Thursday, 21 May 2009

Puasa dan Kesehatan

Sebagian di antara kita mungkin ada yang hafal tau paling tidak pernah membaca sebuah hadit Nabi SAW yang cukup singkat, namun punya nilai yang sangat besar bagi kehidupan; Bunyinya, "Shumu Tashihhu", berarti "Puasalah kamu, pasti kamu kan sehat".

Kebanyakan kita bukan pakar atau ahli bidang ilmu hadits, sehingga kita tidak tahu mata rantai sanad hadist ini dari nabi sampai periwayatnya. Bahkan, periwayatnya pun barangkali kita sudah lupa, Bukharikah? Imam Ahmadkah atau yang lainnya. Tetapi yang jelas, hadits itu sangat populer sehingga dalam makna bisa disebut hadits mutawatir lafzhi

Untuk tidak memperdebatkan lebih jauh mengenai apa teks asli hadits dan siapa perawinya dan dalam kitab apa, lebih baik kita buka hikmah yang ada dari hadits tersebut. Sebab, sebagaimana kita ketahui keluar dari perdebatan dan perbedaan dalam Islam lebih diutamakan dan dianjurkan.

Puasa (Shaum) selain memiliki berbagai keajaiban, keunggulan, keistemewaan juga mempunyai manfaat yang sangat banyak. Di antara manfaatnya, menumbuhkan rasa kebersamaan, melatih kesabaran, melatih kesadaran hukum dan meningkatkan partisipasi dalam kehidupan sosial. Selain manfaat-manfaat itu (mungkin tidak dijelaskan di tulisan ini), puasa juga mempunyai manfaat bagi kesehatan.

Tak berlebihan bila kebanyakan orang yang telah berumur di antara kita yang pernah mengalami berbagai hambatan kesehatan dalam menjalankan ibadah puasa setiap tahunnya. Mungkin karena sudah berkurangnya stamina dan daya tahan tubuh karena sudah semakin menuanya sel-sel tubuh, fungsi-fungsi organ serta melemahnya sistem kekebalan tubuh seiring dengan semakin bertambahnya usia.

Namun ada juga yang pernah mendengar pengalaman baik mengenai dampak positif berpuasa bagi kesehatan; apalagi pengalaman tersebut didukung dengan pernyataan dokter dan ahli kesehatan.

Puasa dan Tubuh Kita
Tubuh kita (manusia) terdiri terdiri dari beberapa sistem yang saling mendukung dan mempengaruhi satu sama lainnya, sehingga menjadi satu keutuhan yang utuh. Sistem itu antara lain, metabolisme, pengeluaran, pernafasan dan tranportasi (darah), syaraf, tulang dan sistem otot.

Pada saat metabolisme atau pencernaan kita bekerja mengolah makanan yang melibatkan mulut (gigi), kelenjar ludah, lambung, usus besar, usus dua belas jari dan usus halus sampai ke anus, sistem tubuh tidak maksimal dalam melakukan immunisasi dengan sistem kekebalan tubuh dengan kelenjar getah bening dan sel darah putih.

Bila dibandingkan pada saat berpuasa sistem, kekebalan tubuh relatif dapat bekerja lebih maksimal untuk menjalankan fungsinya melawan segala jenis penyakit, racun dan sisa-sisa endapan makanan yang dikonsumsi selama setahun ketimbang mereka yang tidak berpuasa.

Demikian pula hubungannya dengan sistem kerja syaraf yang sangat berkaitan dengan metabolisme. Tidak makan dan minum dapat lebih memperjernih kerja akal sehat sehingga bisa berfikir lebih jernih dan tenang, karena syaraf-syaraf rasa akan mengalami pengurangan kepekaan terhadap nafsu syahwat dan sifat-sifat kebinatangan lain ketika orang sedang berpuasa. Meskipun ini belum mendapat perhatian yang serius untuk diuji secara ilmiyah, namun diyakini sesuai menurut Ulama-ulama dan kaum sufi dahulu, induk segala dosa berada diperut atau terletak pada hawa nafsu makan dan minum.

Perut dan Neraka
Dalam suatu riwayat pernah diceritakan, bahwa ketika hawa nafsu diciptakan Allah, hawa nafsu sudah lebih cenderung mendurhakai Allah dan enggan mengakui Keagungan Allah. Sehingga Allah Murka kepadanya dan berfirman kepada Hawa nafsu akan menjatuhkannya hukuman yang amat berat. Tetapi bukannya takut, hawa nafsu malah menantang akan menjalani segala hukuman yang dijatuhkan. Segala bentuk siksaan dijatuhkan padanya, tetapi hawa nafsu belum juga menunjukkan tanda-tanda menyerah pada kehendak dan keinginan Tuhannya. Ia tetap enggan minta ampun. Mula-mula hawa nafsu dimasukkan ke neraka panas, selanjutnya neraka dingin yang sangat membekukan. Ia tetap bersikeras. Sampailah akhirnya Allah memasukkannya ke neraka lapar dan dahaga. Bukan main sakitnya rasa hawa nafsu ketika dimasukkan ke sana. Hawa nafsu tak dapat menahan lapar dan haus sehingga akhirnya ia minta ampun kepada Allah dan memohon agar dikeluarkan dari siksa NERAKA.

