikan Allah kepada orang lain, mungkin terbentuk kelebihan dalam suatu hal dan sebagainya. Persaudaraan bagi mereka ini hanya sebatas kepentingan dan janji-janji manis belaka. Sedangkan dalam hatinya penuh dengan maksud-maksud lain demi kepentingan sesaa. Itulah makanya, bagi umat yang mengaku muslim seperti ini sangat langka ditemukan “sidang” atau “rapat” atau musyawarah yang kondusif dengan cara hati kehati, yang terjadi pasti perdebatan, pertentangan faham yang sangat tajam, bahkan saling hujat dan saling sesat menyesatkan dan bid’ah membid’ahkan. Padahal disekeliling mereka banyak yang korupsi, tapi tak ada yang sangup menyatakan langsung bahwa perbuatan itu sesat. Begitu pula kalau ada yang berjudi, berjina, membuka aurat, mencuri, merampok dan sebagainya, justeru tak digubris apalagi berani menyatakan secara terang-terangan inilah perbuatan ayang sesat. Tidak ada. Yang ada apabila ada pengajian yang tidak sesuai menurut selera mereka, ini yang disesatka. Dibilang “pengajian sesat”, meresahkan masyarakat atau barang kali-dituduh keluar dari Islam.

Umat yang bersatu adalah umat yang bertauhid, sementara umat yang terpecahbelah adalah umat yang telah terjerumus kedalam salah satu kategori musyrik. Karena tauhid adalah kebalikan dari syirik. Firman Allah. “dan janganalah kamu menjadi orang-orang yang musyrik. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompok mereka (QS. 30 :31-32 ). Sebagaimana yang dimaksud ayat diatas, jelaslah bahwa orang dikatakan musyrik bukan saja disebabkan karena menduakan atau menyerupakan Allah, karena siapa yang pernah bertemu dengan Allah sehingga sok mampu menyerupakan-Nya? Atau menyerupakan sifat-sifatNya dengan makhluk, seperti menyerupakan Allah yang bersifat al Hakim ( Maha Pembuat Kebijakan ) makhluk dengan cara mencari hakim (pembuat hukum) selain dari Allah sehingga banyak ditemukan hukum-hukum tandingan selain hukum Allah.

Terlepas dari mereka yang tidak dapat diharapkan lagi komitmen keIslamannya, semua sepakat akan hal itu. Begitu pula dengan pemahaman bahwa tidak boleh mensekutukan Allah dengan memuja-muja benda yang dianggap dapat menghilangkan bala atau mendatangkan kebaikan tanpa sedikitpun mengharapkan pertolongan Allah. Umumnya juga sepakat akan hal ini. Tetapi pernahkah dipertanyakan orang musyrik itu KTPnya apa? Idealismenya ada berapa? Kesetiaanya dan kepatuhannya terbagi berapa? Kualitas solidaritasnya sejauh mana? Memang tidak mudah menjawab hal ini. Karena, untuk mendapat jawaban yang lengkap, perlu difahami dan diamalkan surat al-Hujurat yang merupakan pedoman dalam mewujudkan persaudaraan. Firman Allah QS. 49 :11 “sesungguhnyaa orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damailah sesama saudara-saudara kamu….”

Mencintai Allah

Orang yang mencintai akan selalu membela kepentingan orang yang dicintai, ingat selalu kepada yang dicintai, senantiasa merindukan pertemuan yang indah dengan yang dicintai, memuja dan meninggikan yang dicintai dari selinnya. Ia juga akan sanggup berkorban demi yang dicintai, takut akan kemurkaan dan hilangnya perhatian dari yang dicintaio serta memberikan perhatian kepada yang dicintai. Demikianlah gambaran cinta dan segala keindahannya. Begitu juga yang dirasakan orang yang mencintai Allah.
Cinta tak mungkin tumbuh tanpa adanya pengenalan. Pengenalanpun hendaknya pengenalan yang baik sehingga menimbulkan kesan yang baik. Bagaimana mungkin akan datang rasa cinta kepada Allah, apabila seseorang tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang semestinya, pengenalan kepada Allah tidak hanya sebatas “dongengan” atau “legenda” belaka. Semestinya pula mengenal allah tidak dari “kata sipulan dari si Fulan”. Karena Abu jahal pun bersumpah atas nama Allah. Abu thalib pun mngakui bahwa Allah memang ada dengan segala ke agungan-Nya. Para pendeta yahudi dan nasranipun tau bahwa Allah itu yang menciptakan alam semesta.
Bila pengenalan Allah dalam arti yang sesungguhnyadapat dirasakan oleh seorang hamba-Nya, maka barulah ia kan dapat merasakan kecintaan kepada Allah dengan tulus dan hakiki. Adapun tanda-tanda ketulusan dan kehakikian cinta kepada Allah itu dapat dilihat dari dua hal yaitu :
1. Mengikut dan Mematuhi Rasul

