Thursday, 21 May 2009

Ramadlan Bulan Keampunan

Selagi ia bukan seorang Nabi dan Rasul yang ma'tsum, tak ada jaminan bagi seorang manusia yang luput dari dosa, kesalahan maupun kekhilafan. Sebab kata asal manusia sendiri adalah "Nasia" yang membentuk kata al-Insan, an-Nas, berarti Nisyan, pelupa, yang lalai. Jadi, bersalah adalah sifat manusia. Hadits Rasul Saw. Pun menyebutkan, "Setiap bani Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang bertaubat dari kesalahannya". Namun, dengan Rahmat Allah yang Maha Luas yang Dia tetapkan bagi Dzat-Nya, Allah memberikan ampunan bagi segala dosa manusia walaupun sebanyak buih dilautan, sebanyak bintang dilangit atau seberat bukit Uhud. Allah menjamin, setiap dosa pasti ada ampunan kecuali dosa syirik (menyekutukan Allah). Hanya saja dituntut kepada manusia untuk mengakui kesalahannya kepada Allah, dan Rasul-Nya memohonkan Ampun atas dosa-dosanya. Firman Allah QS. Annisa' 4 : 64, "Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sungguh jika mereka ketika menganiaya diri (berbuat kesalahan) datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasulpun memohonkan Ampun untuk mereka, tentulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".

Datangnya bulan Ramadlan merupakan kesempatan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Sebab bulan ini adalah bulan maghfirah, bulan keampunan. Oleh karena itu disyariatkan bagi Umat Islam untuk menyemarakkan Ramadlan dengan melakukan amal-amal yang mendukung permohonan Ampun kita sebagaimana yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya baik amalan wajib maupun amalan sunnat, seperti: Puasa Ramadlan, Shalat Malam, memperbanyak sedekah, dzikir dan I'tikaf serta memohon berkah lailatul Qadr dan 'amal-amal yang disunnahkan lainnya.

Sabda Nabi Saw. "Siapa yang berpuasa Ramadlan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu". (HR. Bukhari dan Muslim)."Siapa yang puasa karena iman, dan karena mengharap pahala dari Allah diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang. Dan siapa yang mendapatkan bulan Ramadhan sementara ia belum menunaikan puasanya, maka sesungguhnya ia tidak akan ditema apapun darinya (ibadah) hingga ia berpuasa" (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).

"Bulan puasa merupakan bulan yang telah diwajibkan Allah puasanya, dan aku memberi sunnah kepada kamu mendirikan (sholat lail)nya. Siapa yang puasa dan mendirikan (sholat lail)nya benar-benar karena iman dan penuh perhitungan (mengharap pahala dari Allah), akan keluar dari dosa-dosanya seperti hari saat dia dilahirkan ibunya" (HR Ibu Majah dan Baihaqie dari Abdurrahman bin 'Auf).

Dalam riwayat lain, Nabi SAW bersabda: "Siapa yang mendirikan shalat pada malam Lailatul Qadr karena iman, dan karena mengharap pahala dari Allah diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Muttafaqun Alaih). Dalam hadits lain, Nabi SAW juga bersabda: "Siapa yang menegakkan bulan Ramadhan karena iman, dan karena mengharap pahala dari Allah diampunkan baginya dosa-dosanya yang telah lalu" (HR. Muttafaqun Alaih).

Diriwayatkan, bahwa pada suatu malam Nabi SAW naik Mimbar lalu bersabda: Amin, amin, amin. Maka ia ditanya, "Ya Rasulullah kenapa Engkau naik Mimbar lalu membaca Amin, amin, amin, ? Nabi Saw menjawab, "Malaikat Jibriel Al Washliyah datang kepadaku dan berkata : Siapa yang mendapati bulan Ramadlan tetapi belum juga diampunkan baginya hingga mati dan masuk neraka, maka Allah menjauhkannya. Katakanlah Amien, maka aku berkata, amin. Dan siapa yang mendapati kedua ayahnya bundanya atau salah satunya lalu tidak taat pada keduanya hingga mati dan masuk neraka maka Allah menjauhkannya, katakanlah Amin, maka aku berkata Amin. Dan Siapa yang mendengar namamu disebut padanya, tiba-tiba ia tidak membacakan sholawat untukmu, hingga mati dan masuk neraka maka Allah menjauhkannya, katakanlah amin, maka aku berkata amin". (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah).

Sabda Nabi Saw., "Shalat lima waktu, shalat Jumat ke shalat Jumat lainnya, dan Ramadlan ke Ramadlan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antaranya (jarak waktu-waktu tersebut) jika dosa-dosa besar ditinggalkan (al-kaba-ir)" (HR. Muslim).
Sangat banyak hadits-hadits yang menjelaskan "besarnya peluang keampunan" di bulan Ramadlan, terutama pada sepuluh hari bagian pertama (malam 1-10) dari tiga bagian Ramadlan sebagaimana yang menurut pembagian Nabi Saw sendiri. Wallahu A'lam.

Istilah Buat Orang Berpuasa

Dalam menjalankan ibadah puasa manusia tidak sama. Berbagai sikap dan ciri tertentu muncul mewakili kadar keimanan dan hawa nafsu yang dominan dari pembawaan masing-masing individu.

Berdasarkan ciri-ciri tertentu dan sikap bawaan dari orang berpuasa itu, barangkali dapat disebutkan sejumlah istilah yang ditabalkan orang-orang tua agar penjenisan orang yang berpuasa lebih mudah dikenali. Istilah-istilah itu antara lain: Puasa Ludah; adalah istilah yang diberikan kepada orang berpuasa yang kerjanya sebentar-sebentar meludah. Terkadang sulit dimengerti apa maksudnya. Puasa Jam; istilah bagi shaim (orang berpuasa) yang menghitung-hitung jarum jam atau sebentar-sebentar melihat jam dinding atau jam tangan,"Berapa jam lagi, buka ya?". Puasa Kaki; yaitu orang yang pada bulan puasa dari rumah tak makan tak minum (mungkin karena ibu atau istrinya tidak memasak) pergi ke kedai kopi, warung-warung dan sebagainya bersembunyi dibalik spanduk bekas, tak nampak apa-apa selain kaki "doang". Puasa Ular; yaitu puasa yang bawaannya melingkar seperti ular, tidur melulu sampai berbuka tiba. Puasa Harimau; puasa jenis ini kerjanya marah-marah melulu. Salah sedikit, sudah mendamprat, "Orang lagi puasa ini, jangan cari perkara kau". Puasa Bukaan; yakni orang berpuasa yang pagi-pagi sudah nanya pembantu, isteri, kakak atau ibu, "Apa bukaan nanti sore?". Setiap hari menanyakan bukaan begitu dan memesankan bukaan untuk keesokan hari, "Besok masak ini, ini, beli ini, ini, ya?".

Mungkin kalau dibagi-bagi secara lebih spesifik, agaknya akan ditemukan banyak kesulitan. Sebab, masih banyak lagi fenomena-fenomena lain yang belum dapat digali lebih dalam lagi menurut ilmu psikologis mengenai perilaku orang berpuasa. Namun jelasnya, sejak zaman Rasulullah, SAW, tabi'ien dan generasi selanjutnya hingga masa sekarang, para Ulama, Ahli Ushul, Fuqaha telah mencoba memberikan penjenisan (klasifikasi) dan pembedaan puasa menurut tingkatan.