Jelasnya, perlu dijaga perut dari makan yang berlebihan, pembaziran, makan yang baik (bergizi) dan paling utama segi kehalalannya. Sebab, perut merupakan tempat kita memasukkan api neraka ke dalam tubuh kita, Sebagaimana Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim, sesungguhnya tidak ada yang mereka konsumsi di dalam tubuh mereka selain api neraka…". (Ayat). Dengan demikian, kita terhindar dari penyakit yang aneh-aneh dan sangat menyiksa akibat dosa-dosa perut kita.

Puasa bagi Kesehatan
Kesehatan sangat mahal. Saking mahalnya tak dapat dibayar berapapun, tak dapat dipindahpindahkan kepada orang lain. Bahkan tidak sedikit beranggapan kesehatan adalah segala-galanya. Tidak ada artinya hidup bila tidak sehat atau sakit-sakitan, minimal berkuranglah nikmat hidup bila kesehatan jauh dari jiwa raga kita.

Kesehatan yang hendak diobati melalui berpuasa tidak saja kesehatan mental spritulal, bahkan juga kesehatan fisik dan kebugaran tubuh. Memang perlu diakui saat berpuasa, kita kadang terasa haus dan lapar. Apalagi cuaca panas, rasanya begitu lemas dan membuat kita lesu. Karena itu, perlu dibiasakan sehingga terbiasa.

Mereka yang terbiasa berpuasa, tentu mempunyai daya tahan tubuh yang lebih baik dari mereka yang kurang membiasakannya. Begitupula tingkat kesabaran dan kegigihan dalam mempertahankan atau memperjuangkan cita-cita dan keinginannya. Artinya, berpuasa selain dapat menyehatkan jiwa dari penyakit-penyakit sombong, mementingkan diri sendiri, dengki dan sebaginya juga mampu menyehatkan fisik, yakni membersihkan metabolisme, membersihkan racun dalam tubuh dan lainnya seperti dikemukakan di atas.

Keutamaan Puasa

Bila orang hendak menawarkan sesuatu agar yang lain tertarik, tentu dikemukakan keistimewaan, kelebihan, keutamaan, manfaat dan hal-hal yang bernilai plus dari sesuatu itu. Inilah yang dikenal dengan iklan dan promosi dalam istilah dagang, kampanye dan propaganda dalam istilah sosial-politik.
Dalam Islam dikenal pula dakwah yang memiliki kesamaan tujuan dari istilah-istilah yang disebut tadi. Dalam Islam, dakwah dipandang sangat perlu dalam mentranformasikan nilai-nilai Islam dan keutamaannya bagi masyarakat. Demikian pula dalam pelaksanaan ibadah baik yang wajib maupun sunat, dikenal istilah "Fadilatul A'mal", yakni keutamaan-keutamaan suatu amal, agar menarik hati mereka yang mengaharapkan ganjaran lebih untuk selalu berpacu melaksanakan ibadah wajib dan sunat dengan keutamaan masing-masing.

Bulan Ramadlan merupakan penghulu segala bulan di sisi Allah. Di dalamnya terdapat banyak peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah para Nabi seperti turunnya Shuhuf Ibrahim dan Kitab-kitab Suci lainnya termasuk al-Qur'an, perang Badar, selain juga tentunya bulan di mana umat Islam di sentreo jagat diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Selain bulannya, ibadah puasa sendiri mempunyai berbagai keistimewaan atau keutamaan, antara lain:
1. Amal ibadah dan kebajikan yang dilaksanakan seseorang dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai 700 kali lipat. Dalam riwayat lain dijelaskan pula amal yang sunat dihitung setara amal wajib dan amal wajib diganjar 70 kali lipat; sampai-sampai tidurnya orang yang berpuasa pun dinilai berzikir kepada Allah.

2. Puasa itu langsung tertuju kepada Allah, tanpa perantara. Allah juga Yang langsung membalas setiap pahala/ ganjaran orang yang berpuasa Berbeda dengan amal ibadah yang lain, Allah telah memberitugas kepada malaikat Kiraman dan Katibin (Raqib/ Atid) yang mencatat amal perbuatan manusia baik yang jahat maupun yang baik, Puasa tidak demikian. Allah yang langsung menerima dan memberi nilai bagi puasa hambaNya.

3. Selain itu puasa juga dapat dijadikan sebagai Benteng dari siksa Api Neraka. Karena di dalam berpuasa orang yang beriman dilatih untuk mengendalikan diri, sabar, menundukkan pandangan dan sebagainya. Sehingga sumber-sumber kejahatan yang paling berbahaya seperti mata dan perut benar-benar dapat ditutup. Sehingga terdindinglan ia dari neraka.