Mengikuti rasul berarti manjadi rasul sebagai hakim dna menjadikan risalah yang dibawah rasul sebagai hukum dalam menyelesaikan segala permasalahan baik permasalahan kecil antar individu maupun permasalahan besar antar kelompojk bahkan antar negara.
Kebenaran dan ketulusan cinta kepada Allah dapat dibuktikan dari mengikuti Rasul. Sebaliknya bila rasul tidak diajadikan teladan dalam melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan, berarti cinta kepada Allah hanya cinta yang palsu.
Adapun orang-orang yang durhaka, bukanlah saja orang yang tidak percaya akan adanya Allah atau tidak melegitimasi Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul Allah; namun termasuk juga menolak isi sebahagian kandungan al-Qur’an atau juga merasa berat untuk mnjadikan al-Qur’an sebagai hukum juga merupakan bentuk kekufuran yang sebenarnya. Firman Allah : “Maka demi tuhanmu , mereka (pada hakikatnya) tidak beriman sampai mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudioan mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya (QS. 4 :65).”…..Apakah kamu beriman dengan sebagian isi al-kitab (al-Qur’an) dan kafir sebahagian yang lain?tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikan dari padamu kecuali kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat nanti mereka dikembalikan kepada siksa yang pedih…”(QS.2:85) dan “dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” ( QS. 33: 2)

2. Berjihad dengan diri dan Hara di jalan allah
Orang sering salah mengartikan jihad . jihad sering di artikan secara sempit atau hanya secara bahasa saja , yaitu; sungguh atau berperang “ . memang ini pengertian jihad tapi belum meyentuh pada penyesuaian pada diri mukmin sejadi pada tujuan “allah huakbar “ jadi sebenarnya,jihad itu mengandung pengertian berjuang , karena dalam perjuaqngasn sudah tercakup di dalamnya kesuungguhan keseriusan dan tercakup pula di dalam penertian perang .bila seorang ibu melahirkan anaknya termasuk jihad , juga dapat di terjemahkan bahwa ia sedang berjuang menyelamatkan banyinya di satu sisi dan berjuang untuk bertahan agar dapat hidup di sisi lain . seorang yang menuntut ilmu di katakan berjihad . karena di dalam belajar seorang se4dang berjuang melwan kebodohan . memerangi nafsu bahwa nafkah kepada keluarga dan sebagainya juga dalam kategori jihad . yang kesemuanya menunjukan adnya perjuangan suci di dalamnya .
Setaip cinta memerlukan pengorbanan hal ini tak ada bedanya dengan kalimat setiap perjuang butuh pengorbanan . karena tak mungkin orang berjuang tanpa di dasari cinta dan kenyakinan. Dan cinta berisi keyakinan .
Kesediaan berkorban adalah bukti kecintaan , di katakan berkorban bila berkorban bukan yang di cintai .misalnya Qobil bin adam tak di anggapallah berkorbankarena yang ia korbankan kepda allah bukanlahsuatu yang ia cintai . hasil gembala yang bagus ia ambil untuk dirinya , sementara yang tak bagus ia korbankan kepada allah . seandainya ada orang lain yang memberikan seperti yang ia korbankan itu kepadanya , ia sendiripun mengumpat karenanya.
Zaman sekarangpun banyak orang-orang yang kaya yang menyumbang dengan mengharap yang lebih baik. Tetapi seandainya sejumlah yang ia sumbangkan itu disumbangkan kepadanya, mungkin barangkali ia malah merasa diejek karena jumlahnya yang memalukan baginya. Mungkin barangkali pula, ia menganggap nilai inglklash itu tidak terletak di jumlah, tapi di hati. Padahal okhlash itu lebih luas maksudnya.