Firman Allah QS. 17 al-Isra': 52: "Makan minumlah kamu dan jangan berlebih lebihan, sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang berlebih-lebihan". Rasulullah SAW bersabda:
"Adakala orang yang puasa itu tidak mendapatkan pahala apa-apa dari puasanya kecuali haus" (HR. An-Nasa-i) Nabi Saw. bersabda dalam hadits lain; "Bukan yang bernama puasa itu sekedar menahan makan dan minum, tetapi puasa yang sesungguh-sungguh itu menahan dari laghu (perbuatan, perkataan sia-sia) dan kata-kata yang keji (seperti memaki, menghina)" (HR. Muslim).

Menurut Syaikh Muhammad Jamaluddin al-Fasimy ad-Damsyiqi dalam kitab Mauizhatul Mu'minin yang merupakan sari dari Ihya Ulumudiin karya Imam al-Ghazali (halaman 61) tentang Pembagian Puasa dijelaskan, puasa ada tiga tingkatan yakni, puasa umum, puasa khusus dan puasa khususul khusus. Puasa Umum merupakan penjagaan perut, kemaluan dari dari memperturutkan nafsu seperti nafsu makan, minum, seks dan sebagainya yang menyebabkan batalnya puasa. Sedangkan, puasa khusus tidak hanya menjaga hal-hal yang membatalkan puasa, tapi juga menjaga hal-hal yang membuat hilangnya pahala puasa. Sperti menjaga, pendengaran, pandangan, lidah, tangan, kaki dan semua anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa. Dan yang terakhir, puasa kushusul khusus, adalah tingkatan di mana tertahannya hati dan pemikiran dari kepentingan dunia. Dengan demikian hati pun terjaga dari mengingat dan memikirkan selain Allah secara keseluruhan aktifitas.

Perumpamaan Sebuah Kebenaran

1. Mengapa harus Nyamuk?

Kalau di televisi mapun di VCD barangkali kerap sudah disaksikan bangaimana artis anak-anak (kanak-kanak) melantunkan lagu yang pernah hit didunia musik (muzik) anak-anak berjudul, “Nyamuk-Nyamuk Nakal” atau lagu yang mengandung lirik tentang nyamuk lainnya. Kenapa harus nyamuk? Sementara masih banyak makhluk yang nakal melebihi nyamuk ? Cecak misalnya, atau mungkin yang lain. Tapi itulah yang namanya pengibaratan. Contohnya bisa apa saja, tapi kenyataannya tetap menunjukan sebuah kebenaran. Bagi mereka yang suka berspekulasi, pengibaratan sering menjadi buah ejekan, bahkan dapat pula berakibat kesalahfahaman.

Namun bagi manusia yang berbudi pekerti mulia, tamsilan merupakan lambang tingginya budi dan dalamnya kebijaksanaan.

Firman Allah : “Seungguhnya Allah tiada segan-segan untuk membuat perumpamaan nyamuk atau lebih sederhana dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka merak pasti mengetahui bahwa yang Haq itu berasal dari Sang Pendidik mereka”, sedangkan orang-orang yang kafir maka mereka akan mengatakan, Apa maunya Allah membuat perumpamaan seperti ini?”. Allah menyesatkan banyak orang dengan perumpamaan itu dan banyak pula memberi petunjuk dengan perumpamaan itu, dan tidak disesatkan dengan perumpamaan itu kecuali orang-orang yang fasiq. Yaitu orang-orang yang memutuskan komitmen mereka setelah komitmen itu teguh dan mereka memutuskan apa saja yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (dihubungkan) dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi (QS. Al-Baqarah (2): 26-27).


Kenapa Harus daerah Pertokoan Non Pribumi?

Istilah tetaplah istilah. Tetapi bukanlah , sekedar istilah bila ada yang mengatakan kalau petugas entah itu petugas kebersihan atau petugas yang lain batuk atau mendehem di depan sebuah toko cina. Tauke, “Eng Ko-‘Eng Konya, Ah Pek-Ah Peknya pasti tahu apa yang diinginkan petugas itu. Tetapi bila ada petugas yang melakukan penertiban kepada pedagang musiman, abang becak, dan sebagainya di tempat-tempat yang dilarang semisal Taman Makam Pahlawan dan sebagainya, tentu petugas sangat kewalahan.

Nah, oleh karena itu, tak perlu dipertanyakan, kenapa saat pemilihan lurah dan kelurahan terbaik dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) kota Medan kemarin, kelurahan yang dihuni mayoritas etnis Tiong Hoa (chinese) terpilih sebagai kelurahan terbaik, terbersih dan ter-ter lainnya. Dan wajar-wajar bila ada yang menganggap tak ada istimewanya bila kelurahan anu dengan lurah bapak Fulan sebagai kelurahan dan lurah terbaik, jadi sebenarnya yang tebaik itu siapa?

Bayangkan bila lurah yang memimpin kelurahan yang katanya terbaik itu misalnya, dipindahkan ke lurah yang dianggap baik-baik sedikit, dan sebaliknya kelurahan kurang baik itu sekali lagi misalnya dipindahkan kelurahan yang memang tak banyak sampahnya, atau tak banyak penyakitnya, dapatkah kelurahan itu sama menjadi baik?

Kenapa Harus Inul?
Mungkin rakyat Indonesia para pemirsa televisi, khususnya yang doyan dangdut tak ketinggalan penduduk jagat merasa tak asing lagi dengan “hamba Allah” yang bernama Ainul Rokhimah yang akrabnya dipanggil Mbak “INUL DARATISTA”. Di tengah-tengah kusut masainya percaturan berpolitik di tanah air, di tengah kondisi paceklik (kebuluran), krisis multi dimensi serta penyakit-penyakit sosial sangat akut lemeluhi SARS, semua seolah tenggelam di telan “sosok” inul yang goyang ngebornya seolah sakti mandraguna. Tak peduli tukang bakso, pejabat kiyay, bung haji dan artis lokal dan seterusnya, semua seolah tak berhenti menyoroti beliau. Kenapa harus Inul? Kenapa tidak pengungsi aceh, kenapa tidak anak-anak putus sekolah? Kenapa tidak anak-anak yatim? Kenapa inul tidak berhenti goyang ngebornya misalnya, lantas ia memakai jilbab (tudung) ke mana-mana, entah itu saat manggung, ke studio dan sebagainya, toh ternyata dia tetap ngetop. Namanya tetap berkibar. Ia tetap rendah hati, tawaddlhu tetap tertinggi honornya sampai kemudian ia mau naik haji. Lantas apakah orang-oarng akan berhenti membicarakannya?

Kenapa Harus Muhammad?
Apa yang haruis dikatakan oleh umat Islam bila ada orang usil semisal orientalis, komunis, kapitalis dan is-is lainnya mempertanyakan kenapa harus Muhammad SAW yang diangkat atau dipilih Allah, Rasul dan KekasihNya, padahal beliau itu “Ummy” yatim piatu; sementara di kota Mekkah ada Umar Bin Khattab, si Singa Gurun Pasir, ada Abu Jahal bin Hisyam, Singa Podium, ada Ahli Kitab yang hafal kitab Suci, ada rahib-rahib dan ada saja alasan untuk tidak mengatakan mengapa harus Muhammad?