4. Pada saat orang berpuasa, lambung akan kosong karena tidak terisi makanan, sehingga menimbulkan aroma yang tidak sedap bagi mulut. Untuk memicu dan membahagiakan orang-orang yang sedang berpuasa Allah justeru menilai mulut orang yang berpuasa lebih harum dari wangi Kasturi.

Nabi SAW bersabda dalam sebuah hadits Qudsi: "Sesungguhnya Tuhanmu berfirman: Tiap kebaikan sepuluh kali lipat samapi tujuh ratus kali lipat gandaanya. Dan puasa itu untukKu dan Aku yang akan membalasnya, dan puasa itu perisai (benteng) dari api neraka. Dan dari Mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari bau misik kasturi. Dan jika ada sesorang yang membodohi salah seorang kamu dengan suatu perbuatan yang jahil dan dia sedang berpuasa, maka hendaklah ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Dan bagi Orang yang berpuasa dua kegembiraan. Gembira saat berbuka dan ketika kegembiraan saat bertemu Rabb-(Pengaturnya)"(HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Dengan mengetahui berbagai keutamaan dan keistimewaan puasa, tentunya diharapkan bagi kita dengan penuh kesadaran untuk menambah gairah dan semangat untuk menjalani puasa Ramadlan sampai sebulan penuh kelak, Amin.

Puasa Ramadlan: Jalan Pintas Menuju Taqwa

Firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah (2) : 183-184.
"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan terhadap kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu mudah-mudahan kau bertaqwa. (QS. Al-Baqarah, 2:183)

Pada setiap bulan Ramadlan Umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa. Puasa berarti menahan. Secara umum, maksudnya menahan diri dari segala yang membatalkannya seperti makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Bila dikaji lebih jauh mengenai signifikannya, puasa bermakna membentengi diri dalam perang melawan hawa nafsu; mempertahankan diri (survive) dari gangguan musuh manusia yaitu setan; mendindingi diri atau melindungi diri dari segala godaan dan perbuatan maksiat serta memerisai seluruh anggota tubuh dari masuknya pengaruh-pengaruh negatif seperti menjaga pandangan, pendengaran dan hati.

Sabda Rasul Saw.: "….Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu adalah sebagai perisai bagimu (Wijhah)". Dalam HR. Ahmad, An-Nasai dan Ibnu Majah dari Utsman Bin Abil 'Ash juga diriwayatkan dari Abu Khuzaimah dalam shahihnya dan dishahihkan oleh Hakim dan disetujui oleh Baihaqi juga diriwayatkan Nabi Saw bersabda, "Puasa itu merupakan perisai bagi sesorang seperti perisai dalam peperangan (Junnah)". Sabda Rasul Saw dalam hadits lain: "Puasa itu adalah tembok/ dinding (Junnah)." Dalam hadit lain, Sabda Nabi Saw, "Puasa itu perisai (Junnah) dan Benteng Kokoh (Hishnun) yang melindungi sesorang dari api neraka" (HR. Ahmad dengn isnad hasan dan Baihaqi dari Abu Hurairah)

Sebagai salah satu pokok-pokok keislaman yang dikenal dengan rukun Islam, puasa mempunyai banyak tujuan. Salah satu tujuan diwajibkannya puasa sebagaimana dinyatakan QS. 2:183 di atas tadi adalah tujuan dari ibadah itu sendiri, yakni tercapainya prediket manusia yang bertaqwa. Ringkasnya, diperintahkan beribadah supaya bertaqwa; diperintahkan puasa pun supaya jadi orang bertaqwa.

Pada hakikatnya, puasa diwajibkan bagi setiap orang yang "merasa terpanggil" sebagai orang yang beriman. Melalui berpuasa seorang mukmin diharapkan memproses diri menjadi manusia yang tahan uji, tak mudah menyerah dan peka dalam segala situasi dan kondisi.

Sebagaimana lazimnya dalam proses hidup dan kehidupan manusia yang diciptakan Allah hanya semata-mata untuk beribadah, mengabdi, berbakti patuh dan taat kepada-Nya, proses mencapai taqwa mempunyai tujuh tahapan, di mana masing-masing tahapan akan dihadapkan kepada ujian tertentu sesuai dengan kemampuan seorang hamba-Nya menerima ujian itu.

Firman Allah: QS. 51:56, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaku". QS. 2 : 21, "Hai manusia, beribadahlah kamu kepada Rabb-kamu yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu mudah-mudahan kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa".