Orang-orang Jahiliyah di masa sebelum kedatangan Rasulullah sanggup mengorbankan anak laki-lakinya kepada berhala-berhala yang dibuat oleh tokoh-tokoh yang dihormati pada beberapa generasi sebelum mereka. Di zaman sekarang, orang-orang juga sanggup mengorbankan diri dan harta demipartai, organisasi dan keolmpok yang didirikan oleh tokoh-tokoh terkemuka di zaman ini.

Begitu juga para orang tua yang rela mngorbankan waktu yang sherusnya di rumah dan mendidik anak-anaknya karena kepentingan karir dan pekerjaan. Kesemua ini merupakan bahwa “Cinta itu mengorbankan sesuatu yang dicintai”.

Allah SWT juga membenarkan adanya kecendreungan manusia untuk mencintai kesengan hidup di dunia dan segala keindahan perhiasan dan tetek-bengeknya. Sebagaimana dijelaskan secara gamlang oleh Allah: “Dan sesunggihnya ia (manusia) amat bakhil karena cintanya kepada harta”, (QS. 100:8); “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan” (QS. 89:20); “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak laki-laki, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda-kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allahlah tempat kembali yang lebih baik” (QS. 3:14).

Dalam hal ini manusia selalu terjebak kepada situasi yang dilematis. Artinya di satu sisi manusia memang tidak ada pilihan, bahwa harus ada yang dikorbankan untuk dua hal yang dicintai. Namun di sisi lain manusia itu juga dituntut harus menetukan sikap ketika cinta menuntunya harus memilih. Dalam menghadapi situasi yang seprti ini hanya da 3 sikap manusia dalam mengambil keputusan dan pilihan, yaitu:

1. Memilih Allah.
Mereka yang memilih Allah, Rasulnya dan berjihad di jalannya akan dibalas cintanya dan diampuni dosa-dosanya oleh Allah. FirmanNya: “Jika kamu-benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah akan (balas) mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu” (QS. 3:31).

2. Memilih Selain Allah.
Mereka, orang-orang yang memilih selain Allah misalnya: harta anak, bisnis dan sebgainya yang dalam al-Qur’an disebutkan delapan kepentingan, kesemuanya bernilai 0, dan kecintaan kepada Allah bernilai 1. Apabila kecintaan kepda Allah lebih didahulukan, maka nilainya akan berlipat ganda menjadi 1.00.000.000. Namun sebaliknya, bila kedelapan hal tersebut yang ternyata lebih didahulukan maka nilainya akan sangat tidak memadai yakni hanya bernilai 000000001. Dalam hal ini Allah memberikan wanti-wanti dengan memberikan catatan: ‘ntar lu. Tunggulah, waktunya akan tiba. FirmanNya: “Katakanlah: “Jika bapa-bapamu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kamu kerabatmu, harta perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalanNya; maka tunggulah sampai Allah akan mendatangkan keputusanNya” (QS.9:24).

3. Memilih kedua-duanya.
Ada juga orang yang tidak dapat mengorbankan kedua kepentingan itu meskipun terkadang keduanya selalu bertentangan. Kadar kecintaan mereka sama dengan kecintaan mereka kepada Allah. Mereka ini dipandang sebagai orang-orang yang memprihatinkan, membikin kesal. Sebab jangankan mendua hati kepada Allah, mendua hati kepada makhluk saja akan dapat menimbulkan kecemburuan.Padahal dalam sebuah hadits Qudsi, diriwayatkan bahwa, Allah amat pecemburu. Dia tidak ingin disamakan dengan maskhluk. Dia ingin dicintai spenuhnya, bukan setengah-setengah. Dia dan ajaran-ajaranNya harus lebih diagungkan dari ajaran-ajaran dan agama-agama yang lain. FirmanNya: “Dan di antara manusia itu ada orang-orang yang mengabdi (beribadah/menyembah) tandingan-tangdingan (saingan/rival) selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana merka mencintai Allah. Adapun orang-oarng yang beriman amat bersangatan cintanya kepda Allah. Dan jika seandainya orang-oarang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksanya (tentulah mereka akan menyesal)” (QS. 2:165).