Inilah bentuk pertanyaan yang mebuka pintu kesombongan dan kedengkian sehingga banyak tokoh-tokoh politik, pemuka-pemuka masyarakat Arab yang sulit menerima kebenaran Islam. Mereka merasa berat, kenapa tidak Abu Jahal, Umar atau yang lain semisal pemimpin mereka yang menjadi Nabi? Oleh karena itu banyak pengibaratan yang dapat dijadikan sumber kebijaksanaan untuk dapat dirangkai dengan kata “Kenapa”. Kenapa harus Timor Timur (Timtim) yang merdeka, kenapa tidak Aceh, Irian Jaya; atau DKI Jakarta? Kenapa harus negara Muslim yang jadi sasaran keganasan para negara agresor? Kenapa tidak negara-negara Eropa atau Amerika Latin? Dengan menemukan jawaban dari pertanyaan “kenapa harus…”, Moga kan menjadikan kita lebih bijaksana.

Pengembangan Makna Do’a dan Ibadah: Proyeksi dan Realisasi Aktivitas

Bila kita ditanya apa itu do’a, kita langsung berasumsi do’a itu sebuah “permohonan” atau permintaan kepada Allah SWT. Demikian pula ibadah. Kebanyakan kita mungkin menilai hanya sebatas “melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala apa yang dilarangnya”. Namun, sayangnya pengertian ini tidak diperdalam kepda hal-hal yang lebih konstruktif dalam menjalani kehidupan. Seolah-olah ajaran Islam dan konsepsi-konsep umum terpisah, baik sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial politik. Padahal, sebenarnya Islam tidak hanya sekedar menjiwai seluruh kehidupan, namun sekaligus merupakan konsepsi bagi semua realitas kehidupan.

Kehidupan selalu berubah. Perubahan yang ada, terjadi secara alamiah, sesuai law of nature (hukum alam) yang ditetapkan Allah. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu Maha Menentukan Ukuran (Qodir)”.

Melalui hukum alam, Allah telah menentukan takdir, menetapkan kadar atau ukuran dengan menciptakan Waktu dan Massa. Sehingga benda-benda (materials) yang ada di alam ini dapat bereaksi dan berinteraksi satu sama lain. Misalnya, Allah menciptakan “kadar air” disusun dari 1 atom unsur Hidrogen dan 2 atom unsusr Oksigen.

Ketentuan ini tidak akan mengalami perubahan selamanya. Jangan coba-coba menambah atom hidrogen menjadi 2H atau mengurangi kadar Oksigen menjadi 1 atom O. Maka, dengan sendirinya akan terjadi reaksi, air tetap H2O sedangkan satu atom yang lainnya akan mengendap menjadi O aksen. Sedangkan setiap atom Hidrogen yang lain apabila berlebih dari ukurannya pasti akan mencari atom oksigen lain untuk mencukupi jumlah perbandingan 1: 2 (1 H: 2 O) yang menyusun anasir air.

Fenomena alamiah ini dijelaskan Allah dalam FirmanNya: “Dan kamu tidak akan mendapati perubahan dalam sunnatullah itu”.

Selain secara alamiyah, perubahan juga dapat dilakukan dengan rekayasa dan kreatifitas manusia. Karena manusia, dengan statusnya sebagai khalifah telah diberikan Allah “kemampuan ajaib” berupa akal dalam menciptakan perubahan-perubahan itu.

Perubahan tersebut hanya terjadi bila manusia telah merencanakan dan berupaya untuk melaksanakan (merealisasikan) rencana itu. Rekayasan dan kreatifitas ini dijamin Allah dalam firman-Nya (QS. A-Ra (13): “Sesungguhnya allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu yang dalam diri mereka”.

Oleh karena itu, seseorang hanya akan dapat melakukan perubahan di luar dirinya ia mampu membuat perubahan di luar dirinya . Ringklasnya apa yang terjadi secara alami ada takdirnya, yaitu sunatullah. Namun apa yang terjadi dalam kehidupan manusia baik yang berhubungan dengan alam atau tidak, tergantung dari rencana manusia. Dua hal, yaitu proyeksi dan realisasi .


1. Doa merupakan proyeksi

Di atas tadi sempat disinggung tentang doa yang umumnya di sebut permohonan atau permintaan kepada Allah. Secara bahasa pengertian doa memang tak jauh berbeda dengan apa yang difahami kebanyakan kita. Dalam ilmu usul fiqh misalnya, doa didefinisikan sebagai “thalabul-fi’li minal adna ilal a’la” yang berarti menuntut berbuat dari yang lebih hina kepada yang lebih tinggi, merupakan kebalikan dari kata amr (perintah) yang didefinisikan sebagai “tuntutan perbuatan dari yang lebih tinggi kepada yang lebih rendah.

Sekilas doa memang berarti permohonan kepada Allah tetapi, hakikatnya adalah memotivsi otak bawah sadar untuk memerintahkan organ utnuk menghimpun energi ke arah “sesuatu” yang menjadi permohonan, misalnya, saat menjelang tidur dalam keadaan sadar kita memproyeksikan bangun utunk sholat shubuh, insya Allah subuhnya otak kecil akan memerintahkan kita untuk bangun, demikian pula hal-hal yang lain. Kita minta mpun kepada Allah berarti kita memproyeksikan diri kita untuk belajar membenci dan menjauhi segala perbuatan yang dilarang Allah. Atau semisal contoh lain, kita berdo’a supaya kaya, berarti kita sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang milyoner.
Jelasnya, doa secara tidak langsung membuat perencanaan, memilih program, menentukan timing, motivasi, sugesti dan lebih jauh merupakan proyeksi aktivitas yang hendak dilakukan. Baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Sholat selain sarana komunikasi (munajat), stage line up (mi’raj), dan tawajjuh (koneksi) juga didefinikan dengan “doa”. Bila kita hendak memahami tentang hakikat Sholat ditinjau dari aspek “pembinaan diri”, maka sebenarnya dari pengertian do’a, sholat merupakan proyeksi seorang mukmin dalam mencapai tujuan jangka pendek, sedang dan jangka panjangnya. Dalam sholat, seorang mukmin melaporkan aktivitasnya pada masa-masa sebelumnya. Dan memproyeksikan hubungannya kepada Allah untuk masa-masa selanjutnya.

2. Ibadah Merupakan Realisasi Ajaran

Rasulullah Muhammad Saw bersabda “Addua-u Mukkhul ‘ibadah”. Artinya, “doa itu adalah otak ibadah” ada apa dengan otak? Tentu kita akan bertanya seperti itu. Kenapa tidak mata, kulit, tulang, jantung atau organ-organ lainnya. Kalau didalam matan (teks) hadist seperti itu, tentu akan ada apa-apanya.