Untuk mencapai prediket taqwa, seorang yang mengaku muslim harus benar-benar memproses dirinya menjadi orang yang beriman dengan iman yang haq. Dengan keimanan yang benar ini diharapkan ia dapat berproses menjadi Muslim Kaffah. Selanjutnya, ia dituntut untuk manjadi hamba yang shalih, sampai menjadi hamba yang taat. Dengan ketaatan dan pengabdian yang ikhlash diharapkan ia akan berproses menjadi hamba yang istiqamah yang pada akhirnya tumbuhlah sikap ihsan, penuh kesadaran. Melalui kesadaran ia akan berproses menumbuhkan kesabaran, tahan uji dan pantang menyerah. Dari sikap tahan uji inilah seseorang akan meningkat ke proses taqwa. Diwajibkannya ibadah puasa merupakan jalan pintas menutu taqwa itu. Sebab dalam berpuasa, ketujuh proses hamba menuju taqwa, yakni: Mengikrarkan keislaman, memenuhi cabang-cabang keimanan, berislam secara Kaffah, beramal shalih, istiqamah, menumbuhkan sikap ihsan, menanamkan kesabaran sudah terangkum dalam ibadah puasa. Jelasnya, puasa tidak saja mengharapkan rahmat, maghfirah dan penjagaan dari siksa neraka, tapi juga sekaligus memproses seorang mukmin menjadi Insan yang taqwa.

Ramadlan Bulan Keampunan

Selagi ia bukan seorang Nabi dan Rasul yang ma'tsum, tak ada jaminan bagi seorang manusia yang luput dari dosa, kesalahan maupun kekhilafan. Sebab kata asal manusia sendiri adalah "Nasia" yang membentuk kata al-Insan, an-Nas, berarti Nisyan, pelupa, yang lalai. Jadi, bersalah adalah sifat manusia. Hadits Rasul Saw. Pun menyebutkan, "Setiap bani Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat dari kesalahannya". Namun, dengan Rahmat Allah yang Maha Luas yang Dia tetapkan bagi Dzat-Nya, Allah memberikan ampunan bagi segala dosa manusia walaupun sebanyak buih dilautan, sebanyak bintang dilangit atau seberat bukit Uhud. Allah menjamin, setiap dosa pasti ada ampunan kecuali dosa syirik (menyekutukan Allah). Hanya saja dituntut kepada manusia untuk mengakui kesalahannya kepada Allah, dan Rasul-Nya memohonkan Ampun atas dosa-dosanya. Firman Allah QS. Annisa' 4 : 64, "Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sungguh jika mereka ketika menganiaya diri (berbuat kesalahan) datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohonkan Ampun untuk mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".

Datangnya bulan Ramadlan merupakan kesempatan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Sebab bulan ini adalah bulan maghfirah, bulan keampunan. Oleh karena itu disyariatkan bagi Umat Islam untuk menyemarakkan Ramadlan dengan melakukan amal-amal yang mendukung permohonan Ampun kita sebagaimana yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya baik amalan wajib maupun amalan sunnat, seperti: Puasa Ramadlan, Shalat Malam, memperbanyak sedekah, dzikir dan I'tikaf serta memohon berkah lailatul Qadr dan 'amal-amal yang disunnahkan lainnya.

Sabda Nabi Saw. "Siapa yang berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhari dan Muslim)."Siapa yang puasa karena iman, dan karena mengharap pahala dari Allah diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Dan siapa yang mendapatkan bulan Ramadhan sementara ia belum menunaikan puasanya, maka sesungguhnya ia tidak akan ditema apapun darinya (ibadah) hingga ia berpuasa" (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

"Bulan puasa merupakan bulan yang telah diwajibkan Allah puasanya, dan aku memberi sunnah kepada kamu mendirikan (sholat lail)nya. Siapa yang puasa dan mendirikan (sholat lail)nya benar-benar karena iman dan penuh perhitungan (mengharap pahala dari Allah), akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari saat dia dilahirkan ibunya" (HR Ibu Majah dan Baihaqie dari Abdurrahman bin 'Auf).

Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda: "Siapa yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadr karena iman, dan karena mengharap pahala dari Allah diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Muttafaqun Alaih). Dalam hadits lain, Nabi SAW juga bersabda: "Siapa yang menegakkan bulan Ramadhan karena iman, dan karena mengharap pahala dari Allah diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Muttafaqun Alaih).

Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam Nabi SAW naik Mimbar lalu bersabda: Amin, amin, amin. Maka ia ditanya, "Ya Rasulullah kenapa Engkau naik Mimbar lalu membaca Amin, amin, amin, ? Nabi Saw menjawab, "Malaikat Jibriel Al Washliyah datang kepadaku dan berkata : Siapa yang mendapati bulan Ramadlan tetapi belum juga diampunkan baginya hingga mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya. Katakanlah Amien, maka aku berkata, amin. Dan siapa yang mendapati kedua ayahnya bundanya atau salah satunya lalu tidak taat pada keduanya hingga mati dan masuk neraka maka Allah menjauhkannya, katakanlah Amin, maka aku berkata Amin. Dan Siapa yang mendengar namamu disebut padanya, tiba-tiba ia tidak membacakan sholawat untukmu, hingga mati dan masuk neraka maka Allah menjauhkannya, katakanlah amin, maka aku berkata amin". (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Sabda Nabi Saw., "Shalat lima waktu, shalat Jumat ke shalat Jumat lainnya, dan Ramadlan ke Ramadlan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya (jarak waktu-waktu tersebut) jika dosa-dosa besar ditinggalkan (al-kaba-ir)" (HR. Muslim).
Sangat banyak hadits-hadits yang menjelaskan "besarnya peluang keampunan" di bulan Ramadlan, terutama pada sepuluh hari bagian pertama (malam 1-10) dari tiga bagian Ramadlan sebagaimana yang menurut pembagian Nabi Saw sendiri. Wallahu A'lam.