Memang benar ada apa-apanya. Dalam tubuh manusia, otak terbagi menjadi dua bagian utama, otak besar dan otak kecil, disamping pembagian otak besar kepada otak kiri dan kanan. Sebagai organ yang terdiri dari pusat sistem saraf yang paling rumit yang menghubungkan fungsi dan kinerja organ-organ lain, otak merupakan penggerak atau organ yang memerintahkan organ-organ lain untuk merealisasikan apa yang telah diproyeksikan.

Demikian pula dengan ibadah kepada Allah. Ibadah merupakan realisasi ajaran. Sedangkan ajaran itu sendiri berisi atuaran atau peraturan. Peraturan itu berisi perintah dan larangan. Semakin banyak kita melihat, mendengar dan merasakan yang baik-baik, yang konstruktif, yang bermanfaat dan hal-hal positif lainnya, maka akan semakin banyak kita merekam hal-hal positif itu kedalam otak bawah sadar kita; dan semakin banyak pula hal positif yang dapat kita proyeksikan, bayangkan dan rencanakan. Nah, suatu saat, ketika ada stimulus ( rangsangan ) berupa informasi atau fenomena bernada atau bernuansa positif, maka kita akan bergerak untuk merealisasikan apa yang telah kita proyeksikan. Lebih jauh, kita akan berusaha untuk menciptakan keadaan yang kita proyeksikan. Inilah kerja agen-agen perubahan.

Sebaliknya, semakin banyak kita melihat, mendengar dan merasakan hal-hal negatif, tentu akan semakin besar pula pengaruhnya bagi kita diamasa-masa selanjutnya. Disinilah dituntut perlunya filter, counter atau memilah-milah mana yang harus kita simpan, mana yang harus kita hapus dari otak bawah sadar kita. Sehingga kertika ada stimulus yang memancing kita ke arah hal-hal yang demikian, kita tidak lagi akan tergerak untuk melakukannya.

Oleh karena itu seorang ‘Abid (hamba Allah) dituntut untuk mencari ilmu, membicarakan yang baik-baik, mendengarkan dan berprasangka yang baik-baik. Agar apa yang diproyeksikannya tidak melenceng dari ajaran Allah. Sebaliknya, kita juga diperintahkan untuk berdoa yang baik-baik, agar semakin banyak yang mengendap diotak bawah sadar kita hal-hal yang baik-baik, sehingga ketika ada kesempatan yang mendukung, aktivitas kita terarah kesana.
Semoga dengan memahami intisari pengertian doa dan ibadah kita dapat menjadi seorang perencana, programmer atau proyektor yang dapat menciptakan, paling tidak terlibat dalam perubahan dari hal skala kecil maupun skala paling besar didunia ini. Doa kita akan benar-benar sebuah proyeksi. Ibadah kita akan benar-benar sebuah aktivitas merealisasikan ajaran Allah.

Gelar dan Nilai Seorang Kepala Negara: Manifesto Politik Surat 110, al-Lahab ayat 1-5

Bila ditelusuri lebih jauh makna-makna dalam al-Quur’an baik melalui kacamata sejarah, sosial budaya, sains dan teknologi, niscaya akan banyak ditemukan berbagai kandungan ayat yang bersisi segala hal yang tak terhitung banyaknya sesuai dengan susut pandang yang digunakan.
Ditinjau dari segi politik, surat al-Lahab mempunyai sejumlah konsep yang dapat dijadikan paradigma berpolitik, karena banyak faktor-faktor pelanggengan kekuasaan, teknik hagemoni dan sebagainya terkandung dari ayat-ayarnya.

Dari sejumlah kalimatnya saja, terdapat beberapa kata kunci (keyterms) yang dapat dimaknai ke arah itu, antara lain: “Yada_ni” yang berarti kedua tangan; Abu Labah, artinya “Bapak Gejolak”; al-Mal, berarti harta (materi); “Kasab” berarti upaya atau usaha; “Hammalah al-Hatob” yang artinya, pembawa kayu bakar dan “al-Masad” yang dapat berarti belenggu karena dikaitkan dengan kata sebelumnya “Jie_d” yang berarti leher.Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surat al-Lahab (110): (1) Celakalah kedua tangan Abu Lahab maka celakalah ia (2) Tiada akan bermanfaat dari padanya hartanya dan apa yang ia usahakan (3) Kami akan melemparkannya ke dalam api yanbg menyala-nayala (4) Dan isterinya adalah pembawa kayu bakar (5) Di lehernya ada tali dari belenggu neraka”.

1. Kekuasaan

Pada ayat pertama yang berbunyi: “Celakalah kedua tangan Abu Lahab maka celakalah ia” menyiratkan bahwa Abu Lahab sebagai seorang pemimpin yang menggunakan kedua tangannya untuk menghalang-halangi Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak riwayat disebutkan, bahwa Rasulullah pernah dilempari tahi onta oleh Abu Lahab pada saat beliau Sholat, mau dibunuh dan sebagainya. Kiranya, manalah mungkin Abu Lahab berani mengacung-acungkan tangan kalau dia orang yang biasa-biasa saja seperti tukang beca, Jufri atau petugas kebersuhan (cleaning service/office boy) yang tak punya pengaruh apa-apa. Tentunya, arogansi muncul karena kedua tangannya punya kekuatan tertentu.

Asbabun Nuzul surat ini adalah ketika Rasulullah berdakwah kepada pemuka-pemuka Qabilah (suku) Quraisy, khususnya di tengah-tengah pihak keluarganya dari Bani (keturunan) Hasyim. Abu Lahab tiba-tiba mengacung-acungkan tangan, menonjok-nonjok sambil mencerca beliau, “Celaka Muhammad…Celaka Muhammad”. Maka turunlah ayat ini sebagai dukungan psikologis dari Allah kepada Rasulullah SAW, bahwa sebenarnya yang celaka adalah Abu Lahab.
Abu Lahab sendiri adalah gelar atau laqob yang biasa digunakan oleh orang-orang Arab. Sehingga nama sebenarnya malah sulit ditemukan karena saking popolernya gelar yang diberikan kepadanya. Misalnya, Abu Jahal yang berarti Bapak Kebodohan adalah gelar bagi Umar Bin Hisyam, selain juga digelar sebagai Abu Hukkam atau Bapak kebijaksanaan, ketika jaya-jayanya dia berkuasa di Makkah saat itu. Padahal Umar Bin Hisyamlah namanya yang sesungguhnya.

Demikian pula Abu Thalib yang berarti Bapak Pelajar, disebabkan ketinggian ilmu dan keluasan wawasan yang dimilikinya saat itu, sehingga dia dikagumi dan disegani sebagai tokoh intelektual di masanya. Begitu pun dengan Abu Hurairah yang berarti Bapak Kucing, karena kebiasaannya memelihara kucing, sehingga rumahnya dipenuhi bayak kucing.