Istilah Buat Orang Berpuasa

Dalam menjalankan ibadah puasa manusia tidak sama. Berbagai sikap dan ciri tertentu muncul mewakili kadar keimanan dan hawa nafsu yang dominan dari pembawaan masing-masing individu.

Berdasarkan ciri-ciri tertentu dan sikap bawaan dari orang berpuasa itu, barangkali dapat disebutkan sejumlah istilah yang ditabalkan orang-orang tua agar penjenisan orang yang berpuasa lebih mudah dikenali. Istilah-istilah itu antara lain: Puasa Ludah; adalah istilah yang diberikan kepada orang berpuasa yang kerjanya sebentar-sebentar meludah. Terkadang sulit dimengerti apa maksudnya. Puasa Jam; istilah bagi shaim (orang berpuasa) yang menghitung-hitung jarum jam atau sebentar-sebentar melihat jam dinding atau jam tangan,"Berapa jam lagi, buka ya?". Puasa Kaki; yaitu orang yang pada bulan puasa dari rumah tak makan tak minum (mungkin karena ibu atau istrinya tidak memasak) pergi ke kedai kopi, warung-warung dan sebagainya bersembunyi dibalik spanduk bekas, tak nampak apa-apa selain kaki "doang". Puasa Ular; yaitu puasa yang bawaannya melingkar seperti ular, tidur melulu sampai berbuka tiba. Puasa Harimau; puasa jenis ini kerjanya marah-marah melulu. Salah sedikit, sudah mendamprat, "Orang lagi puasa ini, jangan cari perkara kau". Puasa Bukaan; yakni orang berpuasa yang pagi-pagi sudah nanya pembantu, isteri, kakak atau ibu, "Apa bukaan nanti sore?". Setiap hari menanyakan bukaan begitu dan memesankan bukaan untuk keesokan hari, "Besok masak ini, ini, beli ini, ini, ya?".

Mungkin kalau dibagi-bagi secara lebih spesifik, agaknya akan ditemukan banyak kesulitan. Sebab, masih banyak lagi fenomena-fenomena lain yang belum dapat digali lebih dalam lagi menurut ilmu psikologis mengenai perilaku orang berpuasa. Namun jelasnya, sejak zaman Rasulullah, SAW, tabi'ien dan generasi selanjutnya hingga masa sekarang, para Ulama, Ahli Ushul, Fuqaha telah mencoba memberikan penjenisan (klasifikasi) dan pembedaan puasa menurut tingkatan.

Firman Allah QS. 17 al-Isra': 52: "Makan minumlah kamu dan jangan berlebih lebihan, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan". Rasulullah SAW bersabda:
"Adakala orang yang puasa itu tidak mendapatkan pahala apa-apa dari puasanya kecuali haus" (HR. An-Nasa-i) Nabi Saw. bersabda dalam hadits lain; "Bukan yang bernama puasa itu sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa yang sesungguh-sungguh itu menahan dari laghu (perbuatan, perkataan sia-sia) dan kata-kata yang keji (seperti memaki, menghina)" (HR. Muslim).

Menurut Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Fasimy ad-Damsyiqi dalam kitab Mauizhatul Mu'minin yang merupakan sari dari Ihya Ulumudiin karya Imam al-Ghazali (halaman 61) tentang Pembagian Puasa dijelaskan, puasa ada tiga tingkatan yakni, puasa umum, puasa khusus dan puasa khususul khusus. Puasa Umum merupakan penjagaan perut, kemaluan dari dari memperturutkan nafsu seperti nafsu makan, minum, seks dan sebagainya yang menyebabkan batalnya puasa. Sedangkan, puasa khusus tidak hanya menjaga hal-hal yang membatalkan puasa, tapi juga menjaga hal-hal yang membuat hilangnya pahala puasa. Sperti menjaga, pendengaran, pandangan, lidah, tangan, kaki dan semua anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Dan yang terakhir, puasa kushusul khusus, adalah tingkatan di mana tertahannya hati dan pemikiran dari kepentingan dunia. Dengan demikian hati pun terjaga dari mengingat dan memikirkan selain Allah secara keseluruhan aktifitas.

Perumpamaan Sebuah Kebenaran

1. Mengapa harus Nyamuk?

Kalau di televisi mapun di VCD barangkali kerap sudah disaksikan bangaimana artis anak-anak (kanak-kanak) melantunkan lagu yang pernah hit didunia musik (muzik) anak-anak berjudul, “Nyamuk-Nyamuk Nakal” atau lagu yang mengandung lirik tentang nyamuk lainnya. Kenapa harus nyamuk? Sementara masih banyak makhluk yang nakal melebihi nyamuk ? Cecak misalnya, atau mungkin yang lain. Tapi itulah yang namanya pengibaratan. Contohnya bisa apa saja, tapi kenyataannya tetap menunjukan sebuah kebenaran. Bagi mereka yang suka berspekulasi, pengibaratan sering menjadi buah ejekan, bahkan dapat pula berakibat kesalahfahaman.

Namun bagi manusia yang berbudi pekerti mulia, tamsilan merupakan lambang tingginya budi dan dalamnya kebijaksanaan.

Firman Allah : “Seungguhnya Allah tiada segan-segan untuk membuat perumpamaan nyamuk atau lebih sederhana dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka merak pasti mengetahui bahwa yang Haq itu berasal dari Sang Pendidik mereka”, sedangkan orang-orang yang kafir maka mereka akan mengatakan, Apa maunya Allah membuat perumpamaan seperti ini?”. Allah menyesatkan banyak orang dengan perumpamaan itu dan banyak pula memberi petunjuk dengan perumpamaan itu, dan tidak disesatkan dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasiq. Yaitu orang-orang yang memutuskan komitmen mereka setelah komitmen itu teguh dan mereka memutuskan apa saja yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (dihubungkan) dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi (QS. Al-Baqarah (2): 26-27).


Kenapa Harus daerah Pertokoan Non Pribumi?

Istilah tetaplah istilah. Tetapi bukanlah , sekedar istilah bila ada yang mengatakan kalau petugas entah itu petugas kebersihan atau petugas yang lain batuk atau mendehem di depan sebuah toko cina. Tauke, “Eng Ko-‘Eng Konya, Ah Pek-Ah Peknya pasti tahu apa yang diinginkan petugas itu. Tetapi bila ada petugas yang melakukan penertiban kepada pedagang musiman, abang becak, dan sebagainya di tempat-tempat yang dilarang semisal Taman Makam Pahlawan dan sebagainya, tentu petugas sangat kewalahan.

Nah, oleh karena itu, tak perlu dipertanyakan, kenapa saat pemilihan lurah dan kelurahan terbaik dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) kota Medan kemarin, kelurahan yang dihuni mayoritas etnis Tiong Hoa (chinese) terpilih sebagai kelurahan terbaik, terbersih dan ter-ter lainnya. Dan wajar-wajar bila ada yang menganggap tak ada istimewanya bila kelurahan anu dengan lurah bapak Fulan sebagai kelurahan dan lurah terbaik, jadi sebenarnya yang tebaik itu siapa?

Bayangkan bila lurah yang memimpin kelurahan yang katanya terbaik itu misalnya, dipindahkan ke lurah yang dianggap baik-baik sedikit, dan sebaliknya kelurahan kurang baik itu sekali lagi misalnya dipindahkan kelurahan yang memang tak banyak sampahnya, atau tak banyak penyakitnya, dapatkah kelurahan itu sama menjadi baik?

Kenapa Harus Inul?
Mungkin rakyat Indonesia para pemirsa televisi, khususnya yang doyan dangdut tak ketinggalan penduduk jagat merasa tak asing lagi dengan “hamba Allah” yang bernama Ainul Rokhimah yang akrabnya dipanggil Mbak “INUL DARATISTA”. Di tengah-tengah kusut masainya percaturan berpolitik di tanah air, di tengah kondisi paceklik (kebuluran), krisis multi dimensi serta penyakit-penyakit sosial sangat akut lemeluhi SARS, semua seolah tenggelam di telan “sosok” inul yang goyang ngebornya seolah sakti mandraguna. Tak peduli tukang bakso, pejabat kiyay, bung haji dan artis lokal dan seterusnya, semua seolah tak berhenti menyoroti beliau. Kenapa harus Inul? Kenapa tidak pengungsi aceh, kenapa tidak anak-anak putus sekolah? Kenapa tidak anak-anak yatim? Kenapa inul tidak berhenti goyang ngebornya misalnya, lantas ia memakai jilbab (tudung) ke mana-mana, entah itu saat manggung, ke studio dan sebagainya, toh ternyata dia tetap ngetop. Namanya tetap berkibar. Ia tetap rendah hati, tawaddlhu tetap tertinggi honornya sampai kemudian ia mau naik haji. Lantas apakah orang-oarng akan berhenti membicarakannya?