Ayat ini mengandung makna yang umum, artinya bukan hanya Abu Lahab saja yang celaka namun setiap orang yang menghalang-halangi dakwah Islam pasti akan dicelakakan Allah sesuai dengan kaidah Ushul “Al-Ibratu bi umumil lafzhi la bi khusususis Sababi”; artinya, pelajaran diambil dari umumnya lafazh, bukan dari sebab yang khusus (dikarenakan sebab tertentu).
Nah pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa dia (Abu Lahab) diberi gelar sebagai bapak gejolak (gelora). Abu artinya ayah, Lahab artinya gejolak api. Jawabnya tentu tak jauh beda pada masa-masa sekarang ini. Setiap pemimpin kiranya selalu diberi gelar-gelar tertentu. Tak usah jauh-jauh, di negeri Indonesia misalnya, kelima-lima presiden Indonesia memiliki gelarnya masing-masing sesuai dengan pamor, prestasi dan kemapuannya yang menonjol dalam menggagas, mensosialisasikan maupun mencetuskan sesuatu.

Presiden Pertama Ir. Soekarno, diberi gelar dengan Bapak Proklamator, karena dialah bersama Bung Hatta yang telah memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Selain itu Bung Karno juga digelar Bapak Penyambung Lidah Rakyat dan “Singa Podium” karena kemampuannya yang luar biasa dalam menggelorakan semangat rakyat melalui pidato-pidatonya yang berapi-api.

Presiden Kedua Jenderal Berbintang Empat (purn) H. Muhammad Soeharto, diberi gelar Bapak Pembangunan karena kemampuannya dalam menggagas Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pada saat ia berkuasa, juga karena kinerja kabinet pembangunannya, serta pembangunan sektor ekonomi yang dilakukannya dinilai telah mampu mengangkat ekonomi negara yang sudah hancur total di masa Presiden Soekarno dengan inflasi yang gila-gilaan.
Selanjutnya Presiden Ketiga Republik Indoenesi, Prof. Ir. Ing. Baharuddin Joesoef Habibie yang digelar Mr. Creek atau Bapak keseimbangan, karena penemuannya yang spektakuler dalam bidang teknologi, yakni menemukan keseimbangan pada sayap pesawat pada cuaca tertentu, sehingga pesawat terbang (plane) dapat tetap terbang dalam keadaan normal; penemua yang tidak saja menjadi sumbangsih kepada masyarakat teknologi dunia, namun juga merupakan putera bangsa yang mempu mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia.
Begitu pula Presiden Abdurrahman Wahid yang populer dengan gelar Bapak Prodem dan Bapak HM, karena jasa-jasanya dalam mengkampanyekan perdamaian dunia dan HAM di Indonesia serta menghidupkan sdemokrasi di Indonesia di saat-saat demokrasi nyaris mati di negara ini.
Dan terakhir, Presiden kelima, Ibu Hajjah Megawati Soekarno Puteri yang digelar ibu Wong Cili(ci)k, di saat saat kampaye Pemilu tahun 1999 lalu, dinilai karena berpihaknya kepada masyarakat tertindas saat itu.

Jelasnya, mereka berlima diberi gelar sehebat itu tentu karena mempunyai kekuatan. Terlebih-lebih ketika kekuatan itu menjadi kongkrit yakni, sebuah kekuasaan. Itulah sebabnya ada orang yang diberi julukan Bapak Gejolak Seperti Abu Lahab, karena di masa ia berkuasa, dakwah Islam benar-benar tertindas. Peperangan di mana-mana, memfitnah lebih kejam dari tidak memfitnah sama sekali (sama-sama kejam), permusuhan terjadi di mana-mana, pelanggaran HAM sudah tak kenal peri kemanusiaan lagi. Banyak sahabat-sahabat Nabi yang disiksa dimasanya dengan sangat sadis, baik dengan cara mencincang, menarik anggota tubuh dengan kuda, menyeret orang ditengah-tengah padang pasir. Intinya semua polosok daerah bergejolak. Itulah makanya dia diberi gelar Bapak Gejolak.

2. Ekonomi dan Program Politik
Pada ayat selanjutnya (ayat 2) dinyatakan, “Tiada akan bermanfaat dari padanya hartanya dan apa yang ia usahakan”. Ini menunjukkan bahwa Abu Lahab telah berusaha dengan harta dan program-program yang direncanakan untuk menghancurkan kaum muslimin yang saat itu masih sangat sedikit akibat kekhawatirannya bila Muhammad SAW sewaktu-waktu dapat mengganggu kekuasaannya. Apabila ia mengetahui benar bahwa Muhammad tidak mau berkerjasama dengan pihak pemerintahan Quraisy.

Di negara-negara otokrasi yang dipimpin seorang diktator umumnya selalu menggunakan dua kekuatan dalam mencengkeramkan kekuasaannya. Pertama harta (mal) dan kedua dengan usaha (kasab).

Bicara harta berarti bicara materi. Bicara materi pasti bicara ekonomi. Seangkan bila kita bicara soal usaha, berarti mau tidak mau kita harus bicara tentang badan usaha, program, sasaran (target) dan tujuan serta hasil (output).

Namun inti dari usaha adalah managemen (pengelolaan) dari arti yang menyeluruh secara keseluruhan baik dari segi sitemnya, fungsinya, maupun perangkat-perangkatnya.

3. Neraka

Ayat ketiga surat ini yang berbunyi, “Kami akan melemparkannya ke dalam api yang menyala-nyala”. Menggambarkan sebuah realiti (kenyataan) yang terjadi secara paksa. Di sana ada kata-kata “yashla”. Abu Lahab diriwayatkan gugur dalam peperangan yang ia kobarkan sendiri.

Kata-kata api dalam bentuk “Nakirah” dalam ayat ini dapat merupakan bentuk yang lebih real, berupa kekacauan-kekacauan.

Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW yang amat masyhur dalam menggambarkan rumah tangganya sebagai surganya: “Baiti Jannati” yang artinya, Rumah tanggaku adalah surgaku. Maksudnya, rumah tangga yang harmonis, rukun, damai dan sentausa merupakan wujud surga di dunia ini. Bukan hanya sebatas kiasan. Jadi, tidak ada kata-kata “’adat at-Tamtsil” yang dibuang (mahdzuf) di sana. Karena hadist tersebut berbentuk mubtada’ dan khobar. Dari hadits tersebut billa diambil mafhum mukhalafahnya (pemahaman terbalik) berarti bahwa, rumah tangga yang sering cek-cok, tidak harmonis dan tidak rukun dan damai, merupakan wujud neraka.

Dalam scope yang lebih besar, sebuah organisasi (pehimpunan/jamaah) juga merupakan rumah tangga. Makanya ada Anggaran Rumah Tangganya (ART). Bahkan suatu bangsa atau negarapun adalah sebuah rumah tangga dan dipandang sebagai suatu satu keluarga. Karena ada kepala rumah tangganya, yakni pihak (puak) pemerintahan di tiap tingkatan dari tingkat nasional samapi tingkat lurah/ kepada desa.

Ini artinya bahwa, apabila sebuah negara tidak teratur, rakyatnya tidak pernah merasa aman karena gangguan penjahat di segala bidang dari kelaparan, kekacauan “banyak persekcokan terjadi di mana-mana, itu pun dapat disebut neraka sesuaid dengan pengembangan makna hadits tadi.

4. Pasangan Hidup kepala Negara

Ayat kelima surat al-Lahab berbunyi: “ Dan isterinya adalah pembawa kayu bakar”. Isteri Abu Lahab dikenal dengan gelar Ummu Jamilah (ibu yang cantik) merupakan aktor dibalik layar yang suka menggosok-gosok, menggesek-gesek dan krasak-krusuk terhadap semua persoalan, teruatam lawan-lawan politik suaminya Abu Lahab. Dia juga dikenal sebagai ibu negara yang tukang fitnah, yang menyebabkan masalah semakin besar dengan eskalasi yang semakin meluas.