Kenapa Harus Muhammad?
Apa yang haruis dikatakan oleh umat Islam bila ada orang usil semisal orientalis, komunis, kapitalis dan is-is lainnya mempertanyakan kenapa harus Muhammad SAW yang diangkat atau dipilih Allah, Rasul dan KekasihNya, padahal beliau itu “Ummy” yatim piatu; sementara di kota Mekkah ada Umar Bin Khattab, si Singa Gurun Pasir, ada Abu Jahal bin Hisyam, Singa Podium, ada Ahli Kitab yang hafal kitab Suci, ada rahib-rahib dan ada saja alasan untuk tidak mengatakan mengapa harus Muhammad?

Inilah bentuk pertanyaan yang mebuka pintu kesombongan dan kedengkian sehingga banyak tokoh-tokoh politik, pemuka-pemuka masyarakat Arab yang sulit menerima kebenaran Islam. Mereka merasa berat, kenapa tidak Abu Jahal, Umar atau yang lain semisal pemimpin mereka yang menjadi Nabi? Oleh karena itu banyak pengibaratan yang dapat dijadikan sumber kebijaksanaan untuk dapat dirangkai dengan kata “Kenapa”. Kenapa harus Timor Timur (Timtim) yang merdeka, kenapa tidak Aceh, Irian Jaya; atau DKI Jakarta? Kenapa harus negara Muslim yang jadi sasaran keganasan para negara agresor? Kenapa tidak negara-negara Eropa atau Amerika Latin? Dengan menemukan jawaban dari pertanyaan “kenapa harus…”, Moga kan menjadikan kita lebih bijaksana.

Pengembangan Makna Do’a dan Ibadah: Proyeksi dan Realisasi Aktivitas

Bila kita ditanya apa itu do’a, kita langsung berasumsi do’a itu sebuah “permohonan” atau permintaan kepada Allah SWT. Demikian pula ibadah. Kebanyakan kita mungkin menilai hanya sebatas “melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarangnya”. Namun, sayangnya pengertian ini tidak diperdalam kepda hal-hal yang lebih konstruktif dalam menjalani kehidupan. Seolah-olah ajaran Islam dan konsepsi-konsep umum terpisah, baik sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial politik. Padahal, sebenarnya Islam tidak hanya sekedar menjiwai seluruh kehidupan, namun sekaligus merupakan konsepsi bagi semua realitas kehidupan.

Kehidupan selalu berubah. Perubahan yang ada, terjadi secara alamiah, sesuai law of nature (hukum alam) yang ditetapkan Allah. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu Maha Menentukan Ukuran (Qodir)”.

Melalui hukum alam, Allah telah menentukan takdir, menetapkan kadar atau ukuran dengan menciptakan Waktu dan Massa. Sehingga benda-benda (materials) yang ada di alam ini dapat bereaksi dan berinteraksi satu sama lain. Misalnya, Allah menciptakan “kadar air” disusun dari 1 atom unsur Hidrogen dan 2 atom unsusr Oksigen.

Ketentuan ini tidak akan mengalami perubahan selamanya. Jangan coba-coba menambah atom hidrogen menjadi 2H atau mengurangi kadar Oksigen menjadi 1 atom O. Maka, dengan sendirinya akan terjadi reaksi, air tetap H2O sedangkan satu atom yang lainnya akan mengendap menjadi O aksen. Sedangkan setiap atom Hidrogen yang lain apabila berlebih dari ukurannya pasti akan mencari atom oksigen lain untuk mencukupi jumlah perbandingan 1: 2 (1 H: 2 O) yang menyusun anasir air.

Fenomena alamiah ini dijelaskan Allah dalam FirmanNya: “Dan kamu tidak akan mendapati perubahan dalam sunnatullah itu”.

Selain secara alamiyah, perubahan juga dapat dilakukan dengan rekayasa dan kreatifitas manusia. Karena manusia, dengan statusnya sebagai khalifah telah diberikan Allah “kemampuan ajaib” berupa akal dalam menciptakan perubahan-perubahan itu.

Perubahan tersebut hanya terjadi bila manusia telah merencanakan dan berupaya untuk melaksanakan (merealisasikan) rencana itu. Rekayasan dan kreatifitas ini dijamin Allah dalam firman-Nya (QS. A-Ra (13): “Sesungguhnya allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu yang dalam diri mereka”.

Oleh karena itu, seseorang hanya akan dapat melakukan perubahan di luar dirinya ia mampu membuat perubahan di luar dirinya . Ringklasnya apa yang terjadi secara alami ada takdirnya, yaitu sunatullah. Namun apa yang terjadi dalam kehidupan manusia baik yang berhubungan dengan alam atau tidak, tergantung dari rencana manusia. Dua hal, yaitu proyeksi dan realisasi .


1. Doa merupakan proyeksi

Di atas tadi sempat disinggung tentang doa yang umumnya di sebut permohonan atau permintaan kepada Allah. Secara bahasa pengertian doa memang tak jauh berbeda dengan apa yang difahami kebanyakan kita. Dalam ilmu usul fiqh misalnya, doa didefinisikan sebagai “thalabul-fi’li minal adna ilal a’la” yang berarti menuntut berbuat dari yang lebih hina kepada yang lebih tinggi, merupakan kebalikan dari kata amr (perintah) yang didefinisikan sebagai “tuntutan perbuatan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah.