Memang, sewajarnya bila pendamping seorang kepala negara menjadi begitu penting disebabkan faktor saling mempengaruhi dan interaksi yang terjadi di dalam rumah tangga. Misalnya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) digagas oleh almarhumah (Allah yarham) Ibu Siti Hartinah yang memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pembangunan ekonomi, bahkan mempengaruhi budaya dan politik ketika itu (orde baru). Itulah makanya, raja-raja di masa dahulu, demi mempersatukan beberapa kerajaan atau kepentingan ekspansi kekuasaan, saling menjodohkan anak mereka.

Oleh karena itu, tidak perlu heran bila seorang kepala negara yang mempunyai pasangan hidup seorang koruptor dapat memberantas korupsi. Bila pasangan hidupnya seorang pesolek, suka berfoya-foya; tak perlu heran bila negara tersebut akan menjadi negara penghasil kosmetik. Begitu pun yang lain misalnya, pasangannya seorang pecundang, mafia, pendendam dan sebagainya, sangat jarang dijumpai tidak mempunyai pengaruh terhadap jalannya pemerintahan yang sedang ia pimpin.

5. Belenggu
Sedangkan dalam ayat terakhir surat al-Lahab ditutup dengan pernyataan, “Di lehernya ada tali dari belenggu (neraka)”. Maksudnya, ayat ini merupakan kesimpulan dari keempat ayat sebelumnya, bahwa yang terjadi pada masa kepemimpinan (leadership) seorang semisal Abu Lahab, pasti terbelenggu dalam sebuah ikatan semu, pandangan hidup semu, yang insya Allah dijamin bakal menjadi penyesalan bagi seluruh rakyatnya. Ketika seorang pendamping pemimpin negara telah mengkalungkan di lehernya kalung “ketamakan’ atau semisal lain haus “darah”, lambat laun cepat atau lambat kebanyakan rakyat akan mengikut; mereka pun akan membelenggu dirinya dengan rantai yang terbuat dari neraka. Mereka tidak bisa keluar dari masalah dan senantiasa diliputi masalah, sampai mereka melepas belenggu itu. Artinya, pemimpinnya harus diganti. Perlu dicari seorang pemimpin lain yang berakhlak mulia dan pasangan hidupnya pun berakhlak mulia pula sebagai mana yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW, dengan Ummahatul Mukminin (isteri-isteri Nabi SAW) Radiallahu Anhunna, Wallahu A’lam Bissowab.

Ada Apa dengan “Thagut”?

Kesadaran untuk Mengenal Thagut

Kalau dilayar lebar, belum lama ini ada flim produk tanah air berjudul “Ada apa dengan Cinta?”. Mungkin sejuta kesan yang dapat dirasakan, tergantung orangnya. Boleh jadi ada yang menanggapi judul itu begitu romantis, ada pula yang menanggapi terlalu bikin penasaran, atau jangan-jangan ada yang sedikit sok tahu, sehingga mengatakan itu terlalu didramatisir. Toh, cinta tidak ada apanya, tidak ngapa-ngapain dan lain sebagainya. Nah,bagaimana kalau ada orangyang menyebut-nyebut kata “babi/”. Tentu, sangat berbalik jadinya.

Dibenak kita langsung sebagai persepsi, “Ada apa dengan babi”? Namun dinyakini, kesannya tentu tak jauh beda satu sama lain. Boleh jadi yang terlintas adalah kesan menjijikkan, jorok, binatang yang diharamkan Allah, atau boleh jadi kata yang umumnya diucapkan untuk mengekspresikan kebencian kepada orang lain. Biasa kata ini memang dipakai dalam mendahului kalimat makian. Demikian marahnya dan jijiknya orang bila mendengar kata itu, padahal beberapa ayat saja dalam al-Qur’an yang menyinggung kata “babi” di atas.

Lantas kenapa kita harus marah ? Tentu karena kita tidak mau disamakan dengan babi. Namun bila ada orang yang menyebut-nyebut kata Thagut, atau menggelari kita thagut, mungkuin kebanyakan kita malah merasa aneh, menyernyitkan kening mengangkat kedua bahu, menggeleng atau diam karena tidak tahu; atau malah terseyum seyum. Begitu asingnya kata thagut ini di tengah-tengah kita.

Padahal istilah yang satu akar dengan thagut ini justeru jauh lebih banyak disebut dalam al-qur’an. Puluhan ayat bahkan ratusan yang meyinggung tentang Thagut, baik ayat yang mengharamkan, ayat yang memerintahkan untuk membangkang dan menjauhinya, menjelaskan jauh lebih menjijikkan dan sebagainya.

Namun sayangnya karena, kita belum kenal apa itu thagut, yang smestinya dijauhi, e eeh, malah satu rumah malah satu tempat tidur dengan kita; yang semestinya diharamkan Allah, e eeh, malah kita kantongi dan kita bawa ke mana-mana.. Ini tak jauh beda ketika ada yang berteriak maling (pencuri!) semua orang yang mendengar langsung sontak, tak peduli pintu rumah apa sudah sempat dikunci atau belu. Tak peduli bawa apa di tangan, yang penting bisa jadi senjata. Karena tak tahu malingnya siapa, tau-tau malingnya justru ikut mencari maling yang diteriakin. Begitu pula misalnya ada tim pemberantas korupsi. Karena tidak tahu siapa yang korupsi, entah karena saking banyaknya, e eh, tau-tau koruptor-koruptornya ikut masuk dalam tim. Firman Allah: “Hanya saja Allah mengharamkan terhadap kamu bangkai dan daging babi serta binatang yang disembelih selain nama Allah…”, (QS. 2: 173).

Bentuk dan Karakter Taghut

Sebenarnya apa ya Thagut itu? Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim tentu kita akan penasaran bila tidak menenal tahgut, karena siapa yang tidak mengenal thagut, dia tidak akan dapat beribadah atau menyembah kepada Allah sebagaimana mestinya. Jelasnya, Thagut adalah Rival (saingan) Allah dalam segala aspek kehidupan. Thagut itu sebenarnya berarti melampaui batas atau “kelewat batas”, melanggar garis, seperti menyelonongnya orang ke daerah terlarang, melanggar police line atau seperti berbuat di luar aturan main, anggaran dasar atau kesepakatan musayawarah.

Dalam al-Qur’an istilah Thagut ini digambarkan Allah dalam berbagai wujud. Adakalanya ia dapat berwujud karakter manusia. Firman Allah : “Ketahuilah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas (yatgha)” (QS. Al-Alaq, 96:6). Dan pada kesempatan lain dia dapat berwujud benda mati, benda keramat dan benda-benda lain. Thagut di sini disebut berhala/patung. Di suatu tempat ia bisa berbentuk sosok pemimpin (raja) yang suka menindas, sewenang-wenang, perusak dan pemecah belah rakyat, seperti Firman Allah: “Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas (thagha)”. (QS. Thaha 20:24). Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di buminya, dan menjadikan rakyatnya terpecah belah. Ia menyembelih anak laki-laki dan menghidupkan anak perempuan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS.28:4).

Dan ditempat lain ia bisa pula berbentuk benda abstrak seperti kebiasaan, ajaran, hukum dan lambang partai atau negara yang bertentangan atau tidak dilandasi wahyu, dan sebagainya. Inilah disebut pemberhalaan. Firman Allah: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengklaim dirinya beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan kepada sebelum kamu? Mereka menginginkan berhukum dengan Thagut, padahal mereka diperintahkan untuk membangkang kepada Thagut itu. Dan Syaitan menginginkan untu menyesatkan mereka sesesat-sesatnya”. (QS. 4:60).

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap bangsa untuk menyerukan: “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thagut itu”. Maka di antara bangsa itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yangtelah pastui kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi ini dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul) (QS. 16: 36).

MTQ: Tidak Sekedar Lomba Baca

1. Makna dan Pelaksanaan MTQ
Musabaqah artinya berlomba-lomba atau saling mendahuli, berasal dari kata Sabaqa, artinya mendahului/telah lewat. Kata ini punya bentukan lain seperti kata Masbuq, artinya terlambat/didahului, fastabiqul kahirat yang berarti berlomba-lombalah dalam kebajikan, sabiq yang berarti juara atau “yang keduluan”dan sebagainya.

Firman Allah QS. 35: 32: “Kemudian kami wariskan Kitab itu (al-Qur’an) kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami. Di antara mereka ada yang menganiaya dirinya, sementara di antara mereka ada yang mengambil jalan tengah (karena ada maksud-maksud/kepentingan tertentu), dan di antara mereka ada orang yang lebih dahulu (juara) dalam kebajikan. Itulah karunia yang Agung”.

Firman Allah QS. 2: 148: “Dan setiap bidang (arah/jurusan) ada pemusatannya (kiblat). Maka berlombalah-lombalah kamu dalam kebajikan. Di mana saja kamu berada Allah akan mendatangi kamu semuanya. Sesungguhnya Allah terhadap segala sesuatu Maha Menetukan (Ukuran)”.

Tilawah berarti membacakan. Maksud yang sebenarnya adalah membacakan isi kandungan, bukan hanya sekedar membaca teks sebagaimana pada pengetian qira’ah. FirmanNya QS. 2: 151: “Sebagaimana telah Kami utus untuk kamu Rasul, rasul-rasul di antara kamu, yang membacakan kepada kamu ayat-ayat Kami, dan mensucikan Kamu serta mengajarkan kepada Kamu Ilmu dan Hikmah, dan juga mengajarkan kamu apa yang belum kamu ketahui”. Dengan demikian, musabaqah tilawatil Qur’an merupakan perlombaan membacakan isi kandungan al-Qur’an.

Dalam pelaksanaannya, MTQ sejak pertama kali diadakan hingga saat ini telah memperlombakan berbagai cabang ilmu pengetahuan tentang al-Qur’an. Di antara cabang-cabangnya itu adalah Mujawwad yang berarti pentajwidan; yakni, tata cara dan adab membaca al-Qur’an baik kefasihan lidah, tajwid, faqahah dan sebagainya. Sehingga dalam perkembangannya dikenal secara internasional 7 irama lantunan ayat al-Qur’an berikut variasi dan pecahannya, yaitu Bayyati (Suri, Nawa, Qarar) Shaba, Hijaz, Nahawan, Rasy, Sikha dan Dziharkah. Namun Indonesia, dipandang sebagai negera yang paling banyak Qari dan Qari’ahnya yang menguasai Mujawwad ini.

Ada juga cabang cerdas cermat isi kandungan al-Qur’an atau diistilahkan fahmil Qur’an (pemahaman yang meliputi sejarah Islam, Ulumul Qur’an, hadist dan Budaya Islam). Selain itu, ada juga cabang menghafal (hifzul Qur’an); cabang menulis indah (khattil Qur’an/kaligrafi) seperti khat Khaoufi, Tsuluth, Diwani Jali, Naskh, Farsi, Andalus dan lainnya; cabang syarh al-Qur’an (menjelaskan pesan-pesan ayat); dan Bazar produk Islam.

Selain itu, menurut Walikota Medan, MTQ diselenggarakan dalam rangka syiar Islam dan pembinaan kemasyarakatan. Pelaksanaanya juga dimaksudkan sebagai sarana penggemblengan bagi qori dan qoriah untuk diterjunkan mewakili kota medan pada MTQ tingkat propinsi. Setiap pemerintah daerah, baik kecamatan Kota/Kab maupun propinsi tetap selalu berharap MTQ dapat melahirkan qori dan qoriah yang berkualitas, sehingga mampu mencatat prestasi terbaik di MTQ di tingkat yang lebih tinggi. Karena, dapat mengangkat dan mengharumkan nama baik daerahnya, dapat memberikan kontribusi yang lebih signifikan.

Musabaqah Tilawatil Qur’an merupakan perlombaan rutin tahunan yang diselenggarakan secara Nasional mulai dari tingkat Kecamatan sampai Tingkat Internasional. Biasanya, oknum pejabat-pejabat Pemerintahan RI , tidak ketinggalan “ambil bagian” dalam Musabaqah ini, apalagi mereka yang ditunjuk sebagai Panitia, tuan rumah dan fasilitator lain. Selain kegiatan ini menasional sifatnya, juga karena seperti biasanya, memang ada “bagian yang bisa diambil” darinya. Entah itu siapa, entah kapan dan entah bagaimana caranya, yang jelas seperti yang sudah-sudah, memang, semua bidang dan sektor pembangunan sepertinya telah “ada jatah” sesuai dengan pangkat dan kedudukan masing-masing.

Tetapi, maaf cakap maaf cerita, itulah kondisi realitas sosial-politik yang telah membumi dan mendarah daging sampai kerakyat-rakyat kecil. Kita bisa lihat langsung pelaksanaan Pemilu lalu, kita bisa saksikan pelaksanaan Zakat dan Haji beberapa waktu lalu. Tak ada yang bisa unjuk diri sok suci sekarang ini. Karena, boleh jadi itu karena mereka belum ada kesempatan. Sehingga, muncul tanda tanya besar. Lomba membaca, menghafal, menulis, dan memahami serta menjelaskan telah dilakukan. Belumkah datang waktunya kepada kita untuk berlomba-lomba menerapkan al-Qur’an di keluarga sampai di sistem bernegara kita?

Terlepas dari itu semua, kita juga mau tidak mau harus mengakui jujur, tidak semua oknum pejabat terkontaminasi sistem yang sarat dengan budaya “ambil bagian” seperti yang umumnya dibicarakan orang-orang. Oleh karenanya kita bisa merasa sedikit bangga dengan pengakuan Walikota Medan, Ketua DPR dan Ketua Panitia kemarin saat meresmikan pembukaan MTQ kemarin. Mudah-mudahan mereka benar seperti yang mereka ucapkan.