Sekilas doa memang berarti permohonan kepada Allah tetapi, hakikatnya adalah memotivsi otak bawah sadar untuk memerintahkan organ utnuk menghimpun energi ke arah “sesuatu” yang menjadi permohonan, misalnya, saat menjelang tidur dalam keadaan sadar kita memproyeksikan bangun utunk sholat shubuh, insya Allah subuhnya otak kecil akan memerintahkan kita untuk bangun, demikian pula hal-hal yang lain. Kita minta mpun kepada Allah berarti kita memproyeksikan diri kita untuk belajar membenci dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah. Atau semisal contoh lain, kita berdo’a supaya kaya, berarti kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang milyoner.
Jelasnya, doa secara tidak langsung membuat perencanaan, memilih program, menentukan timing, motivasi, sugesti dan lebih jauh merupakan proyeksi aktivitas yang hendak dilakukan. Baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Sholat selain sarana komunikasi (munajat), stage line up (mi’raj), dan tawajjuh (koneksi) juga didefinikan dengan “doa”. Bila kita hendak memahami tentang hakikat Sholat ditinjau dari aspek “pembinaan diri”, maka sebenarnya dari pengertian do’a, sholat merupakan proyeksi seorang mukmin dalam mencapai tujuan jangka pendek, sedang dan jangka panjangnya. Dalam sholat, seorang mukmin melaporkan aktivitasnya pada masa-masa sebelumnya. Dan memproyeksikan hubungannya kepada Allah untuk masa-masa selanjutnya.

2. Ibadah Merupakan Realisasi Ajaran

Rasulullah Muhammad Saw bersabda “Addua-u Mukkhul ‘ibadah”. Artinya, “doa itu adalah otak ibadah” ada apa dengan otak? Tentu kita akan bertanya seperti itu. Kenapa tidak mata, kulit, tulang, jantung atau organ-organ lainnya. Kalau didalam matan (teks) hadist seperti itu, tentu akan ada apa-apanya.

Memang benar ada apa-apanya. Dalam tubuh manusia, otak terbagi menjadi dua bagian utama, otak besar dan otak kecil, disamping pembagian otak besar kepada otak kiri dan kanan. Sebagai organ yang terdiri dari pusat sistem saraf yang paling rumit yang menghubungkan fungsi dan kinerja organ-organ lain, otak merupakan penggerak atau organ yang memerintahkan organ-organ lain untuk merealisasikan apa yang telah diproyeksikan.

Demikian pula dengan ibadah kepada Allah. Ibadah merupakan realisasi ajaran. Sedangkan ajaran itu sendiri berisi atuaran atau peraturan. Peraturan itu berisi perintah dan larangan. Semakin banyak kita melihat, mendengar dan merasakan yang baik-baik, yang konstruktif, yang bermanfaat dan hal-hal positif lainnya, maka akan semakin banyak kita merekam hal-hal positif itu kedalam otak bawah sadar kita; dan semakin banyak pula hal positif yang dapat kita proyeksikan, bayangkan dan rencanakan. Nah, suatu saat, ketika ada stimulus ( rangsangan ) berupa informasi atau fenomena bernada atau bernuansa positif, maka kita akan bergerak untuk merealisasikan apa yang telah kita proyeksikan. Lebih jauh, kita akan berusaha untuk menciptakan keadaan yang kita proyeksikan. Inilah kerja agen-agen perubahan.

Sebaliknya, semakin banyak kita melihat, mendengar dan merasakan hal-hal negatif, tentu akan semakin besar pula pengaruhnya bagi kita diamasa-masa selanjutnya. Disinilah dituntut perlunya filter, counter atau memilah-milah mana yang harus kita simpan, mana yang harus kita hapus dari otak bawah sadar kita. Sehingga kertika ada stimulus yang memancing kita ke arah hal-hal yang demikian, kita tidak lagi akan tergerak untuk melakukannya.

Oleh karena itu seorang ‘Abid (hamba Allah) dituntut untuk mencari ilmu, membicarakan yang baik-baik, mendengarkan dan berprasangka yang baik-baik. Agar apa yang diproyeksikannya tidak melenceng dari ajaran Allah. Sebaliknya, kita juga diperintahkan untuk berdoa yang baik-baik, agar semakin banyak yang mengendap diotak bawah sadar kita hal-hal yang baik-baik, sehingga ketika ada kesempatan yang mendukung, aktivitas kita terarah kesana.
Semoga dengan memahami intisari pengertian doa dan ibadah kita dapat menjadi seorang perencana, programmer atau proyektor yang dapat menciptakan, paling tidak terlibat dalam perubahan dari hal skala kecil maupun skala paling besar didunia ini. Doa kita akan benar-benar sebuah proyeksi. Ibadah kita akan benar-benar sebuah aktivitas merealisasikan ajaran Allah.