2. MTQ di Medan
Kota Medan, kota Metropolitan yang diimpi-impikan itu, baru-baru ini menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) . Kelihatannya, Pemko berharap besar yang kemarin disampaikan Pak “Wali”, MTQ bisa mendukung program pembangunan kota Medan khususnya program pemberdayaan masyarakat; mengingat pentingnya peranan MTQ dalam pembinaan kemasyarakatan. Apakah ini pernyataan yang jujur, lipservice, atau ada kepentingan lain, soal ini kita serahkan saja ke pengamat politik.

Pak “Wali”, sebagaimana dipidatokannya, jua minta dukungan segenap komponen masyarakat, termasuk dari tokoh-tokoh agama, agar dapat membina umatnya menjadi masyarakat yang beriman dan bertaqwa, sehingga dengan tulus dapat memberikan dukungan penuh dalam memberhasilkan program pemberdayaan masyarakat di kota Medan.

Dia benar. Dapat dibayangkan, kalau tokoh-tokoh agamanya pun tidak mendukung atau malah “ikut ambil bagian”, tentu saja akan terbangun image, seperti pembolehan. Padahal itu karena oknum dan pribadi. Namun, sedikit yang bisa membedakannya. Makanya, semangat dan keberanian para koruptor dan mafia kuning pun akan terpompa, tersulut. Taring “tikusnya” pun akan siap diasah melirik aset-aset gurih dan “kue-kue kekuasaan” yang basah-basah.

Begitu juga, Pak Ketua (DPRD Medan) dalam sambutannya yang senada dan menambahkan, al-Qur’an sebagai petunjuk yang benar bila dihayati akan dapat menjadi solusi terhadap semua persoalan bangsa dan negara. MTQ diadakan tak lain merupakan salah satu upaya meningkatkan minat masyarakat membaca al-Qur’an. Seperti dicontohkannya, gejolak sosial yang terjadi saat ini, akan dapat teratasi dengan adanya MTQ. Karena MTQ juga salah satu alat dalam rangka membina kehidupan yang lebih damai, mampu memberikan suasana persaudaraan, silaturrahmi. Sehingga masyarakat dan pemerintah agar lebih akrab, agar persaolan dapat diselesaikan dengan damai.

Jadi, bila dari tahun ke tahun semua persoalan bangsa dan negara tak kunjung selesai-selesai, berarti dia benar. Itu artinya, al-Qur’an belum dihayati atau warga negara Indonesia masih mencari petunjuk yang tidak benar. Signifikannya juga, kalau minat sebagian masyarakat dari hari ke hari lebih meminati acara dangdutan “dihadiri puluhan ribu” dan AFI “jutaan remaja/emak-emak” ketimbang MTQ (cuma 12 ribu, itupun pas malam pembukaan dan penutupan, hari-hari lain hanya beberapa ratus pengunjung), berarti Pak Tom benar juga. Misi MTQ belum mengenai sasaran. Memang pas harapannya bila, panitia dan para peserta diingatkan, agar benar-benar memiliki dan menjaga niat tulus untuk mencari Ridha Allah, bukan mencari “bagian” atau yang lainnya. Juga, ia juga minta didukung semua pihak dengan sama-sama menjaga keamanan dan kebersihan.

Kita yakin, siapapun yang keluar sebagai yang terbaik adalah yang terbaik membaca, menulis, memahami, menjelaskan dan menghafal al-Qur’an untuk kota Medan. Tinggal kita mencari siapa yang terbaik mengamalkannya.

Para pengunjung pelaksanaan Musabaqh Tilawatil Qur’an Kota Medan tahun kali ini pun tidak semuanya mampu menyesuaikan diri. Pasalnya, hingga memasuki hari ke-4 sebagian pengunjung tampaknya masih banyak yang datang ke lokasi MTQ dengan mengenakan pakaian ketat, tak mengenakan jilbab, memakai rok pendek; bahkan ada pula yang memakai “you can see” (kalau diterjemahkan, baju nampak ketiak). Selain itu, ada juga yang datang ke sana berpasang-pasangan, padahal diduga keras, bukan suami isteri.

Beberapa pengunjung lain sempat menyampaikan keresahannya seputar hal itu. Diherankannya sebagian yang datang ke sana bukan mau mendengarkan al-Qur’an. Padahal, kita diperintahkan supaya mendengarkan sungguh-sungguh dan menyimak, kalau ada orang yang sedang baca Qur’an. Bazar dan perhelatan lain yang ada di arena alun-alun Istana Maimun banyak membuat sebagian pengunjung lupa, acara yang sesungguhnya, yakni Musabaqah.

Kita patut menyesalkan sikap Pemko Medan yang kurang peka terhadap hal ini, kendati dapat difahami sebagian akhlak masyarakat kota Medan belakangan ini. Seharusnya Pemko melalui Panitia dan petugas yang berwenang lainnya mengkordinasikan hal ini agar dapat memberikan himbauan laungsung maupun tidak langsung kepada para pengunjung. Diharapkan agar lebih dapat menyesuaikan diri terhadap situasi keagamaan. Memang, istana Maimun merupakan salah satu lokasi bersejarah dan objek wisata kota Medan. Namun, acara keislaman jangan dinodai dengan hal-hal kecil apapun, tanpa harus dibuat peraturan, diharapkan akan dapat dimengerti sendiri. Firman Allah QS. 47: 24: “Apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an. Apakah hati mereka telah tertutup?”.

3. Lomba Menerapkan, Kapan?
MTQ dilaksanakan, sebagaimana dikatakan Ketua Panitia, adalah dalam rangka usaha mengembangkan kemampuan bacaan alQur’an dengan baik dan benar, mampu memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam al-Qur’an dan membentuk sikap dan perilaku yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an. Tujuannya kata Farid, adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan merealisasikan (penerapan) ajaran agama dalam masyarakat. Sangat ideal tentunya.

Tetapi, bagaimana bisa menerapkan al-Qur’an bila perangkat-perangkat hukum negara, sistem negara, oknum-oknum aparatur negara masih banyak yang belum mendukung masyarakat untuk menerapkan ajaran Agama. Misalnya, Perjudian, korupsi dan sogok menyogok (cuap-cuap) masih diperankan. Menipu, menganiaya rakyat masih dilakonkan. Pabrik Miras tidak ditutup dan sebagainya. Dan kelihatannya belum muncul perlombaan itu.

Apakah perlombaan ini sudah terjadi dengan adanya kasak-kusuk berebut kursi agar bisa “menyelamatkan” legislatif dari wajah-wajah lama yang dinilai korup, biar harus beli suara sama oknum cukong suara “berkedok PPK”. Apakah perlombaan itu juga terjadi dengan merebut kursi presiden sehingga harus siram sana siram sini. Pokoknya kalau kegiatan perlombaan sejenis ini justru sangat terencana dan terkordinir, termenej terjaga dan terselamatkan dengan komplit, rapi, teliti, baik dan benar-benar seperti tak terkalahkan. Walaupun ada satu-satu yang jatuh, itu pasti kurang “siram”. Tetapi, kalau difikir-fikir. Kalau tidak begitu cara masuknya. Bagaimana lagi? Nanti, katanya khawatir kalau non-Muslim yang mendahului masuk sitem, Bah?!! Ini apologi atau cari kambing hitam, atau dua-duanya? Wallahu a’lam.